Terlewat

Ada satu yang terlewat
Tentang kamu
bintangku sebelum aku bisa berpikir
Setelah aku bisa berpikir
kamu tak lagi bisa kulihat sebagai bintang

Atmosfer masa lalu membuat aku kembali mengingatmu
Tiba-tiba aku mengerti perasaan Milea kepada Dilan
Walau kisah kita tidak seperti itu

Hal-hal tentangmu bermunculan dalam benakku…
Apa kabarmu saat ini?
Dimana aku bisa tahu bagaimana keadaanmu?
Aku hanya ingin memastikan kamu bahagia…

Iklan

Kartu Kuning

Sebagai seseorang yang dulu pernah berada di kehidupan mahasiswa. Saya tahu pasti, bahwa pergerakan mahahsiswa, dengan segala dinamikanya tidak pernah berhenti. Hanya saja, terlihat punya nilai berita oleh media atau tidak. Dulu bahkan pernah sebuah sekolah tinggi yang dikenal sebagai salah satu sekolah tinggi terbaik di Indonesia di demo agar aksi punya nilai berita yang cukup menarik untuk diliput media.

Aksi kartu kuning kemarin adalah sebuah aksi yang punya nilai berita yang cukup fantastis untuk diberitakan secara cukup massif oleh media-media mainstream. Beragam reaksi muncul dari aksi tersebut. Baik itu reaksi positif dan negatif terhadap aksinya, maupun serangan secara pribadi kepada pengeksekusi aksi.

 

download.jpg

 

Dalam kehidupan mahasiswa sendiri memang ada dua paradigma dengan pendekatan yang berbeda dalam memandang pergerakan mahasiswa. Satu memfokuskan gerakan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat. Melakukan kajian sosial dan menjadi kontrol sosial. Hal ini dianggap aksi omong doang dan omong kosong oleh paradigm yang satunya.

Paradigma yang satunya menganggap bahwa berbicara saja tidak cukup. Harus ada sesuatu yang nyata yang juga diberikan oleh mahasiswa. Ketika saya menjadi mahasiswa, tentu saya menganut paradigma ke dua. Sampai akhirnya saya menemukan bahwa TIDAK SEMUDAH ITU BERKONTRIBUSI NYATA DALAM MASYARAKAT. Bukan sebagai pengakuan seperti “tuh, kan kerjaan pemerintah itu susah” dan menjadi pembenaran bahwa kritik terhadap pemerintah tidak perlu ada. Tentu ketidakmampuan pemerintah tidak bisa dibebankan kepada mahasiswa. Mahasiswa tidak punya otoritas, kapasitas dan sumber daya yang cukup untuk itu.

Pada akhirnya… kritik mahasiswa tidak bisa dijadikan mengalih tanggung jawaban tugas-tugas pemerintah. Mahasiswa dengan segala keterbatasannya tidak bisa dilepaskan dari tugasnya sebagai kaum intelektual di kalangan kelas menengah. Ketidakmampuan mahasiswa berkontribusi nyata tidak bisa menghilangkan hak dan kewajiban mahasiswa menyandang fungsi kontrol sosial dan penyambung lidah rakyat mengkritisi  kebijakan pemerintah yang menyimpang.

Sirah

 

Judulnya doank kok yang berat. Isinya santai. Di tulisan saya yang pertama setelah setangah tahun kagak diapa-apain blog ini, saya akan membuat resensi sebuah tetralogi yang ditulis oleh Tasaro GK dengan latar belakang cerita jaman Rasulullah-Khalifatur Rasyidin yang terakhir. Btw, tulisan ini spoiler.

Buku pertama, sang Penggenggam Hujan

1-1.png
1-2.png

Buku ini mulai dengan adegan Perang Uhud di satu sisi. Dan adegan dimana Kashva (tokoh fiktif untuk menyantaikan narasi dalam tetralogy ini) yang seorang “calon sarjana agama” Persia yang harus melarikan diri karena dikejar oleh Khosrau. Alasannya karena Kashva mengumandangkan pemurnian ajaran Zarathustra (Zoroteisme / Majusi). Dalam ceritanya, diceritakan bahwa pada Zarathustra sejatinya merupakan ajaran menyembah Tuhan yang Esa, dan juga disebutkan bahwa suatu hari nanti akan datang seorang juru selamat, sang Penggenggam Hujan. Kashva juga berkorespondensi dengan Elyas yang seorang Nasrani juga seorang biksu bernama Tashidelek. Mereka berdialog tentang sang Penggemgam Hujan yang kabarnya sudah muncul di tanah arab baduy. Sebuah tempat yang sangat jauh dari pusat peradaban di jamannya. Terdapat juga alur mundur yang bercerita tentang bagaimana perang badar terjadi serta beberapa kejadian nabawi yang pernting. Buku ini berakhir pada cerita Pembebasan Kota Mekah.

Dari sisi Kashva sendiri juga bercerita mengenai petualangannya melakukan pelarian ditemani oleh Mahsya, Vakhshur dan Xerxes. Juga bercerita tentang cinta segitiga antara dirinya, Astu dan Parkhida. Mahsya sendiri merupakan kakak dari Astu dan Xerxes adalah anak dari Astu dan Parkhida. Sementara Vakhshur adalah anak dari kolega Astu yang dikunjungi Kashva dalam pelariannya. Kisah cinta disini Astu dan Kashva punya daya tarik tersendiri dalam kisah ini.

Buku kedua, Sang Pengeja Hujan

2-1.png

Buku ini diawali tentang bagaimana kepribadian Abu Bakar yang tidak pernah menyembah berhala. Masa lalu dan perkembangan pribadinya. Alur maju dimulai saat setelah terjadinya pembebasan kota Mekah. Terdapat juga kisah bagaimana Rasulullah wafat. Buku ini juga menggambarkan bagaimana perbedaan pendapat antara Abu Bakar dan Fatimah. Pun menceritakan bagaimana Abu Sufyan sempat membujuk Ali untuk memberontak. Tapi sebagian besar bercerita tentang bagaimana pemerintahan di masa Abu Bakar. Bagaimana Abu Bakar memerangi para nabi palsu serta orang-orang yang menolak membayar zakat. Buku ini diakhiri dengan meninggalnya Abu Bakar dan terpilihnya Umar sebagai khalifah selanjutnya.

2-2.png

Di sisi Kashva sendiri menurut saya terjadi kisah-kisah yang agak berputar-putar. Yang menarik adalah pada buku ini juga terdapat bagaimana gejolak di Persia dan kemunduran salah satu pusat peradaban dunia tersebut serta bagaimana peran Astu di dalamnya. Akhirnya pun diketahui bahwa Elyas dan Biksu Tashidelek itu sebenarnya tidak ada. Mereka hanya pecahan pribadi Kashva.

2-3.png

Buku ketiga, Sang Pewaris Hujan
3-1.png

Dalam buku ini diceritakan bagaimana masa pemerintahan Umar. Bagaimana Umar melakukan ekspansi keberbagai wilayah. Termasuk pembebasan Persia, negeri asal Kashva yang sudah sedemikian lemah. Mungkin karena bercerita tentang Umar, jadi somehow ceritanya jadi garang-garang gimana… githu….

Sementara itu Kashva terpisah dari Vakhshur dan Xerxes. Mahsya sendiri mati karena tertangkap oleh tantara Persia. Kashva akhirnya sampai di Madinah. Tapi… somehow dia malah tidak mempelajari ajaran sang penggenggam hujan padahal karena itulah dia melakukan semua petualangan ini. Kashva sendiri bergaul dengan orang-orang non Muslim yang masih ada di Madinah ketika itu. Karena banyaknya penaklukan maka semakin banyak pula budak imigran yang dimiliki oleh kaum muslim sebagai harta rampasan perang. Tergambar jelas bagaimana dendam para budak Persia ini. Bibit syiah pun menjadi masuk akal dikemudian hari. Kashva sendiri akhirnya lupa ingatan akibat percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh mereka. Kahsva lupa ingatan dan malah mengingat bahwa dirinya adalah Elyas yang beragama nasrani. Pada pembebasan Al-Quds, Elyas punya peran tersendiri disini. Hingga pada akhirnya dia bertemu dengan seorang tentara muslim yang bernama Muhammad.

Buku keempat, Para Penggema Hujan

Buku ini bercerita tentang masa kekhalifanan Utsman-Ali. Masa-masa ini dipenuhi oleh kekacauan. Fitnah. Perbedaan pendapat. Pemberontakan. Dan perang antar umat muslim sendiri. Banyak hal yang harus dibaca sendiri dalam buku insi, karena terlalu sakit untuk menceritakan dan menuliskannya kembali.

Kini Kashva atau Elyas tidak lagi mendominasi. Kini lebih banyak bercerita tentang Vakhshur dan Astu. Bagaimana mereka berusaha mencegah pembunuhan terhadap Utsman meski gagal. Ada tokoh baru bernama Abdul Syahid. Orang ini banyak berperan cukup penting dalam perang unta dan perang shiffin. Bagaimana Thalhah dan Zubair khilaf memanfaatkan Aisyah. Bagaimana Amr bin Ash seorang politikus yang sangat handal. Banyak membuka mata saya tentang bagaimana manusiawinya para sahabat nabi ini. Dan mengingatkan saya bahwa Nabi memang pribadi yang begitu agung. Yah… intinya baca aja sendiri. Terlalu menyakitkan menuliskan semua fitnah-fitnah yang ada pada masa itu.

Akhirnya…. Para tokoh fiktif berkumpul. Abdul Syahid ternyata adalah Kashva. Dan terjalin lagilah kisah cinta yang tertunda puluhan tahun antara Kahsva dan Astu.

Perang pengaruh dan kekuasaan antara Ali dan Muawiyah sedemikian alotnya. Seakan ada dua matahari. Akhir cerita Ali terbunuh, tentu bukan oleh Muawiyah tapi oleh pemberontak, rakyatnya sendiri. Kekuasaan pun berpindah pada Muawiyah. Xerxes adalah staf ahli Muawiyah.

Definisi Kejahatan

Ketika Soeharto turun, kala itu saya baru kelas 3 SD. Jadi saya tidak punya ingatan yang kuat tentang bagaimana pak Harto. Saya hanya tau dia otoriter. Itu saja. Disamping juga pembangunan Indonesia yang begitu pesat pada masanya dan ditutup dengan krisis moneter. Saya sama sekali tidak tahu bagaimana beliau berkomunikasi, menjalankan manufer-manufer politiknya. Somehow, Saya menemukan video berikut :

Dalam video tersebut dia menceritakan tentang ideologi Soekarno dan keburukan cara memimpin Soekarno dengan cara yang sangat santun. Seakan membunuh musuh dari belakang sambil tersenyum di depannya. Dia merasa seorang jahat yang sedang menjelekan seorang jahat lainnya. Seperti seorang mafia yang sedang menghancurkan mafia lainnya. I feel so… somewhat. Saya lalu bertanya… apa sebenernya definisi orang jahat itu? Apakah orang-orang yang jelas-jelas melakukan sebuah kejahatan atau orang-orang yang melakukan kejahatan tapi dilapisi kebaikan sebagai topeng?

Tapi dari video ini bukankah garis-garis perjuangan moncong putih semakin jelas. Marxis yang berpolarisasi sedemikian rupa menjadi versi Indonesia, Marhaen. Jangan heran jika memang terasa aura-aura yang sama dalam pemerintahannya.

Saya ini hanya seorang perempuan yang hidup di dunia reformasi sebagai seorang Indonesia yang berusaha bersistem nilai Islam.

 

Menghargai Pencarian

Saya berbenturan dengan keberagaman yang cukup mengguncang saya adalah ketika SMA (15-18 tahun). Banyak harakah yang saya kenal ketika SMA. Somehow, they have their own way. Garis batas mereka cukup jelas. Beda dengan sekarang, sudah banyak orang-orang harakah yang cukup memiliki pikiran terbuka dan dewasa yang sudah punya pengaruh cukup besar dalam harakahnya masing-masing. Sehingga pandangan garis-garis harakah masa sekarang semakin pudar. Semakin bisa dikompromikan. Ataukah saya yang memilih lingkaran pergaulan orang-orang yang mengkompromikannya?

Ketika itu, saya melihat sahabat-sahabat saya memiliki alasannya sendiri sampai akhirnya bergabung dengan harokah-harokah tertentu. Dan saya cenderung enggan memilih dengan yakin dan pasti. Saya hanya menjalani apa yang ada saja. Tidak ingin berdeklarasi dengan siapa jiwa saya tertaut.

Ketika saya kuliah (18-…. tahun), saya bertemu dengan teman-teman yang mengalami pencarian. Berbagai pencarian. Salah satunya adalah pencarian agama. Sebagai seseorang yang lahir di lingkungan yang cukup islami dan dapat didikan yang cukup islami, pencarian mereka menjadi begitu menarik bagi saya. Saya merasa seandainya saya jadi mereka, apakah saya akan memilih Islam? Maka dari itu, saya merasa pencarian seperti yang mereka lakukan itu perlu juga untuk saya lakukan.

Saya tidak setekun mereka dalam melakukan pencarian. Saya hanya bertualang, tanpa punya niat untuk melepas apa-apa yang saya yakini dan saya pegang sejak awal. Akan tetapi, saya jadi merasakan bagaimana rasanya berada dalam proses pencarian. Yang tidak terima begitu saja apa-apa yang orang-orang “claim” sebagai kebenaran. Jadilah saya merasakan bagaimana rasanya meragukan semua hal dalam dunia ini. Meragukan eksistensi dan kebenaran Tuhan, meragukan eksistensi dan kebenaran agama, bahkan meragukan eksistensi keberadaan dirinya sendiri. Saya tahu bagaimana rasanya. Maka dari itu, saya merasa perlu untuk menghargai setiap proses pencarian yang dilakukan setiap anak manusia.

Saya dapati, mereka yang melakukan pencarian berakhir di tiga cabang. Pertama mereka yang merasa semakin yakin dengan kebenaran yang mereka yakini sejak awal atau menemukan kebenaran yang akhirnya mereka yakini dan tidak ada kebenaran yang lain (absolutisme). Kedua adalah mereka yang merasa yakin bahwa semua bisa jadi kebenaran (relativisme). Ketiga adalah mereka yang terus tidak puas mencari kebenaran. Terus meragukan keyakinannya sambil terus melakukan pencarian dan hanya tahu pencariannya akan berakhir ketika ajalnya datang sambil terus berdoa “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah : 6).

Mungkin saya termasuk golongan terakhir.

Perempuan dan Islam

Inti dari masalah perempuan di seluruh dunia dari jaman dahulu kala… yang saya lihat adalah… tidak diakuinya identitas perempuan sebagai dirinya sendiri. Perempuan membutuhkan ayahnya atau suaminya untuk menjadikannya terhormat. Ayah tidak bisa selamanya melindungi. Maka, bisa dimengerti, bagaimana seorang perempuan begitu mengagungkan pernikahan. Hidupnya hanya untuk menikah. Jadilah dia rela dimadu atau menjadi istri keberapapun dari seorang pria terhormat. Kehidupan rakyat jelata memang tidak begitu. Ini adalah masalah kehormatan.

Saya mengerti seberapa mengerikan bila adat jawa bertemu dengan agama yang sebagian. Agama tidaklah salah. Orang yang memakai pembenaran agama untuk nafsunya, itulah yang menjijikan. Saya hanya bisa kasian pada orang-orang seperti itu. Bukankah seharusnya agama membawa kita ke arah pembebasan bukan semakin mengurung kita. Saya hanya bisa kasian pada orang-orang seperti itu. Yang salah satunya adalah orang terdekat saya. Sungguh kasian dia itu.

Padahal sepatutnya… Islam sebagai agama adalah jalan pembebasan. Termasuk mengenai hal ini. Kehormatan perempuan dalam Islam bukanlah ditentukan akan keberadaan dan keadaan suaminya. Maryam tidak memiliki suami namun tidak dapat dipungkiri bahwa dia adalah perempuan suci yang mulia. Asiah memiliki seorang suami namun dzalim luar biasa, dia mengaku Tuhan, hal tersebut tidak mempengaruhi kemualiannya. Khadijah yang mendampingi Rasulullah dalam keadaan tercukupi bahkan menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan suaminya merupakan ibunda kaum muslim yang sampai kapan pun tidak tergantikan. Namun, jangan sedih, ada juga Fatimah yang bersuamikan Ali yang saat mereka hidup bersama Ali belum mencapai masa ketercukupannya, dia juga perempuan mulia. Perempuan-perempuan ini tetap mulia karena ketaatan dan ketaqwaannya kepada Allah.

Kita perlu adil dalam memandang agama. Jangan salahkan mobil bagus yang kecelakaan karena supirnya yang tidak mampu mengemudikannya. Dah gitu aja…

#ngomongsamakacatanggal21April

Goblin

Meskipun umur tidak muda lagi, tapi tetep gue nggak mau ketinggalan tren. Ada satu drakor yang ngetren gt akhir-akhir ini. Sebenernya gue telat gitu, karena ketika gue mulai nonton, hiruk pikuknya udah selesei gitu. Tapi setelah gue tonton dengan menggunakan wifi warung dengan membeli es teh seharga 3000, tapi bergelas-gelas (2-3 gelas gt deh).

Goblin, sebuah drama fantasi
Drama korea ini bercerita tentang sebuah roh yang berhasil lolos dari kematian karena diselamatkan oleh seorang siluman (Goblin) yang sedang mabuk. Seorang Siluman memang diceritakan memiliki kekuatan ‘menentang’ kehendak dewa. Dia hidup abadi, tidak pernah menua dan tidak pernah mati. Namun, keabadian tersebut merupakan hukuman baginya. Dia hidup dengan tidak tenang. Dia menginginkan kematian. Syarat kematiannya adalah pedang yang menancap secara gaib didadanya harus dicabut. Dan yang dapat mencabut pedang hanyalah ‘pengantin’ (bride) yang telah ditentukan oleh dewa dan ternyata roh yang diselamatkan oleh Goblin dari kematian. Ironisnya, sang pengantin hanya bisa mencabut pedang tersebut ketika Goblin dan pengantinnya sudah berada dalam ikatan cinta yang cukup dalam (istilah yang dipakai dalam film ini adalah CINTA SEJATI atau TRUE LOVE). Di saat itu, Goblin sudah tidak ingin mati, dia malah menginginkan kehidupan, selama-lamanya dia bisa bersama sang pengantin. Konflik terjadi ketika sang dewa berkehendak hanya salah satunya dari Goblin dan pengantinnya yang bisa bertahan hidup di dunia fana ini. Selain itu, terdapat kisah ‘grim reaper’ yang bertugas menjemput roh dan mengantarnya ke pintu kehidupan berikutnya. Dia menjalin sebuah hubungan “bromance” dengan Goblin dan menjalin cinta dengan seorang perempuan yang di kehidupan lampaunya adalah adik dari Goblin.

Logical Fallacy yang ada di dalam “GOBLIN”
Di luar film ini hanyalah sebuah fantasi yang hanya perlu dinikmati, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Sebetulnya banyak sekali hal yang janggal dalam film ini. Jadi, sebagai seorang yang kebanyakan mikir, maka, gue akan menyoroti kejanggalan yang paling berat.

Sebagai seorang beriman, film ini sangat jauh dari keimanan kita sebagai seorang muslim. Selain menunjukan gods (jamak dari God alias dewa-dewi) yang bertentangan dengan surat Al-Ikhlas, juga bertentangan dengan sifat wajib Allah, yaitu Qudrat (berkuasa) dan Iradat (berkehendak). Kemampuan Goblin menyelamatkan pengantinnya dari kematian dan juga takdir ajal yang bisa merubah juga tentunya bertentangan dengan keimanan kita. Ketergantungan takdir ajal terhadap kecepatan grim reaper menjemput ruh adalah hal yang lainnya.

Secara bahasa, kehendak didefinisikan kemauan, keinginan dan harapan yang keras. Dan berkehendak didefinikan sebagai mempunyai kehendak; kemauan, keinginan dan harapan yang keras. Sementara secara kontekstual, sifat Allah, Iradah (berkehendak), mempunyai arti Allah SWT telah menciptakan dan mengatur alam semesta beserta isinya (termasuk salah satunya adalah mengenai ajal makhluk-makhluk-Nya) atas kehendak-Nya sendiri, tanpa ada campur tangan dari pihak lain, Apapun yang Allah SWT kehendakin pasti akan terjadi. Seandainya Allah tidak bersifat berkehendak niscaya bersifat terpaksa (karohah). Allah bersifat terpaksa adalah mustahil karena artinya tidak juga bersifat berkuasa (qudrat). Sementara itu, Allah bersifat tidak berkuasa adalah hal yang mustahil, sebab hal itu akan berakibat lemahnya Allah. Kelemahan merupakan hal yang mustahil dimiliki oleh Allah, karena tidak akan mampu membuat sesuatu sedikitpun.

Maka dari itu, konsekuensinya adalah kapan ajal datang itu adalah sebuah kepastian. Tidak mungkin ada makhluk-Nya yang bisa mengubahnya. Tidak ada makhluk-Nya yang bisa menentang kehendak-Nya. Konsekuensi dari kemampuan menentang-Nya, makhluk tersebut harus memiliki kekuatan yang minimal sama dengan-Nya. Berasal darimanakah kekuatan untuk menentang-Nya tersebut? Bagaimana ada makhluk yang memiliki kekuatan lebih besar dari penciptanya?

#catatanwongdeso #pikiranngacomakkebanyakanmikir