Patriarki Kebablasan

Klausa pertama pasti sangat tidak asing dalam telinga kita. Tapi klausa yang kedua, mungkin yang mengatakannya akan dapat telunjuk sebagai bagian dari pembela penyuka sejenis atau perempuan-perempuan pemarah yang pernah menjadi korban laki-laki. Tanpa  tahu apa yang menjadi substansi dari pembahasannya.

Patriarki pada umumnya merupakan suatu konstruk sosial yang memberikan hak-hak khusus bagi laki-laki. Sebagai contohnya, laki-laki yang berusia diatas 21 tahun sudah bisa memisahkan diri dalam kartu keluarga yang berbeda dengan orang tuanya dan menjadi kepala keluarga bagi dirinya sendiri. Sedangkan seorang perempuan hanya bisa menjadi kepala keluarga ketika dia menjadi janda dengan anak dalam perwaliannya. Itu adalah contoh patriarki yang paling nyata dalam hukum legal Indonesia. Hanya saja menurut saya ini tidak kebablasan. Ini masih dalam batas normal. Kecuali bagi feminist yang radikal. Saya sendiri berada dalam posisi melihat patriarki sebagai sebuah kenyataan konstruksi sosial, bukan kesalahan konstruksi sosial. Kenyataan itu harus dihadapi, kesalahan itu perlu diubah secara radikal.

Belakangan ini ada sebuah cerita beredar tentang laki-laki yang enggan membiayai istrinya. Dia berpendapat bahwa istrinya tidak bisa mengatur uang. Dia hanya memberikan uang belanja 1,2 juta dalam sebulan dari 6,5 juta uangnya. 1,2 saja tidak bisa diatur apalagi 6,5, begitu argumennya. Dari cara laki-laki itu bercerita terkesan sangat merendahkan perempuan. Argumennya tentang 1,2 saja tidak  bisa diatur, sangat egois. Emang yang sisa dari 6,5 juta itu dia atur buat apa? Rokok??? Hobi suami??? Sisa dari 6,5 juta nggak jelas kemana nguapnya bisa bilang istri nggak bisa ngatur uang 1,2 juta??? Sayangnya pasti yang marah sama cerita gini cuman netijen emak2. Laki-laki akan berpendapat ya terserah laki-laki lah kan uangnya laki-laki yang cari. Agama pun seakan tidak ada sikap tegas terhadap kasus2 egoisme laki-laki semacam ini. Disinilah patriarki menjadi berlebihan.

Seandainya saja yang suami hanya bergaji 1,5-2 juta netijen emak2 tidak akan mencak2. Seandainya saja sang suami bisa jelaskan sisa dari 6,5 juta dipakai apa saja olehnya mungkin netijen emak2 akan lebih terima. Karena tidak dijelaskan jadilah banyak imajinasi yang terjadi di kepala emak2 tentang kemana uang sisa itu berlabuh. Ceritanya hanya menonjolkan laki-laki yang secara egois membicarakan istrinya yang minta tambahan uang belanja yang masih wajar-wajar saja dalam skala pendapatannya. Kalau mau berpikir sedikit konspiratif, mungkin juga ini propaganda dari kaum feminist radikal.

Kalau saya pribadi mendambakan hubungan suami-istri yang setara dalam komunikasi. Ketika berkomunikasi, istri tidak boleh merasa menguasai suami dan suami juga tidak boleh merasa istri adalah makhluk dibawahnya. Keduanya juga tidak boleh merasa inferior dihadapan yang satunya. Tidak akan terjalin rumah tangga yang bahagia kalau ini tidak terjadi. Hal kedua yang harus diperhatikan adalah sebagai istri yang mempunyai suami dengan karakter yang superior seperti itu, memang harus pintar-pintar dan sedikit manipulatif mengakali tipe-tipe suami seperti ini. Seperti  misalnya, minta dia yang belanja sendiri sesekali atau minta temani dia belanja lalu dia yang bayar. Ini bisa dilakukan sesekali di saat hari libur. Bisa juga sambil disisipkan, ”Wah, ternyata mahal-mahal ya mas/pak/a/kang/Pa…”. Atau kitalah yang paling tahu pasangan kita seperti apa dan bagaimana cara menghadapinya. Karena itulah menjadi perempuan itu harus SEPINTAR ITU. Untuk meningkatkan harkat dan laki-laki juga. Bukan untuk menjadi saingan bagi laki-laki.

Menjadi perempuan itu memang sesulit itu, maka surganya pun sebanyak itu pintunya…

Iklan

Apakah Islam butuh Feminism?

Kayaknya tulisan ini sih basi. Gara-gara RUU P-KS, mau tidak mau saya terpantik untuk menyenggol-nyenggol masalah feminism. Sebagai sebuah ide yang merangsang otak, cukup menarik untuk mempelajari apa itu feminism sebagai sebuah “teori baru”. I always love new theory in my life. It’s like breathing (INTJ live). Sebenarnya tidak benar-benar baru bagi saya. Tapi menelisik sampai ke akarnya tidaklah dengan waktu yang sebentar.

Tadinya saya berpikir bahwa feminism hanyalah sebatas dari meminta persamaan hak agar perempuan juga dapat mendapatkan hak-hak yang sama dengan laki-laki. Lalu saya tahu bahwa feminism dasarnya adalah agar perempuan mempunyai kendali terhadap tubuh dan pikirannya sendiri. Sebagai seseorang yang dididik dengan kepercayaan yang cukup besar dari orang tua dilingkungan urban. Saya tidak mengerti mengapa seseorang sampe bisa tidak punya kendali terhadap tubuh dan pikirannya sendiri. Saya tidak mengerti kenapa seorang perempuan bisa menjadi masyarakat kelas dua. Saya tidak punya diperlakukan berbeda karena saya seorang perempuan oleh orang tua saya, karena saya tidak punya saudara laki-laki mungkin. Tapi memang secara mayoritas dalam keluarga besar saya memperlakukan perempuan dan laki-laki sebagaimana porsinya. Saya tidak pernah diperlakukan berbeda dengan sepupu saya yang laki-laki oleh kakek nenek saya. Ketika dia main layangan, manjat pohon, naik kuda, masuk kendang ayam dan ke sawah, saya tidak pernah dilarang untuk melakukan semuanya karena saya seorang perempuan. Pengalaman hidup saya tidak pernah mengenalkan saya pada keadaan tidak bisa berkuasa akan tubuh dan pikiran saya sendiri karena saya seorang perempuan.

Hal itu sangat asing sampai sesuatu terjadi pada hidup saya yang harus merubah lingkungan saya menjadi sangat tradisional. Dan disana juga saya baru mengerti mengapa ada perempuan-perempuan yang tidak punya kendali terhadap tubuh dan pikirannya sendiri. Dan puncaknya adalah saya pernah hampir gila karena merasa tidak punya kendali terhadap tubuh dan terutama yang paling penting adalah saya tidak punya kendali terhadap pikiran saya sendiri. Ya, SAYA HAMPIR GILA. Tapi untungnya semua telah berakhir.

Lalu saya pun tahu mengapa bisa seorang perempuan tidak bisa punya kendali terhadap tubuh dan pikirannya sendiri. Salah satunya adalah sistem nilai masyarakat umum Indonesia yang cederung patriarki. Sehingga bisa dikatakan bahwa pendapat perempuan tidaklah layak untuk dipertimbangkan, suara perempuan tidaklah layak untuk didengar, bahkan saya merasa seorang perempuan dibiarkan hidup saya sudah merupakan keberuntungan. Mungkin karena ini dulu saya selalu punya sugesti bahwa saya akan dibunuh suatu saat nanti jika terus berada disana. Karena kuasa saya akan tubuh dan pikiran saya tercerabut. Dan sistem nilai itu diamini oleh para kaum perempuannya itu sendiri, setidaknya di lingkaran saya saat itu. Karena dia TIDAK punya kebutuhan dan pengalaman akan keberkuasaan dirinya atas TUBUH dan PIKIRANnya. Dia tidak mengerti urgensi dari kepemilikan kuasa akan TUBUH dan PIKIRANnya. Seperti orang buta huruf yang tidak mengerti kebutuhan akan buku sebagai gizi bagi pemikiran, dia mungkin tak mengerti kebutuhan gizi bagi tubuhnya.

Untungnya, saya mendapat didikan agama yang lumayan kuat dari keluarga, sehingga walaupun saya bisa mengerti keresahan akan sistem nilai patriarki yang terlalu mendominasi dalam kebudayaan masyarakat umum, saya akan kembali kepada agama saya dalam memandang hal tersebut. Selama ini saya selalu mendengar bahwa Islam tidak butuh feminism. Secara norma dan nilai, PEREMPUAN SEMPURNA DI DALAM ISLAM. Saya yakin akan nilai tersebut tetapi sayangnya saya menemukan  sebuah kenyataan pahit bahwa Islam belum berhasil merealisasikannya dalam kehidupan nyata.  Bahkan kadang dijadikan alat supaya kesenjangan menjadi benar. Lalu apakah solusinya adalah feminisme? Tidak ada jaminan juga bahwa feminism akan berhasil bukan? Apalagi feminism didasarkan kepada kesetaraan gender. Panjang lagi dah ceritanya nanti. Honestly, it like breath in dirty air.

Menurut saya, akan menarik jika para pemuka agama yang selalu bicara bahwa Islam tidak butuh feminism itu lebih menyakinkan para Muslimah bahwa dia punya kuasa terhadap tubuh dan pikirannya dibarengi dengan penyadaran seberapa berharga dan dinilaiagungnya tubuh dan pikirannya. Jangan biarkan tubuh dan pikiran para Muslimah ini terlacurkan demi dunia yang sebentar. Yang dilacurkan bukan hanya tubuh, tapi pelacuran pikiranlah yang lebih banyak terjadi. Pelacuran pun tidak hanya dilakukan perempuan tapi juga laki-laki.

Satu hal yang juga saya ingin kritisi adalah pemuka agama yang berkata itu kebanyakan laki-laki  atau mungkin perempuan yang tidak memiliki pengalaman kuasa akan tubuh dan pikirannya tercerabut sehingga mereka kurang empati terhadap para Muslimah yang menjadi objek dari pemikiran ini. Malah bisa dianggap sebagai re-doktrinasi patriarki. Mungkin bisa mengambil hati dengan berempati pada nilai-nilai partriarki yang lebih banyak memberikan privilege kepada kaum laki-laki dan bagaimana Islam sebenernya memandang hal itu. Misalnya, ada beberapa konstruk sosial kita yang tidak menganggap pandangan dan suara perempuan karena pada umumnya perempuan dimana konstruk sosial itu terbentuk tidak punya akses pendidikan yang sama dengan laki-laki, bagaimana Islam memandang hal itu dan memberikan solusi untuk hal itu? Apakah persamaan akses terhadap Pendidikan adalah solusi akhir? Saya kira tidak cukup. Atau jangan-jangan langkah yang diambil malah menutup akses sama sekali bagi perempuan agar ketiadaan suara perempuan menjadi lestari. Haduh…

Jadi, apakah Islam butuh feminism?

Jawaban (episode 3)

Telepon seluler Febian berdering. Febian tahu siapa yang menghubunginya. Kalau bukan Ariana, pasti itu dari orangtuanya. Tidak mungkin orang yang diinginkannya, WIdya.

“Iya Pak…”

“Berita kamu sama Ariana itu benar?” kata bapaknya

“Febian cuman berteman saja dengan dia pak… Media yang berlebihan.”

“Tapi kenapa beritanya begitu besar Feb?”

Febian ingin menjawab karena dia adalah pemenang dan Ariana adalah seorang artis. Punya nilai berita yang begitu tinggi. Tapi keluarganya tidak akan mengerti.

“Lain kali Feb akan lebih berhati-hati pak…”

“Ibu mau bicara Feb…” kata bapaknya disebrang telepon sana.

 “Ini ibu Feb… Feb… ibu cuman pesan kamu sekarang sudah jadi orang. Bapak dan ibu mungkin tidak bisa membimbingmu sepenuhnya. Kamu bisa berhubungan dengan siapapun yang kamu mau. Bapak dan ibu hanya berpesan, jaga nama baik keluarga dan orang tuamu yang sudah mulai renta ini Feb…”

“Kamu masih muda Feb, masih 20 tahun. Ariana itu sudah  25 tahun. Sebentar lagi dia pasti akan memintamu untuk memperjelas hubungan. Bapak dan Ibu masih ingin kamu fokus pada prestasimu saja dahulu. 7-8 tahun lagi lah baru kamu berpikir tentang keluarga.” Bapaknya memberikan nasehat dengan lebih lugas dan rasional.

Ingin sekali Febian menghubungi Widya. Namun, dengan kejadian kemarin, tentu Widya tidak mau lagi menghubungi dan dihubungi lagi olehnya. Jadilah dia menghubungi Ariana. Tapi kemudian diurungkannnya. Dia tidak bisa terlihat buruk di depan Ariana. Dia tidak cukup percaya pada Ariana.

***

Turnamen setelah semuanya terjadi, Febian kalah dipertandingannya yang pertama.

“Feb, kamu itu kenapa? Latihan nggak konsen, saya bilangin cuman bengong, kamu keasikan pacaran ya sama si artis itu. Siapa namanya? Rihana?” omel pelatih Febian, Pak Taufik.

Febian hanya diam. Febian menemukan sedikit komedi diantara semua tragedy yang sedang melandanya. Pelatihnya salah menyebut nama Ariana.

“Kamu itu masih muda. Lima tahun lagi juga masih banyak yang mau sama kamu. Kamu sekarang lagi ada di umur emas-emasnya. Kamu harus fokus sama pertandingan. Karier kamu. Saya minta fokus kamu 5 tahun lagi aja.”

Pelatih Febian pun berlalu. Tanda evaluasi telah berakhir. Denny yang lanjut ke babak selanjutnya menghampiri Febian.

“Feb, lo akhir-akhir ini beda deh. Latihan nggak konsen, dimarahin pelatih belaga bego, dan yang paling aneh adalah lo nggak mau di wawancara lagi. Biasanya kan lo paling seneng kalo mbak WIdya dah nongol” Denny memberi tatapan aneh pada Febian.

“Gue lagi bad mood aja Den. Khusus masalah wawancara, lo kayaknya lebih jago buat ngadepin media. Lo kan anak Jakarta.” Kata Febian. Dahulu memang Denny yang mengajari Febian tentang media.

“bad mood kenapa sih? Rihana? Lu pikir lu Chris Brown apa?” kata Denny sambil tertawa.

“Ah, lo ikutan pak pelatih aja. Lagian gue bukan bete gara-gara Ariana kok.”

“Lah terus?”

“Complicated deh pokoknya.”

“Feb, lo nggak boleh gini donk. Lu nggak bisa nyekip 2 turnamen ke depan loh. Itu turnamen penting dan bergengsi. Kalo keadaan lo masih kayak gini, lo bisa turun ranking. Sebulan dua bulan lo kayak gini terus, bisa-bisa lo degradasi dari pusat pelatihan.”

Febian kembali hanya diam. Dia tak ingin apapun. Dia hanya ingin mengetahui kabar mbak Widyanya.

“Sekarang Ariana dimana ketika lo lagi jatuh gini? Tu mbak-mbak beneran ya. Cuman ada saat lo menang doank.”

“Gue yang nggak angkat teleponnya.”

“Kalau githu lo yang gila. Cewek cantik kayak githu lo cuekin, meskipun mbak-mbak sih.”

“Gue nggak bisa terlihat jelek didepan dia.”

“Harusnya kalo emang dia cewek yang baik ya Bi, dia harusnya bisa nge-treat lo pas lagi gini.”

“Gue yang nggak sanggup ‘telanjang’ di depan dia? Gue kurang percaya sama dia.”

“Au ah gue nggak paham cerita cinta sama mbak-mbak. Cinta gue cuman buat raket gue” kata Denny sambil mencium raketnya.

***

“Mbak, gawat.” Kata Lukman diujung telepon menelepon WIdya yang berjaga di Gedung DPR. Sekarang sedang tidak ada berita yang terlalu penting disana. Lagi adem.

“Kenapa Man? Kok tumben banget kamu telpon mbak. ”

“ya karena gawat makanya aku sampe telepon mbak. Febian bener-bener nggak mau ngasih kata-kata, mbak. Padahal kan dia kalah di babak pertama itu kan hal yang sangat besar.”

“Ah… lagian kalian sih… kemarin waktu dia menang. Yang diberitain Ariana. Sekarang dia kalah juga mau diajdiin berita. Beneran ya lo pada.”

“Sekarang juga beritanya masih Ariana mbak… Gosipnya dia kalah karena konsentrasinya terbagi karena pacaran sama Ariana.”

“Ya makin nggak mau lah dia Man.. Kalian itu kan wartawan olahraga, kenapa berita nggak berbobot gt yang kalian turunin? Mbak pernah ngajarin kayak gt nggak? Kita cukup tahu aja mengenai kehidupan pribadi mereka. Supaya bisa jadi info dasar kita bikin berita. Bukan sebagai berita utama.”

“Ya, orang yang jadi keingintahuan publik kan itu mbak.”

“Tapi agenda medianya apa? Agenda publiknya apa? Pentingnya memenuhi keingintahuan public tentang hal itu apa?”

Lukman hanya diam.  Mati dia dicecar seniornya.

“Tapi kan tim redaksi setuju mbak.”

“Kamu tahu nggak keluhan mereka sama mbak. Kalian mampunya cuman ngambil sudut pandang yang itu. Kalian bener-benere bikin mbak malu dan merasa gagal membimbing kalian. Ya dari pada nggak ada berita, itulah yang diturunin. Lagi hype banget kan turnamennya. Kalo nggak ada beritanya malah aneh.”

Widya puas menumpahkan kekesalannya pada juniornya itu.

“Jadi gimana donk mbak?”

“Oke. Mbak, coba ngomong dulu sama mas Wayan. Kalo mas Wayan bisa gantiin mbak disini untuk sementara. Mungkin mbak bisa bantu disana. Untung disini lagi adem.”

***

Widya pun mendatangi Febian di pusat pelatihan. Wayan mengerti kekacauan apa yang sedang terjadi. Dia pun menggantikan Widya berjaga sementara Widya menyelesaikan masalah yang dibuat Lukman dan kawan-kawannya tanpa pikir panjang. Seusai latihan, dia menghampiri Febian. Febian yang saat itu masih dalam keadaan mood yang buruk. Melihat Widya didepannya, Febian tak tahu harus bagaimana. Febian tak tahu harus bersikap pada Widya sebagai wartawan yang harus dia hindari atau sebagai wanita yang dirindukannya. Febian hanya sanggup diam dengan mata berkaca-kaca.

“Mbak datang sebagai kakak, Bi.”

Febian kembali bingung. Harus bagaimana dia bersikap.

“Bersikaplah sebagai adik mbak. Jangan lebih, karena mbak akan pergi kalau itu terjadi.”

Febian akhirnya hanya menangis sesengukan di depan Widya. Satu satunya manusia yang dia percaya untuk melihat semua kelemahannya.

“Ada apa Bi? Coba cerita sama mbak.”

Febian pun menumpahkan semua hal yang menjadi ganjalan hatinya selama ini. Hubungannya dengan Ariana, permohonan orang tuanya dan permasalahannya dengan wartawan dan media.

“Mau mbak bantu?”

“Mbak bisa bantu apa?”

“Mbak bisa bantu sebagai kakak dan sebagai konsultan komunikasi. Pertama saran mbak sebagai kakak adalah… perjelas hubunganmu dengan Ariana, jika kamu ingin serius dengannya. Beri tahu dia tentang keinginan orang tuamu. Apakah dia sanggup menunggu 7-8 tahun lagi dengan status menggantung yang sama seperti sekarang. Kalau dia tidak sanggup, jangan pernah mencoba hubungi Ariana dan jangan lagi mau dihubungi olehnya. Kalau dia sanggup, katakan pada Ariana untuk tidak mempublikasi hubungan kalian. Kedua, saran mbak sebagai konsultasi komunikasi adalah… kamu bisa menolak untuk menjawab semua pertanyaan wartawan tentang hal di luar pertandingan. Termasuk tentang kehidupan preferensi pribadimu, pertemananmu, keluargamu dan lain-lain. Tapi kamu harus konsisten tidak menjawabnya. Konsekuensinya, kamu juga harus sangat berhati-hati untuk berbagi di media sosial. Konsekuensi ini juga berlaku bagi orang-orang secara pribadi punya hubungan dengan kamu.”

Telepon Febian berdering. Lalu kemudian Febian mematikannya.

“Kenapa dimatiin?”

“Sumber semua kekacauan ini, Ariana.”

“Kamu tidak bisa terus menghindar dari dia Bi.”

Febian pun akhirnya mau berjanji untuk memperjelas hubungannya dengan Ariana dan menyelesaikan semua masalahnya dengan wartawan.

“Besok Lukman mau wawancara bisa ya Bi. Pertanyaannya nanti mbak yang saring.”

Febian pun hanya mengangguk

“Oh iya Bi. Mbak minta maaf ya. Sekarang kamu mengerti kan kenapa mbak nggak bisa nerima perasaan kamu. Ariana yang jauh lebih muda dari mbak saja ditanggapi sedemikian antipati oleh orang tuamu. Apalagi mbak dengan segala masa lalu mbak?”

“Boleh aku tanya sesuatu mbak?”

“Kenapa mbak bisa jadi seperti ini?”

Widya pun akhirnya bercerita tentang masa lalunya.

“Hm… jadi almarhumah adik mbak itu seumuran aku ya mbak?”

“Persis. Ada beberapa bagian dari adik mbak yang ada di dalam dirimu. Sikap kompeitifnya, sifat sungguh-sungguhnya…”

“Boleh aku yang sekarang memberi saran pada mbak. Sebagai adik.” Febian kini sudah mulai menerima dia tak akan pernah bisa dianggap laki-laki oleh Widya.

“Tidak semua hubungan romantis itu rumit mbak.” Sambung Febian lagi.

“Mbak tahu. Tapi mbak jengah jika membayangkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi dalam hubungan romantis. Mbak bahkan hampir kehilangan karier mbak Bi waktu itu.”

“Baiklah mbak. Setidaknya kita satu kesamaan, yaitu kita punya fokus yang sama. Karier.”

Widya hanya tersenyum.

 ***

“Feb, kamu kenapa berubah sih? Susah banget dihubungin.” kata Ariana saat itu.

Febian hanya diam. Ini adalah pertemuannya yang pertama dengan Ariana setelah dia menghindari Ariana selama sekian lamanya.

Karena aku tidak bisa terlihat kalah di depanmu, Ariana. Aku tidak bisa percaya padamu. Kata Febian dalam hati.

“Orang tua kamu gimana soal berita kita berdua? Perlu aku jelaskan pada mereka?”

“Jangan Na, nanti tambah ribet.”

“orang tua kamu nggak suka sama aku? Karena aku lebih tua?”

“Lebih tepatnya karena mereka ingin aku fokus tanding dulu Na.”

“Kita kan nggak perlu nikah besok.”

“mereka ingin aku menikah, paling cepat 7-8 tahun lagi. Apakah kamu sanggup menunggu?”

“Ini bukan cara kamu untuk membuat aku mundur kan?”

“Atau kamu sanggup menghadapi hubungan ‘pertemanan’ kita yang tanpa kepastian ini saja? Dan menjaganya dari mata publik. TIdak membaginya di sosial media misalnya. Kamu sanggup?”

“Ini bukan cara kamu untuk membuat aku mundur kan?” sampai dua kali Ariana menanyakan pertanyaan yang sama.

Febian hanya diam. Dan itu adalah percakapannnya yang terakhir dengan Ariana. Ariana kini meninggalkan Febian sendiri.

Rasa seorang Pemuda (episode 2)

Febian hanya merenung dipinggir lapangan. Dia sendiri di perantauan. Sejak kecil memang dia sudah hidup di asrama junior. Sebenarnya dia sudah terbiasa. Tapi, di pusat pelatihan sungguh berbeda. Tidak ada lagi yang merangkulnya ketika menangis karena kalah.  Tidak ada lagi yang memotivasinya ketika akan bertanding melawan yang jauh lebih hebat darinya. Di asrama junior, semua pelatih dan support sistemnya dipersiapkan untuk menghadapi hal-hal semacam ini. Di sini semua harus mandiri. Lagi pula dia seorang lelaki. Kalau perempuan mungkin bisa saling curhat sesame perempuan.

“Bian, mbak boleh wawancara?”

Febian bungah. Dia bingung harus gembira atau kesal. Dia gembira karena Widya datang, dia kesal karena Widya datang sebagai wartawan. Kalau wartawan yang datang bukan Widya mungkin dia ingin menolak dimintai komentar. Dia sudah hafal pertanyaannya. Bagaimana persiapan dia menghadapi musuh bebuyutannya.

“Aku sudah hafal pertanyaannya mbak. Aku langsung jawab aja. Persiapannya sama seperti pertandingan lainnya.”

“Maaf ya, mbak nyebelin.” Kata Widya kini.

Tapi selanjutnya dia jelaskan alasan mengapa wawancara ini penting. Baginya juga bagi Febian serta bagi seluruh rakyat Indonesia. Febian pun luluh. Dia mengerti pekerjaan Widya, wanita yang telah mencuri hatinya. Ya. Widya adalah wanita baginya, bukan sekedar wartawan.

Setelah Febian memberikan jawaban yang cukup proper. Dan lalu berlanjut ke pertanyaan selanjutnya sampai akhinya tanya jawab pun berakhir.

“Bi, boleh of the record? Kabar kamu sama Felly tuh gimana sih?”

Lagi-lagi artis, namun yang kini berbeda.

“Ya nggak gimana-gimana mbak. Orang kan itu temenku di klub literasi. Cuman yang sering di sorot kamera itu aku sama dia. Padahal Felly itu pacarnya ada di klub itu juga.”

“Berarti kasusnya beda sama Shanti?”

“Beda lah… Hm… mbak, yang tadi, mau nggak off the record juga nggak papa.”

“Tapi udah gt, isu itu nggak bakal punya nilai berita lagi donk.”

“Berarti maksudnya media pengen aku bilang kalo aku pacaran sama Felly gt? Ya abis nanti mbak aku dihajar pacarnya.”

“Atau media lebih senang menggantungnya. Eh, tapi menarik loh soal klub literasi itu. Boleh kamu certain lebih jauh nggak?”

Febian pun menceritakannya pada Widya dengan mata berbinar-binar.

“mbak mau nanya sesuatu yang pribadi, tapi nggak off the record. Boleh?”

“Wah.. curiga saya jadinya mbak.”

“Boleh nggak?”

“Apa?”

“Udah punya pacar belum?”

“Yah, mbak Widya kayak nggak ngeliat aja kehidupan kita disini kayak gimana.”

“Kriteria perempuan yang disukain Febian tuh kayak gimana sih?”

“Mbak beneran mau tahu?”

“Lah, kan ini aku lagi wawancara. Aku sih nggak pengen tahu sebenernya. Tapi… orang-orang kan pengen tahu. ”

“Tapi kan mbak bukan wartawan inpohtemen.”

“Itu pertanyaan titipan temen mbak, Bi. Jadi Bian nggak mau jawab nih?”

“Melindungi, mengayomi, pengertian.”

“Berarti kamu suka yang lebih tua ya? Waw! Mbak nggak nyangka loh.”

“Contohnya mbak.”

Jawaban ini dikira Widya sebagai candaan. Tapi Febian mengatakannya dengan serius. Ya. Dia mencintai Widya sebagai wanita. Dia mengkhayalkan Widya yang akan menjadi wanita yang akan memeluknya ketika dia kalah. Dia menginginkan Widya yang akan bersamanya merayakan setiap kemenangan yang di dapatnya. Dia juga memimpikan  Widya akan memotivasinya ketika hendak menghadapi pertandingan yang sulit.

“Ah, kamu nih ada-ada aja. Mbak serius nih. Contohnya Ariana mungkin?”

Febian memang digosipkan dengan begitu banyak wanita. Maklum, dia memang sedang dalam masa-masa emas dalam kariernya. Ariana sendiri adalah seorang aktris yang cukup mumpuni. Umurnya lebih tua sedikit dibanding Febian. Widya tahu betul seberapa Ariana menyukai Febian. Dan sepengelihatan Widya, Febian pun membalas rasa Ariana. Tanpa Widya ketahui bahwa Febian sedemikian besar lebih menginginkannya.

“Ya… Ariana boleh lah… Hehe… nggak dink mbak. Aku masih fokus tanding dulu. Nggak mikir yang lain. Aku baru 20 tahun loh mbak. Mbak, soal Ariana, tolong off the record ya…” Ya. Ini adalah 3 tahun setelah pertemuan pertama mereka. Sekaligus hari terakhir Widya bertugas di pusat pelatihan. Dia kembali k epos politik, berjaga di Gedung DPR.

***

“Bi, selamat ya atas kemenangannya.” Sahut Ariana diujung telepon.

“Makasih Ri.”

“Jalan yuk.” Ajak Ariana.

“Boleh.”

“Jemput aku di stasiun TV?”

“OK”

***

Febian tak menyangka keputusannya salah. Tak bisa dia percaya begitu banyak paparazzi tak terkendali jaman sekarang. Sekarang kabar kedekatannya dengan Ariana menghiasi semua media. Kalau ada kemenangan yang dia raih, pertanyaan tentang Ariana kini menjadi konsekuensi.

Suatu ketika Febian tidak tahan lagi. Dia pun mengambil handphonenya dan menghubungi sebuah nomor, Widya. Sementara itu diujung sana, Widya sedang repot mengejar narasumber seorang anggota DPR yang santer kabarnya akan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

“Bi, lo kok aneh deh. Lo kan kemarin abis menang. Tapi ekspresi muka lo sekarang itu kayak lo abis kalah.” Sahut Denny teman sekamarnya.

Febian tak memperdulikannya, dia hanya terus berusaha menghubungi Widya yang ternyata tidak ada hasilnya.

***

Widya baru saja bisa bernafas setelah semua hal yang berhubungan dengan politikus tersangka korupsi itu selesai. Konferensi pers beres, olah data beres, stor tulisan beres. Dia baru melihat handphonenya dan seketika itu, dia melonjak.

‘What? 50 missed call. Walah, jangan bilang dari mas Wayan.”  Teriakan reflek Widya ini membuat kaget semua wartawan lain yang ada disekitarnya. Wayan adalah nama pimpinan redaksinya.

“Ssssttttt!!!!!” balasan itulah yang didapat Widya dari teman-teman sejawatnya dari berbagai media. Widya memang masih berada di ruang media kantor KPK.

Widya lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa yang menghubunginya adalah FEBIAN. Namun, kini dia bisa mengendalikan ekspresinya.

“Lang, hasil tunggal putra turnamen gimana?” Widya bertanya pada Gilang, wartawan politik dari media lain yang setahunya adalah seorang pencinta bulutangkis.

“Aneh deh lo mbak. Yang mantan wartawan olahraga siapa, yang lama di pusat pelatihan siapa, yang banyak kenalan atlet siapa. Lah, nanya ke gue mbak? Kenapa tiba-tiba tanya?”

“Udahlah cepetan jawab, darurat nih.”

“Febian lah mbak. Dia mah udah nggak ada lawan.”

“Beritanya udah turun?”

“Udah. Tapi yang jadi berita malah kedekatan Febian ama Ariana. Kasian amat ya. Wartawan-wartawan itu apa nggak tahu kalo menang itu susah. Lah, abis menang, malah ditanyain kehidupan pribadi. Dikira artis apa?”

“Salah dia juga Lang. Pacaran sama artis.”

“Emang pacaran mbak?’

“PDKT doank. Febian nya playboy.” jawab Widya santai.

Kini Widya tahu apa yang menyebabkan Febian sampai menghubunginya sedemikian gigih.  Tapi dia sudah tak punya tenaga untuk mendengar curahan hati anak muda yang sedang tidak stabil. Dia hanya ingin tidur kali itu.

***

“Bi, kemarin kamu telepon mbak ya. Maaf ya, kemarin mbak sibuk banget. Ada apa?” kata Widya basa-basi ketika pagi itu Febian kembali menghubunginya.

“Aku kangen sama mbak. Aku cintanya sama mbak. Bukan sama Ariana. Aku menginginkan mbak sebagai seorang wanita bukan seorang kakak.”

Emosi yang dipendam Febian sekian lama akhirnya termuntahkan semua. Kata-kata Febian ini hanya membuat  Widya terbujur kaku. Tapi kemudian…

“Lalu, apa yang kamu lakukan dengan Ariana?”

“Ariana hanya pelarianku karena mbak terus-terusan mengangapku anak kecil dan tidak pantas diperhitungkan sebagai laki-laki. Ariana cuman kakak yang mengajariku menikmati dunia.”

“Lalu kesalahan mbak ada dimana?”

“Kenapa mbak tidak menganggapku sebagai laki-laki?”

“Kenapa kamu tidak bisa menganggap mbak sebagai kakak dan Ariana sebagai wanita? Ariana jauh lebih muda dari mbak Bi… dia lebih mungkin jadi wanitamu daripada mbak Bi…”

“I love you because of that! Karena mbak jauh lebih dewasa dari Ariana. Ketika aku kalah, yang meluk aku cuman mbak.” kata-kata yang keluar dari mulut Febian kini menjadi semakin emosional.

“Karena ketika kalah cuman mbak yang kamu hubungi. Beri kesempatan pada Ariana untuk mencoba melewati kekalahanmu di kemudian hari. Bi, maaf, mbak harus ngejar narasumber.”

Ariana baru datang ketika Febian menghadapi masa kemenangannya. Dia tidak kebagian masa-masa dimana Febian ingin berhenti bahkan ingin bunuh diri. Widya yang menemani Febian kala itu. Sampai saat ini, ketika dia kalah, dia hanya ingin menghubungi dan dihubungi Widya. Ariana tidak tahu itu.

Widya tak menyangka bahwa kasih sayang pada adiknya yang dia alihkan pada Febian akan berujung seperti ini. Tapi, Widya tak punya cukup waktu untuk membuatnya menjadi sebuah masalah.

Pikiran Febian menjadi kalut. Dulu yang dikejar Widya adalah dirinya. Dia merasa tersanjung karena itu. Membayangkan kini Widya mengejar banyak lelaki lain selain dirinya yang tidak ia kenal sungguh menyulitkan baginya. Dia cemburu, namun tak bisa berbuat banyak.

Ariana? kini tidak ada lagi tempat dipikiran Febian untuk memikirkan Ariana.

Munculnya seorang bintang (episode 1)

Hari ini adalah hari pertama Widya bertugas di pusat pelatihan bulutangkis nasional. Dia tersingkir dari daftar wartawan politik di kantornya. Dengan semua hal yang telah terjadi dalam hidupnya belakangan ini, masih syukur hanya degradasi yang dialaminya. Setidaknya dia tidak dipecat. Di kantornya, wartawan politik adalah posisi premium. Semua wartawan yang bekerja di kantornya, berlomba ingin ditempatkan di pos politik. Menjadi wartawan di pos ini harus siap siaga setiap saat 24 jam. Sedangkan di pos olahraga tidak perlu seperti itu. Dia hanya perlu siaga di saat ada event-event atau ketika ada prestasi tertentu yang diraih. Meskipun begitu, observasi harus dilakukan setiap hari. Agar ketika ada yang bernilai berita, data-data riset yang diperlukan untuk membuat tulisan yang mumpuni tersedia.

3 bulan yang lalu adik lelakinya yang sangat dicintainya meninggal dengan cara yang tragis. Sebulan yang lalu pernikahannya batal karena diketahuinya bahwa sang calon suaminya ternyata sudah beristri. Dia begitu terpukul dan kinerjanya menurun drastis. Meskipun begitu, untuk ukuran stress seperti itu, dia tidak berpikir untuk bunuh diri saja sudah merupakan sesuatu keberhasilan baginya. Hanya di degradasi menjadi wartawan olahraga adalah hal yang masih baik-baik saja buat dia. Ini tak lepas karena prestasinya selama ini. Dia merupakan wartawan kesayangan pimpinan redaksinya sampai semua hal buruk menimpanya dalam waktu yang bisa dibilang singkat.

Adiknya memang sudah tanggung jawabnya sepenuhnya, sejak dia bisa membiayai hidup adiknya. Adiknya pun sangat dekat dengannya. Maka, kematian adiknya yang tragis memang sangat amat memukulnya. Lebih memukul dari pembatalan pernikahannya yang membuatnya menjadi skeptis terhadap hubungan romantis.

Kebetulan hari itu juga adalah hari pertama para pemain baru berdatangan ke pusat pelatihan. Mereka adalah putra-putri umur 15-19 tahun terbaik yang dikumpulkan dari seluruh negeri. Tiba-tiba saja air matanya mengalir. Beberapa dari mereka pasti ada yang seumuran dengan adiknya, 17 tahun, 10 tahun lebih muda darinya.

“Mbak Wid, baik-baik aja?” kata Lukman

“Nggak papa Luk. Ada apa?”

“Aku khawatir mbak. Mbak kenapa tiba-tiba nangis?”

“Mbak inget adik mbak.”

“Mbak yang sabar ya…” hanya itu yang bisa diucap Lukman.

Lukman adalah wartawan baru, juniornya yang Widya harus bimbing. Dia memang tak bertugas sendiri dari kantornya. Biasanya dia berdua atau bertiga. Tapi karena sekarang bukan masa “peak season”. Maka, dia hanya berdua saja bersama Lukman.

***

Widya dan Lukman baru saja selesai melapor pada Humas pusat pelatihan. Merekalah yang akan bertugas di tempat itu selama beberapa waktu ke depan. Widya pun tidak tahu dia akan berapa lama di sana. Yang pasti, sampai dia bisa buktikan pada dirinya sendiri bahwa kinerjanya sudah kembali.

“Mbak, aku mau cari stok foto dan kenalan santai dulu sama atlet-atletnya ya.”

“Ya. Kalau bisa kamu kenalan sama yang kemarin juara Man. Daniel Sutomo sama Gerry Kusmanta kalau nggak salah”

Lukman pun pergi.

“Mbak Widya tuh bukannya yang tugas di DPR ya?” sahut Humas pusat pelatihan. Ya. Dia memang mantan pebulu tangkis yang sempat menjadi politikus, Randi Haryono. Widya beberapa kali wawancara dengannya. Tentu saja wawancara politik.

“Iya pak. Sekarang disini.”

“Kalau butuh kenalan sama Daniel-Gerry bisa loh saya panggilkan.”

“Nggak pak. Tidak urgent kok. Salah satu tugas saya emang membimbing Lukman. Biar ‘sense of news’ nya tercipta. Biar dia bisa membangun jaringan dan melakukan investigasi.”

“Ou… ya sudah, mari saya tinggal dulu.”

Widya pun kembali sendiri. Mata investigatifnya jelalatan kemana-mana. Mengobservasi dan mencari hal-hal yang kira-kira menarik untuk direkam di otaknya. Dan tak disangka, dia menemukan seorang lelaki muda sedang menangis dipojokan. Dia pun terpanggil untuk menghampiri.

“Kalah itu emang nggak nyaman.”

“mbak siapa?” kata lelaki muda itu.

“Saya Widya. Wartawan. Tahun-tahun kedepan pasti kamu akan banyak bertemu dengan saya.”

“Ya kalo wartawan kan emang disini terus.”

“Biasanya, yang biasa ketemu wartawan itu para juara. Karena mereka yang punya nilai berita.”

“saya kalah mbak.” kata remaja itu sambil terus menyembunyikan wajahnya.

“Itu kan hari ini. 2-3 tahun lagi pasti akan berbeda. Siapa nama kamu?”

“Febian.”

“saya nggak sabar nulis berita Febian yang menjuarai berbagai kejuaraan. 2-3 tahun lagi saya yakin Febian pasti bisa.” kata Widya sambil menyerahkan sebotol aqua yang sebenarnya dia simpan untuk dirinya. Itulah yang biasa dia lakukan pada adiknya ketika sang adik merasa terpuruk.

Itulah pertemuan pertama Widya dan Febian. Sebuah pertemuan yang tak disangka Widya sangat memberi arti pada Febian.

***

Sebulan kemudian… anak muda itu kembali termenung sendiri. Widya mendekatinya.

“Kenapa Bi? Kusem amat.”

“Ini mbak datang sebagai apa nih?”

Waktu selama sebulan ini telah membuat Febian mulai tahu apa fungsi wartawan yang ada disekitarannya. Meski dia belum punya nilai berita, tapi bisa saja dia dijadikan sumber berita tentang hal yang mempunyai nilai berita. Entah konflik antar atau antara sesama pemain, pelatih atau pengurus. Denny yang memberi tahunya. Karena Denny tahu, kedekatan Febian dan Widya. Kata Denny, Febian harus memastikan Widya mendekatinya sebagai apa. Kalau sebagai wartawan, maka Febian perlu berhati-hati akan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Mungkin saja hal-hal remeh bisa punya nilai berita bagi wartawan. Dan kalau ada suatu kehebohan yang disebabkan curhat Febian, bisa jadi nasib buruk bagi Febian. Denny tahu semua dari kakaknya yang sudah lama menjadi penghuni pusat pelatihan ini.

“Jadi, lu harus tanya dan mastiin ketika wartawan datang ngedeketin lu. Dia datang sebagai apa. Kalau sebagai wartawan, lu musti hati-hati. Tapi kalo lu merasa udah jadi temen sama mereka dan mereka bilang datang sebagai temen, mereka punya etika juga kok. Tapi… ya itu, harus dipastikan, mode apa yang lagi nyala di mereka.”

Itulah kata Denny yang memberikan penjelasan pada seorang anak daerah, Febian.

“Mbak datang sebagai kakak.” Kalau begini artinya, apa pun yang dia ceritakan kepada Widya akan aman.

Febian pun mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Kegalauan-kegalauan anak muda tentang masa depan. Hal-hal yang biasa adik Widya ceritakan. Widya sudah tahu bagaimana cara mengatasinya. Membuat mereka tenang dan memberikan kekuatan pada mereka. Hal-hal yang juga dia lakukan pada Lukman dan anak muda lainnya yang datang padanya.

***

Setahun setelah itu…

“Mbak Widya aku juara!!!!” sahut Febian.

“Selamat Bian. Nanti aku minta wawancara ya Bi. Exclusive.” kata Widya professional, mempertegas bahwa dia datang sebagai wartawan.

“Apa sih yang nggak buat mbak Widya.”

“Tapi nanti wawancaranya nggak sama aku ya. Sama Lukman.’

“Tapi mbak Widya ada kan?”

Salah satu keputusan hidup yang tak pernah disesali Widya adalah mendekati Febian ketika menangis setahun yang lalu. Sama tidak menyesalnya dia dengan keputusannya membatalkan pernikahannya. Walau dia harus mendapat cemoohan tak henti dari keluarga besarnya. Sudahlah, toh dia dan mereka tak bertemu setiap hari.

Karena keputusannya mendekati Febian, dia jadi punya kedekatan yang sedikit istimewa dengan Febian. Melihat polanya, dia yakin Febian akan jadi seseorang yang besar suatu hari nanti. Ketika itu dia tidak akan sulit mendapatkan janji wawancara dengan sang bintang.

Seusai wawancara…

“Bi, off the record donk, kabar kedekatan kamu sama Shanti tuh gimana sih?”

Bi atau Bian adalah panggilan Widya untuk Febian. Widya yang pertama kali menggunakannya. Dan sekarang, seluruh media juga menggunakannya. Shanti adalah seorang selebriti.

“Dia ngefans sama aku mbak. Suka ngasih-ngasih aku hadiah.”

“Weis, Bian, fansnya artis. Tapi kayaknya dia ngarep ke kamu lebih loh.”

“Mbak, aku bingung. Aku nggak biasa sama sorot kamera.”

“Juara emang githu. Apalagi kalau pacaran sama artis.”

“Aku nggak pacaran mbak sama dia. Mbak, aku sedang butuh kamu sebagai kakak. Bisa nggak?”

“Oke. Off the record kuadrat.”

“aku risih mbak sama Shanti.”

“why? She just like you. Fans of you.”

“Ya, kata mbak tadi. Dia ngarepnya lebih. Mbak tahu juga kan? Orang beritanya udah nyebar off the record juga di kalangan wartawan.“

“You just a 19’s year old boy, baby. She does too. Just enjoy your young time.”

Begitulah Widya memainkan perannya sebagai wartawan dan sebagai seorang “kakak”.

“Mbak Widya sendiri udah punya pacar? Aku tanya sebagai adik loh ya mbak, bukan sebagai atlet.”

“Emang ngaruh?”

“Nggak sih mbak.”

“Ketika kamu dewasa, kamu akan tahu pahit manis kehidupan Bi. As I say, just enjoy your time.”

Nasioanalisme dan Kompetitif

Saya termasuk penonton olahraga yang cukup intens, dibandingkan suami saya (hahahah). Saya kenal David Villa-Fernando Torres, dia tidak. Saya kenal Jorge Lorenzo-Dani Pedrosa, dia tidak. Saya tahu Lin Dan dan Lee Chong Wei serta fenomenanya, dia bahkan tidak tahu siapa Rexy Mainaky dan Ricky Subagja. Maka bisa ditebak dia juga tidak tahu Candra Wijaya, Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan, Tantowi Ahmad, Lilyana Natsir dan lain sebagainya. Sekarang pun, dia juga tidak peduli dengan siapa itu Jonathan Christie dan Kevin Sanjaya apalagi pasangannya Marcus Gideon.

Tapi memang semua itu tidak begitu menarik bagi saya selama 6-8 tahun belakangan. Entah mengapa. Bahkan di world cup kemarin saya masih nyari Xavi Hernandes, terus juga saya nggak ngeh kalo Jorge Lorenzo pindah ke Ducati. Haha.

Setelah saya pikir, kenapa ya saya suka jadi penonton olahraga. Saya menemukan jawabannya. Itu karena Eyang Putra (Bapaknya ibu saya) yang suka nonton semua itu. Mulai dari bulu tangkis, sepak bola sampe moto gp. Hanya satu hal yang tidak disukai oleh saya dari kesukaan eyang putra, adalah Tinju. Mungkin masih banyak lagi. Saya sudah lupa, toh sudah 10 tahun yang lalu eyang putra saya itu dipanggil Allah.

Saya bukanlah orang yang nasionalis. Sebagaimana sikap orang yang tidak relijius kepada agama, begitulah sikap saya terhadap negara. Skeptis. Setelah saya berpikir lagi, kapan saya merasakan rasa nasionalisme terbesar? Maka saya bisa dengan yakin menjawab, 1. Ketika berada di luar negeri, 2. Ketika menonton pertandingan olahraga yang biasanya adalah Bulutangkis (karena kayaknya cuman ini olahraga dimana Indonesia diperhitungkan di tingkat internasional). Jadi…. kalau seandainya saya tidak pernah keluar negeri dan tidak pernah nonton bulutangkis, mungkin, saya tidak akan tahu bagaimana perasaan cinta terhadap tanah air, Indonesia.

Selain itu, ibu saya pernah bicara bahwa saya orang yang kompetitif tapi… (tidak boleh membuka aib sendiri :p). Setelah saya telah lebih jauh apa yang berbeda dari saya dan orang-orang sekitar saya yang kurang tertarik menonton pertadingan olahraga. Saya lebih kompetitif.

Mungkin, kalau Eyang Putra tidak pernah membuat saya suka menonton pertandingan olahraga, saya tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi kompetitif dan nasionalis. Tanpa sadar saya sedikit menangis ketika membuat tulisan ini. Tiba-tiba kangen Eyang Putra…

Pengagungan terhadap Ilmu

Sholeh bin Abdillah bin Hamd Al-Usyaini : Banyaknya ilmu seseorang sesuai dengan tingkat pengagungannya terhadap ilmu

20 perkara bentuk pengagungan terhadap ilmu :
1. Membersihkan hati,,
   Ilmu akan mudah masuk pada hati yang bersih, 
   kotoran hati : syahwat dan syubhat, 
2. Mengikhlaskan niat,, 
   niat yang ikhlas akan : 
   1. mengangkat kebodohan dari diri sendiri, 
   2. mengangkat kebodohan dari orang lain, 
   3. menghidupkan ilmu dan menjaganya supaya tidak punah, 
   4. mengamalkan ilmu.
3. Menguatkan tekad untuk menuntutnya, meminta pertolongan kekuatan kepada Allah dan tidak merasa lemah
   (Hendaklah engkau semangat melakukan apa yang bermanfaat bagi dirimu dan 
   memohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau merasa lemah; HR Muslim)
4. Memusatkan semangat untuk mempelajari Alqur'an dan Al hadist --> sumber segala ilmu
5. Menempuh jalan yang benar di dalam menuntut ilmu agama : 
   1. menghafal mathan kitab yang menyeluruh dan mengumpulkan perkara yang dikuatkan ulama 
      yang ahli di bidang tersebut, 
   2. mempelajari dari orang yang ahli, bisa dijadikan teladan dan mampu mengajar.
6. Mendahulukan ilmu yang paling penting :
   Ilmu ibadah kepada Allah : aqidah, tatacara wudhu, tatacara shalat, dll.
7. Bersegera dalam mendapatkan ilmu dan memanfaatkan waktu muda, 
   Hasan Al Basri : Menuntut ilmu di waktu muda seperti mengukir di batu, menuntut 
                    ilmu di waktu tua seperti mengukir di air
8. Pelan-pelan dalam menuntut ilmu 
9. Sabar dalam menuntut dan menyampaikan ilmu, 
   Yahya bin Abi Katiril : Tidak didapatkan ilmu dengan badan yang berleha-leha
10. Memperhatikan adab ilmu : diri, guru, teman; 
    ilmu akan sia-sia jika disampaikan kepada orang yang tidak beradab 
11. Menjaga ilmu dari apa yang menjelekannya ; 
    menjaga wibawa sebagai penuntut ilmu
12. Memilih teman orang yang shaleh
13. Berusaha keras dalam menmahani ilmu, belajar dari seorang guru yang bagus tidak akan berguna jika ilmu tersebut tidak diinternalisasikan ke dalam diri
14. Menghormati ahli ilmu ; 
    Rasulullah : Bukan termasuk ummatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan mengetahui 
    hak seorang alim (Hadist Hasaan Imam Ahmad)
    Murid harus menghormati gurunya : menghadap beliau dan tidak menoleh, menjaga adab berbicara, 
    tidak berlebihan dalam memuji, mendoakan, mengucapkan terimakasih atas pengajarannya, tampak butuh terhadap ilmunya, tidak menyakiti dengan ucapan 
    dan perbuatan, berlemah lembut ketika mengingatkannya; 
    Guru salah --> 
    1. meneliti terlebih dahulu apakah benar kesalahan tersebut dilakukan olehnya, 
    2. apakah benar hal tersebut adalah sesuatu yang salah, 
    3. tidak boleh mengikutinya, 
    4. memeberikan udzur, 
    5. memberikan nasihat dengan rahasia, 
    6. menjaga kehormatan guru, 
15. Mengembalikan urusan terhadap ahlinya
16. Menghormati majelis ilmu dan kitab
17. Membela ilmu dan menolongnya bila ada yang merusak ilmu itu sendiri 
    Menjaga kemurnian ilmu ketika ada yang melakukan penyimpangan dan penyesatan dalam ilmu
18. Berhati-hati dalam bertanya kepada ulama : 
    1. bertanya untuk belajar bukan ingin menentang, 
    2. bertanya tentang sesuatu yang bermafaat, 
    3. melihat keadaan guru : tidak bertanya ketika keadaan tidak kondusif, 
    4. memperbaiki cara bertanya, 
19. Cinta kepada ilmu : mengerahkan kesungguhan, kejujuran, keikhlasan dalam menuntut ilmu
20. Menjaga waktu : seorang menuntut ilmu tidak menyiakan waktu