Definisi Kejahatan

Ketika Soeharto turun, kala itu saya baru kelas 3 SD. Jadi saya tidak punya ingatan yang kuat tentang bagaimana pak Harto. Saya hanya tau dia otoriter. Itu saja. Disamping juga pembangunan Indonesia yang begitu pesat pada masanya dan ditutup dengan krisis moneter. Saya sama sekali tidak tahu bagaimana beliau berkomunikasi, menjalankan manufer-manufer politiknya. Somehow, Saya menemukan video berikut :

Dalam video tersebut dia menceritakan tentang ideologi Soekarno dan keburukan cara memimpin Soekarno dengan cara yang sangat santun. Seakan membunuh musuh dari belakang sambil tersenyum di depannya. Dia merasa seorang jahat yang sedang menjelekan seorang jahat lainnya. Seperti seorang mafia yang sedang menghancurkan mafia lainnya. I feel so… somewhat. Saya lalu bertanya… apa sebenernya definisi orang jahat itu? Apakah orang-orang yang jelas-jelas melakukan sebuah kejahatan atau orang-orang yang melakukan kejahatan tapi dilapisi kebaikan sebagai topeng?

Tapi dari video ini bukankah garis-garis perjuangan moncong putih semakin jelas. Marxis yang berpolarisasi sedemikian rupa menjadi versi Indonesia, Marhaen. Jangan heran jika memang terasa aura-aura yang sama dalam pemerintahannya.

Saya ini hanya seorang perempuan yang hidup di dunia reformasi sebagai seorang Indonesia yang berusaha bersistem nilai Islam.

 

Iklan

Menghargai Pencarian

Saya berbenturan dengan keberagaman yang cukup mengguncang saya adalah ketika SMA (15-18 tahun). Banyak harakah yang saya kenal ketika SMA. Somehow, they have their own way. Garis batas mereka cukup jelas. Beda dengan sekarang, sudah banyak orang-orang harakah yang cukup memiliki pikiran terbuka dan dewasa yang sudah punya pengaruh cukup besar dalam harakahnya masing-masing. Sehingga pandangan garis-garis harakah masa sekarang semakin pudar. Semakin bisa dikompromikan. Ataukah saya yang memilih lingkaran pergaulan orang-orang yang mengkompromikannya?

Ketika itu, saya melihat sahabat-sahabat saya memiliki alasannya sendiri sampai akhirnya bergabung dengan harokah-harokah tertentu. Dan saya cenderung enggan memilih dengan yakin dan pasti. Saya hanya menjalani apa yang ada saja. Tidak ingin berdeklarasi dengan siapa jiwa saya tertaut.

Ketika saya kuliah (18-…. tahun), saya bertemu dengan teman-teman yang mengalami pencarian. Berbagai pencarian. Salah satunya adalah pencarian agama. Sebagai seseorang yang lahir di lingkungan yang cukup islami dan dapat didikan yang cukup islami, pencarian mereka menjadi begitu menarik bagi saya. Saya merasa seandainya saya jadi mereka, apakah saya akan memilih Islam? Maka dari itu, saya merasa pencarian seperti yang mereka lakukan itu perlu juga untuk saya lakukan.

Saya tidak setekun mereka dalam melakukan pencarian. Saya hanya bertualang, tanpa punya niat untuk melepas apa-apa yang saya yakini dan saya pegang sejak awal. Akan tetapi, saya jadi merasakan bagaimana rasanya berada dalam proses pencarian. Yang tidak terima begitu saja apa-apa yang orang-orang “claim” sebagai kebenaran. Jadilah saya merasakan bagaimana rasanya meragukan semua hal dalam dunia ini. Meragukan eksistensi dan kebenaran Tuhan, meragukan eksistensi dan kebenaran agama, bahkan meragukan eksistensi keberadaan dirinya sendiri. Saya tahu bagaimana rasanya. Maka dari itu, saya merasa perlu untuk menghargai setiap proses pencarian yang dilakukan setiap anak manusia.

Saya dapati, mereka yang melakukan pencarian berakhir di tiga cabang. Pertama mereka yang merasa semakin yakin dengan kebenaran yang mereka yakini sejak awal atau menemukan kebenaran yang akhirnya mereka yakini dan tidak ada kebenaran yang lain (absolutisme). Kedua adalah mereka yang merasa yakin bahwa semua bisa jadi kebenaran (relativisme). Ketiga adalah mereka yang terus tidak puas mencari kebenaran. Terus meragukan keyakinannya sambil terus melakukan pencarian dan hanya tahu pencariannya akan berakhir ketika ajalnya datang sambil terus berdoa “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah : 6).

Mungkin saya termasuk golongan terakhir.

Perempuan dan Islam

Inti dari masalah perempuan di seluruh dunia dari jaman dahulu kala… yang saya lihat adalah… tidak diakuinya identitas perempuan sebagai dirinya sendiri. Perempuan membutuhkan ayahnya atau suaminya untuk menjadikannya terhormat. Ayah tidak bisa selamanya melindungi. Maka, bisa dimengerti, bagaimana seorang perempuan begitu mengagungkan pernikahan. Hidupnya hanya untuk menikah. Jadilah dia rela dimadu atau menjadi istri keberapapun dari seorang pria terhormat. Kehidupan rakyat jelata memang tidak begitu. Ini adalah masalah kehormatan.

Saya mengerti seberapa mengerikan bila adat jawa bertemu dengan agama yang sebagian. Agama tidaklah salah. Orang yang memakai pembenaran agama untuk nafsunya, itulah yang menjijikan. Saya hanya bisa kasian pada orang-orang seperti itu. Bukankah seharusnya agama membawa kita ke arah pembebasan bukan semakin mengurung kita. Saya hanya bisa kasian pada orang-orang seperti itu. Yang salah satunya adalah orang terdekat saya. Sungguh kasian dia itu.

Padahal sepatutnya… Islam sebagai agama adalah jalan pembebasan. Termasuk mengenai hal ini. Kehormatan perempuan dalam Islam bukanlah ditentukan akan keberadaan dan keadaan suaminya. Maryam tidak memiliki suami namun tidak dapat dipungkiri bahwa dia adalah perempuan suci yang mulia. Asiah memiliki seorang suami namun dzalim luar biasa, dia mengaku Tuhan, hal tersebut tidak mempengaruhi kemualiannya. Khadijah yang mendampingi Rasulullah dalam keadaan tercukupi bahkan menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan suaminya merupakan ibunda kaum muslim yang sampai kapan pun tidak tergantikan. Namun, jangan sedih, ada juga Fatimah yang bersuamikan Ali yang saat mereka hidup bersama Ali belum mencapai masa ketercukupannya, dia juga perempuan mulia. Perempuan-perempuan ini tetap mulia karena ketaatan dan ketaqwaannya kepada Allah.

Kita perlu adil dalam memandang agama. Jangan salahkan mobil bagus yang kecelakaan karena supirnya yang tidak mampu mengemudikannya. Dah gitu aja…

#ngomongsamakacatanggal21April

Goblin

Meskipun umur tidak muda lagi, tapi tetep gue nggak mau ketinggalan tren. Ada satu drakor yang ngetren gt akhir-akhir ini. Sebenernya gue telat gitu, karena ketika gue mulai nonton, hiruk pikuknya udah selesei gitu. Tapi setelah gue tonton dengan menggunakan wifi warung dengan membeli es teh seharga 3000, tapi bergelas-gelas (2-3 gelas gt deh).

Goblin, sebuah drama fantasi
Drama korea ini bercerita tentang sebuah roh yang berhasil lolos dari kematian karena diselamatkan oleh seorang siluman (Goblin) yang sedang mabuk. Seorang Siluman memang diceritakan memiliki kekuatan ‘menentang’ kehendak dewa. Dia hidup abadi, tidak pernah menua dan tidak pernah mati. Namun, keabadian tersebut merupakan hukuman baginya. Dia hidup dengan tidak tenang. Dia menginginkan kematian. Syarat kematiannya adalah pedang yang menancap secara gaib didadanya harus dicabut. Dan yang dapat mencabut pedang hanyalah ‘pengantin’ (bride) yang telah ditentukan oleh dewa dan ternyata roh yang diselamatkan oleh Goblin dari kematian. Ironisnya, sang pengantin hanya bisa mencabut pedang tersebut ketika Goblin dan pengantinnya sudah berada dalam ikatan cinta yang cukup dalam (istilah yang dipakai dalam film ini adalah CINTA SEJATI atau TRUE LOVE). Di saat itu, Goblin sudah tidak ingin mati, dia malah menginginkan kehidupan, selama-lamanya dia bisa bersama sang pengantin. Konflik terjadi ketika sang dewa berkehendak hanya salah satunya dari Goblin dan pengantinnya yang bisa bertahan hidup di dunia fana ini. Selain itu, terdapat kisah ‘grim reaper’ yang bertugas menjemput roh dan mengantarnya ke pintu kehidupan berikutnya. Dia menjalin sebuah hubungan “bromance” dengan Goblin dan menjalin cinta dengan seorang perempuan yang di kehidupan lampaunya adalah adik dari Goblin.

Logical Fallacy yang ada di dalam “GOBLIN”
Di luar film ini hanyalah sebuah fantasi yang hanya perlu dinikmati, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Sebetulnya banyak sekali hal yang janggal dalam film ini. Jadi, sebagai seorang yang kebanyakan mikir, maka, gue akan menyoroti kejanggalan yang paling berat.

Sebagai seorang beriman, film ini sangat jauh dari keimanan kita sebagai seorang muslim. Selain menunjukan gods (jamak dari God alias dewa-dewi) yang bertentangan dengan surat Al-Ikhlas, juga bertentangan dengan sifat wajib Allah, yaitu Qudrat (berkuasa) dan Iradat (berkehendak). Kemampuan Goblin menyelamatkan pengantinnya dari kematian dan juga takdir ajal yang bisa merubah juga tentunya bertentangan dengan keimanan kita. Ketergantungan takdir ajal terhadap kecepatan grim reaper menjemput ruh adalah hal yang lainnya.

Secara bahasa, kehendak didefinisikan kemauan, keinginan dan harapan yang keras. Dan berkehendak didefinikan sebagai mempunyai kehendak; kemauan, keinginan dan harapan yang keras. Sementara secara kontekstual, sifat Allah, Iradah (berkehendak), mempunyai arti Allah SWT telah menciptakan dan mengatur alam semesta beserta isinya (termasuk salah satunya adalah mengenai ajal makhluk-makhluk-Nya) atas kehendak-Nya sendiri, tanpa ada campur tangan dari pihak lain, Apapun yang Allah SWT kehendakin pasti akan terjadi. Seandainya Allah tidak bersifat berkehendak niscaya bersifat terpaksa (karohah). Allah bersifat terpaksa adalah mustahil karena artinya tidak juga bersifat berkuasa (qudrat). Sementara itu, Allah bersifat tidak berkuasa adalah hal yang mustahil, sebab hal itu akan berakibat lemahnya Allah. Kelemahan merupakan hal yang mustahil dimiliki oleh Allah, karena tidak akan mampu membuat sesuatu sedikitpun.

Maka dari itu, konsekuensinya adalah kapan ajal datang itu adalah sebuah kepastian. Tidak mungkin ada makhluk-Nya yang bisa mengubahnya. Tidak ada makhluk-Nya yang bisa menentang kehendak-Nya. Konsekuensi dari kemampuan menentang-Nya, makhluk tersebut harus memiliki kekuatan yang minimal sama dengan-Nya. Berasal darimanakah kekuatan untuk menentang-Nya tersebut? Bagaimana ada makhluk yang memiliki kekuatan lebih besar dari penciptanya?

#catatanwongdeso #pikiranngacomakkebanyakanmikir

Resep Praktis

Pada tanggal 15 Maret, gue terpikir untuk menulis resep simpel ala gue…kenapa berani… Karena sejauh gue masak, resep-resep ini adalah yang stabil enak dan masaknya lumayan simpel.
berikut ini resepnya…

Nasi Liwet Sunda

Bumbu
2 siung bawang merang
2 siung bawang putih
5 buah cabe rawit
4 lembar daun salam
1 siung sereh

Bahan
500 gram beras
2-4 ekor pindang / Ikan asin ukuran kecil / sedang

Cara membuat
1. Bersihkan semua bumbu dan bahan
2. Iris sedang bawang merah, bawang putih dan sereh
3. Campur semua bahan dan bumbu
4. Masak menggunakan magic jar

Seblak Basah

Bumbu
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih
3-5 cm kencur
10 cabe rawit

Bahan
100 gram Kerupuk siomay
0,5 kepala Sawi putih
200 gram Jamur
3 butir telur
MInyak goreng, garem, gula

Cara membuat
1. Haluskan semua bumbu
2. Tumis bumbu
3. Masukan telur, sampai kering, setelahnya tambahkan air yang cukup banyak
4. Tambahkan garam dan gula secukupnya
5. Masukan Sawi dan Jamur, tunggu sampe layu
6. Masukan kerupuk siomay, sampai kerupuk sedikit empuk

Ayam Pop ala-ala

Bahan
500 gr ayam kota

Bumbu
3 buah Jeruk nipis
Garam

Cara Memasak
1. Taburi ayam dengan garam dan jeruk nipis, tambahkan air secukupnya
2. Rebus ayam yang telah ditaburi garam dan jeruk nipis sampai matang
3. Goreng sesaat, bila suka, jika tidak telah siap disajikan

Belenggu

Kalau pun aku harus mati karena sebuah kebodohan
Biarkan aku mati karena pilihanku memilihmu…
Kalau pun aku harus merasa terbelenggu dalam penjara
Biarkan itu karena pilihanku untuk mendukung pilihanmu…
Pilihanmu yang bahkan tidak aku mengerti apa yang ada dalam pikiranmu untuk memilihnya

Biarkan aku dalam kebodohan yang nyata
Belenggu yang paling mulia

260217

Aku tidak ingin menjadi Perempuan

Menjadi perempuan ternyata memang sesulit itu…
Sesulit Kartini untuk merasa berhak menyalahkan ayahnya sendiri
Maka dia menyalahkan ibunya bukanlah wanita berada
Sehingga ayahnya bisa sewenang pada ibunya

Menjadi perempuan ternyata memang sesulit itu…
Sesulit menjadi wanita angkut di pasar
Harus mau menanggung beban
Yang sebenarnya tidak pantas ditanggungnya

Menjadi perempuan memang sesulit itu…
Tidak diijinkan untuk mengungkapkan rasanya…
bahkan tak boleh memiliki rasa….

Sungguh aku tidak ingin menjadi perempuan….