Jawaban Ratna atas Balasan Yudha

Kali ini aku usahakan lebih singkat dari yang lalu-lalu. Balasan dari Yudha tidak bisa lagi kusebut sebagai suatu  kisah. Dia sudah politis. Memang belum tergambar jelas bagaimana keadaan dua kubu tempat kami banyak bersebrangan. Tapi biar aku ceritakan sudut pandangku.

Kelas tiga SMA memang aku memutuskan untuk menutup auratku. Aku menyadarinya sebagai kewajiban semua muslim dengan jenis kelamin perempuan. Tak peduli akhlaknya sudah baik atau belum. Tak peduli orientasi politiknya. Aku tak melihatnya sebagai bentuk identitas perlawanan terhadap negara seperti pandangan yang banyak beredar pada masa orba. Ya, sebatas itulah mungkin pemahamanku. Mungkin karena aku hidup dimasa dimana menutup aurat bukan sesuatu yang istimewa.

Harapan Yudha, aku juga punya pandangan yang lebih terintegrasi antara pakaianku dan orientasi politikku. Aku tahu bagaimana pola pikir dia dan orang-orang sejenisnya. Seharusnya Yudha tahu, aku berada di kubu yang sama dengannya sampai awal tingkat duaku. Sampai suatu ketika aku menemukan bahwa mereka seperti terobsesi dengan kehendak atas kebenaran yang mutlak. Kalian bisa menilainya sendiri dari pernyataan-pernyataan yang diutarakan Yudha.

Aku juga merasakan kehendak-kehendakku akan kebenaran mutlak yang seolah menjadikanku berkehendak akan kematian. Aku menderita akan kehendakku sendiri. Sampai akhirnya aku mencoba mencari tahu nilai-nilai kebenaran lain  yang selama ini jauh dariku. Disitulah aku bisa sadari bahwa kebenaran punya sesuatu yang tidak bisa diketahui secara keseluruhan. Kebenaran mempunyai sisi “aurat”nya yang menjadi tidak sopan ketika kita ingin melihatnya secara “telanjang”. Memangnya mengapa kalau kebenaran itu tidak terungkap? Memangnya kenapa kalau salah?

Memang akhirnya aku memang lelah. Tapi aku tak pernah menyesal bisa berkenalan dengan banyak sisi kebenaran. Aku tetap tidak menyukai ketidakbenaran dari setiap sisinya. Aku senang dengan semua pemikiran itu sehingga aku bisa berpikir lebih adil dan terintegrasi dalam standarku.

Sungguh aku bahagia ketika Yudha melakukan hal-hal yang aku sarankan. Bermain gitar dan mengikuti band salah satunya. Aku merasa dihargai ketika dia melakukan sesuatu yang ada disekitar kepentinganku. Di sekitaran duniaku. Bahkan aku senang ketika dia memaksa. Memaksa demi kepentinganku tentu saja. Aku merasa menjadi sesuatu yang istimewa baginya.

Hanya saja, aku mengenal Yudha dengan sangat baik. Cenderung fokus pada satu tujuan. Dan aku mengerti tujuannya itu bukanlah aku. Dia memang sering membuatku senang dengan begitu mengistimewakanku sebagai sahabatnya. Kalau aku mau kejam, sebagai teritorinya, daerah kekuasaannya. Tapi aku tahu, bukan itu tujuan hidupnya. Dia punya keluarga yang sangat ingin dia banggakan. Aku tahu dia tidak akan mendapatkannya jika bersamaku.

Aku mengenal orang tuanya. Dan aku bisa membaca bahwa mereka ingin seseorang yang lebih baik dari aku. Suatu hari nanti. Mereka tidak ingin Yudha cepat-cepat memiliki wanitanya. Kami punya tujuan yang mungkin bertolak belakang. Itu yang membuatku yakin untuk melupakan rasaku padanya.

Meski aku bisa melupakan rasaku. Yudha tetap punya posisi yang cukup istimewa dalam hidupku, meski tidak dalam hatiku. Aku membawakannya bunga ketika wisuda, secara sadar, kalau mau naif, sebagai seorang adik. Aku melihat para manusia dengan obsesi kebenarannya itu melihatku seperti melihat sesuatu yang menjijikan dan tidak pantas. AKU TIDAK SUKA. Dan sejujurnya itu membuat aku semakin tidak simpatik.

Hal terakhir yang ingin aku luruskan adalah masalah kemandirianku. Yudha tidak tahu seberapa dulu aku menderita tanpa kehadiranmu. Yudha tidak tahu malam-malam tangisku saat pertama-tama kehilangannya. Tangis piluku ketika pertama-tama aku sadar, mungkin tidak ada lagi yang menjadi sandaranku. Aku menceritakan semua lelaki yang mendekatiku agar Yudha tahu bahwa aku cukup berharga. Tapi hari ini aku tahu bahwa itu seharusnya tidak perlu aku lakukan. Karena ternyata mereka telah “memperingatkan”nya. Bahkan alasannya menghilang adalah karena “peringatan” itu. Aku sebenarnya tidak nyaman menerima bantuan sembarang orang. Karena Yudha menghilang, aku pun berusaha keras untuk  mengerjakan semua sendirian.

Hubunganku dengan mas Andri dimulai ketika aku sudah mandiri, berdiri sendiri. Satu yang aku sangat hargai dari dirinya adalah dia menganggapku tidak sebagai teritorinya. Aku dianggap sebagai entitas bebas yang juga berhak akan teritori. Dia menghargai masa laluku yang sebagian besar didalamnya adalah Yudha. Tawa dan tangisku bersama dan tanpa Yudha, tapi tentu karena Yudha.

Yudha, kalau kau bahagia dengan kemenghilanganmu dariku. Sungguh aku tidak akan mencarimu lagi.

Iklan

Balasan Yudha kepada Ratna

Kamu sudah menulis kisah kita dengan begitu baik. Dalam sudut pandangmu. Kita pertama kali bertemu memang ketika SMP. Aku sangat nyaman bersamamu saat itu. Kalau kamu bilang, saat itu yang kamu rasakan padaku adalah cinta, pada masanya. Karena kamu memiliki definisi berbeda tentang cinta saat ini. Aku sendiri ingin mengatakan bahwa perasaanku saat itu sebagai sebuah rasa ketertarikan dan tanggung jawab. Biar aku jelaskan mengapa bisa seperti itu.

Ketika umurku 2 tahun. Adik perempuanku lahir. Aku sangat menyayanginya. Orang tuaku selalu mengajarkanku untuk melindungi dan menyayangi adikku itu. Itu adalah tanggung jawab. Aku sering menjahilinya, karena aku tahu dia seneng digituin. Merasa dicari perhatiannya. Kebahagiannya juga tanggung jawabku kata orang tuaku. Sayang, dia meninggal saat aku kelas 5 SD. Kini aku tahu dia mengidap leukemia sejak umurnya 2 tahun. Dia berjuang selama 6 tahun lamanya.

Aku tertarik karena kamu membuatku merasa kebutuhanku akan tanggung jawab terpenuhi. Kebutuhan untuk menjadi superior. Tapi, kenapa kamu? Aku juga tidak begitu mengerti.

Kamu bercerita aku sangat suka belajar. Ya, karena aku mendapatkan sesuatu yang saat ini aku sebut sebagai aktualisasi diri. Kamu sendiri lebih suka kegiatan organisasi. Kamu menghabiskan begitu banyak waktu saat itu. Sampai aku harus ikut juga mengerjakan PR-PRmu. Kamu masih ingat bukan? Aku yang mendiktekanmu materi saat ku traktir kamu sore-sore karena kamu cerita kalau kamu besoknya akan ulangan Sejarah dan belum belajar sama sekali. Itu juga bagian dari aktualisasi diriku. Aku bahagia karena merasa kamu memerlukanku.

Kamu bercerita tentang aku yang menjahilimu saat pagi hari, bertukar cerita di siang hari dan mentraktirmu di kantin di sore hari. Tentu tidak setiap hari dan tidak selalu begitu waktunya. Tergantung momentnya. Ketika aku berpapasan denganmu di gerbang sekolah di pagi hari atau dimanapun serta kapanpun dengan muka yang seperti belum mandi, aku merasa berkewajiban untuk membuat moodmu baik hari itu. Begitu juga dengan traktiranku di kantin. Kamu selalu lupa makan, dan itu membuat kamu terlihat sangat pucat. Aku tidak nyaman dengan keadaan itu. Aku merasa bertanggung jawab.

Tentang berbagi cerita… mungkin ini yang tidak dapat aku jelaskan. Hanya saja, aku begitu jaman denganmu, sehingga tidak takut untuk menceritakan semua rahasiaku. Kamu juga begitu bukan? Mungkinkah karena aku sebenarnya mencintaimu? Definisi cinta bagi anak SMP tentu saja. Aku nyaman bekerja denganmu, berbagi tanggung jawab. Menanggung semua kesalahan yang kita lakukan bersama. Entah bagaimana aku merasa penuh karenanya saat itu.

Kamu bercerita bahwa aku anak band. Ya, aku sangat menyukai musik. Terutama gitar. Aku sangat menyukainya. Karena apa? Apakah kamu begitu malu untuk menceritakannya?

“Aku selalu nge fans sama cowok yang bisa gitar.” gitu katamu.

“Kenapa?”

“Karena keren.”

“Kenapa bisa keren?”

“Kesannya macok-macok gimana githu. Coba, ada nggak banci yang bisa gitar? Kalau cewek malah banyak. Kalau banci ada nggak hayo?”

“Macho meureun maksud kamu teh?” meureun itu artinya mungkin atau kayaknya juga bisa.

“ih, harusnya tanya, kenapa bisa.”

“kenapa aku harus tanya?”

“apa susahnya tanya?”

“kenapa bisa?”

“Kalo main gitar ngetrilnya susah.”

Kita ketawa.

Karena itulah aku belajar gitar dan akhirnya ikutan ekskul band. Aku seneng melakukan hal-hal yang kamu suka. Matamu berbinar-binar dan aku bahagia melihatnya. Aku tak sadar kalau menjadi anak band menyebabkan aku menjadi begitu popular di kalangan para perempuan-perempuan yang kamu bilang menyiksamu dengan tatapan iri.

Aku juga mengikuti remaja masjid di dekat rumahku. Kamu bilang karena ibuku yang menyuruhnya. Ya, itu benar sekali. Aku merupakan anak yang agak nakal sejak kecil. Setelah tahu aku mengikuti ekskul band, ibuku merasa perlu untuk menyeimbangkanku. Ya, karena itulah, kenapa saat itu aku mengikuti remaja masjid. Dan ketika SMA itulah yang menjadi kegiatan intiku. Belajar lebih banyak tentang agama. Belajar hidup yang benar menurut agama.

Jadi, kenapa aku nggak nembak kamu waktu SMP adalah karena aku sebenernya tidak tahu perasaanku. Yang aku tahu aku hanya ingin melakukaan hal-hal yang kamu bilang seperti perlakuan orang pacaran. Karena aku merasa kamu itu tanggung jawab aku. Dan aku juga nggak ngerti kenapa aku merasa begitu dan kenapa orangnya kamu.

***

Masa SMAku penuh dengan drama. Drama-drama yang tidak aku ceritakan padamu. Karena aku khawatir aku malah memberikan kamu masalah baru. Dan itu jadi penggalan penting dalam mengapa sampai hubungan kita berubah.

Sejak saat masa orientasi, aku tahu ada yang mengincar kamu. Kang Randi. Kamu ingat? Dia selalu berusaha menolongmu. Menunjukan kepeduliannya kepadamu. Tapi karena saat itu, kamu punya aku, kamu lebih nyaman sama aku. Padahal status kita, tidak ada. Dia merasa aku adalah saingannya dia. Dia pernah mengajakku bertanding karate, padahal aku tidak bisa karate. Lalu dia bilang aku pengecut dan tidak pantas untuk kamu. Aku terima saja karena aku tidak mau semua menjadi runyam. Begitulah awal mula kenapa aku menjauh dari kamu. Banyak kejadian drama yang semacam itu antara aku dengan orang-orang yang mendekatimu. Aku tidak bisa menyebutnya satu per satu.

Aku memang menjauh darimu. Tapi Kang Randi dan kakak-kakak lainnya itu juga tidak dapatkan hatimu. Kamu malah menyukai orang lain. Seorang alumni bernama Kang Gunadi. Kamu ingat? Ya, kamu cerita itu di telpon dan cuman aku iya-iyakan saja. Ketawa sesekali kalau ada yang lucu. Dan memberimu saran-saran tak berguna.

“Ya udah atuh, nanti pas Kang Gunadi dateng ke sekolah, kamu kasih aja aci.”

“Ih, naha aci?” artinya kenapa aci? Aci itu tepung tapioka.

“Biar lengket sama kamu lah.”

“Ih, kamu mah ada-ada aja Yud.”

Bukan cuman Kang Gunadi. Banyak lagi laki-laki lain yang suka kamu ceritakan ke aku. Sampai akhirnya aku merasa, aku tidak ingin mengganggumu lagi. Takutnya malah aku yang jadi penghambat buat kamu punya pacar. Takut semua laki-laki berpikiran sama kayak Kang Randi dan nggak jadi deketin kamu karena aku. Selain itu, aku juga nggak mau kamu terlalu tergantung sama aku. Bukannya tidak bersedia, lebih ke arah memberikan kamu kesempatan untuk berkembang dan bertemu dengan laki-laki lain. Dan juga memberikan ruang pada diriku sendiri untuk mempelajari banyak hal diluar hal-hal yang berhubungan dengan kamu.

Selain itu saat itu juga aku nggak mau pacaran sama kamu. Nggak boleh sama agama kata Kang Riki. Kang Riki itu mentor aku di remaja masjid SMA. Kamu cerita juga kalo aku ada di divisi eksternal kan? Meskipun begitu, aku masih merasa berdosa ketika aku tidak mengabarimu kabar-kabar penting. Maka tetap aku kabari.

***

Saat kuliah, aku mulai berpolitik dan sibuk sekali. Banyak intrik-intrik yang kupelajari. Ada satu hal yang ku sesalkan. Kenapa kamu ada di kubu sana. Kamu kan sudah berkerudung sejak kelas 3 SMA kemarin. Kenapa kamu tidak punya pemikiran yang sama denganku? Untuk hidup berdasarkan agama.

Aku khawatir dengan pemikiran-pemikiran kubu sana. Aku membaca semua tulisan yang sering kau buat. Baik di media online maupun media cetak kampus kita. Kamu memang sudah menulis sejak SMA. Aku mengikuti semua pemikiranmu. Aku merasa semakin jauh darimu. Kamu tidak lagi menjadi Ratna yang aku rasa perlu untuk kulindungi dan kubuat senang. Kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Kamu tahu bagaimana caranya mencari kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Aku sudah tidak punya arti lagi karena itu.

Aku tahu kamu mungkin tertarik dengan semua pemikiran-pemikiran itu. Seperti menghirup oksigen katamu. Karena untukmu itu adalah pemahaman-pemahaman yang baru kau tahu. Menarik rasa penasaranmu. Aku malah melihatnya seperti rokok. Memberimu energi dan rasa nyaman namun sebenarnya menghancurkan dirimu sendiri dari dalam. Ya, pemahaman-pemahaman itu akan menghancurkan dirimu. Liberalisme, Feminisme, Marxisme dan semua turunannya. Karena pemahaman-pemahaman itu tidak berasal dari fitrah manusia.

“Aku baca tulisan kamu Rat.”

“Yang mana?”

“yang kamu bahas tentang Pramoedya Ananta Toer dan Ayu Utami.”

“Kenapa?”

“Aku takut kamu lelah.”

“Aku kan nggak lari-lari. Kenapa Lelah?”

“Alhamdulillah atuh kalo kamu nggak lelah mah.”

Dan benar saja, kamu sendiri yang berkata bahwa kamu lelah bukan? Walau kamu lelahnya bukan karena yang kita omongkan waktu itu.

***

Sekarang, aku hanya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.

Kenapa aku menjauhimu?

Aku sudah jelaskan. Kamu sudah tahu kenapa aku menjauhimu kan sekarang? Karena aku takut malah menjadi penghalang kebahagianmu.

Apakah karena perasaanmu padaku saat SMP sebenarnya berbalas?

Juga sudah aku jelaskan. Perasaanku padamu saat SMP, aku anggap sebagai sebuah rasa ketertarikan dan tanggung jawab. Aku bahagia dan menjadi tertarik padamu karena kamu dapat memenuhi rasa tanggung jawabku.

Kenapa aku tidak memberikan sebuah ketegasan padamu sedari dulu?

Aku pikir tidak perlu ku jawab. Karena aku merasa sudah cukup tegas menurut ukuranku, tentang apa perasaan yang aku rasakan padamu saat itu.

Setidaknya ketika kamu bercerita sedang dekat dengan mas Andri, mengapa aku tidak berusaha mendekat lagi padamu? Mengapa aku tidak berusaha merebutmu dari mas Andri? Kenapa aku tidak melakukan apa-apa?

Karena ku pikir mas Andri sama saja dengan banyak laki-laki yang pernah kamu ceritakan dahulu. Aku tidak merasa terancam.

Lalu, kenapa sekarang aku menghilang?

Karena aku baru tahu kalau aku butuh memilikimu. Kamu bukan hanya menjadikan aku berarti karena bisa melindungi dan membuatmu senang. Tapi, aku tidak sanggup melihatmu dimiliki oleh orang lain. Bisakah aku mendefinisikan perasaaanku padamu sebagai rasa cinta? Atau hanya rasa tanggung jawab yang terluka? Tapi, kamu kan bukan lagi tanggung jawabku. Aku sudah jelaskan. Kamu sudah bisa melindungi dan mencari kebahagian sendiri. Perasaan ini baru aku rasakan ketika kamu mengabari padaku bahwa mas Andri telah melamar kamu. Ketika semua sudah terlambat.

Kamu ingin aku bahagia? Biarkan aku menghilang.

Surat Ratna kepada Yudha

Aku hanya ingin menulis sebuah kenangan. Tentang Kamu. Seorang yang pernah aku anggap sebagai bintang. Pertemuan pertama kita adalah hari pertama masa orientasi masuk SMP. Kita satu kelas. Dan kamu duduk dibangku kosong sebelahku. Aku tak tahu, apa yang ada dalam benakmu. Dengan ceria, kamu pun menyapaku. Namamu Yudha. Kusebut namaku, Ratna.

“Kamu dari SD mana?”

“SD yang tiga tingkat itu loh. Agak masuk ke gang sih, deket pasar. Kamu?”

“Aku mah SD nya di luar negeri.”

“Serius?”

“Ya udah atuh kalau nggak percaya mah. Kalau aku bilang aku SD di luar angkasa, kamu baru boleh nggak percaya.”

“Ya atuh, diluar angkasa mah pasti nggak mungkin. Lagian aku bukan nggak percaya, tapi penasaran.”

“oh… dikirain nggak percaya”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku tahu kamu berusaha menghiburku.

Kau menjadi teman sebangku dan jadi sahabatku sejak saat itu. Kita banyak melakukan hal-hal yang menarik berdua. Tugas dan pekerjaan sekolah bersama. Ya, dari situlah perasaanku muncul. Entah apa namanya. Aku sekarang tak bisa menamakan itu cinta. Karena aku sudah tahu bagaimana itu cinta. Tapi, saat itu, aku menamakan perasaanku untukmu adalah cinta. Yang biasa dibicarakan oleh teman-teman perempuanku sebagai suka, naksir atau ngeceng.

Aku senang bila kamu berbagi rahasia denganku. Rahasia yang hanya aku dan ibumu yang tahu. Itu katamu. Aku senang ketika kamu berbuat jahil padaku di pagi hari, di siang hari kita bertukar cerita, ketika pulang sekolah kamu menraktirku makanan apa saja yang masih ada. Banyak teman-teman kita bilang, kita adalah sepasang kekasih. Aku sangat mengharapkannya saat itu. Tapi toh tidak pernah terucap dari mulutmu bahwa kamu mengakuiku sebagai kekasih, tidak juga ada kata-kata diantara kita yang mempertegas apa yang kita jalani.

***

“Kamu seneng nggak Rat?”

“Naon?” bahasa sunda yang artinya apa

“Apa?”

 “Maksudnya kamu tanya begitu teh ku naon?” ku naon artinya kenapa

Kita begitu lucu. Saling menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

“Pengen tahu aja apakah saya sudah menjadi rahmatan lil alamin apa belum?”

“Naha? Cageur atuh…” maksudnya kata-kata ini tuh semacem…  Kenapa nanya gitu, kamu sakit?

“Eh, saya teh nanyanya ‘apakah kamu seneng’, kenapa disuruh sehat?”

Ketika itu aku hanya tersenyum. Aku senang Yudha. Aku jatuh cinta padamu. Dan cintaku semakin hari semakin besar. Begitulah pikiranku saat itu. Merasa bahwa itu adalah cinta. Padahal hanya suka saja. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Karena aku takut kalau kamu tahu aku menyukaimu, aku akan kehilangan dirimu sebagai sahabat.

“Udah ya, aku rapat OSIS dulu.”

Kamu masih ingat kan kejadiaan saat kita kelas dua SMP itu? Kita sudah tidak sekelas. Tapi kamu masih saja selalu mentraktir aku makan di kantin. Aku senang tentu saja.

Ya. Saat itu memang sudah terjadi perbedaan. Aku yang cinta dengan kehidupan organisasi dan kamu yang lebih cenderung suka belajar. Meskipun begitu kamu juga mengikuti ekskul band. Aku senang kalau kamu mengajakku untuk menonton pertunjukan bandnya. Band SMP kita kan memang lumayan ternama, kaderisasi dan pembinaannya berjalan baik. Mereka sering diundang manggung. Meskipun kamu anak band, kamu relatif tidak aneh-aneh. Mungkin karena kamu juga menjadi remaja masjid di rumahmu. Katamu, ibumu yang nyuruh.

Apakah aku merasa digantung? Tidak. Toh, apa yang dilakukan kamu lakukan padaku sama dengan apa yang dilakukan Rendi pada Shofi. Kamu tahu kan, Shofi adalah teman sebangkuku kala itu. Rendi itu pacarnya. Apa lagi yang ingin kutuntut?

Aku semakin tidak merasa perlu menuntut kejelasan karena… kalaupun hubunganku dan kamu jelas, aku takut suatu hari nanti kita akan berpisah dan itu menyakitkan. Lalu kita malah tidak lagi bisa bersahabat. Itu kalau perasaanku bersambut. Kalau ternyata aku bertepuk sebelah tangan, pastilah hubunganku dan kamu akan hancur seketika itu juga. Aku tidak tahu bahwa ternyata ketidakjelasan saat itu menjadi beban untukku saat ini. Bahkan setelah aku punya Mas Andri, suamiku. Semacam unfinished business.

***

“Rat, pokoknya kita harus satu SMA ya.”

“Dih males”

Iya Yudha. Aku juga mau kita sekolah di SMA yang sama.

“Kamu nanti kesepian loh kalau SMAnya pisah sama aku“

“Enak aja. Temen aku selain kamu kan banyak Yud… Di SMA juga pasti aku begitu.”

Sebenernya mereka semua tidak punya arti sebesar kamu Yudha.

Kamu ingat, ketika itu kamu selalu mengingatkanku untuk belajar, terkadang menjadi guru dan memarahiku kalau aku terlalu asik dengan kegiatan keorganisasianku. Ya, walau sudah tidak lagi menjadi pengurus OSIS, aku masih sering hadir di rapat-rapatnya. Sebagai Pembina bayangan kata mereka. Pembina benerannya guru. Tapi guru yang ditunjuk sering kali sibuk.

***

Kita masuk di SMA yang sama. 6 bulan pertama, aku masih bersama kamu. Semua berjalan sebagai mana biasanya. Namun, kemudian sedikit demi sedikit, kamu menjadi lebih sibuk dan tidak lagi menyempatkan diri bersamaku. Aku yang dikala itu juga sibuk, tak begitu ambil pusing. Hingga akhirnya, aku dan kamu, benar-benar sangat jarang bertemu. Kita hanya saling mengabari berita penting yang terjadi di antara kita. Aku masih mengabari kamu bila ada kabar-kabar penting dari OSIS, kepada kamu yang adalah staf divisi eksternal organisasi remaja masjid SMA kita kala itu. Kamu ikut itu bukan karena disuruh ibumu. Ya, kamu banyak berubah. Banyak sekali. Saat itu aku sungguh tidak peduli.

Karena aku bertemu dengan banyak lelaki selain kamu setelahnya. Banyak sekali yang membuatku terpesona. Sampai aku lupa perasaanku padamu sama sekali.

***

Ketika aku lulus ke PTN incaranku di jurusan Ilmu Komunikasi karena aku ingin jadi wartawan, aku memberimu kabar. Lalu kamu memberitahuku bahwa kamu, lulus juga di PTN yang sama tapi jurusannya Teknik Mesin. Aku memang tahu, kamu terobsesi menjadi montirnya Valentino Rossi, cita-cita sejak SMP. Walau entah ketika kamu sudah punya kapasitas untuk itu, VRnya masih balap atau nggak.

Ketika kuliah aku sibuk berpolitik. Sok idealis, mumpung masih mahasiswa. Aku memilih kubu yang menarik buatku. Walau sebenarnya, banyak kelakukan orang-orang kubuku yang meresahkan diriku pribadi. Bukan hanya kelakukan tapi memang pemikirannya yang mengerikan. Kamu? Aku tahu kamu salah satu orang penting di kubu lawanku. Konseptor, bukan eksekutor. Jadi kamu tidak tampil.

Di tahun terakhir, aku sudah tidak kuat lagi dengan mereka. Aku banyak mengasingkan diri dan memperbaiki kuliahku yang keteteran. Kala itu tak ada lagi kamu yang memarahiku seperti ketika kita masih SMP.

Kamu juga sudah tidak lagi bertahta di kubumu. Aku tahu, mesin kaderisasi kubumu sangat bagus. Tidak seperti kubuku. Mereka mengandalkan asupan pemikiran dari luar dan penokohan pribadi untuk tetap hidup. Hingga jadinya melelahkan. Karena itulah aku melipir. Lelah.

Tapi komunikasi kita ada, walaupun seadanya.

Ketika aku keterima untuk jadi wartawan junior padahal masih skripsi pun aku mengabarimu. Kamu turut senang dan mengabariku bahwa kamu bulan depan akan di wisuda. Kebetulan saat kamu wisuda, bukan giliranku untuk meliput. Jadi aku datang ke wisudamu. Ingat? Aku satu-satunya perempuan yang hadir di sana, membawakanmu bunga.

Mata teman-temanmu menghakimi. Katakan pada mereka aku tak suka. Kalau mereka perempuan pemujamu, aku masih bisa mengerti. Dan bisa dibilang itu sudah terjadi sejak SMP. Ketika persahabatan kita sedemikian erat.

Ketika kamu dapet kerjaan pun kamu mengabariku. Itu cuman 4 bulan dari saat kamu mengabari aku bahwa kamu akan di wisuda. Aku juga memberi tahumu kalau aku sedang dekat dengan mas Andri. Aku bercerita padamu, karena aku masih menganggap kamu sahabat dan perasaan lebih waktu SMP itu sudah benar-benar hilang.

“Euleuh… kamu teh malah pacaran. Skripsinya atuh beresin.”

“Batas studi masih 3 tahun ma bro…(my bro maksudku)… lagian aku udah nggak minta uang jajan ama ortu lagi kok. Nggak minta kamu traktir lagi juga kan? Lagian aku kan sudah punya pacar Yud…”

“Iya… nanti kapan-kapan kamu traktir aku ya, bareng mas Andri.”

“Iya.”

Dua tahun kemudian aku akhirnya lulus kuliah. Aku lulus kuliah dan sudah naik pangkat menjadi asisten editor. Setelah itu mas Andri langsung melamarku dan akhirnya 6 bulan kemudian kami menikah.

Kamu kukabari. Tapi kamu tidak datang. Katanya, kamu lagi kerja di luar negeri dan nggak bisa pulang. Walaupun mas Andri bilang, kalau kamu sebenernya patah hati. Sok tahu banget ya dia. Kata Mas Andri, kamu menjauh karena kamu nggak kuat ngeliat aku sama dia. Padahal dulu kan aku yang suka sama kamu. Kamu mah biasa aja kayaknya.

Tapi setelah itu kamu hilang. Benar-benar hilang. Mungkin, sudah dari dulu persahabatan kita renggang. Tapi, kamu tidak menghilang. Kamu selalu mengabariku tentang hal-hal besar dalam hidupmu, misalnya ketika kamu ganti nomor. Karena kamu tidak aktif di media sosial. Jadi, hanya bisa dihubungi lewat telepon saja. Dan sekarang, kamu ganti nomor nggak bilang-bilang. Sampai aku tahu nomor baru kamu dari temennya temen aku yang satu kantor sama kamu. Setelah aku hubungi kamu, kamu ganti nomor lagi. Katanya kamu pindah negara, kerjanya. Kamu memang selalu dapet kantor yang pindah-pindah dan selalu di luar negeri. Tapi kenapa kamu seperti sengaja lupa untuk ngasih tahu aku kalau kamu ganti nomor?

Aku benar-benar kehilangan. Jadi, kenapa kamu menjauhiku Yud? Apakah karena perasaanku padamu saat SMP sebenarnya berbalas? Dan perasaan itu masih ada sampe saat ini. Lalu kenapa kamu tidak memberikan sebuah ketegasan padaku sedari dulu? Setidaknya ketika aku bercerita sedang dekat dengan mas Andri, mengapa kamu tidak berusaha mendekat lagi padaku? Mengapa kamu tidak berusaha merebutku dari mas Andri? Karena kamu tidak melakukan apa-apa? Maka aku berpikir, kamu hanya menganggapku sebagai teman kecilmu. Tapi kenapa sekarang kamu selalu menghilang?

Aku sudah bersyukur akan kehadiran mas Andri. Tak ada yang kukeluhkan tentang dia. Hanya saja, aku rindu. Rindu sebagai sahabat. Aku hanya ingin memastikan kehidupanmu sekarang bahagia.

Perpisahan (Episode 6 – Tamat)

Perasaan Rino saat itu berkecamuk. Antara lega akhirnya menemukan Tara, tapi juga ada perasaan tidak terima dan bingung. Apa yang harus dia lakukan dengan sebaris nomor telepon ini? Tara sudah memilih laki-laki lain.

“Rin…. Lo baik-baik aja kan?” sahut Gio di ujung telepon.  Ada sebuah nada diam yang tidak wajar setelah Gio memberikan nomor telepon Tara pada Rino.

“Gue harus ngapain ya Gi?”

“Lu harus move on Rin… seorang Fitarani Salsabila mungkin bahkan tidak mengingat lo sama sekali. Lo bisa pastikan itu. Mungkin nomor yang tadi lo minta bisa berguna.”

***

“Halo…” kata suara seorang wanita diujung sana. Dihubungi oleh banyak orang berhubungan dengan pekerjaannya membuat dia tidak begitu hati-hati mengangkat nomor tak dikenal.

“Tara, ini Rino.” kata Rino.

Tara bingung. Mengingat-ingat seseorang bernama Rino yang punya urusan dengannya. Dia menemukan nama produser acara berita selebritis.

“Mas Sakti udah jelasin sama lo kan Rin… Gue sama Fandi mau konferensi pers minggu depan.”

Rino tahu. Tara telah salah sangka.

“Ini Rino temen SMA kamu, Tara… yang dihari terakhir sekolah nembak kamu.”

Tara terkejut. Bingung harus bercakap apa.

“Hai… kamu apa kabar? udah nikah Rin?”

“Aku baru pulang internship Tar. Lagi ngurus ijin praktek. Nggak ada waktu buat cari pacar Tar… aku belum nikah…”

Tara jadi bingung. Kebingungan yang sama ketika hari terakhir sekolahnya. Hari dimana dia harus menjelaskan pada Rino tentang hatinya yang tidak berlabuh pada Rino.

“Tau darimana nomorku?”

“Atasan kamu yang namanya Gio itu sahabat saya. Dia tahu kisah kita waktu SMA. Dia juga ngasih tahu saya soal Alfandi.”

Tara benar-benar tak tahu harus berkata apa.

“Tara… saya bahagia kamu sekarang sama seseorang yang saya percaya bisa membahagiakan kamu… dan tidak mengajak kamu hidup susah…”

“Rino….”

“Jangan minta maaf Tara… Bukan salahmu apalagi Alfandi…”

Kata itulah yang terakhir dalam percakapan cangguh mereka….

***

Rino merasa hatinya hancur berantakan. Namun ada satu yang disyukurinya. Perasaannya lega telah memastikan perempuan yang dipujanya telah bahagia. Sementara itu, di lain sudut, Tara merasa sebuah perasaan bersalah. Tapi dia tahu, tanpa kehadiran Alfandi pun, dia tetap tidak akan memilih Rino. Tara tahu, Rino pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dari dia. Yang Rino butuhkan adalah perempuan yang cerdas namun tak punya ambisi. Karena Tara selalu mematikan ambisinya ketika bekerja sama dengan Rino. Rino tak akan tahan dengan rekan kerja yang lebih berambisi dari dia. Rino butuh seseorang yang mengikutinya dari belakang. Memainkan tarik ulur. Sedangkan dia butuh Fandi. Seseorang yang menyejajarkan langkahnya. Tara melangkah disamping, bukan di belakang Fandi.

Tidak Bermaksud Menghilang (Episode 5)

Di hari terakhirnya di SMA. Fitarani Salsabila mungkin telah memecah belah persahabatan antara dua orang lelaki. Dia tidak ingin tahu kelanjutannya bagaimana. DIa ingin menutup komunikasinya dengan masa lalu. Persahabatannya dengan Dian hancur. Dian tahu bahwa Rino lelaki yang didamba Dian, malah mendamba Tara, sahabatnya sendiri. Tara merasa habis alasan mengapa dia masih perlu menjaga komunikasi dengan teman-teman SMAnya.

Dunia yang digelutinya sekarang pun begitu berbeda dengan dunia teman-teman SMAnya yang lain. Yang lebih memilih mengambil kuliah di dunia kesehatan dan keinsinyuran. Dia mengambil jalannya sendiri mengambil keputusan untuk mengejar mimpinya menjadi seorang wartawan. Satu hal yang mungkin disesalinya adalah dia tidak bisa menjaga idealismenya untuk mencari pekerjaan sebagai jurnalis. Kini, dia malah terjebak menjadi kreatif di sebuah stasiun televisi ternama. Tapi toh kariernya cukup baik. Walau tidak dibagus Gio yang memang mendalami broadcasting semasa kuliahnya. Tara dan Gio memasuki universitas yang berbeda. Walau jurusan yang sama, Ilmu Komunikasi. Tara merantau mencari universitas dimana jurusan yang diinginkan adalah yang terbaik. Sebuah universitas terbaik negerinya, yang tidak berada di kotanya. Karena ini juga dia terkesan menghilang.

Tara memiliki satu penyanyi favorit. Namanya Alfandi Suryakelana. Pagi itu, dia melihat Citra, Sekertaris Mas Sakti yang kebetulan teman SMPnya, berbincang dengan penyanyi favoritnya. DIa pun memberanikan diri berbicara pada Citra. Meminta Citra mmengenalkannya dengan Fandi.

 “Dia itu mau ketemu Mas Sakti, bukan mau jumpa fans.”

“Ih, siapa juga yang nge fans sama dia.”

“Playslist lo kan lagu dia semua. Emangnya gue nggak tahu? Lagian ngapain lo mau ketemu dia coba?”

“Biar nanti kalo acara gue butuh dia kan gampang Cit… apa lo mau nolongin gue kalo nanti gue butuh dia? Gue kan minta dikenalin sama semua artis juga kali CIt… Ke elo emang cuman baru Fandi…”

“Ya udah gue kenalin. Tapi jangan norak ya.”

Dengan berat hati, Citra pun akhirnya mengenalkan Tara pada Fandi.

“Fitarani Salsabila, Kreatifnya acara ‘apa aja boleh’”

“oh… yang ratingnya lumayan itu ya. Saya tunggu undangannya lagi ya.”

Sebetulnya Tara sedikit tersinggung dengan kata lumayan. Tapi mau gimana lagi? Dia dan Gio memang baru dipindahkan sebagai tombak acara itu. Sebelumnya acara itu dipegang oleh tim yang sekarang memegang program berita. Bisa dibayangkan seberapa serius acara ini sebelum diprodeseri Gio. Gio dan Tara sendiri tadinya berada di tim konser musik yang melakukan promosi stasiun TV mereka. Mereka sudah keliling Indonesia.

“Bisa minta nomor Kak Fandi.”

“Ke managernya aja kali Tar…” kata Citra.

“Ah iya, maksudnya, manager Kak Fandi.”

“Nomor saya juga nggak papa kok mbak. Dengan Mbak Tar… ya?

“Fitarani Salsabila Kak Fandi. Orang kantor taunya, nama saya FIta, tapi karena Citra itu teman SMP saya, jadi dia panggil saya Tara.”

“Waw, saya teman SMAnya Citra loh…”

Tara hanya tersenyum.

“Lucu ya kalian saling berkakak mbak…”

“Panggil saya Fita atau Tara terserah Kak Fandi aja.”

“Panggil aja saya Fandi, Tara.” Fandi memilih Tara sebagai caranya memanggil Fitarani Salsabila.

***

Mulai dari situ mulainya sebuah kedekatan yang melebihi seorang kreatif dan artis. Kencan pertama mereka lakukan setelah perkenalan itu terjadi. Kala itu mereka berbincang tentang banyak hal yang tidak ada habis-habisnya.

“Tar, kita lulusan univ yang sama kali Tar. Cuman gue jurusan Ekonomi.”

“Gue tau lo kuliah di univ gue. Tapi emangnya lo lulus Fan?”

“Ya nggak kayak lo yang cumlaude dan 3,5 tahun lah. Masa studi gue dua kali lipat dan IPK hampir setengahnya lo.”

“Ya tapi kan lo udah kerja. Lu udah punya rumah-mobil. Lah gue? Masih numpang orang tua, baru bisa ngebiayain hidup gue sendiri. Dan gue salut sama lo, kalo beneran lo lulus.”

 “Eh, kurang ngajar ya lo. Baru sekarang lo gue diragukan oleh seorang kreatif.”

“Jadi lo masih ngeliat gue sebagai kreatif? Belum sebagai teman? Tega!” canda Tara.

“Oh… jangan-jangan lo diutus infotaimen buat deketin gue.”

“Program yang gue pegang itu program musik, bukan program gosip Fan… lo pernah ngisi juga kan sebelum gue yang pegang dulu? Gue nggak kurang kerjaan bantuin mereka Fan…”

“Ya siapa tahu aja. Ternyata lo bawa kamera tersembunyi.”

Ini adalah sebuah kejadian di hari ulang tahun Tara dan Fandi yang ke 22, 3 tahun yang lalu. Mereka merayakannya bersama karena mereka lahir dihari yang sama.

***

Semuanya hancur ketika hubungan keduanya tercium oleh Sakti dan manajemen Fandi. Sakti membebaskan tapi jangan sampai mengganggu perusahaan. Walau pun sebenarnya ini merupakan perintah tak langsung bagi Tara untuk mengakhiri hubungannya. Sedangkan Fandi secara tegas mendapat teguran dari pihak manajemennya.

“Tara, kita harus bicara.”

“Ya Fandi. Kita memang harus bicara.”

DIsana lah hubungan yang belum berumur 6 bulan itu berakhir. Mereka pun tertawa berdua. Menertawai kisah mereka yang begitu tragis. Cinta itu terkadang tidak perlu pengakuan dunia. Berdua menikmati sebuah lagu favorit saja, terkadang sudah cukup.

***

Nyatanya hubungan itu tidak berakhir begitu saja. Karena pada akhirnya, mereka hanya lebih berhati-hati, hanya itu perbedaannya. Dan tidak ada komitmen pasti yang terucap. Hanya saja perilaku mereka yang saling menjaga hati bisa jadi bukti otentik dari komitmen yang mereka pegang. Sebagai orang TV, Tara tahu dimana biasanya mereka berkumpul. Dia tahu cara menghindari mereka. Ketika Fandi sedang jadi sorotan publik, keduanya rela tidak bertemu sampai keadaannya menjadi lebih tenang. Hubungan yang tidak goyah meski tak ada pengakuan yang tegas dari keduanya selama tiga tahun ini membuat mereka satu sama lain menjadi semakin yakin akan diri masing-masing.

“Gio udah kehabisan akal kayaknya.” Sahut Fandi saat Tara menceritakan teguran Gio padanya.

“3 tahun bukan waktu yang sebentar Tara…”

“Udah 3 tahun ya Fan…”

“Aku akan mundur dari nyanyi”

“Terus?”

“AKu mau lanjut S2. IPKku emang nggak sebagus kamu. Tapi cukuplah untuk S2 di luar negeri.”

“Terus?”

“Ikut aku…”

“yang cari duit siapa?”

“Tabunganku cukup, nanti aku juga nyanyi di café-café. Lumayan kok jadi penyanyi disana. Lagian, bisnisku yang lain kan masih jalan di sini.”

“Aku?”

“Ada beberapa media cetak disana. Atau kamu kan bisa jadi responden media di sini. Setahuku ada beberapa kantor media Indonesia yang buka kantor di sana. Mau jadi reporter media sana. Itu tinggal kamu yang pilih.”

Ini yang membuat Tara selalu jatuh hati pada Fandi. Dia tidak hanya memikirkan egoism pribadinya. Dia juga memikirkan aktualisasi Tara. Itu juga yang menjadi pertimbangan Fandi ketika memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Tara. Hubungan yang tidak benar-benar berakhir itu.

Dunia Media (Episode 4)

Pukul 23.50 dan Gio masih berada di meja kerjanya. Dia sedang mengerjakan laporan evaluasi program yang diproduserinya. Besok dia  harus mempresentasikannya pada atasannya. Hari ini dia ditemani beberapa bawahan andalannya. Ada Fita yang merupakan kreatif andalannya. Ada Diro yang merupakan asisten produksi senior.

“Fit, lo pulang aja. Biar sisanya gue dan Diro yang beresin.”

“Beneran nggak papa nih Gi?”

“Udah sana. Gue nggak mau Fandi komplen sama Mas Sakti. Bilang gue nahan bawahan cewek sampe subuh.”

Sakti adalah komando tertinggi di tempat Gio bekerja. Fandi adalah seorang penyanyi papan atas yang sering kali menjadi pengisi di acara yang ditayangkan oleh tempat Gio bekerja. Tentu saja punya akses pada Sakti. Selama ini sudah menjadi rahasia umum bahwa Fandi memiliki kekasih di stasiun TV tempat Gio bekerja. Gio dan teamnya tau pasti orang itu adalah Fita. Namun, kabar itu hanya diketahui timnya juga sebagai kabar burung. Fita tidak pernah bercerita tentang apapun kehidupan pribadinya. Terlalu banyak urusan dan sedikit waktu. Target yang dipasang tempatnya bekerja sedemikian tinggi. Tak ada ruang untuk mengurus urusan pribadi yang lain. Urusan pribadi sendiri pun kadang tidak terurus. Jadi buat apa mengurusi urusan orang lain. Prestasi Fandi sendiri terlalu baik hingga tak ada ruang bagi pemberitaan untuk mengganggu privasinya. Dia selalu mahir mengelak. Gio pun hanya bercanda saja tentang Mas Sakti. Disamping itu Gio tahu, Fandi bukan tipe lelaki protektif dan Fita bukan tipe perempuan pengadu. Kalau pun memang mereka mempunyai hubungan yang sedemikian istimewa.

“Kan gue udah bilang. Gue udah lama putus sama dia, Gio.”

“Gue n Citra ngeliat kalian berdua nonton loh weekend kemaren.” ini dia yang sebenarnya ingin Gio konfirmasi.

“Itu dia baru pulang dari luar negeri. Abis konser. Wajar donk kalo dia mau syukuran sama sahabatnya”

“Nggak wajar lah. Syukuran kok berdua. Syukuran tuh gelar pengajian, makan-makan rame-rame. Ketangkep kamera lagi baru tahu rasa lo.”

“Gue nggak terlalu peduli juga sih lo mau percaya atau nggak. Ide lo bagus juga sih Gi. Nanti gue sampein.”

“Ide yang mana?”

“soal syukuran. Kalo perlu nanti ditanyangin Live di TV kita ini.”

“Terus nanti yang nerima tumpeng pertamanya elo. Dan karier lo ancur, baru tahu rasa lo.”

Gio tak abis pikir. Sebenarnya hubungan macam apa yang dijalani oleh salah satu anak buah terbaiknya. Fitarani Salsabila. 3 tahun lalu, Fita mengakuinya bahwa dia pernah memiliki hubungan yang lebih dari teman dengan Fandi. Tapi sekarang katanya hubungannya dengan Fandi adalah sahabatnya. Tapi Gio melihat hubungan mereka lebih dari itu. Tentu saja, mantan kekasih yang masih berhubungan, apalagi sebagai sahabat adalah sebuah hubungan yang tidak bisa dipercaya.

Sebenarnya, kekasih Gio, Citra adalah orang yang pertama kali mengenalkan Fita dan Fandi. Citra adalah teman SMP Fita dan teman SMA Fandi. Citra adalah sekertaris dari Sakti. Fandi memang idola Fita. Itulah awal perkenalan keduanya. Yang ternyata berlanjut. Fita merupakan perempuan yang mandiri. Dia sanggup pulang subuh bila memang pekerjaan menuntutnya untuk pulang subuh. Bukan perempuan yang harus selalu ditemani makan siang. Mungkin karena itu, seorang yang sangat sibuk seperti Fandi bisa nyaman dengannya.

***

Hari ini adalah weekend. Rutinitas yang biasa dilakukan Gio adalah pergi ke kantor sebentar. Memastikan anak buahnya yang bertugas hari itu tidak mengalami hambatan apapun. Sekitar 1-2 jam di kantor. Setelahnya dia berjalan-jalan ria bersama kekasihnya.

“Cit, inget minggu lalu nggak?”

“Fandi sama Tara ya?” ah, ya… Fita adalah Tara yang dikenal Gio, Fitarani. Gio tak tahu apakah Tara yang dipanggilnya Fita adalah Tara yang sama dengan Tara yang diperbincangkan oleh Fajar dan Rino. Citra yang teman SMP Fita memang memanggilnya Tara. Aku tetap memanggil Fita, karena semua orang yang baru mengenalnya di stasiun TV ini memanggilnya begitu. Aku tak mau terlihat sok akrab dengannya.

“Hubungan mereka sebenernya kayak gimana sih?”

Citra hanya menggeleng.

“Fita nggak pernah cerita?”

“Tara nggak pernah. Tapi Fandi cerita sama aku.”

“Kok bisa Fandi cerita sama kamu?” ada nada cemburu yang jelas dikata Gio.

“Fandi nanya-nanya githu. Tara orangnya kayak gimana. Ya aku cerita aja apa yang aku tahu. Minta nomor handphonenya Tara lah. Orangtuanya Tara siapa lah. Dan itu udah lama banget. Tapi kalau sejauh apa hubungan mereka, aku juga nggak tahu Gi. Aku kanget nggak kanget sih waktu minggu lalu papasan sama dia. Nggak kaget karena Fandi pernah nanya-nanya ke aku. Cuman aku kaget karena nggak nyangka hubungan mereka udah lebih jauh dari dugaan awalku.”

“Dulu banget donk itu. Mereka kan sempet jadian. Fita ngakunya sekarang udah putus.”

“Kok bisa Tara cerita sama kamu?” gentian Citra yang cemburu.

“Aku yang tanya. Lebih tepatnya ku sidang. Sama Mas Sakti juga.”

“ Kok Mas Sakti nggak cerita ke aku?”

“Kenapa harus cerita ke kamu?”

“Iya juga… kenapa ya?”

Diam-diam Gio berpikir. Kalau memang Tara yang dikenalnya sama dengan Tara nya Rino. Perlukah dia beritahu Rino, bahwa saingannya adalah Alfandi Suryakelana? Penyanyi dengan bayaran tertinggi masa kini. Penyanyi paling popular saat ini. Dari segi mana pun Rino kalah dibandingkan Fandi. Gio tidak setega itu pada sahabatnya. DIa memilih diam.

“Terus akhirnya Tara ngaku kalo dia pacaran sama Fandi?”

“Iya. Dan mas Sakti sebenernya ngebebasin. Asal jangan sampe mengganggu perusahaan. Aku juga nggak mau aja kalo bawahan andalanku kenapa-kenapa. Bisa makin lama naik pangkat nanti akunya.” Gio memang sangat ambisius terhadap kariernya. Mungkin karena itu diumurnya yang masih muda, dia sudah dipercaya menjabat produser.

“Terus akhirnya mereka putus gitu gara-gara itu?”

“Aku nggak tahu dan nggak mau tahu juga mereka putus gara-gara apa. Yang jelas, mereka putus. Tapi masih bersahabat. Agak aneh sih buat aku Cit.”

“Kenapa?”

Terkadang Gio jengkel dengan kepolosan Citra. Tapi kepolosannya ini pula yang membuatnya tahan menjalin hubungan selama ini dengan  Citra. Citra tidak menunutut banyak. Tapi memang terkadang manjanya muncul. Menyinggung ke arah pernikahan. Sebenarnya wajar saja Citra meminta komitmennya. 3 tahun lamanya mereka berhubungan dan tidak ada masalah berarti dari hubungan mereka. Tapi Gio belum berani mengambil keputusan seberani itu. Bukan karena finansial. Dia sudah mampu mencicil rumah yang sekarang dia tempati. Dia hanya tidak ingin kehilangan kebebasannya yang sekarang. Bebas pergi kerja sepagi apapun, pulang selarut apapun. Juga tidak banyak keluhan ketika weekendnya terganggu karena dia harus tetap mengontrol yang terjadi di kantor. Citra selama ini jarang mengeluh. Namun, dia tidak yakin Citra tidak akan berubah.

“Mantan sepasang kekasih yang masih bersahabat, artinya hubungan mereka sebenernya tidak benar-benar berakhir.”

“terus?”

“Takut aja aku. Meskipun agak absurd juga sih apa yang aku takutin.”

***

Ada sebuah surat pengunduran diri di atas mejanya. Fitarani Salsabila mengundurkan diri. Sesaat kemudian dia mendengar kehebohan dari ruang berita selebritis.

“Ada apaan sih?” tanya Gio pada salah satu reporter junior yang panic menuju ruang rapat.

“Bang Gio, kayaknya Diro lupa ngasih tau Bang Gio ya? Ada rapat penting di ruang meeting berita selebritis.”

“Kenapa gue? Gue nggak pernah berhubungan sama artis mana pun lebih dari masalah teknis penyiaran.”

“Alfandi mundur dari dunia nyanyi. Dan Fita, kreatifnya bang Gio, adalah alasannya.”

“Berita dari mana?”

“Mas Sakti.”

Jujur saja, Gio merasa dikhianati. Entah oleh siapa. Sakti, Fandi atau Fita. Saat ini, yang ada dalam pikirannya adalah menemui Mas Sakti. Empat Mata. Kebetulan, saat itu, Mas Sakti belum pergi ke ruang meeting.

“Mas, ada apa ini?”

“Tadi malam, Fandi, Fita dan manajemen Fandi datang ke rumah saya. Minta TV kita jadi counter semua berita yang beredar. 3 bulan lagi mereka akan menikah. Fandi akan pergi ke luar negeri setelah itu dan Fandi mundur.”

“Jadi?”

“Kita harus lakukan pengalihan isu.”

Gio bimbang. Tapi, selanjutnya dia memutuskan untuk memberitahu Rino tentang Fitarani.

“Rin, gue nemuin Tara lo. Namanya Fitarani Salsabila kan?”

“Ya.”

“Dia itu kekasih dari Alfandi Suryakelana. 3 bulan lagi mereka akan menikah dan selanjutnya mereka akan pergi ke tinggal di luar negeri.”

“Alfandi penyanyi beken itu Gi? Lo tahu dari mana?”

“Iya. Alfandi penyanyi paling laris saat ini. Fitarani Salsabila itu bawahan gue. Kreatif andalan gue. Gue minta maaf karena sebenernya gue kenal Tara nya lo dan gue telat ngasih tahu lo. Sewaktu gue kenal deket Tara lo itu, dia udah pacaran sama Fandi. Mereka udah pacaran sejak tiga tahun lalu, Dan gue baru tahu tentang Tara lo itu beberapa bulan yang lalu. Dan sejujurnya gue nggak tega ngasih tahu lo kalo saingan lo itu Alfandi Suryakelana.”

“Bisa gue minta nomornya?” kata Rino. Rino juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan dengan nomor Tara kalau dia sudah memilikinya. Apa lagi yang bisa dia lakukan?

Apakah Semua Orang Perlu Pintar Matematika? (Episode 3)

Rino gerah dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Pertanyaan yang mempertanyakan kapan dia menikah. Lingkungan yang bilang, “Kamu itu terlalu memilih Rino…”. Dia merasa tidak mengerti mengapa orang-orang jadi begitu peduli pada nasib dirinya.

Tara hanya perempuan biasa. Tidak semua orang peduli akan kabar dirinya. Tidak seperti Rino, yang kabarnya masuk rumah sakit menghebohkan satu angkatan. Kabar burung mengenai pernikahan Rino menghebohkan tidak hanya perempuan satu angkatannya tapi semua angkatan yang mungkin bersinggungan dengan Rino. Dua angkatan di atas dan dibawah Rino ketika SMP dan SMA. Tiga angkatan di atas dan di bawah Rino di tempatnya kuliah. Sedangkan Tara? Menghilang saja, tidak ada yang peduli. TIdak ada yang mencari. Mungkin hanya Rino yang peduli. Itu pun Rino tidak mencari.

Pertemuan tadi sore, membuka kenangan lamanya. Di mana dia menjalani persahabatan dengan Fajar. Kisah mereka dengan Tara. Sudah kusebutkan berulang, Tara sebenarnya hanyalah perempuan biasa sebenarnya. Tapi Rino tidak melihatnya seperti itu. Bagi Rino, Tara adalah perempuan yang istimewa. Potret perempuan modern namun cukup konservatif. Modern dalam memandang kesetaraan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki. Namun, sadar betul akan kebutuhan laki-laki untuk melakukan superioritas. Rino tidak ingin mengakui dirinya tahu bahwa Tara memperlakukannya sebagai pajangan yang terpajang di tempat umum. Indah dilihat tapi tidak berniat untuk memiliki. Seperti hampir semua perempuan lain. Entah mengapa RIno memaklumi sikap Tara. Tara tidak mengenalnya.

Rino dan Fajar berteman baik dengan Tara. Sampai pada suatu hari, Rino memberanikan diri mengatakan bahwa Tara adalah pribadi yang menarik untuk dirinya. Tara terkejut. Seorang Rino yang didamba banyak perempuan, tiba-tiba menyatakan perasaan pada dirinya. Tara tidak menyangka. Bagi perempuan lain mungkin adalah suatu keberuntungan bisa disukai oleh seorang Rino. Tapi tidak bagi Tara. Dian, sahabat Tara, menyukai Rino. Benar-benar menyukai Rino. Tidak seperti perempuan lain. Dan Tara tidak memiliki perasaan apa pun pada Rino.

“Rin, Dian suka sama lo.”

“Terus? Semua cewek juga suka sama gue kan. Ya… mungkin juga tidak terkecuali elo.”

“Buat gue saat ini, Dian lebih penting dari punya hubungan dengan siapa pun. Dan lu harus tahu Rin. Dian itu beneran suka sama lo. Beda sama cewek lainnya.”

“Tapi boleh nggak gue tahu perasaan lo?”

“Gue emang suka sama lo, tapi itu nggak lebih dari perasaan seorang penggemar kepada yang digemarinya. Sama kayak mungkin banyak cewek-cewek lain. Lagian… Jujur aja… gue naksir sama Fajar. Maaf ya Rin…”

“It’s OK. Makasih ya udah jujur sama gue Tar.”

Inilah percakapan terakhir Rino dan Tara. Di hari terakhir mereka di SMA. Dan setelah itu Tara menghilang.

Tara sebenarnya tidak menghilang. Hanya menutup komunikasi. Dia enggan bertemu lagi dengan masa lalunya. Ada sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Dimana dia tidak menginginkan adanya campur tangan orang-orang di masa lalunya. Rino sendiri terlalu sibuk dengan kehidupannya. Dia hampir tidak bisa bernafas menahan semua beban akademis yang harus dia jalani. Rino melupakan Tara, tidak berniat mencari Tara, tapi alam bawah sadarnya menginginkan Tara.

Suatu hari pernah Fajar menjodohkan Rino dengan seorang teman dari istrinya Fitri. Bahkan beberapa kali. Ada saja kurang mereka di mata Rino. Sampai akhirnya Fajar sadar. Rino menunggu Tara.

“Rin, kenapa sih lo tolak lagi? Gina itu kurang apa?” Gina adalah nama teman Fitri yang berusaha Fajar jodohkan dengan RIno untuk terakhir kalinya.

“Bukan tipe gue Jar…”

“Tipe lo yang kayak gimana sih? Gina itu cantik, pintar, baik, shalehah. Kurang apa???

“Pinter akademis iya. Tapi pemikirannya kurang nakal Jar.”

“Kalo gitu kenapa kemaren Santi lo tolak. Dia aktivis vocal lo…. Lo bilang nanti dia yang dominan, dan lo nggak mau kayak githu. Jadi lo maunya apa?”

“Entahlah Jar. Kayaknya kok ada aja ya kurangnya orang-orang yang lo ajuin buat gue.”

“Rin…. Jangan-jangan lo nungguin Tara ya?” tiba-tiba saja Fajar teringat.

“Mungkin…” kata Rino yang saat itu juga tak yakin.

Sampai pada suatu hari pernah Fajar mengerjai RIno. Dia bilang dia bertemu Tara.

“Serius lo Jar? Dimana? Lo minta nomornya nggak?”

“Rin… beneran lo nungguin Tara ya…”

“Kayaknya githu sih Jar….” Saat itulah Rino menyadarinya. Fajar yang membuatnya sadar.

“Rin… gue ini sahabat lo udah lama banget. Gue kasian ngeliat lo kayak gini.”

“Gue merasa hidup gue baik-baik aja kok Jar…”

“sumpah gue jadi agak ngeri Rin.”

“Santai aja kali Jar. Apakah semua orang perlu pintar matematika?”

Belum sempat Fajar menyela.

“Gue ngerti kalo logika matematis itu diperlukan dalam hidup. Tapi kan tiap orang punya batasan sendiri dalam memahami pelajaran itu. Selama dia masih hidup baik-baik aja. Ngapain ikut ngeribetin?”

Fajar menyerah. Fajar mengerti bahwa sahabatnya tidak ingin diganggu pertanyaan semacam itu. Dan tak lagi ada gunanya dia mencoba untuk membantu. Sahabatnya punya standar hidupnya sendiri. Fajar sadar, selama sahabatnya hidup dengan baik dan bahagia, dia tak perlu banyak ikut campur.