Perpisahan (Episode 6 – Tamat)

Perasaan Rino saat itu berkecamuk. Antara lega akhirnya menemukan Tara, tapi juga ada perasaan tidak terima dan bingung. Apa yang harus dia lakukan dengan sebaris nomor telepon ini? Tara sudah memilih laki-laki lain.

“Rin…. Lo baik-baik aja kan?” sahut Gio di ujung telepon.  Ada sebuah nada diam yang tidak wajar setelah Gio memberikan nomor telepon Tara pada Rino.

“Gue harus ngapain ya Gi?”

“Lu harus move on Rin… seorang Fitarani Salsabila mungkin bahkan tidak mengingat lo sama sekali. Lo bisa pastikan itu. Mungkin nomor yang tadi lo minta bisa berguna.”

***

“Halo…” kata suara seorang wanita diujung sana. Dihubungi oleh banyak orang berhubungan dengan pekerjaannya membuat dia tidak begitu hati-hati mengangkat nomor tak dikenal.

“Tara, ini Rino.” kata Rino.

Tara bingung. Mengingat-ingat seseorang bernama Rino yang punya urusan dengannya. Dia menemukan nama produser acara berita selebritis.

“Mas Sakti udah jelasin sama lo kan Rin… Gue sama Fandi mau konferensi pers minggu depan.”

Rino tahu. Tara telah salah sangka.

“Ini Rino temen SMA kamu, Tara… yang dihari terakhir sekolah nembak kamu.”

Tara terkejut. Bingung harus bercakap apa.

“Hai… kamu apa kabar? udah nikah Rin?”

“Aku baru pulang internship Tar. Lagi ngurus ijin praktek. Nggak ada waktu buat cari pacar Tar… aku belum nikah…”

Tara jadi bingung. Kebingungan yang sama ketika hari terakhir sekolahnya. Hari dimana dia harus menjelaskan pada Rino tentang hatinya yang tidak berlabuh pada Rino.

“Tau darimana nomorku?”

“Atasan kamu yang namanya Gio itu sahabat saya. Dia tahu kisah kita waktu SMA. Dia juga ngasih tahu saya soal Alfandi.”

Tara benar-benar tak tahu harus berkata apa.

“Tara… saya bahagia kamu sekarang sama seseorang yang saya percaya bisa membahagiakan kamu… dan tidak mengajak kamu hidup susah…”

“Rino….”

“Jangan minta maaf Tara… Bukan salahmu apalagi Alfandi…”

Kata itulah yang terakhir dalam percakapan cangguh mereka….

***

Rino merasa hatinya hancur berantakan. Namun ada satu yang disyukurinya. Perasaannya lega telah memastikan perempuan yang dipujanya telah bahagia. Sementara itu, di lain sudut, Tara merasa sebuah perasaan bersalah. Tapi dia tahu, tanpa kehadiran Alfandi pun, dia tetap tidak akan memilih Rino. Tara tahu, Rino pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dari dia. Yang Rino butuhkan adalah perempuan yang cerdas namun tak punya ambisi. Karena Tara selalu mematikan ambisinya ketika bekerja sama dengan Rino. Rino tak akan tahan dengan rekan kerja yang lebih berambisi dari dia. Rino butuh seseorang yang mengikutinya dari belakang. Memainkan tarik ulur. Sedangkan dia butuh Fandi. Seseorang yang menyejajarkan langkahnya. Tara melangkah disamping, bukan di belakang Fandi.

Iklan

Tidak Bermaksud Menghilang (Episode 5)

Di hari terakhirnya di SMA. Fitarani Salsabila mungkin telah memecah belah persahabatan antara dua orang lelaki. Dia tidak ingin tahu kelanjutannya bagaimana. DIa ingin menutup komunikasinya dengan masa lalu. Persahabatannya dengan Dian hancur. Dian tahu bahwa Rino lelaki yang didamba Dian, malah mendamba Tara, sahabatnya sendiri. Tara merasa habis alasan mengapa dia masih perlu menjaga komunikasi dengan teman-teman SMAnya.

Dunia yang digelutinya sekarang pun begitu berbeda dengan dunia teman-teman SMAnya yang lain. Yang lebih memilih mengambil kuliah di dunia kesehatan dan keinsinyuran. Dia mengambil jalannya sendiri mengambil keputusan untuk mengejar mimpinya menjadi seorang wartawan. Satu hal yang mungkin disesalinya adalah dia tidak bisa menjaga idealismenya untuk mencari pekerjaan sebagai jurnalis. Kini, dia malah terjebak menjadi kreatif di sebuah stasiun televisi ternama. Tapi toh kariernya cukup baik. Walau tidak dibagus Gio yang memang mendalami broadcasting semasa kuliahnya. Tara dan Gio memasuki universitas yang berbeda. Walau jurusan yang sama, Ilmu Komunikasi. Tara merantau mencari universitas dimana jurusan yang diinginkan adalah yang terbaik. Sebuah universitas terbaik negerinya, yang tidak berada di kotanya. Karena ini juga dia terkesan menghilang.

Tara memiliki satu penyanyi favorit. Namanya Alfandi Suryakelana. Pagi itu, dia melihat Citra, Sekertaris Mas Sakti yang kebetulan teman SMPnya, berbincang dengan penyanyi favoritnya. DIa pun memberanikan diri berbicara pada Citra. Meminta Citra mmengenalkannya dengan Fandi.

 “Dia itu mau ketemu Mas Sakti, bukan mau jumpa fans.”

“Ih, siapa juga yang nge fans sama dia.”

“Playslist lo kan lagu dia semua. Emangnya gue nggak tahu? Lagian ngapain lo mau ketemu dia coba?”

“Biar nanti kalo acara gue butuh dia kan gampang Cit… apa lo mau nolongin gue kalo nanti gue butuh dia? Gue kan minta dikenalin sama semua artis juga kali CIt… Ke elo emang cuman baru Fandi…”

“Ya udah gue kenalin. Tapi jangan norak ya.”

Dengan berat hati, Citra pun akhirnya mengenalkan Tara pada Fandi.

“Fitarani Salsabila, Kreatifnya acara ‘apa aja boleh’”

“oh… yang ratingnya lumayan itu ya. Saya tunggu undangannya lagi ya.”

Sebetulnya Tara sedikit tersinggung dengan kata lumayan. Tapi mau gimana lagi? Dia dan Gio memang baru dipindahkan sebagai tombak acara itu. Sebelumnya acara itu dipegang oleh tim yang sekarang memegang program berita. Bisa dibayangkan seberapa serius acara ini sebelum diprodeseri Gio. Gio dan Tara sendiri tadinya berada di tim konser musik yang melakukan promosi stasiun TV mereka. Mereka sudah keliling Indonesia.

“Bisa minta nomor Kak Fandi.”

“Ke managernya aja kali Tar…” kata Citra.

“Ah iya, maksudnya, manager Kak Fandi.”

“Nomor saya juga nggak papa kok mbak. Dengan Mbak Tar… ya?

“Fitarani Salsabila Kak Fandi. Orang kantor taunya, nama saya FIta, tapi karena Citra itu teman SMP saya, jadi dia panggil saya Tara.”

“Waw, saya teman SMAnya Citra loh…”

Tara hanya tersenyum.

“Lucu ya kalian saling berkakak mbak…”

“Panggil saya Fita atau Tara terserah Kak Fandi aja.”

“Panggil aja saya Fandi, Tara.” Fandi memilih Tara sebagai caranya memanggil Fitarani Salsabila.

***

Mulai dari situ mulainya sebuah kedekatan yang melebihi seorang kreatif dan artis. Kencan pertama mereka lakukan setelah perkenalan itu terjadi. Kala itu mereka berbincang tentang banyak hal yang tidak ada habis-habisnya.

“Tar, kita lulusan univ yang sama kali Tar. Cuman gue jurusan Ekonomi.”

“Gue tau lo kuliah di univ gue. Tapi emangnya lo lulus Fan?”

“Ya nggak kayak lo yang cumlaude dan 3,5 tahun lah. Masa studi gue dua kali lipat dan IPK hampir setengahnya lo.”

“Ya tapi kan lo udah kerja. Lu udah punya rumah-mobil. Lah gue? Masih numpang orang tua, baru bisa ngebiayain hidup gue sendiri. Dan gue salut sama lo, kalo beneran lo lulus.”

 “Eh, kurang ngajar ya lo. Baru sekarang lo gue diragukan oleh seorang kreatif.”

“Jadi lo masih ngeliat gue sebagai kreatif? Belum sebagai teman? Tega!” canda Tara.

“Oh… jangan-jangan lo diutus infotaimen buat deketin gue.”

“Program yang gue pegang itu program musik, bukan program gosip Fan… lo pernah ngisi juga kan sebelum gue yang pegang dulu? Gue nggak kurang kerjaan bantuin mereka Fan…”

“Ya siapa tahu aja. Ternyata lo bawa kamera tersembunyi.”

Ini adalah sebuah kejadian di hari ulang tahun Tara dan Fandi yang ke 22, 3 tahun yang lalu. Mereka merayakannya bersama karena mereka lahir dihari yang sama.

***

Semuanya hancur ketika hubungan keduanya tercium oleh Sakti dan manajemen Fandi. Sakti membebaskan tapi jangan sampai mengganggu perusahaan. Walau pun sebenarnya ini merupakan perintah tak langsung bagi Tara untuk mengakhiri hubungannya. Sedangkan Fandi secara tegas mendapat teguran dari pihak manajemennya.

“Tara, kita harus bicara.”

“Ya Fandi. Kita memang harus bicara.”

DIsana lah hubungan yang belum berumur 6 bulan itu berakhir. Mereka pun tertawa berdua. Menertawai kisah mereka yang begitu tragis. Cinta itu terkadang tidak perlu pengakuan dunia. Berdua menikmati sebuah lagu favorit saja, terkadang sudah cukup.

***

Nyatanya hubungan itu tidak berakhir begitu saja. Karena pada akhirnya, mereka hanya lebih berhati-hati, hanya itu perbedaannya. Dan tidak ada komitmen pasti yang terucap. Hanya saja perilaku mereka yang saling menjaga hati bisa jadi bukti otentik dari komitmen yang mereka pegang. Sebagai orang TV, Tara tahu dimana biasanya mereka berkumpul. Dia tahu cara menghindari mereka. Ketika Fandi sedang jadi sorotan publik, keduanya rela tidak bertemu sampai keadaannya menjadi lebih tenang. Hubungan yang tidak goyah meski tak ada pengakuan yang tegas dari keduanya selama tiga tahun ini membuat mereka satu sama lain menjadi semakin yakin akan diri masing-masing.

“Gio udah kehabisan akal kayaknya.” Sahut Fandi saat Tara menceritakan teguran Gio padanya.

“3 tahun bukan waktu yang sebentar Tara…”

“Udah 3 tahun ya Fan…”

“Aku akan mundur dari nyanyi”

“Terus?”

“AKu mau lanjut S2. IPKku emang nggak sebagus kamu. Tapi cukuplah untuk S2 di luar negeri.”

“Terus?”

“Ikut aku…”

“yang cari duit siapa?”

“Tabunganku cukup, nanti aku juga nyanyi di café-café. Lumayan kok jadi penyanyi disana. Lagian, bisnisku yang lain kan masih jalan di sini.”

“Aku?”

“Ada beberapa media cetak disana. Atau kamu kan bisa jadi responden media di sini. Setahuku ada beberapa kantor media Indonesia yang buka kantor di sana. Mau jadi reporter media sana. Itu tinggal kamu yang pilih.”

Ini yang membuat Tara selalu jatuh hati pada Fandi. Dia tidak hanya memikirkan egoism pribadinya. Dia juga memikirkan aktualisasi Tara. Itu juga yang menjadi pertimbangan Fandi ketika memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Tara. Hubungan yang tidak benar-benar berakhir itu.

Dunia Media (Episode 4)

Pukul 23.50 dan Gio masih berada di meja kerjanya. Dia sedang mengerjakan laporan evaluasi program yang diproduserinya. Besok dia  harus mempresentasikannya pada atasannya. Hari ini dia ditemani beberapa bawahan andalannya. Ada Fita yang merupakan kreatif andalannya. Ada Diro yang merupakan asisten produksi senior.

“Fit, lo pulang aja. Biar sisanya gue dan Diro yang beresin.”

“Beneran nggak papa nih Gi?”

“Udah sana. Gue nggak mau Fandi komplen sama Mas Sakti. Bilang gue nahan bawahan cewek sampe subuh.”

Sakti adalah komando tertinggi di tempat Gio bekerja. Fandi adalah seorang penyanyi papan atas yang sering kali menjadi pengisi di acara yang ditayangkan oleh tempat Gio bekerja. Tentu saja punya akses pada Sakti. Selama ini sudah menjadi rahasia umum bahwa Fandi memiliki kekasih di stasiun TV tempat Gio bekerja. Gio dan teamnya tau pasti orang itu adalah Fita. Namun, kabar itu hanya diketahui timnya juga sebagai kabar burung. Fita tidak pernah bercerita tentang apapun kehidupan pribadinya. Terlalu banyak urusan dan sedikit waktu. Target yang dipasang tempatnya bekerja sedemikian tinggi. Tak ada ruang untuk mengurus urusan pribadi yang lain. Urusan pribadi sendiri pun kadang tidak terurus. Jadi buat apa mengurusi urusan orang lain. Prestasi Fandi sendiri terlalu baik hingga tak ada ruang bagi pemberitaan untuk mengganggu privasinya. Dia selalu mahir mengelak. Gio pun hanya bercanda saja tentang Mas Sakti. Disamping itu Gio tahu, Fandi bukan tipe lelaki protektif dan Fita bukan tipe perempuan pengadu. Kalau pun memang mereka mempunyai hubungan yang sedemikian istimewa.

“Kan gue udah bilang. Gue udah lama putus sama dia, Gio.”

“Gue n Citra ngeliat kalian berdua nonton loh weekend kemaren.” ini dia yang sebenarnya ingin Gio konfirmasi.

“Itu dia baru pulang dari luar negeri. Abis konser. Wajar donk kalo dia mau syukuran sama sahabatnya”

“Nggak wajar lah. Syukuran kok berdua. Syukuran tuh gelar pengajian, makan-makan rame-rame. Ketangkep kamera lagi baru tahu rasa lo.”

“Gue nggak terlalu peduli juga sih lo mau percaya atau nggak. Ide lo bagus juga sih Gi. Nanti gue sampein.”

“Ide yang mana?”

“soal syukuran. Kalo perlu nanti ditanyangin Live di TV kita ini.”

“Terus nanti yang nerima tumpeng pertamanya elo. Dan karier lo ancur, baru tahu rasa lo.”

Gio tak abis pikir. Sebenarnya hubungan macam apa yang dijalani oleh salah satu anak buah terbaiknya. Fitarani Salsabila. 3 tahun lalu, Fita mengakuinya bahwa dia pernah memiliki hubungan yang lebih dari teman dengan Fandi. Tapi sekarang katanya hubungannya dengan Fandi adalah sahabatnya. Tapi Gio melihat hubungan mereka lebih dari itu. Tentu saja, mantan kekasih yang masih berhubungan, apalagi sebagai sahabat adalah sebuah hubungan yang tidak bisa dipercaya.

Sebenarnya, kekasih Gio, Citra adalah orang yang pertama kali mengenalkan Fita dan Fandi. Citra adalah teman SMP Fita dan teman SMA Fandi. Citra adalah sekertaris dari Sakti. Fandi memang idola Fita. Itulah awal perkenalan keduanya. Yang ternyata berlanjut. Fita merupakan perempuan yang mandiri. Dia sanggup pulang subuh bila memang pekerjaan menuntutnya untuk pulang subuh. Bukan perempuan yang harus selalu ditemani makan siang. Mungkin karena itu, seorang yang sangat sibuk seperti Fandi bisa nyaman dengannya.

***

Hari ini adalah weekend. Rutinitas yang biasa dilakukan Gio adalah pergi ke kantor sebentar. Memastikan anak buahnya yang bertugas hari itu tidak mengalami hambatan apapun. Sekitar 1-2 jam di kantor. Setelahnya dia berjalan-jalan ria bersama kekasihnya.

“Cit, inget minggu lalu nggak?”

“Fandi sama Tara ya?” ah, ya… Fita adalah Tara yang dikenal Gio, Fitarani. Gio tak tahu apakah Tara yang dipanggilnya Fita adalah Tara yang sama dengan Tara yang diperbincangkan oleh Fajar dan Rino. Citra yang teman SMP Fita memang memanggilnya Tara. Aku tetap memanggil Fita, karena semua orang yang baru mengenalnya di stasiun TV ini memanggilnya begitu. Aku tak mau terlihat sok akrab dengannya.

“Hubungan mereka sebenernya kayak gimana sih?”

Citra hanya menggeleng.

“Fita nggak pernah cerita?”

“Tara nggak pernah. Tapi Fandi cerita sama aku.”

“Kok bisa Fandi cerita sama kamu?” ada nada cemburu yang jelas dikata Gio.

“Fandi nanya-nanya githu. Tara orangnya kayak gimana. Ya aku cerita aja apa yang aku tahu. Minta nomor handphonenya Tara lah. Orangtuanya Tara siapa lah. Dan itu udah lama banget. Tapi kalau sejauh apa hubungan mereka, aku juga nggak tahu Gi. Aku kanget nggak kanget sih waktu minggu lalu papasan sama dia. Nggak kaget karena Fandi pernah nanya-nanya ke aku. Cuman aku kaget karena nggak nyangka hubungan mereka udah lebih jauh dari dugaan awalku.”

“Dulu banget donk itu. Mereka kan sempet jadian. Fita ngakunya sekarang udah putus.”

“Kok bisa Tara cerita sama kamu?” gentian Citra yang cemburu.

“Aku yang tanya. Lebih tepatnya ku sidang. Sama Mas Sakti juga.”

“ Kok Mas Sakti nggak cerita ke aku?”

“Kenapa harus cerita ke kamu?”

“Iya juga… kenapa ya?”

Diam-diam Gio berpikir. Kalau memang Tara yang dikenalnya sama dengan Tara nya Rino. Perlukah dia beritahu Rino, bahwa saingannya adalah Alfandi Suryakelana? Penyanyi dengan bayaran tertinggi masa kini. Penyanyi paling popular saat ini. Dari segi mana pun Rino kalah dibandingkan Fandi. Gio tidak setega itu pada sahabatnya. DIa memilih diam.

“Terus akhirnya Tara ngaku kalo dia pacaran sama Fandi?”

“Iya. Dan mas Sakti sebenernya ngebebasin. Asal jangan sampe mengganggu perusahaan. Aku juga nggak mau aja kalo bawahan andalanku kenapa-kenapa. Bisa makin lama naik pangkat nanti akunya.” Gio memang sangat ambisius terhadap kariernya. Mungkin karena itu diumurnya yang masih muda, dia sudah dipercaya menjabat produser.

“Terus akhirnya mereka putus gitu gara-gara itu?”

“Aku nggak tahu dan nggak mau tahu juga mereka putus gara-gara apa. Yang jelas, mereka putus. Tapi masih bersahabat. Agak aneh sih buat aku Cit.”

“Kenapa?”

Terkadang Gio jengkel dengan kepolosan Citra. Tapi kepolosannya ini pula yang membuatnya tahan menjalin hubungan selama ini dengan  Citra. Citra tidak menunutut banyak. Tapi memang terkadang manjanya muncul. Menyinggung ke arah pernikahan. Sebenarnya wajar saja Citra meminta komitmennya. 3 tahun lamanya mereka berhubungan dan tidak ada masalah berarti dari hubungan mereka. Tapi Gio belum berani mengambil keputusan seberani itu. Bukan karena finansial. Dia sudah mampu mencicil rumah yang sekarang dia tempati. Dia hanya tidak ingin kehilangan kebebasannya yang sekarang. Bebas pergi kerja sepagi apapun, pulang selarut apapun. Juga tidak banyak keluhan ketika weekendnya terganggu karena dia harus tetap mengontrol yang terjadi di kantor. Citra selama ini jarang mengeluh. Namun, dia tidak yakin Citra tidak akan berubah.

“Mantan sepasang kekasih yang masih bersahabat, artinya hubungan mereka sebenernya tidak benar-benar berakhir.”

“terus?”

“Takut aja aku. Meskipun agak absurd juga sih apa yang aku takutin.”

***

Ada sebuah surat pengunduran diri di atas mejanya. Fitarani Salsabila mengundurkan diri. Sesaat kemudian dia mendengar kehebohan dari ruang berita selebritis.

“Ada apaan sih?” tanya Gio pada salah satu reporter junior yang panic menuju ruang rapat.

“Bang Gio, kayaknya Diro lupa ngasih tau Bang Gio ya? Ada rapat penting di ruang meeting berita selebritis.”

“Kenapa gue? Gue nggak pernah berhubungan sama artis mana pun lebih dari masalah teknis penyiaran.”

“Alfandi mundur dari dunia nyanyi. Dan Fita, kreatifnya bang Gio, adalah alasannya.”

“Berita dari mana?”

“Mas Sakti.”

Jujur saja, Gio merasa dikhianati. Entah oleh siapa. Sakti, Fandi atau Fita. Saat ini, yang ada dalam pikirannya adalah menemui Mas Sakti. Empat Mata. Kebetulan, saat itu, Mas Sakti belum pergi ke ruang meeting.

“Mas, ada apa ini?”

“Tadi malam, Fandi, Fita dan manajemen Fandi datang ke rumah saya. Minta TV kita jadi counter semua berita yang beredar. 3 bulan lagi mereka akan menikah. Fandi akan pergi ke luar negeri setelah itu dan Fandi mundur.”

“Jadi?”

“Kita harus lakukan pengalihan isu.”

Gio bimbang. Tapi, selanjutnya dia memutuskan untuk memberitahu Rino tentang Fitarani.

“Rin, gue nemuin Tara lo. Namanya Fitarani Salsabila kan?”

“Ya.”

“Dia itu kekasih dari Alfandi Suryakelana. 3 bulan lagi mereka akan menikah dan selanjutnya mereka akan pergi ke tinggal di luar negeri.”

“Alfandi penyanyi beken itu Gi? Lo tahu dari mana?”

“Iya. Alfandi penyanyi paling laris saat ini. Fitarani Salsabila itu bawahan gue. Kreatif andalan gue. Gue minta maaf karena sebenernya gue kenal Tara nya lo dan gue telat ngasih tahu lo. Sewaktu gue kenal deket Tara lo itu, dia udah pacaran sama Fandi. Mereka udah pacaran sejak tiga tahun lalu, Dan gue baru tahu tentang Tara lo itu beberapa bulan yang lalu. Dan sejujurnya gue nggak tega ngasih tahu lo kalo saingan lo itu Alfandi Suryakelana.”

“Bisa gue minta nomornya?” kata Rino. Rino juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan dengan nomor Tara kalau dia sudah memilikinya. Apa lagi yang bisa dia lakukan?

Apakah Semua Orang Perlu Pintar Matematika? (Episode 3)

Rino gerah dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Pertanyaan yang mempertanyakan kapan dia menikah. Lingkungan yang bilang, “Kamu itu terlalu memilih Rino…”. Dia merasa tidak mengerti mengapa orang-orang jadi begitu peduli pada nasib dirinya.

Tara hanya perempuan biasa. Tidak semua orang peduli akan kabar dirinya. Tidak seperti Rino, yang kabarnya masuk rumah sakit menghebohkan satu angkatan. Kabar burung mengenai pernikahan Rino menghebohkan tidak hanya perempuan satu angkatannya tapi semua angkatan yang mungkin bersinggungan dengan Rino. Dua angkatan di atas dan dibawah Rino ketika SMP dan SMA. Tiga angkatan di atas dan di bawah Rino di tempatnya kuliah. Sedangkan Tara? Menghilang saja, tidak ada yang peduli. TIdak ada yang mencari. Mungkin hanya Rino yang peduli. Itu pun Rino tidak mencari.

Pertemuan tadi sore, membuka kenangan lamanya. Di mana dia menjalani persahabatan dengan Fajar. Kisah mereka dengan Tara. Sudah kusebutkan berulang, Tara sebenarnya hanyalah perempuan biasa sebenarnya. Tapi Rino tidak melihatnya seperti itu. Bagi Rino, Tara adalah perempuan yang istimewa. Potret perempuan modern namun cukup konservatif. Modern dalam memandang kesetaraan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki. Namun, sadar betul akan kebutuhan laki-laki untuk melakukan superioritas. Rino tidak ingin mengakui dirinya tahu bahwa Tara memperlakukannya sebagai pajangan yang terpajang di tempat umum. Indah dilihat tapi tidak berniat untuk memiliki. Seperti hampir semua perempuan lain. Entah mengapa RIno memaklumi sikap Tara. Tara tidak mengenalnya.

Rino dan Fajar berteman baik dengan Tara. Sampai pada suatu hari, Rino memberanikan diri mengatakan bahwa Tara adalah pribadi yang menarik untuk dirinya. Tara terkejut. Seorang Rino yang didamba banyak perempuan, tiba-tiba menyatakan perasaan pada dirinya. Tara tidak menyangka. Bagi perempuan lain mungkin adalah suatu keberuntungan bisa disukai oleh seorang Rino. Tapi tidak bagi Tara. Dian, sahabat Tara, menyukai Rino. Benar-benar menyukai Rino. Tidak seperti perempuan lain. Dan Tara tidak memiliki perasaan apa pun pada Rino.

“Rin, Dian suka sama lo.”

“Terus? Semua cewek juga suka sama gue kan. Ya… mungkin juga tidak terkecuali elo.”

“Buat gue saat ini, Dian lebih penting dari punya hubungan dengan siapa pun. Dan lu harus tahu Rin. Dian itu beneran suka sama lo. Beda sama cewek lainnya.”

“Tapi boleh nggak gue tahu perasaan lo?”

“Gue emang suka sama lo, tapi itu nggak lebih dari perasaan seorang penggemar kepada yang digemarinya. Sama kayak mungkin banyak cewek-cewek lain. Lagian… Jujur aja… gue naksir sama Fajar. Maaf ya Rin…”

“It’s OK. Makasih ya udah jujur sama gue Tar.”

Inilah percakapan terakhir Rino dan Tara. Di hari terakhir mereka di SMA. Dan setelah itu Tara menghilang.

Tara sebenarnya tidak menghilang. Hanya menutup komunikasi. Dia enggan bertemu lagi dengan masa lalunya. Ada sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Dimana dia tidak menginginkan adanya campur tangan orang-orang di masa lalunya. Rino sendiri terlalu sibuk dengan kehidupannya. Dia hampir tidak bisa bernafas menahan semua beban akademis yang harus dia jalani. Rino melupakan Tara, tidak berniat mencari Tara, tapi alam bawah sadarnya menginginkan Tara.

Suatu hari pernah Fajar menjodohkan Rino dengan seorang teman dari istrinya Fitri. Bahkan beberapa kali. Ada saja kurang mereka di mata Rino. Sampai akhirnya Fajar sadar. Rino menunggu Tara.

“Rin, kenapa sih lo tolak lagi? Gina itu kurang apa?” Gina adalah nama teman Fitri yang berusaha Fajar jodohkan dengan RIno untuk terakhir kalinya.

“Bukan tipe gue Jar…”

“Tipe lo yang kayak gimana sih? Gina itu cantik, pintar, baik, shalehah. Kurang apa???

“Pinter akademis iya. Tapi pemikirannya kurang nakal Jar.”

“Kalo gitu kenapa kemaren Santi lo tolak. Dia aktivis vocal lo…. Lo bilang nanti dia yang dominan, dan lo nggak mau kayak githu. Jadi lo maunya apa?”

“Entahlah Jar. Kayaknya kok ada aja ya kurangnya orang-orang yang lo ajuin buat gue.”

“Rin…. Jangan-jangan lo nungguin Tara ya?” tiba-tiba saja Fajar teringat.

“Mungkin…” kata Rino yang saat itu juga tak yakin.

Sampai pada suatu hari pernah Fajar mengerjai RIno. Dia bilang dia bertemu Tara.

“Serius lo Jar? Dimana? Lo minta nomornya nggak?”

“Rin… beneran lo nungguin Tara ya…”

“Kayaknya githu sih Jar….” Saat itulah Rino menyadarinya. Fajar yang membuatnya sadar.

“Rin… gue ini sahabat lo udah lama banget. Gue kasian ngeliat lo kayak gini.”

“Gue merasa hidup gue baik-baik aja kok Jar…”

“sumpah gue jadi agak ngeri Rin.”

“Santai aja kali Jar. Apakah semua orang perlu pintar matematika?”

Belum sempat Fajar menyela.

“Gue ngerti kalo logika matematis itu diperlukan dalam hidup. Tapi kan tiap orang punya batasan sendiri dalam memahami pelajaran itu. Selama dia masih hidup baik-baik aja. Ngapain ikut ngeribetin?”

Fajar menyerah. Fajar mengerti bahwa sahabatnya tidak ingin diganggu pertanyaan semacam itu. Dan tak lagi ada gunanya dia mencoba untuk membantu. Sahabatnya punya standar hidupnya sendiri. Fajar sadar, selama sahabatnya hidup dengan baik dan bahagia, dia tak perlu banyak ikut campur.

I’m Programmer I have (no) Personal Live (Episode 2)

Fajar mematikan komputernya. Hasil running programnya masih menyisakan ratusan error. Dia harus memeriksa programnya yang ribuan baris dengan ratusan error. Dia lelah. Dia ingin beristirahat sejenak. Menutup mata dalam posisi duduk. 45 menit lagi adzan subuh. Dia tak berani berbaring di kasur. Khawatir waktu shalat subuh berjamaah di masjidnya terlewat. 15 menit lagi dia akan bangunkan istrinya dan berganti giliran menjaga anak mereka sementara dia pergi ke masjid. Setelah pulang dari masjid, barulah dia dapat terlelap. Bangun tidur jam 8 atau jam 9 pagi. Selanjutnya bersiap-siap pergi ke kantornya yang terletak agak jauh dari rumahnya dengan menggunakan motor. Motor yang telah menemaninya semenjak dia duduk di tingkat akhir bangku kuliahnya. Kantornya tidak mematok jam kerja, khususnya untuk jabatan programmer seperti Fajar. Asal pekerjanya memunuhi tuntutan deadline deliverable yang telah disepakati di awal setiap proyek.

Fajar biasanya berdiam di kantor dari jam 10 siang hingga jam 8 malam. Melakukan pengujian terhadap program yang telah ter-compile hasil kerjanya semalaman. Setelahnya melakukan perencanaan pengembangan selanjutnya terhadap perangkat lunak tahap selanjutnya. Dia akan mengerjakannya malam nanti, sambil menunggui anaknya. Kemacetan kota di pagi dan sore hari membuat Fajar enggan berpatisipasi. Itulah alasannya memilih jam tersebut sebagai jam kerjanya. Malam harinya pukul 12-subuh dia kembali bekerja. Bergemul dengan code-code HTML, PHP atau Javascript di depan laptop dirumahnya. Sekalian menunggui anaknya yang sering terbangun di pagi buta. Begitulah hidup seorang Fajar, seorang programmer.

Fajar memutuskan menikah begitu ia meraih gelas sarjananya. Ada seorang perempuan yang membuat dia rela mengkompromikan mimpinya menjadi mimpi mereka berdua. Fitri adalah adik dari teman kuliah Fajar. Fajar berkenalan dengan Fitri, sebulan sebelum wisuda. Tiga bulan kemudian Fajar dan Fitri memutuskan untuk menikah. Sangat singkat. Rino dan Gio terkejut bukan main mendengar sahabatnya menikah secepat itu.

Dalam perjalanan menuju masjid. Fajar sejenak melayangkan pikirannya ke masa SMA. Tentang perasaannya pada Tara. Sejujurnya, dia memang tertarik pada Tara. Tapi hanya sebatas itu. Berbeda dengan Rino yang sangat mendamba Tara. Fajar bisa melihatnya. Karena itulah dia membunuh perasaannya pada Tara. Karena dia tahu, rasa yang dimiliki Rino pada Tara jauh lebih besar daripada rasa yang dimilikinya.

Kisah mereka begitu lucu memang. Fajar menahan diri demi Rino. Tara sendiri menahan diri demi Dian. Dian memang sangat terlihat mendamba Rino. Tapi Rino tak bergeming, yang dia inginkan hanya Tara. Kisah cinta SMA ini terlupakan begitu saja dengan kesibukan Fajar dalam dunia kemahasiswaannya. Belum lagi Tara yang menghilang.

Sesaat setelah Fajar menikah, dia ingin mencari Tara. Untuk sahabatnya, Rino. Fajar tahu, Rino mampu untuk tidak menikah seumur hidupnya hanya untuk menunggu Tara. Atau yang seperti Tara. Tapi harus dia cari dimana?

Tara menghilang begitu saja dari pergaulan teman-teman SMAnya. Entah karena apa. Tara bukan seperti Rino. Tara yang jejaknya bahkan tidak diketahui oleh Dian, sahabatnya. Tadinya Fajar curiga Dian menyembunyikan keberadaan Tara. Dengan ketiadaan Tara, tentu lebih mudah bagi Dian untuk mendapatkan hati Rino. Walau Fajar tahu, Dian tak mungkin menggantikan posisi Tara di hati Rino. Rino hanya ingin Tara atau yang seperti Tara. Walau Dian dan Tara bersahabat, tetapi pribadi keduanya berbeda bagai bumi dan langit. Setelah Dian menikah, barulah Fajar yakin Dian tidak berbohong. Karena Dian tetap tidak tahu dimana Tara.

Pikirannya kembali ke masa kini. Dia sudah berada di depan masjid. Hendak shalat subuh berjamaah. Sepulangnya Fajar dari shalat subuh berjamaah, dia baru terlelap dalam tidur tanpa mimpi. Kalau pun ada mimpi mungkin mimpi tentang coding program dengan ratusan error tadi tiba-tiba tercompile secara bersih. Tanpa Fajar melakukan apapun pada kodingannya. Dia hanya melakukan re-start terhadap komputernya.

Cafe Grande (Episode 1)

Sore itu ketiganya berjanji untuk bertemu di Café Grande. Rino, Fajar dan Gio. Rino baru saja menyelesaikan kewajibannya untuk menjalani internship. Kini Rino bisa mengurus ijin prakteknya. Rino adalah seorang dokter. Dia ingin menggelar sebuah syukuran kecil-kecilan dengan kedua sahabat tedekatnya.

Rino, Fajar dan GIo telah bersahabat sejak SMA. Ketiganya bertemu di sebuah tempat belajar disamping Rino dan Fajar yang memang satu SMA. Persahabatan mereka begitu dekat. Walaupun mereka berkuliah di tempat yang berbeda, mereka tetap saling berhubungan. Rino menempuh pendidikan dokter di universitas terbaik di kotanya. Sementara itu, Fajar berkuliah di jurusan Sistem dan Teknologi Informasi di institute teknik terbaik di kota yang sama. Dia kini bekerja di salah satu perusahaan IT terbesar di kotanya. Sedangkan Gio berkuliah di universitas yang sama dengan Rino, namun di jurusan yang berbeda. Gio mengambil Ilmu Komunikasi sebagai jurusannya, kini Gio menjabat produser muda di sebuah stasiun TV.

“Rino!!! Apa kabar lo???” Fajar yang kedua datang setelah Rino.

“Hai Jar!!! Gio kemana ya?”

“Dia kan on air. Abis beres on air baru dia ke sini katanya. Bentaran lagi juga dia dateng”

“O… terus lo gimana nih jadi programmer?”

“Hahaha… Seperti apa yang ada diportal I’m programmer I have no life githu deh…”

“Anak Istri lo sehat?’

“Alhamdulillah… lo?”

“Belum ada.”

“pacar?”

“Belum.”

“Lo nggak nemuin kembang desa apa di tempat lo internship?”

“Hahahaha…”

“Ah, gue lupa. Tipe cewek lo kan perempuan modern yang elegan tapi mau nurut sama suami. Lo nyari yang nggak ada No… ”

 “Hei Fajar!!! Rino!!!” Gio datang. Namun, Rino tidak ingin percakapan ini putus. DIa langsung menanggapi pernyataan Fajar. Tak menanggapi sapaan datang Gio.

“Ada ah… temen kita SMA. Yang naksir lo itu. Lo tahu lah tipe gue kayak siapa.”

“Lagi ngomongin kapan lo nikah ya Rin? Gue yang udah punya pacar aja nggak tahu kapan.”

“Ah, lo mah karena belum siap buat komit aja. Beda sama Rino. Dia belum bisa move on dari cinta SMAnya.”

“Seriusan lo Rin? SMA itu kan 7-9 tahun yang lalu. Seumuran sama persahabatan kita.”

“Iya… dulu itu gue naksir sama cewek, dan lo tahu kan gue waktu SMA itu idaman banyak cewek. Dan lo harus tahu ya Gi, cewek yang gue taksir malah naksir Fajar.”

“Pertama, sampe sekarang juga lo masih idaman banyak cewek kali Rin. Kedua, Fajar kan udah nikah. Terus masalahnya apa lagi?”

“Masalahnya kita udah nggak tahu, si cewek ini kemana Gi. Kita kehilangan jejak dia.”

“Lah, kalo lo ketemu dia sekarang udah punya anak kayak Fajar gimana donk Rin?”

“Gue kan bukan nungguin dia juga Gi.”

“Terus?”

“Ya tipe nya si Rino ini susah bener githu loh Gi… Sesusah Citra ngeyakinin lo buat komit lah Gi…” Fajar menjelaskan dengan hampir putus asa kepada Gio. Citra adalah nama pacar Gio yang sudah dipacarinya tiga tahun belakangan ini.

“Jar, gue jadi pengen tahu deh, kok lo bisa dengan gampangnya komit sama satu orang seumur hidup githu sih. Lo sama Fitri kan cuman pdkt tiga bulan sebelum mutusin nikah. Gue yang 3 tahun pacaran aja masih belum yakin.”

“Banyak berdoa Gi. Berserah ke takdir. Emang harus banyak make feeling sih. Kalo mikir logis mah nggak akan siap-siap. Takut nanti ketemu yang lebih oke dari yang sekarang lah. Takut nanti ada sesuatu yang merubah hidup tiba-tiba lah. Kalo mikir logis preventif kayak githu emang jadinya nggak akan pernah siap sih Gi”

“terus?”

“Hm… jangan dipikir kehidupan gue ini lebih enak dari kalian. Emang sih seenggaknya gue idup ada temennya. Tapi ada tanggung jawab lebih yang  gue panggul dibandingin kalian yang single. Ada cobaannya masing-masing lah kita.”

“Belum tentu yang nggak single itu lebih bahagia dari yang nggak single ya?” Gio merasa ini pembenaran bagi dirinya.

“Tapi tanggung jawab itu nggak boleh dihindari kali Gi. Lo tuh jangan mainin Citra. Dia mungkin nggak sempurna, tapi dia nggak pantes lo gantungin lama-lama. Dan buat elo Rino… nyari yang kayak Tara itu susah. Jadi, please lo turunin standar lo.” Kata Fajar mengingatkan.

“O… namanya Tara…” kata Gio sambil tersenyum meledek. Sebuah nama yang sepertinya tidak asing baginya. Namun, dia tidak yakin apakah Tara yang dia kenal sama dengan Tara yang Rino dan Fajar maksud.

Perasaan (Episode 5 – Tamat)

Kali ini caraku akan berbeda dalam bercerita. Ikuti saja iramanya. Nikmati dinamikanya.

***

Namaku Distra. Seorang dosen. Disukai banyak mahasiswa, mahasiswi lebih tepatnya. Dan belum menikah di usiaku yang ke 40. Aku punya seorang sahabat yang begitu dekat 5 tahun belakangan ini. Aku merasa nyaman dengannya. Karena dia tidak menuntut komitmen apa pun.

Aku bukannya takut berkomitmen karena tersakiti. Tapi karena membangun komitmen dengan perempuan bukanlah prioritasku. Bahkan diumurku yang sudah mulai senja. Anak dari temanku bahkan sudah berusia remaja. Cerita mereka berkisar anak-anaknya yang mulai jatuh cinta. Dan entah kenapa gejolak yang dirasakan oleh anak-anak mereka, bisa juga kurasakan akhir-akhir ini.

Ya. Ketika di dekat Gitsya, sahabatku, aku kembali merasa sebuah gejolak yang sudah lama tidak ku rasakan. Yang aku heran, mengapa gejolak itu baru terasa sekarang. Setelah aku dan dia bersahabat selama 5 tahun. Kutanya pada temanku yang psikolog, dia menjelaskan bahwa seorang lelaki diumurku dan umurnya memang biasa mengalami sesuatu yang disebut sebagai puber ke dua. Mungkin itu yang kualami.

***

Namaku Gitsya. Aku bersedia menjadi sahabat Disktra karena aku diam-diam menyukainya. Dengan alasan yang sama sekali berbeda dengan para penggemarnya yang lain. Aku menyukainya dengan cara yang berbeda dengan pengagumnya yang segudang itu. Namun, aku tahu, dia sama sekali tidak menginginkanku. Walau harus ku akui, dialah orang yang selalu ada ketika aku butuh. Aku sedikit trauma dengan komitmen. Bayangan tentang Awan yang pergi dan mengkhianati komitmen yang kami buat berdua, masih jelas dihatiku. Disktra tidak menuntut komitmen apa pun dariku. Mungkin karena itu kami cocok.

Hari ini ada sebuah keajaiban. Kudengar dari mulut seorang Disktra, dia sekarang sedang jatuh hati pada seorang perempuan. Aku bersyukur. Semua kecurigaan tentang ketidaknormalannya kini sirna. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal. Ada perasaan perih. Semacam perasaan tersaingi. Aku adalah perempuan yang selama ini ada didekatnya, mengapa begitu mudah tersingkirkan oleh perempuan yang baru ditemuinya baru-baru ini. Tapi aku sadar sejak awal, kalau ini akan terjadi. Aku juga tidak berharap Disktra menyukaiku. Aku tahu betul, aku bukan tipenya.

“Gue kenal nggak sama cewek yang lo taksir itu.”

“Kenal nggak ya… nggak tahu deh lo kenal apa nggak…”

“Maksudnya gimana ya?”

“Lo kok kepo sih?”

Aku sadar bahwa aku tidak siap dengan rasa cemburu ini. Entah rasa cemburu sebagai sahabat atau rasa cemburu sebagai wanita.

***

Nada suaranya jelas. Aku berhasil memancing perasaannya untuk muncul. Aku tahu dia cemburu.

Atau aku hanya berharap dia cemburu? Dan aku terlalu percaya diri menganggap dia cemburu.

“gue nggak kepo. Ya… kalo gue kenal kan. Mungkin gue bisa pdkt in lo sama dia.”

“Nggak perlu. Gue udah deket banget kok sama dia.”

Orangnya kamu Gitsya…

***

Apa? Selama ini Disktra dekat dengan seorang wanita. Dan aku tidak tahu? Bagaimana mungkin. Aku tahu semua tentang Disktra. Tidak mungkin dia sudah dekat dengan wanita yang disukainya kini, tanpa aku ketahui.

“Hah? Kok bisa lo deket sama cewek gue nggak tahu.”

“Seriusan lo nggak tahu siapa cewek itu?”

Pertanyaan ini membuat aku semakin bingung. Berarti aku sebenarnya mengenal perempuan itu? Setidakpeka itukah aku hingga tidak menyadarinya?

***

Perempuan itu…. Kamu Gitsya…

Tapi aku tak berani mengatakannya padamu. Aku takut kamu malah akan menjauh dariku. Sebalum aku yakin perasaanmu padaku.

“Kalau gue udah yakin sama dia nanti gue kasih tahu ke lo.”

***

Sejak percakapan yang terakhir, Gitsya malah menjauh dari Disktra. Tak lagi mau diajak bermain bersama, makan bersama, nonton bersama. Disktra agak bingung dengan perubahan Gitsya. Sore ini, saat Disktra menolaknya, Disktra tidak tahan.

“Git, kenapa sih lo berubah sama gue?”

“Hm… masa sih gue berubah?”

“Kalo lo nggak berubah jangan nolak ajakan makan gue yang sekarang.”

Gitsya bingung. Perasaan dan logikanya berseteru. Perasaannya sakit hati dengan “pengkhianatan” Disktra. Logikanya berkata Disktra tidak bersalah. Tampaknya kali ini logikanya harus menang.

“Oke. Kita makan.”

***

Saat makan malam, tidak seperti biasanya, Gitsya tidak menunjukan antusiasme yang sebagaimana biasanya. Disktra sudah tidak tahan dengan semua keadaan ini.

“Git, cewek yang gue certain ke lo tempo hari itu…”

“eh, proyek lo yang sama PT. Abadi gimana?“ Gitsya mengalihkan pembicaraan. Gitsya tahu dia tidak sanggup berpura-pura saat ini. Dia tidak sanggup berpura-pura bahagia menanyakan wanita itu.

“Git, kok lo ngalihin pembicaraan sih?”

“Ya… gue lebih tertarik cerita proyek lo daripada cewek lo.”

“Jujur sama gue… Lo cemburu ya?”

“Sok…” Gitsya ingin bilang, “Sok kecakepan.” Tapi langsung dicegah oleh DIsktra. Karena kata-kata itu memang meruntuhkan percaya diirinya. Tapi, dia sudah tidak tahan dengan keadaan ini.

“Perempuan yang kemarin aku ceritain itu… KAMU…”

Gitsya hanya termangu. Bahasa Disktra berubah.

“Kenapa bisa?”

“Kata Ryan, gue puber kedua. Dan gejolak itu muncul di elo.” Ryan adalah teman Disktra yang psikolog. Gitsya juga mengenalnya.

“Oke. Terus?” Gitsya kembali ke Gitsya yang biasa. Perasaaannya telah bisa dia kuasai. Kini giliran logikanya bermain.

“Terus?”

“Gue nggak bisa berharap komitmen apa pun dari lo kan?”

“Bulan depan gue dateng ke rumah lo.”

“Maksudnya?”

“Kita nggak perlu saling mengenal lagi kan?”

“Aku sudah terlalu kenal kamu.”