Jawaban (episode 3)

Telepon seluler Febian berdering. Febian tahu siapa yang menghubunginya. Kalau bukan Ariana, pasti itu dari orangtuanya. Tidak mungkin orang yang diinginkannya, WIdya.

“Iya Pak…”

“Berita kamu sama Ariana itu benar?” kata bapaknya

“Febian cuman berteman saja dengan dia pak… Media yang berlebihan.”

“Tapi kenapa beritanya begitu besar Feb?”

Febian ingin menjawab karena dia adalah pemenang dan Ariana adalah seorang artis. Punya nilai berita yang begitu tinggi. Tapi keluarganya tidak akan mengerti.

“Lain kali Feb akan lebih berhati-hati pak…”

“Ibu mau bicara Feb…” kata bapaknya disebrang telepon sana.

 “Ini ibu Feb… Feb… ibu cuman pesan kamu sekarang sudah jadi orang. Bapak dan ibu mungkin tidak bisa membimbingmu sepenuhnya. Kamu bisa berhubungan dengan siapapun yang kamu mau. Bapak dan ibu hanya berpesan, jaga nama baik keluarga dan orang tuamu yang sudah mulai renta ini Feb…”

“Kamu masih muda Feb, masih 20 tahun. Ariana itu sudah  25 tahun. Sebentar lagi dia pasti akan memintamu untuk memperjelas hubungan. Bapak dan Ibu masih ingin kamu fokus pada prestasimu saja dahulu. 7-8 tahun lagi lah baru kamu berpikir tentang keluarga.” Bapaknya memberikan nasehat dengan lebih lugas dan rasional.

Ingin sekali Febian menghubungi Widya. Namun, dengan kejadian kemarin, tentu Widya tidak mau lagi menghubungi dan dihubungi lagi olehnya. Jadilah dia menghubungi Ariana. Tapi kemudian diurungkannnya. Dia tidak bisa terlihat buruk di depan Ariana. Dia tidak cukup percaya pada Ariana.

***

Turnamen setelah semuanya terjadi, Febian kalah dipertandingannya yang pertama.

“Feb, kamu itu kenapa? Latihan nggak konsen, saya bilangin cuman bengong, kamu keasikan pacaran ya sama si artis itu. Siapa namanya? Rihana?” omel pelatih Febian, Pak Taufik.

Febian hanya diam. Febian menemukan sedikit komedi diantara semua tragedy yang sedang melandanya. Pelatihnya salah menyebut nama Ariana.

“Kamu itu masih muda. Lima tahun lagi juga masih banyak yang mau sama kamu. Kamu sekarang lagi ada di umur emas-emasnya. Kamu harus fokus sama pertandingan. Karier kamu. Saya minta fokus kamu 5 tahun lagi aja.”

Pelatih Febian pun berlalu. Tanda evaluasi telah berakhir. Denny yang lanjut ke babak selanjutnya menghampiri Febian.

“Feb, lo akhir-akhir ini beda deh. Latihan nggak konsen, dimarahin pelatih belaga bego, dan yang paling aneh adalah lo nggak mau di wawancara lagi. Biasanya kan lo paling seneng kalo mbak WIdya dah nongol” Denny memberi tatapan aneh pada Febian.

“Gue lagi bad mood aja Den. Khusus masalah wawancara, lo kayaknya lebih jago buat ngadepin media. Lo kan anak Jakarta.” Kata Febian. Dahulu memang Denny yang mengajari Febian tentang media.

“bad mood kenapa sih? Rihana? Lu pikir lu Chris Brown apa?” kata Denny sambil tertawa.

“Ah, lo ikutan pak pelatih aja. Lagian gue bukan bete gara-gara Ariana kok.”

“Lah terus?”

“Complicated deh pokoknya.”

“Feb, lo nggak boleh gini donk. Lu nggak bisa nyekip 2 turnamen ke depan loh. Itu turnamen penting dan bergengsi. Kalo keadaan lo masih kayak gini, lo bisa turun ranking. Sebulan dua bulan lo kayak gini terus, bisa-bisa lo degradasi dari pusat pelatihan.”

Febian kembali hanya diam. Dia tak ingin apapun. Dia hanya ingin mengetahui kabar mbak Widyanya.

“Sekarang Ariana dimana ketika lo lagi jatuh gini? Tu mbak-mbak beneran ya. Cuman ada saat lo menang doank.”

“Gue yang nggak angkat teleponnya.”

“Kalau githu lo yang gila. Cewek cantik kayak githu lo cuekin, meskipun mbak-mbak sih.”

“Gue nggak bisa terlihat jelek didepan dia.”

“Harusnya kalo emang dia cewek yang baik ya Bi, dia harusnya bisa nge-treat lo pas lagi gini.”

“Gue yang nggak sanggup ‘telanjang’ di depan dia? Gue kurang percaya sama dia.”

“Au ah gue nggak paham cerita cinta sama mbak-mbak. Cinta gue cuman buat raket gue” kata Denny sambil mencium raketnya.

***

“Mbak, gawat.” Kata Lukman diujung telepon menelepon WIdya yang berjaga di Gedung DPR. Sekarang sedang tidak ada berita yang terlalu penting disana. Lagi adem.

“Kenapa Man? Kok tumben banget kamu telpon mbak. ”

“ya karena gawat makanya aku sampe telepon mbak. Febian bener-bener nggak mau ngasih kata-kata, mbak. Padahal kan dia kalah di babak pertama itu kan hal yang sangat besar.”

“Ah… lagian kalian sih… kemarin waktu dia menang. Yang diberitain Ariana. Sekarang dia kalah juga mau diajdiin berita. Beneran ya lo pada.”

“Sekarang juga beritanya masih Ariana mbak… Gosipnya dia kalah karena konsentrasinya terbagi karena pacaran sama Ariana.”

“Ya makin nggak mau lah dia Man.. Kalian itu kan wartawan olahraga, kenapa berita nggak berbobot gt yang kalian turunin? Mbak pernah ngajarin kayak gt nggak? Kita cukup tahu aja mengenai kehidupan pribadi mereka. Supaya bisa jadi info dasar kita bikin berita. Bukan sebagai berita utama.”

“Ya, orang yang jadi keingintahuan publik kan itu mbak.”

“Tapi agenda medianya apa? Agenda publiknya apa? Pentingnya memenuhi keingintahuan public tentang hal itu apa?”

Lukman hanya diam.  Mati dia dicecar seniornya.

“Tapi kan tim redaksi setuju mbak.”

“Kamu tahu nggak keluhan mereka sama mbak. Kalian mampunya cuman ngambil sudut pandang yang itu. Kalian bener-benere bikin mbak malu dan merasa gagal membimbing kalian. Ya dari pada nggak ada berita, itulah yang diturunin. Lagi hype banget kan turnamennya. Kalo nggak ada beritanya malah aneh.”

Widya puas menumpahkan kekesalannya pada juniornya itu.

“Jadi gimana donk mbak?”

“Oke. Mbak, coba ngomong dulu sama mas Wayan. Kalo mas Wayan bisa gantiin mbak disini untuk sementara. Mungkin mbak bisa bantu disana. Untung disini lagi adem.”

***

Widya pun mendatangi Febian di pusat pelatihan. Wayan mengerti kekacauan apa yang sedang terjadi. Dia pun menggantikan Widya berjaga sementara Widya menyelesaikan masalah yang dibuat Lukman dan kawan-kawannya tanpa pikir panjang. Seusai latihan, dia menghampiri Febian. Febian yang saat itu masih dalam keadaan mood yang buruk. Melihat Widya didepannya, Febian tak tahu harus bagaimana. Febian tak tahu harus bersikap pada Widya sebagai wartawan yang harus dia hindari atau sebagai wanita yang dirindukannya. Febian hanya sanggup diam dengan mata berkaca-kaca.

“Mbak datang sebagai kakak, Bi.”

Febian kembali bingung. Harus bagaimana dia bersikap.

“Bersikaplah sebagai adik mbak. Jangan lebih, karena mbak akan pergi kalau itu terjadi.”

Febian akhirnya hanya menangis sesengukan di depan Widya. Satu satunya manusia yang dia percaya untuk melihat semua kelemahannya.

“Ada apa Bi? Coba cerita sama mbak.”

Febian pun menumpahkan semua hal yang menjadi ganjalan hatinya selama ini. Hubungannya dengan Ariana, permohonan orang tuanya dan permasalahannya dengan wartawan dan media.

“Mau mbak bantu?”

“Mbak bisa bantu apa?”

“Mbak bisa bantu sebagai kakak dan sebagai konsultan komunikasi. Pertama saran mbak sebagai kakak adalah… perjelas hubunganmu dengan Ariana, jika kamu ingin serius dengannya. Beri tahu dia tentang keinginan orang tuamu. Apakah dia sanggup menunggu 7-8 tahun lagi dengan status menggantung yang sama seperti sekarang. Kalau dia tidak sanggup, jangan pernah mencoba hubungi Ariana dan jangan lagi mau dihubungi olehnya. Kalau dia sanggup, katakan pada Ariana untuk tidak mempublikasi hubungan kalian. Kedua, saran mbak sebagai konsultasi komunikasi adalah… kamu bisa menolak untuk menjawab semua pertanyaan wartawan tentang hal di luar pertandingan. Termasuk tentang kehidupan preferensi pribadimu, pertemananmu, keluargamu dan lain-lain. Tapi kamu harus konsisten tidak menjawabnya. Konsekuensinya, kamu juga harus sangat berhati-hati untuk berbagi di media sosial. Konsekuensi ini juga berlaku bagi orang-orang secara pribadi punya hubungan dengan kamu.”

Telepon Febian berdering. Lalu kemudian Febian mematikannya.

“Kenapa dimatiin?”

“Sumber semua kekacauan ini, Ariana.”

“Kamu tidak bisa terus menghindar dari dia Bi.”

Febian pun akhirnya mau berjanji untuk memperjelas hubungannya dengan Ariana dan menyelesaikan semua masalahnya dengan wartawan.

“Besok Lukman mau wawancara bisa ya Bi. Pertanyaannya nanti mbak yang saring.”

Febian pun hanya mengangguk

“Oh iya Bi. Mbak minta maaf ya. Sekarang kamu mengerti kan kenapa mbak nggak bisa nerima perasaan kamu. Ariana yang jauh lebih muda dari mbak saja ditanggapi sedemikian antipati oleh orang tuamu. Apalagi mbak dengan segala masa lalu mbak?”

“Boleh aku tanya sesuatu mbak?”

“Kenapa mbak bisa jadi seperti ini?”

Widya pun akhirnya bercerita tentang masa lalunya.

“Hm… jadi almarhumah adik mbak itu seumuran aku ya mbak?”

“Persis. Ada beberapa bagian dari adik mbak yang ada di dalam dirimu. Sikap kompeitifnya, sifat sungguh-sungguhnya…”

“Boleh aku yang sekarang memberi saran pada mbak. Sebagai adik.” Febian kini sudah mulai menerima dia tak akan pernah bisa dianggap laki-laki oleh Widya.

“Tidak semua hubungan romantis itu rumit mbak.” Sambung Febian lagi.

“Mbak tahu. Tapi mbak jengah jika membayangkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi dalam hubungan romantis. Mbak bahkan hampir kehilangan karier mbak Bi waktu itu.”

“Baiklah mbak. Setidaknya kita satu kesamaan, yaitu kita punya fokus yang sama. Karier.”

Widya hanya tersenyum.

 ***

“Feb, kamu kenapa berubah sih? Susah banget dihubungin.” kata Ariana saat itu.

Febian hanya diam. Ini adalah pertemuannya yang pertama dengan Ariana setelah dia menghindari Ariana selama sekian lamanya.

Karena aku tidak bisa terlihat kalah di depanmu, Ariana. Aku tidak bisa percaya padamu. Kata Febian dalam hati.

“Orang tua kamu gimana soal berita kita berdua? Perlu aku jelaskan pada mereka?”

“Jangan Na, nanti tambah ribet.”

“orang tua kamu nggak suka sama aku? Karena aku lebih tua?”

“Lebih tepatnya karena mereka ingin aku fokus tanding dulu Na.”

“Kita kan nggak perlu nikah besok.”

“mereka ingin aku menikah, paling cepat 7-8 tahun lagi. Apakah kamu sanggup menunggu?”

“Ini bukan cara kamu untuk membuat aku mundur kan?”

“Atau kamu sanggup menghadapi hubungan ‘pertemanan’ kita yang tanpa kepastian ini saja? Dan menjaganya dari mata publik. TIdak membaginya di sosial media misalnya. Kamu sanggup?”

“Ini bukan cara kamu untuk membuat aku mundur kan?” sampai dua kali Ariana menanyakan pertanyaan yang sama.

Febian hanya diam. Dan itu adalah percakapannnya yang terakhir dengan Ariana. Ariana kini meninggalkan Febian sendiri.

Iklan

Rasa seorang Pemuda (episode 2)

Febian hanya merenung dipinggir lapangan. Dia sendiri di perantauan. Sejak kecil memang dia sudah hidup di asrama junior. Sebenarnya dia sudah terbiasa. Tapi, di pusat pelatihan sungguh berbeda. Tidak ada lagi yang merangkulnya ketika menangis karena kalah.  Tidak ada lagi yang memotivasinya ketika akan bertanding melawan yang jauh lebih hebat darinya. Di asrama junior, semua pelatih dan support sistemnya dipersiapkan untuk menghadapi hal-hal semacam ini. Di sini semua harus mandiri. Lagi pula dia seorang lelaki. Kalau perempuan mungkin bisa saling curhat sesame perempuan.

“Bian, mbak boleh wawancara?”

Febian bungah. Dia bingung harus gembira atau kesal. Dia gembira karena Widya datang, dia kesal karena Widya datang sebagai wartawan. Kalau wartawan yang datang bukan Widya mungkin dia ingin menolak dimintai komentar. Dia sudah hafal pertanyaannya. Bagaimana persiapan dia menghadapi musuh bebuyutannya.

“Aku sudah hafal pertanyaannya mbak. Aku langsung jawab aja. Persiapannya sama seperti pertandingan lainnya.”

“Maaf ya, mbak nyebelin.” Kata Widya kini.

Tapi selanjutnya dia jelaskan alasan mengapa wawancara ini penting. Baginya juga bagi Febian serta bagi seluruh rakyat Indonesia. Febian pun luluh. Dia mengerti pekerjaan Widya, wanita yang telah mencuri hatinya. Ya. Widya adalah wanita baginya, bukan sekedar wartawan.

Setelah Febian memberikan jawaban yang cukup proper. Dan lalu berlanjut ke pertanyaan selanjutnya sampai akhinya tanya jawab pun berakhir.

“Bi, boleh of the record? Kabar kamu sama Felly tuh gimana sih?”

Lagi-lagi artis, namun yang kini berbeda.

“Ya nggak gimana-gimana mbak. Orang kan itu temenku di klub literasi. Cuman yang sering di sorot kamera itu aku sama dia. Padahal Felly itu pacarnya ada di klub itu juga.”

“Berarti kasusnya beda sama Shanti?”

“Beda lah… Hm… mbak, yang tadi, mau nggak off the record juga nggak papa.”

“Tapi udah gt, isu itu nggak bakal punya nilai berita lagi donk.”

“Berarti maksudnya media pengen aku bilang kalo aku pacaran sama Felly gt? Ya abis nanti mbak aku dihajar pacarnya.”

“Atau media lebih senang menggantungnya. Eh, tapi menarik loh soal klub literasi itu. Boleh kamu certain lebih jauh nggak?”

Febian pun menceritakannya pada Widya dengan mata berbinar-binar.

“mbak mau nanya sesuatu yang pribadi, tapi nggak off the record. Boleh?”

“Wah.. curiga saya jadinya mbak.”

“Boleh nggak?”

“Apa?”

“Udah punya pacar belum?”

“Yah, mbak Widya kayak nggak ngeliat aja kehidupan kita disini kayak gimana.”

“Kriteria perempuan yang disukain Febian tuh kayak gimana sih?”

“Mbak beneran mau tahu?”

“Lah, kan ini aku lagi wawancara. Aku sih nggak pengen tahu sebenernya. Tapi… orang-orang kan pengen tahu. ”

“Tapi kan mbak bukan wartawan inpohtemen.”

“Itu pertanyaan titipan temen mbak, Bi. Jadi Bian nggak mau jawab nih?”

“Melindungi, mengayomi, pengertian.”

“Berarti kamu suka yang lebih tua ya? Waw! Mbak nggak nyangka loh.”

“Contohnya mbak.”

Jawaban ini dikira Widya sebagai candaan. Tapi Febian mengatakannya dengan serius. Ya. Dia mencintai Widya sebagai wanita. Dia mengkhayalkan Widya yang akan menjadi wanita yang akan memeluknya ketika dia kalah. Dia menginginkan Widya yang akan bersamanya merayakan setiap kemenangan yang di dapatnya. Dia juga memimpikan  Widya akan memotivasinya ketika hendak menghadapi pertandingan yang sulit.

“Ah, kamu nih ada-ada aja. Mbak serius nih. Contohnya Ariana mungkin?”

Febian memang digosipkan dengan begitu banyak wanita. Maklum, dia memang sedang dalam masa-masa emas dalam kariernya. Ariana sendiri adalah seorang aktris yang cukup mumpuni. Umurnya lebih tua sedikit dibanding Febian. Widya tahu betul seberapa Ariana menyukai Febian. Dan sepengelihatan Widya, Febian pun membalas rasa Ariana. Tanpa Widya ketahui bahwa Febian sedemikian besar lebih menginginkannya.

“Ya… Ariana boleh lah… Hehe… nggak dink mbak. Aku masih fokus tanding dulu. Nggak mikir yang lain. Aku baru 20 tahun loh mbak. Mbak, soal Ariana, tolong off the record ya…” Ya. Ini adalah 3 tahun setelah pertemuan pertama mereka. Sekaligus hari terakhir Widya bertugas di pusat pelatihan. Dia kembali k epos politik, berjaga di Gedung DPR.

***

“Bi, selamat ya atas kemenangannya.” Sahut Ariana diujung telepon.

“Makasih Ri.”

“Jalan yuk.” Ajak Ariana.

“Boleh.”

“Jemput aku di stasiun TV?”

“OK”

***

Febian tak menyangka keputusannya salah. Tak bisa dia percaya begitu banyak paparazzi tak terkendali jaman sekarang. Sekarang kabar kedekatannya dengan Ariana menghiasi semua media. Kalau ada kemenangan yang dia raih, pertanyaan tentang Ariana kini menjadi konsekuensi.

Suatu ketika Febian tidak tahan lagi. Dia pun mengambil handphonenya dan menghubungi sebuah nomor, Widya. Sementara itu diujung sana, Widya sedang repot mengejar narasumber seorang anggota DPR yang santer kabarnya akan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

“Bi, lo kok aneh deh. Lo kan kemarin abis menang. Tapi ekspresi muka lo sekarang itu kayak lo abis kalah.” Sahut Denny teman sekamarnya.

Febian tak memperdulikannya, dia hanya terus berusaha menghubungi Widya yang ternyata tidak ada hasilnya.

***

Widya baru saja bisa bernafas setelah semua hal yang berhubungan dengan politikus tersangka korupsi itu selesai. Konferensi pers beres, olah data beres, stor tulisan beres. Dia baru melihat handphonenya dan seketika itu, dia melonjak.

‘What? 50 missed call. Walah, jangan bilang dari mas Wayan.”  Teriakan reflek Widya ini membuat kaget semua wartawan lain yang ada disekitarnya. Wayan adalah nama pimpinan redaksinya.

“Ssssttttt!!!!!” balasan itulah yang didapat Widya dari teman-teman sejawatnya dari berbagai media. Widya memang masih berada di ruang media kantor KPK.

Widya lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa yang menghubunginya adalah FEBIAN. Namun, kini dia bisa mengendalikan ekspresinya.

“Lang, hasil tunggal putra turnamen gimana?” Widya bertanya pada Gilang, wartawan politik dari media lain yang setahunya adalah seorang pencinta bulutangkis.

“Aneh deh lo mbak. Yang mantan wartawan olahraga siapa, yang lama di pusat pelatihan siapa, yang banyak kenalan atlet siapa. Lah, nanya ke gue mbak? Kenapa tiba-tiba tanya?”

“Udahlah cepetan jawab, darurat nih.”

“Febian lah mbak. Dia mah udah nggak ada lawan.”

“Beritanya udah turun?”

“Udah. Tapi yang jadi berita malah kedekatan Febian ama Ariana. Kasian amat ya. Wartawan-wartawan itu apa nggak tahu kalo menang itu susah. Lah, abis menang, malah ditanyain kehidupan pribadi. Dikira artis apa?”

“Salah dia juga Lang. Pacaran sama artis.”

“Emang pacaran mbak?’

“PDKT doank. Febian nya playboy.” jawab Widya santai.

Kini Widya tahu apa yang menyebabkan Febian sampai menghubunginya sedemikian gigih.  Tapi dia sudah tak punya tenaga untuk mendengar curahan hati anak muda yang sedang tidak stabil. Dia hanya ingin tidur kali itu.

***

“Bi, kemarin kamu telepon mbak ya. Maaf ya, kemarin mbak sibuk banget. Ada apa?” kata Widya basa-basi ketika pagi itu Febian kembali menghubunginya.

“Aku kangen sama mbak. Aku cintanya sama mbak. Bukan sama Ariana. Aku menginginkan mbak sebagai seorang wanita bukan seorang kakak.”

Emosi yang dipendam Febian sekian lama akhirnya termuntahkan semua. Kata-kata Febian ini hanya membuat  Widya terbujur kaku. Tapi kemudian…

“Lalu, apa yang kamu lakukan dengan Ariana?”

“Ariana hanya pelarianku karena mbak terus-terusan mengangapku anak kecil dan tidak pantas diperhitungkan sebagai laki-laki. Ariana cuman kakak yang mengajariku menikmati dunia.”

“Lalu kesalahan mbak ada dimana?”

“Kenapa mbak tidak menganggapku sebagai laki-laki?”

“Kenapa kamu tidak bisa menganggap mbak sebagai kakak dan Ariana sebagai wanita? Ariana jauh lebih muda dari mbak Bi… dia lebih mungkin jadi wanitamu daripada mbak Bi…”

“I love you because of that! Karena mbak jauh lebih dewasa dari Ariana. Ketika aku kalah, yang meluk aku cuman mbak.” kata-kata yang keluar dari mulut Febian kini menjadi semakin emosional.

“Karena ketika kalah cuman mbak yang kamu hubungi. Beri kesempatan pada Ariana untuk mencoba melewati kekalahanmu di kemudian hari. Bi, maaf, mbak harus ngejar narasumber.”

Ariana baru datang ketika Febian menghadapi masa kemenangannya. Dia tidak kebagian masa-masa dimana Febian ingin berhenti bahkan ingin bunuh diri. Widya yang menemani Febian kala itu. Sampai saat ini, ketika dia kalah, dia hanya ingin menghubungi dan dihubungi Widya. Ariana tidak tahu itu.

Widya tak menyangka bahwa kasih sayang pada adiknya yang dia alihkan pada Febian akan berujung seperti ini. Tapi, Widya tak punya cukup waktu untuk membuatnya menjadi sebuah masalah.

Pikiran Febian menjadi kalut. Dulu yang dikejar Widya adalah dirinya. Dia merasa tersanjung karena itu. Membayangkan kini Widya mengejar banyak lelaki lain selain dirinya yang tidak ia kenal sungguh menyulitkan baginya. Dia cemburu, namun tak bisa berbuat banyak.

Ariana? kini tidak ada lagi tempat dipikiran Febian untuk memikirkan Ariana.

Munculnya seorang bintang (episode 1)

Hari ini adalah hari pertama Widya bertugas di pusat pelatihan bulutangkis nasional. Dia tersingkir dari daftar wartawan politik di kantornya. Dengan semua hal yang telah terjadi dalam hidupnya belakangan ini, masih syukur hanya degradasi yang dialaminya. Setidaknya dia tidak dipecat. Di kantornya, wartawan politik adalah posisi premium. Semua wartawan yang bekerja di kantornya, berlomba ingin ditempatkan di pos politik. Menjadi wartawan di pos ini harus siap siaga setiap saat 24 jam. Sedangkan di pos olahraga tidak perlu seperti itu. Dia hanya perlu siaga di saat ada event-event atau ketika ada prestasi tertentu yang diraih. Meskipun begitu, observasi harus dilakukan setiap hari. Agar ketika ada yang bernilai berita, data-data riset yang diperlukan untuk membuat tulisan yang mumpuni tersedia.

3 bulan yang lalu adik lelakinya yang sangat dicintainya meninggal dengan cara yang tragis. Sebulan yang lalu pernikahannya batal karena diketahuinya bahwa sang calon suaminya ternyata sudah beristri. Dia begitu terpukul dan kinerjanya menurun drastis. Meskipun begitu, untuk ukuran stress seperti itu, dia tidak berpikir untuk bunuh diri saja sudah merupakan sesuatu keberhasilan baginya. Hanya di degradasi menjadi wartawan olahraga adalah hal yang masih baik-baik saja buat dia. Ini tak lepas karena prestasinya selama ini. Dia merupakan wartawan kesayangan pimpinan redaksinya sampai semua hal buruk menimpanya dalam waktu yang bisa dibilang singkat.

Adiknya memang sudah tanggung jawabnya sepenuhnya, sejak dia bisa membiayai hidup adiknya. Adiknya pun sangat dekat dengannya. Maka, kematian adiknya yang tragis memang sangat amat memukulnya. Lebih memukul dari pembatalan pernikahannya yang membuatnya menjadi skeptis terhadap hubungan romantis.

Kebetulan hari itu juga adalah hari pertama para pemain baru berdatangan ke pusat pelatihan. Mereka adalah putra-putri umur 15-19 tahun terbaik yang dikumpulkan dari seluruh negeri. Tiba-tiba saja air matanya mengalir. Beberapa dari mereka pasti ada yang seumuran dengan adiknya, 17 tahun, 10 tahun lebih muda darinya.

“Mbak Wid, baik-baik aja?” kata Lukman

“Nggak papa Luk. Ada apa?”

“Aku khawatir mbak. Mbak kenapa tiba-tiba nangis?”

“Mbak inget adik mbak.”

“Mbak yang sabar ya…” hanya itu yang bisa diucap Lukman.

Lukman adalah wartawan baru, juniornya yang Widya harus bimbing. Dia memang tak bertugas sendiri dari kantornya. Biasanya dia berdua atau bertiga. Tapi karena sekarang bukan masa “peak season”. Maka, dia hanya berdua saja bersama Lukman.

***

Widya dan Lukman baru saja selesai melapor pada Humas pusat pelatihan. Merekalah yang akan bertugas di tempat itu selama beberapa waktu ke depan. Widya pun tidak tahu dia akan berapa lama di sana. Yang pasti, sampai dia bisa buktikan pada dirinya sendiri bahwa kinerjanya sudah kembali.

“Mbak, aku mau cari stok foto dan kenalan santai dulu sama atlet-atletnya ya.”

“Ya. Kalau bisa kamu kenalan sama yang kemarin juara Man. Daniel Sutomo sama Gerry Kusmanta kalau nggak salah”

Lukman pun pergi.

“Mbak Widya tuh bukannya yang tugas di DPR ya?” sahut Humas pusat pelatihan. Ya. Dia memang mantan pebulu tangkis yang sempat menjadi politikus, Randi Haryono. Widya beberapa kali wawancara dengannya. Tentu saja wawancara politik.

“Iya pak. Sekarang disini.”

“Kalau butuh kenalan sama Daniel-Gerry bisa loh saya panggilkan.”

“Nggak pak. Tidak urgent kok. Salah satu tugas saya emang membimbing Lukman. Biar ‘sense of news’ nya tercipta. Biar dia bisa membangun jaringan dan melakukan investigasi.”

“Ou… ya sudah, mari saya tinggal dulu.”

Widya pun kembali sendiri. Mata investigatifnya jelalatan kemana-mana. Mengobservasi dan mencari hal-hal yang kira-kira menarik untuk direkam di otaknya. Dan tak disangka, dia menemukan seorang lelaki muda sedang menangis dipojokan. Dia pun terpanggil untuk menghampiri.

“Kalah itu emang nggak nyaman.”

“mbak siapa?” kata lelaki muda itu.

“Saya Widya. Wartawan. Tahun-tahun kedepan pasti kamu akan banyak bertemu dengan saya.”

“Ya kalo wartawan kan emang disini terus.”

“Biasanya, yang biasa ketemu wartawan itu para juara. Karena mereka yang punya nilai berita.”

“saya kalah mbak.” kata remaja itu sambil terus menyembunyikan wajahnya.

“Itu kan hari ini. 2-3 tahun lagi pasti akan berbeda. Siapa nama kamu?”

“Febian.”

“saya nggak sabar nulis berita Febian yang menjuarai berbagai kejuaraan. 2-3 tahun lagi saya yakin Febian pasti bisa.” kata Widya sambil menyerahkan sebotol aqua yang sebenarnya dia simpan untuk dirinya. Itulah yang biasa dia lakukan pada adiknya ketika sang adik merasa terpuruk.

Itulah pertemuan pertama Widya dan Febian. Sebuah pertemuan yang tak disangka Widya sangat memberi arti pada Febian.

***

Sebulan kemudian… anak muda itu kembali termenung sendiri. Widya mendekatinya.

“Kenapa Bi? Kusem amat.”

“Ini mbak datang sebagai apa nih?”

Waktu selama sebulan ini telah membuat Febian mulai tahu apa fungsi wartawan yang ada disekitarannya. Meski dia belum punya nilai berita, tapi bisa saja dia dijadikan sumber berita tentang hal yang mempunyai nilai berita. Entah konflik antar atau antara sesama pemain, pelatih atau pengurus. Denny yang memberi tahunya. Karena Denny tahu, kedekatan Febian dan Widya. Kata Denny, Febian harus memastikan Widya mendekatinya sebagai apa. Kalau sebagai wartawan, maka Febian perlu berhati-hati akan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Mungkin saja hal-hal remeh bisa punya nilai berita bagi wartawan. Dan kalau ada suatu kehebohan yang disebabkan curhat Febian, bisa jadi nasib buruk bagi Febian. Denny tahu semua dari kakaknya yang sudah lama menjadi penghuni pusat pelatihan ini.

“Jadi, lu harus tanya dan mastiin ketika wartawan datang ngedeketin lu. Dia datang sebagai apa. Kalau sebagai wartawan, lu musti hati-hati. Tapi kalo lu merasa udah jadi temen sama mereka dan mereka bilang datang sebagai temen, mereka punya etika juga kok. Tapi… ya itu, harus dipastikan, mode apa yang lagi nyala di mereka.”

Itulah kata Denny yang memberikan penjelasan pada seorang anak daerah, Febian.

“Mbak datang sebagai kakak.” Kalau begini artinya, apa pun yang dia ceritakan kepada Widya akan aman.

Febian pun mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Kegalauan-kegalauan anak muda tentang masa depan. Hal-hal yang biasa adik Widya ceritakan. Widya sudah tahu bagaimana cara mengatasinya. Membuat mereka tenang dan memberikan kekuatan pada mereka. Hal-hal yang juga dia lakukan pada Lukman dan anak muda lainnya yang datang padanya.

***

Setahun setelah itu…

“Mbak Widya aku juara!!!!” sahut Febian.

“Selamat Bian. Nanti aku minta wawancara ya Bi. Exclusive.” kata Widya professional, mempertegas bahwa dia datang sebagai wartawan.

“Apa sih yang nggak buat mbak Widya.”

“Tapi nanti wawancaranya nggak sama aku ya. Sama Lukman.’

“Tapi mbak Widya ada kan?”

Salah satu keputusan hidup yang tak pernah disesali Widya adalah mendekati Febian ketika menangis setahun yang lalu. Sama tidak menyesalnya dia dengan keputusannya membatalkan pernikahannya. Walau dia harus mendapat cemoohan tak henti dari keluarga besarnya. Sudahlah, toh dia dan mereka tak bertemu setiap hari.

Karena keputusannya mendekati Febian, dia jadi punya kedekatan yang sedikit istimewa dengan Febian. Melihat polanya, dia yakin Febian akan jadi seseorang yang besar suatu hari nanti. Ketika itu dia tidak akan sulit mendapatkan janji wawancara dengan sang bintang.

Seusai wawancara…

“Bi, off the record donk, kabar kedekatan kamu sama Shanti tuh gimana sih?”

Bi atau Bian adalah panggilan Widya untuk Febian. Widya yang pertama kali menggunakannya. Dan sekarang, seluruh media juga menggunakannya. Shanti adalah seorang selebriti.

“Dia ngefans sama aku mbak. Suka ngasih-ngasih aku hadiah.”

“Weis, Bian, fansnya artis. Tapi kayaknya dia ngarep ke kamu lebih loh.”

“Mbak, aku bingung. Aku nggak biasa sama sorot kamera.”

“Juara emang githu. Apalagi kalau pacaran sama artis.”

“Aku nggak pacaran mbak sama dia. Mbak, aku sedang butuh kamu sebagai kakak. Bisa nggak?”

“Oke. Off the record kuadrat.”

“aku risih mbak sama Shanti.”

“why? She just like you. Fans of you.”

“Ya, kata mbak tadi. Dia ngarepnya lebih. Mbak tahu juga kan? Orang beritanya udah nyebar off the record juga di kalangan wartawan.“

“You just a 19’s year old boy, baby. She does too. Just enjoy your young time.”

Begitulah Widya memainkan perannya sebagai wartawan dan sebagai seorang “kakak”.

“Mbak Widya sendiri udah punya pacar? Aku tanya sebagai adik loh ya mbak, bukan sebagai atlet.”

“Emang ngaruh?”

“Nggak sih mbak.”

“Ketika kamu dewasa, kamu akan tahu pahit manis kehidupan Bi. As I say, just enjoy your time.”

Jawaban Ratna atas Balasan Yudha

Kali ini aku usahakan lebih singkat dari yang lalu-lalu. Balasan dari Yudha tidak bisa lagi kusebut sebagai suatu  kisah. Dia sudah politis. Memang belum tergambar jelas bagaimana keadaan dua kubu tempat kami banyak bersebrangan. Tapi biar aku ceritakan sudut pandangku.

Kelas tiga SMA memang aku memutuskan untuk menutup auratku. Aku menyadarinya sebagai kewajiban semua muslim dengan jenis kelamin perempuan. Tak peduli akhlaknya sudah baik atau belum. Tak peduli orientasi politiknya. Aku tak melihatnya sebagai bentuk identitas perlawanan terhadap negara seperti pandangan yang banyak beredar pada masa orba. Ya, sebatas itulah mungkin pemahamanku. Mungkin karena aku hidup dimasa dimana menutup aurat bukan sesuatu yang istimewa.

Harapan Yudha, aku juga punya pandangan yang lebih terintegrasi antara pakaianku dan orientasi politikku. Aku tahu bagaimana pola pikir dia dan orang-orang sejenisnya. Seharusnya Yudha tahu, aku berada di kubu yang sama dengannya sampai awal tingkat duaku. Sampai suatu ketika aku menemukan bahwa mereka seperti terobsesi dengan kehendak atas kebenaran yang mutlak. Kalian bisa menilainya sendiri dari pernyataan-pernyataan yang diutarakan Yudha.

Aku juga merasakan kehendak-kehendakku akan kebenaran mutlak yang seolah menjadikanku berkehendak akan kematian. Aku menderita akan kehendakku sendiri. Sampai akhirnya aku mencoba mencari tahu nilai-nilai kebenaran lain  yang selama ini jauh dariku. Disitulah aku bisa sadari bahwa kebenaran punya sesuatu yang tidak bisa diketahui secara keseluruhan. Kebenaran mempunyai sisi “aurat”nya yang menjadi tidak sopan ketika kita ingin melihatnya secara “telanjang”. Memangnya mengapa kalau kebenaran itu tidak terungkap? Memangnya kenapa kalau salah?

Memang akhirnya aku memang lelah. Tapi aku tak pernah menyesal bisa berkenalan dengan banyak sisi kebenaran. Aku tetap tidak menyukai ketidakbenaran dari setiap sisinya. Aku senang dengan semua pemikiran itu sehingga aku bisa berpikir lebih adil dan terintegrasi dalam standarku.

Sungguh aku bahagia ketika Yudha melakukan hal-hal yang aku sarankan. Bermain gitar dan mengikuti band salah satunya. Aku merasa dihargai ketika dia melakukan sesuatu yang ada disekitar kepentinganku. Di sekitaran duniaku. Bahkan aku senang ketika dia memaksa. Memaksa demi kepentinganku tentu saja. Aku merasa menjadi sesuatu yang istimewa baginya.

Hanya saja, aku mengenal Yudha dengan sangat baik. Cenderung fokus pada satu tujuan. Dan aku mengerti tujuannya itu bukanlah aku. Dia memang sering membuatku senang dengan begitu mengistimewakanku sebagai sahabatnya. Kalau aku mau kejam, sebagai teritorinya, daerah kekuasaannya. Tapi aku tahu, bukan itu tujuan hidupnya. Dia punya keluarga yang sangat ingin dia banggakan. Aku tahu dia tidak akan mendapatkannya jika bersamaku.

Aku mengenal orang tuanya. Dan aku bisa membaca bahwa mereka ingin seseorang yang lebih baik dari aku. Suatu hari nanti. Mereka tidak ingin Yudha cepat-cepat memiliki wanitanya. Kami punya tujuan yang mungkin bertolak belakang. Itu yang membuatku yakin untuk melupakan rasaku padanya.

Meski aku bisa melupakan rasaku. Yudha tetap punya posisi yang cukup istimewa dalam hidupku, meski tidak dalam hatiku. Aku membawakannya bunga ketika wisuda, secara sadar, kalau mau naif, sebagai seorang adik. Aku melihat para manusia dengan obsesi kebenarannya itu melihatku seperti melihat sesuatu yang menjijikan dan tidak pantas. AKU TIDAK SUKA. Dan sejujurnya itu membuat aku semakin tidak simpatik.

Hal terakhir yang ingin aku luruskan adalah masalah kemandirianku. Yudha tidak tahu seberapa dulu aku menderita tanpa kehadiranmu. Yudha tidak tahu malam-malam tangisku saat pertama-tama kehilangannya. Tangis piluku ketika pertama-tama aku sadar, mungkin tidak ada lagi yang menjadi sandaranku. Aku menceritakan semua lelaki yang mendekatiku agar Yudha tahu bahwa aku cukup berharga. Tapi hari ini aku tahu bahwa itu seharusnya tidak perlu aku lakukan. Karena ternyata mereka telah “memperingatkan”nya. Bahkan alasannya menghilang adalah karena “peringatan” itu. Aku sebenarnya tidak nyaman menerima bantuan sembarang orang. Karena Yudha menghilang, aku pun berusaha keras untuk  mengerjakan semua sendirian.

Hubunganku dengan mas Andri dimulai ketika aku sudah mandiri, berdiri sendiri. Satu yang aku sangat hargai dari dirinya adalah dia menganggapku tidak sebagai teritorinya. Aku dianggap sebagai entitas bebas yang juga berhak akan teritori. Dia menghargai masa laluku yang sebagian besar didalamnya adalah Yudha. Tawa dan tangisku bersama dan tanpa Yudha, tapi tentu karena Yudha.

Yudha, kalau kau bahagia dengan kemenghilanganmu dariku. Sungguh aku tidak akan mencarimu lagi.

Balasan Yudha kepada Ratna

Kamu sudah menulis kisah kita dengan begitu baik. Dalam sudut pandangmu. Kita pertama kali bertemu memang ketika SMP. Aku sangat nyaman bersamamu saat itu. Kalau kamu bilang, saat itu yang kamu rasakan padaku adalah cinta, pada masanya. Karena kamu memiliki definisi berbeda tentang cinta saat ini. Aku sendiri ingin mengatakan bahwa perasaanku saat itu sebagai sebuah rasa ketertarikan dan tanggung jawab. Biar aku jelaskan mengapa bisa seperti itu.

Ketika umurku 2 tahun. Adik perempuanku lahir. Aku sangat menyayanginya. Orang tuaku selalu mengajarkanku untuk melindungi dan menyayangi adikku itu. Itu adalah tanggung jawab. Aku sering menjahilinya, karena aku tahu dia seneng digituin. Merasa dicari perhatiannya. Kebahagiannya juga tanggung jawabku kata orang tuaku. Sayang, dia meninggal saat aku kelas 5 SD. Kini aku tahu dia mengidap leukemia sejak umurnya 2 tahun. Dia berjuang selama 6 tahun lamanya.

Aku tertarik karena kamu membuatku merasa kebutuhanku akan tanggung jawab terpenuhi. Kebutuhan untuk menjadi superior. Tapi, kenapa kamu? Aku juga tidak begitu mengerti.

Kamu bercerita aku sangat suka belajar. Ya, karena aku mendapatkan sesuatu yang saat ini aku sebut sebagai aktualisasi diri. Kamu sendiri lebih suka kegiatan organisasi. Kamu menghabiskan begitu banyak waktu saat itu. Sampai aku harus ikut juga mengerjakan PR-PRmu. Kamu masih ingat bukan? Aku yang mendiktekanmu materi saat ku traktir kamu sore-sore karena kamu cerita kalau kamu besoknya akan ulangan Sejarah dan belum belajar sama sekali. Itu juga bagian dari aktualisasi diriku. Aku bahagia karena merasa kamu memerlukanku.

Kamu bercerita tentang aku yang menjahilimu saat pagi hari, bertukar cerita di siang hari dan mentraktirmu di kantin di sore hari. Tentu tidak setiap hari dan tidak selalu begitu waktunya. Tergantung momentnya. Ketika aku berpapasan denganmu di gerbang sekolah di pagi hari atau dimanapun serta kapanpun dengan muka yang seperti belum mandi, aku merasa berkewajiban untuk membuat moodmu baik hari itu. Begitu juga dengan traktiranku di kantin. Kamu selalu lupa makan, dan itu membuat kamu terlihat sangat pucat. Aku tidak nyaman dengan keadaan itu. Aku merasa bertanggung jawab.

Tentang berbagi cerita… mungkin ini yang tidak dapat aku jelaskan. Hanya saja, aku begitu jaman denganmu, sehingga tidak takut untuk menceritakan semua rahasiaku. Kamu juga begitu bukan? Mungkinkah karena aku sebenarnya mencintaimu? Definisi cinta bagi anak SMP tentu saja. Aku nyaman bekerja denganmu, berbagi tanggung jawab. Menanggung semua kesalahan yang kita lakukan bersama. Entah bagaimana aku merasa penuh karenanya saat itu.

Kamu bercerita bahwa aku anak band. Ya, aku sangat menyukai musik. Terutama gitar. Aku sangat menyukainya. Karena apa? Apakah kamu begitu malu untuk menceritakannya?

“Aku selalu nge fans sama cowok yang bisa gitar.” gitu katamu.

“Kenapa?”

“Karena keren.”

“Kenapa bisa keren?”

“Kesannya macok-macok gimana githu. Coba, ada nggak banci yang bisa gitar? Kalau cewek malah banyak. Kalau banci ada nggak hayo?”

“Macho meureun maksud kamu teh?” meureun itu artinya mungkin atau kayaknya juga bisa.

“ih, harusnya tanya, kenapa bisa.”

“kenapa aku harus tanya?”

“apa susahnya tanya?”

“kenapa bisa?”

“Kalo main gitar ngetrilnya susah.”

Kita ketawa.

Karena itulah aku belajar gitar dan akhirnya ikutan ekskul band. Aku seneng melakukan hal-hal yang kamu suka. Matamu berbinar-binar dan aku bahagia melihatnya. Aku tak sadar kalau menjadi anak band menyebabkan aku menjadi begitu popular di kalangan para perempuan-perempuan yang kamu bilang menyiksamu dengan tatapan iri.

Aku juga mengikuti remaja masjid di dekat rumahku. Kamu bilang karena ibuku yang menyuruhnya. Ya, itu benar sekali. Aku merupakan anak yang agak nakal sejak kecil. Setelah tahu aku mengikuti ekskul band, ibuku merasa perlu untuk menyeimbangkanku. Ya, karena itulah, kenapa saat itu aku mengikuti remaja masjid. Dan ketika SMA itulah yang menjadi kegiatan intiku. Belajar lebih banyak tentang agama. Belajar hidup yang benar menurut agama.

Jadi, kenapa aku nggak nembak kamu waktu SMP adalah karena aku sebenernya tidak tahu perasaanku. Yang aku tahu aku hanya ingin melakukaan hal-hal yang kamu bilang seperti perlakuan orang pacaran. Karena aku merasa kamu itu tanggung jawab aku. Dan aku juga nggak ngerti kenapa aku merasa begitu dan kenapa orangnya kamu.

***

Masa SMAku penuh dengan drama. Drama-drama yang tidak aku ceritakan padamu. Karena aku khawatir aku malah memberikan kamu masalah baru. Dan itu jadi penggalan penting dalam mengapa sampai hubungan kita berubah.

Sejak saat masa orientasi, aku tahu ada yang mengincar kamu. Kang Randi. Kamu ingat? Dia selalu berusaha menolongmu. Menunjukan kepeduliannya kepadamu. Tapi karena saat itu, kamu punya aku, kamu lebih nyaman sama aku. Padahal status kita, tidak ada. Dia merasa aku adalah saingannya dia. Dia pernah mengajakku bertanding karate, padahal aku tidak bisa karate. Lalu dia bilang aku pengecut dan tidak pantas untuk kamu. Aku terima saja karena aku tidak mau semua menjadi runyam. Begitulah awal mula kenapa aku menjauh dari kamu. Banyak kejadian drama yang semacam itu antara aku dengan orang-orang yang mendekatimu. Aku tidak bisa menyebutnya satu per satu.

Aku memang menjauh darimu. Tapi Kang Randi dan kakak-kakak lainnya itu juga tidak dapatkan hatimu. Kamu malah menyukai orang lain. Seorang alumni bernama Kang Gunadi. Kamu ingat? Ya, kamu cerita itu di telpon dan cuman aku iya-iyakan saja. Ketawa sesekali kalau ada yang lucu. Dan memberimu saran-saran tak berguna.

“Ya udah atuh, nanti pas Kang Gunadi dateng ke sekolah, kamu kasih aja aci.”

“Ih, naha aci?” artinya kenapa aci? Aci itu tepung tapioka.

“Biar lengket sama kamu lah.”

“Ih, kamu mah ada-ada aja Yud.”

Bukan cuman Kang Gunadi. Banyak lagi laki-laki lain yang suka kamu ceritakan ke aku. Sampai akhirnya aku merasa, aku tidak ingin mengganggumu lagi. Takutnya malah aku yang jadi penghambat buat kamu punya pacar. Takut semua laki-laki berpikiran sama kayak Kang Randi dan nggak jadi deketin kamu karena aku. Selain itu, aku juga nggak mau kamu terlalu tergantung sama aku. Bukannya tidak bersedia, lebih ke arah memberikan kamu kesempatan untuk berkembang dan bertemu dengan laki-laki lain. Dan juga memberikan ruang pada diriku sendiri untuk mempelajari banyak hal diluar hal-hal yang berhubungan dengan kamu.

Selain itu saat itu juga aku nggak mau pacaran sama kamu. Nggak boleh sama agama kata Kang Riki. Kang Riki itu mentor aku di remaja masjid SMA. Kamu cerita juga kalo aku ada di divisi eksternal kan? Meskipun begitu, aku masih merasa berdosa ketika aku tidak mengabarimu kabar-kabar penting. Maka tetap aku kabari.

***

Saat kuliah, aku mulai berpolitik dan sibuk sekali. Banyak intrik-intrik yang kupelajari. Ada satu hal yang ku sesalkan. Kenapa kamu ada di kubu sana. Kamu kan sudah berkerudung sejak kelas 3 SMA kemarin. Kenapa kamu tidak punya pemikiran yang sama denganku? Untuk hidup berdasarkan agama.

Aku khawatir dengan pemikiran-pemikiran kubu sana. Aku membaca semua tulisan yang sering kau buat. Baik di media online maupun media cetak kampus kita. Kamu memang sudah menulis sejak SMA. Aku mengikuti semua pemikiranmu. Aku merasa semakin jauh darimu. Kamu tidak lagi menjadi Ratna yang aku rasa perlu untuk kulindungi dan kubuat senang. Kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Kamu tahu bagaimana caranya mencari kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Aku sudah tidak punya arti lagi karena itu.

Aku tahu kamu mungkin tertarik dengan semua pemikiran-pemikiran itu. Seperti menghirup oksigen katamu. Karena untukmu itu adalah pemahaman-pemahaman yang baru kau tahu. Menarik rasa penasaranmu. Aku malah melihatnya seperti rokok. Memberimu energi dan rasa nyaman namun sebenarnya menghancurkan dirimu sendiri dari dalam. Ya, pemahaman-pemahaman itu akan menghancurkan dirimu. Liberalisme, Feminisme, Marxisme dan semua turunannya. Karena pemahaman-pemahaman itu tidak berasal dari fitrah manusia.

“Aku baca tulisan kamu Rat.”

“Yang mana?”

“yang kamu bahas tentang Pramoedya Ananta Toer dan Ayu Utami.”

“Kenapa?”

“Aku takut kamu lelah.”

“Aku kan nggak lari-lari. Kenapa Lelah?”

“Alhamdulillah atuh kalo kamu nggak lelah mah.”

Dan benar saja, kamu sendiri yang berkata bahwa kamu lelah bukan? Walau kamu lelahnya bukan karena yang kita omongkan waktu itu.

***

Sekarang, aku hanya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.

Kenapa aku menjauhimu?

Aku sudah jelaskan. Kamu sudah tahu kenapa aku menjauhimu kan sekarang? Karena aku takut malah menjadi penghalang kebahagianmu.

Apakah karena perasaanmu padaku saat SMP sebenarnya berbalas?

Juga sudah aku jelaskan. Perasaanku padamu saat SMP, aku anggap sebagai sebuah rasa ketertarikan dan tanggung jawab. Aku bahagia dan menjadi tertarik padamu karena kamu dapat memenuhi rasa tanggung jawabku.

Kenapa aku tidak memberikan sebuah ketegasan padamu sedari dulu?

Aku pikir tidak perlu ku jawab. Karena aku merasa sudah cukup tegas menurut ukuranku, tentang apa perasaan yang aku rasakan padamu saat itu.

Setidaknya ketika kamu bercerita sedang dekat dengan mas Andri, mengapa aku tidak berusaha mendekat lagi padamu? Mengapa aku tidak berusaha merebutmu dari mas Andri? Kenapa aku tidak melakukan apa-apa?

Karena ku pikir mas Andri sama saja dengan banyak laki-laki yang pernah kamu ceritakan dahulu. Aku tidak merasa terancam.

Lalu, kenapa sekarang aku menghilang?

Karena aku baru tahu kalau aku butuh memilikimu. Kamu bukan hanya menjadikan aku berarti karena bisa melindungi dan membuatmu senang. Tapi, aku tidak sanggup melihatmu dimiliki oleh orang lain. Bisakah aku mendefinisikan perasaaanku padamu sebagai rasa cinta? Atau hanya rasa tanggung jawab yang terluka? Tapi, kamu kan bukan lagi tanggung jawabku. Aku sudah jelaskan. Kamu sudah bisa melindungi dan mencari kebahagian sendiri. Perasaan ini baru aku rasakan ketika kamu mengabari padaku bahwa mas Andri telah melamar kamu. Ketika semua sudah terlambat.

Kamu ingin aku bahagia? Biarkan aku menghilang.

Surat Ratna kepada Yudha

Aku hanya ingin menulis sebuah kenangan. Tentang Kamu. Seorang yang pernah aku anggap sebagai bintang. Pertemuan pertama kita adalah hari pertama masa orientasi masuk SMP. Kita satu kelas. Dan kamu duduk dibangku kosong sebelahku. Aku tak tahu, apa yang ada dalam benakmu. Dengan ceria, kamu pun menyapaku. Namamu Yudha. Kusebut namaku, Ratna.

“Kamu dari SD mana?”

“SD yang tiga tingkat itu loh. Agak masuk ke gang sih, deket pasar. Kamu?”

“Aku mah SD nya di luar negeri.”

“Serius?”

“Ya udah atuh kalau nggak percaya mah. Kalau aku bilang aku SD di luar angkasa, kamu baru boleh nggak percaya.”

“Ya atuh, diluar angkasa mah pasti nggak mungkin. Lagian aku bukan nggak percaya, tapi penasaran.”

“oh… dikirain nggak percaya”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku tahu kamu berusaha menghiburku.

Kau menjadi teman sebangku dan jadi sahabatku sejak saat itu. Kita banyak melakukan hal-hal yang menarik berdua. Tugas dan pekerjaan sekolah bersama. Ya, dari situlah perasaanku muncul. Entah apa namanya. Aku sekarang tak bisa menamakan itu cinta. Karena aku sudah tahu bagaimana itu cinta. Tapi, saat itu, aku menamakan perasaanku untukmu adalah cinta. Yang biasa dibicarakan oleh teman-teman perempuanku sebagai suka, naksir atau ngeceng.

Aku senang bila kamu berbagi rahasia denganku. Rahasia yang hanya aku dan ibumu yang tahu. Itu katamu. Aku senang ketika kamu berbuat jahil padaku di pagi hari, di siang hari kita bertukar cerita, ketika pulang sekolah kamu menraktirku makanan apa saja yang masih ada. Banyak teman-teman kita bilang, kita adalah sepasang kekasih. Aku sangat mengharapkannya saat itu. Tapi toh tidak pernah terucap dari mulutmu bahwa kamu mengakuiku sebagai kekasih, tidak juga ada kata-kata diantara kita yang mempertegas apa yang kita jalani.

***

“Kamu seneng nggak Rat?”

“Naon?” bahasa sunda yang artinya apa

“Apa?”

 “Maksudnya kamu tanya begitu teh ku naon?” ku naon artinya kenapa

Kita begitu lucu. Saling menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

“Pengen tahu aja apakah saya sudah menjadi rahmatan lil alamin apa belum?”

“Naha? Cageur atuh…” maksudnya kata-kata ini tuh semacem…  Kenapa nanya gitu, kamu sakit?

“Eh, saya teh nanyanya ‘apakah kamu seneng’, kenapa disuruh sehat?”

Ketika itu aku hanya tersenyum. Aku senang Yudha. Aku jatuh cinta padamu. Dan cintaku semakin hari semakin besar. Begitulah pikiranku saat itu. Merasa bahwa itu adalah cinta. Padahal hanya suka saja. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Karena aku takut kalau kamu tahu aku menyukaimu, aku akan kehilangan dirimu sebagai sahabat.

“Udah ya, aku rapat OSIS dulu.”

Kamu masih ingat kan kejadiaan saat kita kelas dua SMP itu? Kita sudah tidak sekelas. Tapi kamu masih saja selalu mentraktir aku makan di kantin. Aku senang tentu saja.

Ya. Saat itu memang sudah terjadi perbedaan. Aku yang cinta dengan kehidupan organisasi dan kamu yang lebih cenderung suka belajar. Meskipun begitu kamu juga mengikuti ekskul band. Aku senang kalau kamu mengajakku untuk menonton pertunjukan bandnya. Band SMP kita kan memang lumayan ternama, kaderisasi dan pembinaannya berjalan baik. Mereka sering diundang manggung. Meskipun kamu anak band, kamu relatif tidak aneh-aneh. Mungkin karena kamu juga menjadi remaja masjid di rumahmu. Katamu, ibumu yang nyuruh.

Apakah aku merasa digantung? Tidak. Toh, apa yang dilakukan kamu lakukan padaku sama dengan apa yang dilakukan Rendi pada Shofi. Kamu tahu kan, Shofi adalah teman sebangkuku kala itu. Rendi itu pacarnya. Apa lagi yang ingin kutuntut?

Aku semakin tidak merasa perlu menuntut kejelasan karena… kalaupun hubunganku dan kamu jelas, aku takut suatu hari nanti kita akan berpisah dan itu menyakitkan. Lalu kita malah tidak lagi bisa bersahabat. Itu kalau perasaanku bersambut. Kalau ternyata aku bertepuk sebelah tangan, pastilah hubunganku dan kamu akan hancur seketika itu juga. Aku tidak tahu bahwa ternyata ketidakjelasan saat itu menjadi beban untukku saat ini. Bahkan setelah aku punya Mas Andri, suamiku. Semacam unfinished business.

***

“Rat, pokoknya kita harus satu SMA ya.”

“Dih males”

Iya Yudha. Aku juga mau kita sekolah di SMA yang sama.

“Kamu nanti kesepian loh kalau SMAnya pisah sama aku“

“Enak aja. Temen aku selain kamu kan banyak Yud… Di SMA juga pasti aku begitu.”

Sebenernya mereka semua tidak punya arti sebesar kamu Yudha.

Kamu ingat, ketika itu kamu selalu mengingatkanku untuk belajar, terkadang menjadi guru dan memarahiku kalau aku terlalu asik dengan kegiatan keorganisasianku. Ya, walau sudah tidak lagi menjadi pengurus OSIS, aku masih sering hadir di rapat-rapatnya. Sebagai Pembina bayangan kata mereka. Pembina benerannya guru. Tapi guru yang ditunjuk sering kali sibuk.

***

Kita masuk di SMA yang sama. 6 bulan pertama, aku masih bersama kamu. Semua berjalan sebagai mana biasanya. Namun, kemudian sedikit demi sedikit, kamu menjadi lebih sibuk dan tidak lagi menyempatkan diri bersamaku. Aku yang dikala itu juga sibuk, tak begitu ambil pusing. Hingga akhirnya, aku dan kamu, benar-benar sangat jarang bertemu. Kita hanya saling mengabari berita penting yang terjadi di antara kita. Aku masih mengabari kamu bila ada kabar-kabar penting dari OSIS, kepada kamu yang adalah staf divisi eksternal organisasi remaja masjid SMA kita kala itu. Kamu ikut itu bukan karena disuruh ibumu. Ya, kamu banyak berubah. Banyak sekali. Saat itu aku sungguh tidak peduli.

Karena aku bertemu dengan banyak lelaki selain kamu setelahnya. Banyak sekali yang membuatku terpesona. Sampai aku lupa perasaanku padamu sama sekali.

***

Ketika aku lulus ke PTN incaranku di jurusan Ilmu Komunikasi karena aku ingin jadi wartawan, aku memberimu kabar. Lalu kamu memberitahuku bahwa kamu, lulus juga di PTN yang sama tapi jurusannya Teknik Mesin. Aku memang tahu, kamu terobsesi menjadi montirnya Valentino Rossi, cita-cita sejak SMP. Walau entah ketika kamu sudah punya kapasitas untuk itu, VRnya masih balap atau nggak.

Ketika kuliah aku sibuk berpolitik. Sok idealis, mumpung masih mahasiswa. Aku memilih kubu yang menarik buatku. Walau sebenarnya, banyak kelakukan orang-orang kubuku yang meresahkan diriku pribadi. Bukan hanya kelakukan tapi memang pemikirannya yang mengerikan. Kamu? Aku tahu kamu salah satu orang penting di kubu lawanku. Konseptor, bukan eksekutor. Jadi kamu tidak tampil.

Di tahun terakhir, aku sudah tidak kuat lagi dengan mereka. Aku banyak mengasingkan diri dan memperbaiki kuliahku yang keteteran. Kala itu tak ada lagi kamu yang memarahiku seperti ketika kita masih SMP.

Kamu juga sudah tidak lagi bertahta di kubumu. Aku tahu, mesin kaderisasi kubumu sangat bagus. Tidak seperti kubuku. Mereka mengandalkan asupan pemikiran dari luar dan penokohan pribadi untuk tetap hidup. Hingga jadinya melelahkan. Karena itulah aku melipir. Lelah.

Tapi komunikasi kita ada, walaupun seadanya.

Ketika aku keterima untuk jadi wartawan junior padahal masih skripsi pun aku mengabarimu. Kamu turut senang dan mengabariku bahwa kamu bulan depan akan di wisuda. Kebetulan saat kamu wisuda, bukan giliranku untuk meliput. Jadi aku datang ke wisudamu. Ingat? Aku satu-satunya perempuan yang hadir di sana, membawakanmu bunga.

Mata teman-temanmu menghakimi. Katakan pada mereka aku tak suka. Kalau mereka perempuan pemujamu, aku masih bisa mengerti. Dan bisa dibilang itu sudah terjadi sejak SMP. Ketika persahabatan kita sedemikian erat.

Ketika kamu dapet kerjaan pun kamu mengabariku. Itu cuman 4 bulan dari saat kamu mengabari aku bahwa kamu akan di wisuda. Aku juga memberi tahumu kalau aku sedang dekat dengan mas Andri. Aku bercerita padamu, karena aku masih menganggap kamu sahabat dan perasaan lebih waktu SMP itu sudah benar-benar hilang.

“Euleuh… kamu teh malah pacaran. Skripsinya atuh beresin.”

“Batas studi masih 3 tahun ma bro…(my bro maksudku)… lagian aku udah nggak minta uang jajan ama ortu lagi kok. Nggak minta kamu traktir lagi juga kan? Lagian aku kan sudah punya pacar Yud…”

“Iya… nanti kapan-kapan kamu traktir aku ya, bareng mas Andri.”

“Iya.”

Dua tahun kemudian aku akhirnya lulus kuliah. Aku lulus kuliah dan sudah naik pangkat menjadi asisten editor. Setelah itu mas Andri langsung melamarku dan akhirnya 6 bulan kemudian kami menikah.

Kamu kukabari. Tapi kamu tidak datang. Katanya, kamu lagi kerja di luar negeri dan nggak bisa pulang. Walaupun mas Andri bilang, kalau kamu sebenernya patah hati. Sok tahu banget ya dia. Kata Mas Andri, kamu menjauh karena kamu nggak kuat ngeliat aku sama dia. Padahal dulu kan aku yang suka sama kamu. Kamu mah biasa aja kayaknya.

Tapi setelah itu kamu hilang. Benar-benar hilang. Mungkin, sudah dari dulu persahabatan kita renggang. Tapi, kamu tidak menghilang. Kamu selalu mengabariku tentang hal-hal besar dalam hidupmu, misalnya ketika kamu ganti nomor. Karena kamu tidak aktif di media sosial. Jadi, hanya bisa dihubungi lewat telepon saja. Dan sekarang, kamu ganti nomor nggak bilang-bilang. Sampai aku tahu nomor baru kamu dari temennya temen aku yang satu kantor sama kamu. Setelah aku hubungi kamu, kamu ganti nomor lagi. Katanya kamu pindah negara, kerjanya. Kamu memang selalu dapet kantor yang pindah-pindah dan selalu di luar negeri. Tapi kenapa kamu seperti sengaja lupa untuk ngasih tahu aku kalau kamu ganti nomor?

Aku benar-benar kehilangan. Jadi, kenapa kamu menjauhiku Yud? Apakah karena perasaanku padamu saat SMP sebenarnya berbalas? Dan perasaan itu masih ada sampe saat ini. Lalu kenapa kamu tidak memberikan sebuah ketegasan padaku sedari dulu? Setidaknya ketika aku bercerita sedang dekat dengan mas Andri, mengapa kamu tidak berusaha mendekat lagi padaku? Mengapa kamu tidak berusaha merebutku dari mas Andri? Karena kamu tidak melakukan apa-apa? Maka aku berpikir, kamu hanya menganggapku sebagai teman kecilmu. Tapi kenapa sekarang kamu selalu menghilang?

Aku sudah bersyukur akan kehadiran mas Andri. Tak ada yang kukeluhkan tentang dia. Hanya saja, aku rindu. Rindu sebagai sahabat. Aku hanya ingin memastikan kehidupanmu sekarang bahagia.

Perpisahan (Episode 6 – Tamat)

Perasaan Rino saat itu berkecamuk. Antara lega akhirnya menemukan Tara, tapi juga ada perasaan tidak terima dan bingung. Apa yang harus dia lakukan dengan sebaris nomor telepon ini? Tara sudah memilih laki-laki lain.

“Rin…. Lo baik-baik aja kan?” sahut Gio di ujung telepon.  Ada sebuah nada diam yang tidak wajar setelah Gio memberikan nomor telepon Tara pada Rino.

“Gue harus ngapain ya Gi?”

“Lu harus move on Rin… seorang Fitarani Salsabila mungkin bahkan tidak mengingat lo sama sekali. Lo bisa pastikan itu. Mungkin nomor yang tadi lo minta bisa berguna.”

***

“Halo…” kata suara seorang wanita diujung sana. Dihubungi oleh banyak orang berhubungan dengan pekerjaannya membuat dia tidak begitu hati-hati mengangkat nomor tak dikenal.

“Tara, ini Rino.” kata Rino.

Tara bingung. Mengingat-ingat seseorang bernama Rino yang punya urusan dengannya. Dia menemukan nama produser acara berita selebritis.

“Mas Sakti udah jelasin sama lo kan Rin… Gue sama Fandi mau konferensi pers minggu depan.”

Rino tahu. Tara telah salah sangka.

“Ini Rino temen SMA kamu, Tara… yang dihari terakhir sekolah nembak kamu.”

Tara terkejut. Bingung harus bercakap apa.

“Hai… kamu apa kabar? udah nikah Rin?”

“Aku baru pulang internship Tar. Lagi ngurus ijin praktek. Nggak ada waktu buat cari pacar Tar… aku belum nikah…”

Tara jadi bingung. Kebingungan yang sama ketika hari terakhir sekolahnya. Hari dimana dia harus menjelaskan pada Rino tentang hatinya yang tidak berlabuh pada Rino.

“Tau darimana nomorku?”

“Atasan kamu yang namanya Gio itu sahabat saya. Dia tahu kisah kita waktu SMA. Dia juga ngasih tahu saya soal Alfandi.”

Tara benar-benar tak tahu harus berkata apa.

“Tara… saya bahagia kamu sekarang sama seseorang yang saya percaya bisa membahagiakan kamu… dan tidak mengajak kamu hidup susah…”

“Rino….”

“Jangan minta maaf Tara… Bukan salahmu apalagi Alfandi…”

Kata itulah yang terakhir dalam percakapan cangguh mereka….

***

Rino merasa hatinya hancur berantakan. Namun ada satu yang disyukurinya. Perasaannya lega telah memastikan perempuan yang dipujanya telah bahagia. Sementara itu, di lain sudut, Tara merasa sebuah perasaan bersalah. Tapi dia tahu, tanpa kehadiran Alfandi pun, dia tetap tidak akan memilih Rino. Tara tahu, Rino pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dari dia. Yang Rino butuhkan adalah perempuan yang cerdas namun tak punya ambisi. Karena Tara selalu mematikan ambisinya ketika bekerja sama dengan Rino. Rino tak akan tahan dengan rekan kerja yang lebih berambisi dari dia. Rino butuh seseorang yang mengikutinya dari belakang. Memainkan tarik ulur. Sedangkan dia butuh Fandi. Seseorang yang menyejajarkan langkahnya. Tara melangkah disamping, bukan di belakang Fandi.