Aku tidak ingin menjadi Perempuan

Menjadi perempuan ternyata memang sesulit itu…
Sesulit Kartini untuk merasa berhak menyalahkan ayahnya sendiri
Maka dia menyalahkan ibunya bukanlah wanita berada
Sehingga ayahnya bisa sewenang pada ibunya

Menjadi perempuan ternyata memang sesulit itu…
Sesulit menjadi wanita angkut di pasar
Harus mau menanggung beban
Yang sebenarnya tidak pantas ditanggungnya

Menjadi perempuan memang sesulit itu…
Tidak diijinkan untuk mengungkapkan rasanya…
bahkan tak boleh memiliki rasa….

Sungguh aku tidak ingin menjadi perempuan….

Cintaku Butuh Memiliki

Aku… tidak bisa mencintaimu dengan sederhana…
Seperti api kepada kayu… sehingga kayu menjadi abu…
Aku tidak ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti awan kepada hujan… hingga hujan meniadakan awan…
 
Aku tidak sanggup mencintaimu dengan sederhana…

Aku hanya ingin mengabadikan satu detik saja bersamamu….
Aku hanya menghendaki waktu berhenti ketika aku bersamamu….

Atau waktu tidak perlu ada sama sekali…
Maka yang akan ada hanya aku dan kamu…
Tak perlu ada rindu…

Ya…
Cintaku ini tidak sederhana dan butuh memiliki…

Catatan ajah (nggak ada orang kotanya)

Udah hampir sebulan aja nih nggak update. Maklumlah sok sibuk…

Banyak hal yang gue pelajari akhir-akhir ini… terutama tentang hal-halnya yang tadinya gue pandang “kok githu banget sih???”

  1. Tentang fungsi gelar pada undangan.

Ini adalah sesuatu yang tadinya ku pikir sebagai ajang kesombongan. Belum-belum lagi apabila kedua pengantin ataupun orang tuanya memiliki gelar yang tidak berimbang. Akan tetapi.. dilain pihak, ternyata gelar adalah sebuah tanda pengenal. Terlebih untuk orang-orang dengan nama yang standar.

  1. Tentang nama yang dituliskan dalam amplop.

Malah ada yang membubuhkan kartu nama. Tadinya saya piker, idih kok pamrih amat, ngasih amplop isinya nggak seberapa juga. Ternyata hal ini dimaksudkan karena… dalam sebuah hajatan yang dating bukan hanya undangan dari satu orang. Ada undangan orang tua, ada undangan mertua, juga ada undangan pengantin sendiri. Hal ini berfungsi untuk menunjukan kepada siapa sebenernya isi amplop ditujukan. Untuk kalangan tertentu yang sudah tidak bisa menyempatkan waktu untuk membeli hadiah, memberikan amplop adalah solusi teroptimal. Kalau amplop tersebut tidak diberi nama, maka akan timbul keragu-raguan kepada siapa amplop ditujukan. Dan si pemberi pun khawatir kalau hadiahnya tidak sampai. Toh, ketika kita memberi hadiah pun, pasti dituliskan dari siapa hadiah tersebut.

 

Maaf cuman nulis segini hari ini…. Masih pening….jetlag….

Catatan Ajah (3)

Gue seneng banget akhir-akhir ini. Karena kerasa banget usahanya Mas Suami untuk membuat gue seneng dan bahagia dan betah di sini. Setelah gue cerita kalau gue ke bawa mimpi kabur dari sana. Lari-lari. Sebenernya yang dilakukan dia sederhana banget. Cuman… usahanya itu yang bikin terharu… hm… Ya…. KADANG, perempuan itu cuman butuh liat usaha doank. Tapi SERINGnya minta hasil juga sih. Sejauh ini, dia selalu ngasih (atau se-enggak-nya dia berusaha untuk ngasih) apapun yang gue minta. Itu yang ngebuat gue makin sayang sama Mas Suami kesayangan.

Gue kemarin cerita ke suami gue kalau pengen jalan-jalan. Di sekitaran sini ajah, nggak usah jauh-jauh. Keliling kampung aja. Gue juga cerita tentang imajinasi gue nyusup-nyusup dan investigasi bak semacem wartawan n detektif githu. Dan beneran langsung diajak jalan-jalan pake motor. Keliling-liling. Dan… kampungnya luas banget. Isinya beneran cuman hutan belantara, sawah padi, ladang tebu dan beberapa pabrik (sayang bukan pabrik makanan dan garmen, kalau iya gue bakal bahagia, mungkin). Hampir nggak ada orang di ladang dan sawah. Karena bukan saatnya nyemai n panen. Imajinasi gue tentang perkumpulan-perkumpulan “dakwah” itu ternyata salah. Aku banyak bertanya selama perjalanan. Dia pun bercerita..

“Ya begini lah neng. Cuman ini doank disini. Di desa ini, kebanyakan penduduknya punya lahan pertanian. Lahan yang dipunyai ini ada yang ditanam tebu ada juga padi, ada juga yang dibiarin tumbuh tanaman liar, yang kata kamu hutan belantara itu. Semua tergantung keinginan yang punya lahan. Jadi bukan lahan yang dipunyai korporasi lalu petani bekerja seperti buruh. Bukan seperti itu. Nah, mereka sibuk bertani hanya pada saat menanam dan panen. Selebihnya mereka jadi buruh pabrik gula dan pabirik lainnya disini, ada juga jadi pengrajin batu bata, pengrajin genteng, pengrajin kusen, berdagang atau apapun yang bisa dilakukan buat menyambung hidup mereka. Setelah panen, mereka akan menjual beras dan tebu mereka. Gabah mereka jual ke pengumpul beras yang nanti akan menjual beras ke pihak lain. Setelah mereka menyisihkan untuk kebutuhan mereka (hm… jangan pikir, berasnya kualitas pandan wangi atau rojolele ya…-red). Tebu mereka jual ke pabrik gula. Pabrik gula agak keenakan sih disini. Mereka pegang monopoli tanpa harus memiliki lahan. Kelebihannya, mereka adalah petani-petani yang merdeka dari korporasi. Kekurangannya kalau gagal panen, tidak akan ada yang menanggungnya selain mereka sendiri.”

Menjadi buruh bukan jadi mata pencaharian utama buat mereka. Mereka tidak peduli dengan May day. Mereka hanya tidak terdidik. Mereka pun bukan petani pekerja, mereka pemilik lahan. Mereka sebenarnya mempunyai nilai asset yang bisa jadi melebihi orang mapan di kota. Agak aneh sih dalam hemat gue kalau paham K****** bisa tumbuh subur di sini, dulu. Bukankah sebagai pemilik lahan, hak mereka malah akan hilang ketika K******* benar-benar berkuasa dan menerapkan sistemnya? Jawaban mas Suami adalah…

“Karena yang mau bersusah payah meng-“edukasi” mereka tentang “bergerak” adalah itu, maka mereka akan “bergerak” untuk itu. Platform ideologi terlalu mahal disini. Mereka tidak tahu, tidak mengerti, tidak memahami dan tidak peduli apa yang ada dalam platform pergerakan. Mereka membutuhkan sesuatu yang cukup bisa dipercaya untuk memberi tahu apa yang perlu mereka kerjakan. Singkatnya mereka kurang terdidik dan tidak menghargai pendidikan sehingga terjadi hal-hal yang menurut kamu aneh tadi. ”

Dan hal yang menyakitkan adalah… suatu ketika gue dan mas suami mau shalat di masjid, awal waktu, jadi dalam pikiran kita bakalan ada shalat berjamaah. Dan you know what? Kita nungguin kira-kira setengah jam an. Dan belum ada yang adzan dan shalat. Warga disini terlalu sibuk untuk sekedar mengurusi masjid. Yang muda dan berkualitas kabur ke kota. Yang sudah berhasil di kota enggan kembali ke desa. Melihat tidak ada harapan di desanya. Aku mulai mengerti bagaimana mas Suami memandang kehidupan. Dan aku semakin salut padanya. Lalu aku bertanya… sebenarnya seperti apa kehidupan beragama disini.

“Ya seperti tadi aja dek. Mungkin agamanya orang sini itu bekerja (pantesan tagline pak presiden itu KERJA). Spiritual yang masih asli pemikiran sini banyaknya ya kejawen. Kalau udah ke kota ya bisa jadi Muhammadiyah karena dekat dengan Yogya. Atau kalau ke pondok ya dekat dengan Salafi.”

Komen terakhir gue adalah… “Semoga kita bisa lebih memahami Pak Presiden kita yang tidak bisa menjawab makna Ramadhan. Semoga dengan menjadi Presiden, adalah jalan bagi beliau untuk memperbaiki kualitas imannnya. Amiiinnn.”
*naon atuhlah…*

Hm… Buat Mas Suami, makasih ya atas jalan-jalannya… dan juga semua usaha yang udah dilakuin…
*seorang produk urban nulis sambil dengerin lagu Ariana Grande, ditempat dimana, gue nggak yakin banyak yang tahu siapa itu Ariana Grande*

Catatan Ajah (2)

Akhirnya gue menemukan tempat yang asyik buat gue ngautis. Gue udah menemukan lagi ladang aktualisasi gue. Setelah sebelumnya gue sampe kebawa mimpi pengen kabur. Gue sekarang udah bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang biasanya gue lakukan sebelum gue pindah ke… SURUH PABRIK… ya itulah ternyata nama daerahnya… Gue kembali menemukan kenyamanan untuk menunjukan aktualisasi gue. Walau gue berada di… SURUH PABRIK, POLOKARTO (ternyata bukan PULOKARTO namanya – itu diedit ma Mas Suami) yang gue juga nggak tau ini Sukoharjo atau Karanganyar… ya begitulah…

Gue dapet cerita dari mas Suami…. Daerah ini terdiri dari hutan belantara, pertanian padi, pertanian tebu dan pabrik gula. Jujur aja, jiwa petualang gue menelisik. Pengen nyusup-nyusup ke ladang tebu, pabrik gula, perkumpulan petani. Ada yang ber”dakwah” nggak ya disini? (ah iya gue lupa kalo gue nggak bisa bahasa Jawa, gimana juga cara investigasinyahh???) Daerah ini adalah daerahnya PETANI dan BURUH. Ya, empuk banget buat paham K******. Ah, gue kok jadi perempuan sok berani banget ya??? Yang ada pasti dilarang mas Suami lagi.

Ya, mas Suami juga cerita kalau daerahnya dulu memang salah satu daerah pemberontakan yang kemudian “dibersihkan”. Bahkan ada saudara jauhnya (entah sejauh apa, bisa jadi sebenernya adalah saudara sepupu dari ipar dari iparnya orang tua, pokoknya masih saudara) yang terkena operasi “pembersihan”. Dari cerita yang disampaikan mas Suami,

mereka (keturunan dari korban) tidak tahu, tidak mengerti dan tidak peduli negara mau minta maaf atau gimana lah itu atas operasi yang telah dilakukan. Itu hanya keributan tingkat elit.

Hayahhhhh… Mereka hanya butuh meneruskan hidup mereka. Itu saja.

Kalau negara minta maaf dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas hidup masyarakat itu akan lebih baik dan lebih konkrit dalam hemat gue (SOTOY dah).

Coba pikirkan ya buat kalian-kalian yang punya ambisi jadi “pemimpin bangsa”.

Gue mulai bisa melihat sesuatu yang nyata. Yang selama ini cuman ada dalam imajinasi gue. Yang selama ini cuman ada dalam cerita-cerita yang gue baca. Bisa dibilang, disini adalah tempat sangat menarik untuk di-explore, cuman gue belum tahu gimana cara nge’explore’nya. Doakan gue bisa segera menemukan cara untuk explore dan ngebagiin nya buat kalian. Para produk urban, “orang Indonesia”. *kayak ada aja yang bakalan baca*

*Produk urban yang kangen jaringan LTE di daerah dimana lagu-lagu Afgan nggak ada yang relevan*

Catatan Ajah (1)

Selama ini yang biasa ditulis dan menjadi buku best seller adalah pengalaman orang kampung ke kota. Sedikit yang berkisah tentang pengalaman orang kota yang pergi ke desa. Mas Suami memutuskan untuk tinggal ditempatnya mas Suami. Di SOLO, lebih tepatnya di perbatasan antara kabupaten karanganyar dan sukoharjo. Kalo di gmap, nama daerah ini disebut PULOKARTO. Dua kabupaten ini saja banyak dari kalian yang mungkin nggak tahu. Karanganyar mungkin banyak yang dengar, karena disinilah makam pak Harto dan bu Tien. Letaknya ada di selatan kota Surakata. Kota asalnya Pak Presiden kita tercintah. Tempat gue ini diperbatasannya dua kabupaten itu, bukan di kota kedua kabupaten tersebut. Oh, tiba-tiba aja gue kangen pak Aher dan kang Emil… (naon deui….. Hmmm…. Jujur aja gue sampe kebawa mimpi kabur dari sini…. Terus gue ngerasa gue lebay banget nget nget…)

Gue emang tinggal di sebuah desa pedalaman di daerah Kabupaten Kuningan. Nama desanya Cibingbin. Gue tinggal di sana sampe kelas 2 SD, setelah dari lahir sampe umur 3 tahunan gue hidup di Bandung. Tapi setelahnya gue selalu tinggal di lingkungan perkotaan. Walaupun itu di Kota Serang yang dulu belum jadi ibukota Banten, Banten nya belum ada. Tapi itu masih lumayan di daerah kota nya. Kalau dibandingkan dengan Pandeglang misalnya aja. Kalo dibuat perbandingan, Serang itu KOTA SURAKARTA, dan Tempat gue sekarang ini adalah pedalaman perbatasan LEBAK dan PANDEGLANG. Dan gue menjadi takjub kenapa bisa dapet jodoh, Mas Suami.

Nah, sejak umur 15 tahun, praktisnya gue tinggal di Bandung. Sebuah kota metropolitan. Dapat didikan modern, demokratis. Bahkan gue bingung ketika di tanya Suku Bangsa. I’m not pure Sundanese, I’m 75% Javanese, but I can’t understand (bororaah Speak) Javanese. Dan ciri-ciri kedua suku tidak begitu kental dalam diri, saya sadar betul akan hal tersebut. I’m just like to call my self, I’m Indonesian. I’m urban product. Walau kadang (atau sering ya???) kampungan. Kyakakakakakakk….

Hal menarik pertama yang bisa gue sebut adalah… Banyak disini yang berbahasa Indonesia pasif, tapi gue sendiri nggak bisa bahasa jawa at all. Gila kagak tuh? Pengen mati aja gue rasanya. Jangankan kemampuan bahasa Inggris, toefle 500.

Hal menarik kedua adalah… tempat gue ini, nggak tersentuh moda transportasi umum. So, adalah gue yang biasa ke sana ke mari SENDIRI. Mandeg nggak bisa kemana-mana tanpa dianter jemput mas Suami. Seorang gue yang terbiasa melakukan semuanya sendiri. Tiba-tiba sangat bergantung ke satu orang, Mas Suami. Terpikir oleh gue untuk minta diajarin pake motor, karena jujur aja gue trauma pegang mobil.

Terus Mas Suami malah bilang gini, ”kalau pun kamu nanti bisa pake motor, emang bisa ngendarain di jalan raya. Kan kamu cerita sendiri, kamu bisa sepedah tapi nggak bisa ngendarain di jalan raya. Daripada aku ngajarin kamu motor, mendingan aku beliin kamu sepedah.”

Dan gue jadi mikir. Lupakan belajar motornya.
“Ada bis kan disini?”
“tapi buat orang sini, kalau perempuan pergi sendiri naik bis itu nggak baik neng.”
“WHY????” kata seorang gue yang terbiasa pergi dari Bandung ke Jakarta seorang diri. Bahkan pergi ke Surabaya sendiri. Cuman pergi naik bis loh bang. Dan gue mau cari kerja.

Dan lalu gue pengan misuh-misuh ke pak Presiden… “Pak… ini sebelah selatan daerahmu loh…. Please atuhlah….”

Terus gue juga pengen nangis-nangis ke bu Menteri Pemberdayaan Perempuan…

“Bu, tolong atuhlah… Ini pulau jawa loh bu…”

dan lalu gue inget… mungkin MALAH karena ini pulau jawa. Kartini berasal dari Jawa. Suku di Indonesia yang paling kental patriarkinya, (mungkin sama dengan Batak… SOTOY banget gue…). Gue LUPA kalau ini JAWA. OMG!!!! Tiba-tiba aja gue kangen ibu kita KARTINI, putri sejagti, putri yang mulia, yang harum namanya… Buat kalian yang bilang emansipasi kebablasan… ARGH!!!! Gue pengen ngamuk-ngamuk sama kalian…

Hal yang membahagiakan gue adalah, gue berani jamin bahwa hape gue adalah salah satu yang terbaik di sini. Tapi hal yang menyiksa gue adalah… Gue harus naik mobil ke kota Solo untuk mendapatkan sinyal LTE. Ya, karena itu gue yakin, HP gue adalah salah satu HP terbaik di sini.

Catatan ajah... mungkin akan ada seri berikutnya

 

Marah

Tiba-tiba saya menemukan…

Ternyata begitu… ketika marah sebenernya kita kecewa akan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Maka, semacam “unjuk kekuasaan” terhadap hal lain. Semacam… “OK, gue emang nggak bisa mengendalikan keadaan ini. Tapi gue bisa ngendaliin benda ini.”

Saya melihat ini adalah ekspresi kekecewaan terhadap diri sendiri karena tidak bisa mengendalikan sesuatu. Maka dari itu, maafkan dirimu ketika kamu tidak bisa mengendalikan sesuatu. Maafkan “kesalahan” kita sendiri. Pada titik ekstrem kita bisa menyalahkan orang lain. Tapi ini tidak saya sarankan. Karena hanya memberikan perasaan lega tanpa memberikan solusi konkret yang signifikan.

Setelah itu, liat hal tersebut dari sisi positif sebelum dari sisi negatifnya. Berdamai dengan “kebodohan” diri kita sendiri di masa lalu. Toh, ada sisi positifnya. Ketika sudah bisa liat sisi positifnya, selanjutnya kita perlu mengevaluasi sisi negatifnya. Apa yang harus dikerjakan atau dihindari oleh kita agar hal yang membuat kita marah tersebut tidak terjadi lagi.

Sekian dan terimakasih.