Goblin

Meskipun umur tidak muda lagi, tapi tetep gue nggak mau ketinggalan tren. Ada satu drakor yang ngetren gt akhir-akhir ini. Sebenernya gue telat gitu, karena ketika gue mulai nonton, hiruk pikuknya udah selesei gitu. Tapi setelah gue tonton dengan menggunakan wifi warung dengan membeli es teh seharga 3000, tapi bergelas-gelas (2-3 gelas gt deh).

Goblin, sebuah drama fantasi
Drama korea ini bercerita tentang sebuah roh yang berhasil lolos dari kematian karena diselamatkan oleh seorang siluman (Goblin) yang sedang mabuk. Seorang Siluman memang diceritakan memiliki kekuatan ‘menentang’ kehendak dewa. Dia hidup abadi, tidak pernah menua dan tidak pernah mati. Namun, keabadian tersebut merupakan hukuman baginya. Dia hidup dengan tidak tenang. Dia menginginkan kematian. Syarat kematiannya adalah pedang yang menancap secara gaib didadanya harus dicabut. Dan yang dapat mencabut pedang hanyalah ‘pengantin’ (bride) yang telah ditentukan oleh dewa dan ternyata roh yang diselamatkan oleh Goblin dari kematian. Ironisnya, sang pengantin hanya bisa mencabut pedang tersebut ketika Goblin dan pengantinnya sudah berada dalam ikatan cinta yang cukup dalam (istilah yang dipakai dalam film ini adalah CINTA SEJATI atau TRUE LOVE). Di saat itu, Goblin sudah tidak ingin mati, dia malah menginginkan kehidupan, selama-lamanya dia bisa bersama sang pengantin. Konflik terjadi ketika sang dewa berkehendak hanya salah satunya dari Goblin dan pengantinnya yang bisa bertahan hidup di dunia fana ini. Selain itu, terdapat kisah ‘grim reaper’ yang bertugas menjemput roh dan mengantarnya ke pintu kehidupan berikutnya. Dia menjalin sebuah hubungan “bromance” dengan Goblin dan menjalin cinta dengan seorang perempuan yang di kehidupan lampaunya adalah adik dari Goblin.

Logical Fallacy yang ada di dalam “GOBLIN”
Di luar film ini hanyalah sebuah fantasi yang hanya perlu dinikmati, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Sebetulnya banyak sekali hal yang janggal dalam film ini. Jadi, sebagai seorang yang kebanyakan mikir, maka, gue akan menyoroti kejanggalan yang paling berat.

Sebagai seorang beriman, film ini sangat jauh dari keimanan kita sebagai seorang muslim. Selain menunjukan gods (jamak dari God alias dewa-dewi) yang bertentangan dengan surat Al-Ikhlas, juga bertentangan dengan sifat wajib Allah, yaitu Qudrat (berkuasa) dan Iradat (berkehendak). Kemampuan Goblin menyelamatkan pengantinnya dari kematian dan juga takdir ajal yang bisa merubah juga tentunya bertentangan dengan keimanan kita. Ketergantungan takdir ajal terhadap kecepatan grim reaper menjemput ruh adalah hal yang lainnya.

Secara bahasa, kehendak didefinisikan kemauan, keinginan dan harapan yang keras. Dan berkehendak didefinikan sebagai mempunyai kehendak; kemauan, keinginan dan harapan yang keras. Sementara secara kontekstual, sifat Allah, Iradah (berkehendak), mempunyai arti Allah SWT telah menciptakan dan mengatur alam semesta beserta isinya (termasuk salah satunya adalah mengenai ajal makhluk-makhluk-Nya) atas kehendak-Nya sendiri, tanpa ada campur tangan dari pihak lain, Apapun yang Allah SWT kehendakin pasti akan terjadi. Seandainya Allah tidak bersifat berkehendak niscaya bersifat terpaksa (karohah). Allah bersifat terpaksa adalah mustahil karena artinya tidak juga bersifat berkuasa (qudrat). Sementara itu, Allah bersifat tidak berkuasa adalah hal yang mustahil, sebab hal itu akan berakibat lemahnya Allah. Kelemahan merupakan hal yang mustahil dimiliki oleh Allah, karena tidak akan mampu membuat sesuatu sedikitpun.

Maka dari itu, konsekuensinya adalah kapan ajal datang itu adalah sebuah kepastian. Tidak mungkin ada makhluk-Nya yang bisa mengubahnya. Tidak ada makhluk-Nya yang bisa menentang kehendak-Nya. Konsekuensi dari kemampuan menentang-Nya, makhluk tersebut harus memiliki kekuatan yang minimal sama dengan-Nya. Berasal darimanakah kekuatan untuk menentang-Nya tersebut? Bagaimana ada makhluk yang memiliki kekuatan lebih besar dari penciptanya?

#catatanwongdeso #pikiranngacomakkebanyakanmikir

Resep Praktis

Pada tanggal 15 Maret, gue terpikir untuk menulis resep simpel ala gue…kenapa berani… Karena sejauh gue masak, resep-resep ini adalah yang stabil enak dan masaknya lumayan simpel.
berikut ini resepnya…

Nasi Liwet Sunda

Bumbu
2 siung bawang merang
2 siung bawang putih
5 buah cabe rawit
4 lembar daun salam
1 siung sereh

Bahan
500 gram beras
2-4 ekor pindang / Ikan asin ukuran kecil / sedang

Cara membuat
1. Bersihkan semua bumbu dan bahan
2. Iris sedang bawang merah, bawang putih dan sereh
3. Campur semua bahan dan bumbu
4. Masak menggunakan magic jar

Seblak Basah

Bumbu
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih
3-5 cm kencur
10 cabe rawit

Bahan
100 gram Kerupuk siomay
0,5 kepala Sawi putih
200 gram Jamur
3 butir telur
MInyak goreng, garem, gula

Cara membuat
1. Haluskan semua bumbu
2. Tumis bumbu
3. Masukan telur, sampai kering, setelahnya tambahkan air yang cukup banyak
4. Tambahkan garam dan gula secukupnya
5. Masukan Sawi dan Jamur, tunggu sampe layu
6. Masukan kerupuk siomay, sampai kerupuk sedikit empuk

Ayam Pop ala-ala

Bahan
500 gr ayam kota

Bumbu
3 buah Jeruk nipis
Garam

Cara Memasak
1. Taburi ayam dengan garam dan jeruk nipis, tambahkan air secukupnya
2. Rebus ayam yang telah ditaburi garam dan jeruk nipis sampai matang
3. Goreng sesaat, bila suka, jika tidak telah siap disajikan

Belenggu

Kalau pun aku harus mati karena sebuah kebodohan
Biarkan aku mati karena pilihanku memilihmu…
Kalau pun aku harus merasa terbelenggu dalam penjara
Biarkan itu karena pilihanku untuk mendukung pilihanmu…
Pilihanmu yang bahkan tidak aku mengerti apa yang ada dalam pikiranmu untuk memilihnya

Biarkan aku dalam kebodohan yang nyata
Belenggu yang paling mulia

260217

Aku tidak ingin menjadi Perempuan

Menjadi perempuan ternyata memang sesulit itu…
Sesulit Kartini untuk merasa berhak menyalahkan ayahnya sendiri
Maka dia menyalahkan ibunya bukanlah wanita berada
Sehingga ayahnya bisa sewenang pada ibunya

Menjadi perempuan ternyata memang sesulit itu…
Sesulit menjadi wanita angkut di pasar
Harus mau menanggung beban
Yang sebenarnya tidak pantas ditanggungnya

Menjadi perempuan memang sesulit itu…
Tidak diijinkan untuk mengungkapkan rasanya…
bahkan tak boleh memiliki rasa….

Sungguh aku tidak ingin menjadi perempuan….

Cintaku Butuh Memiliki

Aku… tidak bisa mencintaimu dengan sederhana…
Seperti api kepada kayu… sehingga kayu menjadi abu…
Aku tidak ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti awan kepada hujan… hingga hujan meniadakan awan…
 
Aku tidak sanggup mencintaimu dengan sederhana…

Aku hanya ingin mengabadikan satu detik saja bersamamu….
Aku hanya menghendaki waktu berhenti ketika aku bersamamu….

Atau waktu tidak perlu ada sama sekali…
Maka yang akan ada hanya aku dan kamu…
Tak perlu ada rindu…

Ya…
Cintaku ini tidak sederhana dan butuh memiliki…

Catatan ajah (nggak ada orang kotanya)

Udah hampir sebulan aja nih nggak update. Maklumlah sok sibuk…

Banyak hal yang gue pelajari akhir-akhir ini… terutama tentang hal-halnya yang tadinya gue pandang “kok githu banget sih???”

  1. Tentang fungsi gelar pada undangan.

Ini adalah sesuatu yang tadinya ku pikir sebagai ajang kesombongan. Belum-belum lagi apabila kedua pengantin ataupun orang tuanya memiliki gelar yang tidak berimbang. Akan tetapi.. dilain pihak, ternyata gelar adalah sebuah tanda pengenal. Terlebih untuk orang-orang dengan nama yang standar.

  1. Tentang nama yang dituliskan dalam amplop.

Malah ada yang membubuhkan kartu nama. Tadinya saya piker, idih kok pamrih amat, ngasih amplop isinya nggak seberapa juga. Ternyata hal ini dimaksudkan karena… dalam sebuah hajatan yang dating bukan hanya undangan dari satu orang. Ada undangan orang tua, ada undangan mertua, juga ada undangan pengantin sendiri. Hal ini berfungsi untuk menunjukan kepada siapa sebenernya isi amplop ditujukan. Untuk kalangan tertentu yang sudah tidak bisa menyempatkan waktu untuk membeli hadiah, memberikan amplop adalah solusi teroptimal. Kalau amplop tersebut tidak diberi nama, maka akan timbul keragu-raguan kepada siapa amplop ditujukan. Dan si pemberi pun khawatir kalau hadiahnya tidak sampai. Toh, ketika kita memberi hadiah pun, pasti dituliskan dari siapa hadiah tersebut.

 

Maaf cuman nulis segini hari ini…. Masih pening….jetlag….

Catatan Ajah (3)

Gue seneng banget akhir-akhir ini. Karena kerasa banget usahanya Mas Suami untuk membuat gue seneng dan bahagia dan betah di sini. Setelah gue cerita kalau gue ke bawa mimpi kabur dari sana. Lari-lari. Sebenernya yang dilakukan dia sederhana banget. Cuman… usahanya itu yang bikin terharu… hm… Ya…. KADANG, perempuan itu cuman butuh liat usaha doank. Tapi SERINGnya minta hasil juga sih. Sejauh ini, dia selalu ngasih (atau se-enggak-nya dia berusaha untuk ngasih) apapun yang gue minta. Itu yang ngebuat gue makin sayang sama Mas Suami kesayangan.

Gue kemarin cerita ke suami gue kalau pengen jalan-jalan. Di sekitaran sini ajah, nggak usah jauh-jauh. Keliling kampung aja. Gue juga cerita tentang imajinasi gue nyusup-nyusup dan investigasi bak semacem wartawan n detektif githu. Dan beneran langsung diajak jalan-jalan pake motor. Keliling-liling. Dan… kampungnya luas banget. Isinya beneran cuman hutan belantara, sawah padi, ladang tebu dan beberapa pabrik (sayang bukan pabrik makanan dan garmen, kalau iya gue bakal bahagia, mungkin). Hampir nggak ada orang di ladang dan sawah. Karena bukan saatnya nyemai n panen. Imajinasi gue tentang perkumpulan-perkumpulan “dakwah” itu ternyata salah. Aku banyak bertanya selama perjalanan. Dia pun bercerita..

“Ya begini lah neng. Cuman ini doank disini. Di desa ini, kebanyakan penduduknya punya lahan pertanian. Lahan yang dipunyai ini ada yang ditanam tebu ada juga padi, ada juga yang dibiarin tumbuh tanaman liar, yang kata kamu hutan belantara itu. Semua tergantung keinginan yang punya lahan. Jadi bukan lahan yang dipunyai korporasi lalu petani bekerja seperti buruh. Bukan seperti itu. Nah, mereka sibuk bertani hanya pada saat menanam dan panen. Selebihnya mereka jadi buruh pabrik gula dan pabirik lainnya disini, ada juga jadi pengrajin batu bata, pengrajin genteng, pengrajin kusen, berdagang atau apapun yang bisa dilakukan buat menyambung hidup mereka. Setelah panen, mereka akan menjual beras dan tebu mereka. Gabah mereka jual ke pengumpul beras yang nanti akan menjual beras ke pihak lain. Setelah mereka menyisihkan untuk kebutuhan mereka (hm… jangan pikir, berasnya kualitas pandan wangi atau rojolele ya…-red). Tebu mereka jual ke pabrik gula. Pabrik gula agak keenakan sih disini. Mereka pegang monopoli tanpa harus memiliki lahan. Kelebihannya, mereka adalah petani-petani yang merdeka dari korporasi. Kekurangannya kalau gagal panen, tidak akan ada yang menanggungnya selain mereka sendiri.”

Menjadi buruh bukan jadi mata pencaharian utama buat mereka. Mereka tidak peduli dengan May day. Mereka hanya tidak terdidik. Mereka pun bukan petani pekerja, mereka pemilik lahan. Mereka sebenarnya mempunyai nilai asset yang bisa jadi melebihi orang mapan di kota. Agak aneh sih dalam hemat gue kalau paham K****** bisa tumbuh subur di sini, dulu. Bukankah sebagai pemilik lahan, hak mereka malah akan hilang ketika K******* benar-benar berkuasa dan menerapkan sistemnya? Jawaban mas Suami adalah…

“Karena yang mau bersusah payah meng-“edukasi” mereka tentang “bergerak” adalah itu, maka mereka akan “bergerak” untuk itu. Platform ideologi terlalu mahal disini. Mereka tidak tahu, tidak mengerti, tidak memahami dan tidak peduli apa yang ada dalam platform pergerakan. Mereka membutuhkan sesuatu yang cukup bisa dipercaya untuk memberi tahu apa yang perlu mereka kerjakan. Singkatnya mereka kurang terdidik dan tidak menghargai pendidikan sehingga terjadi hal-hal yang menurut kamu aneh tadi. ”

Dan hal yang menyakitkan adalah… suatu ketika gue dan mas suami mau shalat di masjid, awal waktu, jadi dalam pikiran kita bakalan ada shalat berjamaah. Dan you know what? Kita nungguin kira-kira setengah jam an. Dan belum ada yang adzan dan shalat. Warga disini terlalu sibuk untuk sekedar mengurusi masjid. Yang muda dan berkualitas kabur ke kota. Yang sudah berhasil di kota enggan kembali ke desa. Melihat tidak ada harapan di desanya. Aku mulai mengerti bagaimana mas Suami memandang kehidupan. Dan aku semakin salut padanya. Lalu aku bertanya… sebenarnya seperti apa kehidupan beragama disini.

“Ya seperti tadi aja dek. Mungkin agamanya orang sini itu bekerja (pantesan tagline pak presiden itu KERJA). Spiritual yang masih asli pemikiran sini banyaknya ya kejawen. Kalau udah ke kota ya bisa jadi Muhammadiyah karena dekat dengan Yogya. Atau kalau ke pondok ya dekat dengan Salafi.”

Komen terakhir gue adalah… “Semoga kita bisa lebih memahami Pak Presiden kita yang tidak bisa menjawab makna Ramadhan. Semoga dengan menjadi Presiden, adalah jalan bagi beliau untuk memperbaiki kualitas imannnya. Amiiinnn.”
*naon atuhlah…*

Hm… Buat Mas Suami, makasih ya atas jalan-jalannya… dan juga semua usaha yang udah dilakuin…
*seorang produk urban nulis sambil dengerin lagu Ariana Grande, ditempat dimana, gue nggak yakin banyak yang tahu siapa itu Ariana Grande*