Dilan vs Rangga (Gie, I mean…)

Ketika peluncurannya, entah bagaimana, banyak yang melakukan perbandingan terhadap Dilan dan Rangga. Kebanyakan bertitah tentang perlakuan mereka terhadap perempuan. Dan bagaimana sosok keduanya di mata perempuan. Sejujurnya saya merasa perempuan sedikit terekspoitasi. Hahaha. Saya lebih suka melihatnya dari sudut pandang, bagaimana kedua karakter fiksi tersebut memandang beberapa hal yang sejajar.

Dilan merupakan sebuah sosok simbol kemaskulinan yang sangat naif. Dilan menggambarkan kekuatan, keberanian dan teritori. Tidak dapat dipungkuri sosok seperti ini adalah idaman wanita. Sejatinya perempuan bahagia dalam kuasa dan nyaman dalam lindungan. Tak peduli ada kalangan yang melihatnya sebagai penjara. Bahasa mudahnya, “Perempuan seneng digombalin, meskipun dia tahu gombalannya itu bohong”.

Rangga mau tak mau tidak bisa lepas dari Gie dalam pembentukan karakternya. Hal ini juga diakui oleh Riri Riza sang produser dan sutradara “Ada Apa dengan Cinta?”(1 dan 2). Kalau dibandingkan karakter Gie dan Rangga dalam dua film yang berbeda yang diproduseri juga oleh orang yang sama hampir tidak ada perbedaan. Gie yang digambarkan dalam filmnya begitu dingin dan serius seperti Rangga di AADC. Bisa dibilang persis karena diperankan oleh aktor yang sama. Saya sendiri tidak senaif itu ingin menggambarkan karakteristik Gie di kehidupan nyata. Gie menurut saya pastinya memiliki sisi “hore” dalam dirinya. Hal yang ditunjukan dalam buku harian pastilah sisi tergelap dari diri kita. Hal-hal yang tidak mungkin dia tunjukan secara telanjang pada khalayak ramai. Belum lagi gaya menulisnya yang sebenarnya cenderung spontan semakin meyakinkan saya bahwa Gie dan Dilan mungkin bisa disejajarkan. Sayangnya Dilan punya sisi “hore” yang terlalu dominan.

Hal yang paling sama dari keduanya adalah pegangan terhadap prinsip yang begitu kuat. Prinsip Gie tidak perlu diragukan lagi tentunya. Bagaimana banyak sekali quotenya yang berhubungan dengan prinsip masih popular hingga saat ini, salah satunya… “Lebih baik terasing daripada menyerah terhadap kemunafikan”. Sosok prinsipil Dilan sendiri tergambar dengan bagaimana dia berani melakukan protes keras kepada gurunya. Agak rancu memang. Tapi kalau mendengar penjelasan penulisnya dalam berbagai forum, yang ingin disampaikan disana sebenarnya adalah mengenai “kesemenaan penggunaan otoritas”. Ketika yakin bahwa telah terjadi kesemenaan penggunaan otoritas, kita tidak perlu ragu untuk melawan.

Selain itu keduanya adalah sosok anak muda yang dekat dengan sastra. Walau beda aliran. Tapi, sejauh saya hidup. Sangat jarang laki-laki yang punya kedekatan sedemikian rupa dengan sastra. Sehingga kedekatan keduanya bisa jadi barang yang mustahil dalam kehidupan nyata.

Perbedaan cukup ada pada bagaimana mereka memandang sosok perempuan. Seperti telah dibahas sebelumnya, Dilan melihat perempuan sebagai teritori. Dimana harga dirinya ternodai ketika ada lelaki lain yang mengganggu, bagaimana harga dirinya hancur ketika wanitanya tidak bahagia. Gie bahkan punya pandangan yang lebih buruk mengenai wanita. Setidaknya Dilan menempatkan, perempuan dalam kategori yang “cukup (bahkan sangat) berharga”. Yang bisa saya nilai, perempuan bukanlah hal yang penting dalam hidup Gie (mungkin tidak ada yang dia anggap penting dalam hidupnya). Dia menganggap perempuan adalah sebuah tempat istirahat dan bersenang-senang ditengah kejamnya dunia yang disesalinya. Katanya, orang yang paling beruntung adalah orang yang tidak dilahirkan.

Jadi, bila disuruh memilih antara Dilan dan Rangga (Gie, I mean). Tentu saja aku memilih Dilan. Setidaknya perempuan punya tempat, walau bukan tempat sempurna dalam keseimbangan.

Iklan

Jawaban Ratna atas Balasan Yudha

Kali ini aku usahakan lebih singkat dari yang lalu-lalu. Balasan dari Yudha tidak bisa lagi kusebut sebagai suatu  kisah. Dia sudah politis. Memang belum tergambar jelas bagaimana keadaan dua kubu tempat kami banyak bersebrangan. Tapi biar aku ceritakan sudut pandangku.

Kelas tiga SMA memang aku memutuskan untuk menutup auratku. Aku menyadarinya sebagai kewajiban semua muslim dengan jenis kelamin perempuan. Tak peduli akhlaknya sudah baik atau belum. Tak peduli orientasi politiknya. Aku tak melihatnya sebagai bentuk identitas perlawanan terhadap negara seperti pandangan yang banyak beredar pada masa orba. Ya, sebatas itulah mungkin pemahamanku. Mungkin karena aku hidup dimasa dimana menutup aurat bukan sesuatu yang istimewa.

Harapan Yudha, aku juga punya pandangan yang lebih terintegrasi antara pakaianku dan orientasi politikku. Aku tahu bagaimana pola pikir dia dan orang-orang sejenisnya. Seharusnya Yudha tahu, aku berada di kubu yang sama dengannya sampai awal tingkat duaku. Sampai suatu ketika aku menemukan bahwa mereka seperti terobsesi dengan kehendak atas kebenaran yang mutlak. Kalian bisa menilainya sendiri dari pernyataan-pernyataan yang diutarakan Yudha.

Aku juga merasakan kehendak-kehendakku akan kebenaran mutlak yang seolah menjadikanku berkehendak akan kematian. Aku menderita akan kehendakku sendiri. Sampai akhirnya aku mencoba mencari tahu nilai-nilai kebenaran lain  yang selama ini jauh dariku. Disitulah aku bisa sadari bahwa kebenaran punya sesuatu yang tidak bisa diketahui secara keseluruhan. Kebenaran mempunyai sisi “aurat”nya yang menjadi tidak sopan ketika kita ingin melihatnya secara “telanjang”. Memangnya mengapa kalau kebenaran itu tidak terungkap? Memangnya kenapa kalau salah?

Memang akhirnya aku memang lelah. Tapi aku tak pernah menyesal bisa berkenalan dengan banyak sisi kebenaran. Aku tetap tidak menyukai ketidakbenaran dari setiap sisinya. Aku senang dengan semua pemikiran itu sehingga aku bisa berpikir lebih adil dan terintegrasi dalam standarku.

Sungguh aku bahagia ketika Yudha melakukan hal-hal yang aku sarankan. Bermain gitar dan mengikuti band salah satunya. Aku merasa dihargai ketika dia melakukan sesuatu yang ada disekitar kepentinganku. Di sekitaran duniaku. Bahkan aku senang ketika dia memaksa. Memaksa demi kepentinganku tentu saja. Aku merasa menjadi sesuatu yang istimewa baginya.

Hanya saja, aku mengenal Yudha dengan sangat baik. Cenderung fokus pada satu tujuan. Dan aku mengerti tujuannya itu bukanlah aku. Dia memang sering membuatku senang dengan begitu mengistimewakanku sebagai sahabatnya. Kalau aku mau kejam, sebagai teritorinya, daerah kekuasaannya. Tapi aku tahu, bukan itu tujuan hidupnya. Dia punya keluarga yang sangat ingin dia banggakan. Aku tahu dia tidak akan mendapatkannya jika bersamaku.

Aku mengenal orang tuanya. Dan aku bisa membaca bahwa mereka ingin seseorang yang lebih baik dari aku. Suatu hari nanti. Mereka tidak ingin Yudha cepat-cepat memiliki wanitanya. Kami punya tujuan yang mungkin bertolak belakang. Itu yang membuatku yakin untuk melupakan rasaku padanya.

Meski aku bisa melupakan rasaku. Yudha tetap punya posisi yang cukup istimewa dalam hidupku, meski tidak dalam hatiku. Aku membawakannya bunga ketika wisuda, secara sadar, kalau mau naif, sebagai seorang adik. Aku melihat para manusia dengan obsesi kebenarannya itu melihatku seperti melihat sesuatu yang menjijikan dan tidak pantas. AKU TIDAK SUKA. Dan sejujurnya itu membuat aku semakin tidak simpatik.

Hal terakhir yang ingin aku luruskan adalah masalah kemandirianku. Yudha tidak tahu seberapa dulu aku menderita tanpa kehadiranmu. Yudha tidak tahu malam-malam tangisku saat pertama-tama kehilangannya. Tangis piluku ketika pertama-tama aku sadar, mungkin tidak ada lagi yang menjadi sandaranku. Aku menceritakan semua lelaki yang mendekatiku agar Yudha tahu bahwa aku cukup berharga. Tapi hari ini aku tahu bahwa itu seharusnya tidak perlu aku lakukan. Karena ternyata mereka telah “memperingatkan”nya. Bahkan alasannya menghilang adalah karena “peringatan” itu. Aku sebenarnya tidak nyaman menerima bantuan sembarang orang. Karena Yudha menghilang, aku pun berusaha keras untuk  mengerjakan semua sendirian.

Hubunganku dengan mas Andri dimulai ketika aku sudah mandiri, berdiri sendiri. Satu yang aku sangat hargai dari dirinya adalah dia menganggapku tidak sebagai teritorinya. Aku dianggap sebagai entitas bebas yang juga berhak akan teritori. Dia menghargai masa laluku yang sebagian besar didalamnya adalah Yudha. Tawa dan tangisku bersama dan tanpa Yudha, tapi tentu karena Yudha.

Yudha, kalau kau bahagia dengan kemenghilanganmu dariku. Sungguh aku tidak akan mencarimu lagi.

Balasan Yudha kepada Ratna

Kamu sudah menulis kisah kita dengan begitu baik. Dalam sudut pandangmu. Kita pertama kali bertemu memang ketika SMP. Aku sangat nyaman bersamamu saat itu. Kalau kamu bilang, saat itu yang kamu rasakan padaku adalah cinta, pada masanya. Karena kamu memiliki definisi berbeda tentang cinta saat ini. Aku sendiri ingin mengatakan bahwa perasaanku saat itu sebagai sebuah rasa ketertarikan dan tanggung jawab. Biar aku jelaskan mengapa bisa seperti itu.

Ketika umurku 2 tahun. Adik perempuanku lahir. Aku sangat menyayanginya. Orang tuaku selalu mengajarkanku untuk melindungi dan menyayangi adikku itu. Itu adalah tanggung jawab. Aku sering menjahilinya, karena aku tahu dia seneng digituin. Merasa dicari perhatiannya. Kebahagiannya juga tanggung jawabku kata orang tuaku. Sayang, dia meninggal saat aku kelas 5 SD. Kini aku tahu dia mengidap leukemia sejak umurnya 2 tahun. Dia berjuang selama 6 tahun lamanya.

Aku tertarik karena kamu membuatku merasa kebutuhanku akan tanggung jawab terpenuhi. Kebutuhan untuk menjadi superior. Tapi, kenapa kamu? Aku juga tidak begitu mengerti.

Kamu bercerita aku sangat suka belajar. Ya, karena aku mendapatkan sesuatu yang saat ini aku sebut sebagai aktualisasi diri. Kamu sendiri lebih suka kegiatan organisasi. Kamu menghabiskan begitu banyak waktu saat itu. Sampai aku harus ikut juga mengerjakan PR-PRmu. Kamu masih ingat bukan? Aku yang mendiktekanmu materi saat ku traktir kamu sore-sore karena kamu cerita kalau kamu besoknya akan ulangan Sejarah dan belum belajar sama sekali. Itu juga bagian dari aktualisasi diriku. Aku bahagia karena merasa kamu memerlukanku.

Kamu bercerita tentang aku yang menjahilimu saat pagi hari, bertukar cerita di siang hari dan mentraktirmu di kantin di sore hari. Tentu tidak setiap hari dan tidak selalu begitu waktunya. Tergantung momentnya. Ketika aku berpapasan denganmu di gerbang sekolah di pagi hari atau dimanapun serta kapanpun dengan muka yang seperti belum mandi, aku merasa berkewajiban untuk membuat moodmu baik hari itu. Begitu juga dengan traktiranku di kantin. Kamu selalu lupa makan, dan itu membuat kamu terlihat sangat pucat. Aku tidak nyaman dengan keadaan itu. Aku merasa bertanggung jawab.

Tentang berbagi cerita… mungkin ini yang tidak dapat aku jelaskan. Hanya saja, aku begitu jaman denganmu, sehingga tidak takut untuk menceritakan semua rahasiaku. Kamu juga begitu bukan? Mungkinkah karena aku sebenarnya mencintaimu? Definisi cinta bagi anak SMP tentu saja. Aku nyaman bekerja denganmu, berbagi tanggung jawab. Menanggung semua kesalahan yang kita lakukan bersama. Entah bagaimana aku merasa penuh karenanya saat itu.

Kamu bercerita bahwa aku anak band. Ya, aku sangat menyukai musik. Terutama gitar. Aku sangat menyukainya. Karena apa? Apakah kamu begitu malu untuk menceritakannya?

“Aku selalu nge fans sama cowok yang bisa gitar.” gitu katamu.

“Kenapa?”

“Karena keren.”

“Kenapa bisa keren?”

“Kesannya macok-macok gimana githu. Coba, ada nggak banci yang bisa gitar? Kalau cewek malah banyak. Kalau banci ada nggak hayo?”

“Macho meureun maksud kamu teh?” meureun itu artinya mungkin atau kayaknya juga bisa.

“ih, harusnya tanya, kenapa bisa.”

“kenapa aku harus tanya?”

“apa susahnya tanya?”

“kenapa bisa?”

“Kalo main gitar ngetrilnya susah.”

Kita ketawa.

Karena itulah aku belajar gitar dan akhirnya ikutan ekskul band. Aku seneng melakukan hal-hal yang kamu suka. Matamu berbinar-binar dan aku bahagia melihatnya. Aku tak sadar kalau menjadi anak band menyebabkan aku menjadi begitu popular di kalangan para perempuan-perempuan yang kamu bilang menyiksamu dengan tatapan iri.

Aku juga mengikuti remaja masjid di dekat rumahku. Kamu bilang karena ibuku yang menyuruhnya. Ya, itu benar sekali. Aku merupakan anak yang agak nakal sejak kecil. Setelah tahu aku mengikuti ekskul band, ibuku merasa perlu untuk menyeimbangkanku. Ya, karena itulah, kenapa saat itu aku mengikuti remaja masjid. Dan ketika SMA itulah yang menjadi kegiatan intiku. Belajar lebih banyak tentang agama. Belajar hidup yang benar menurut agama.

Jadi, kenapa aku nggak nembak kamu waktu SMP adalah karena aku sebenernya tidak tahu perasaanku. Yang aku tahu aku hanya ingin melakukaan hal-hal yang kamu bilang seperti perlakuan orang pacaran. Karena aku merasa kamu itu tanggung jawab aku. Dan aku juga nggak ngerti kenapa aku merasa begitu dan kenapa orangnya kamu.

***

Masa SMAku penuh dengan drama. Drama-drama yang tidak aku ceritakan padamu. Karena aku khawatir aku malah memberikan kamu masalah baru. Dan itu jadi penggalan penting dalam mengapa sampai hubungan kita berubah.

Sejak saat masa orientasi, aku tahu ada yang mengincar kamu. Kang Randi. Kamu ingat? Dia selalu berusaha menolongmu. Menunjukan kepeduliannya kepadamu. Tapi karena saat itu, kamu punya aku, kamu lebih nyaman sama aku. Padahal status kita, tidak ada. Dia merasa aku adalah saingannya dia. Dia pernah mengajakku bertanding karate, padahal aku tidak bisa karate. Lalu dia bilang aku pengecut dan tidak pantas untuk kamu. Aku terima saja karena aku tidak mau semua menjadi runyam. Begitulah awal mula kenapa aku menjauh dari kamu. Banyak kejadian drama yang semacam itu antara aku dengan orang-orang yang mendekatimu. Aku tidak bisa menyebutnya satu per satu.

Aku memang menjauh darimu. Tapi Kang Randi dan kakak-kakak lainnya itu juga tidak dapatkan hatimu. Kamu malah menyukai orang lain. Seorang alumni bernama Kang Gunadi. Kamu ingat? Ya, kamu cerita itu di telpon dan cuman aku iya-iyakan saja. Ketawa sesekali kalau ada yang lucu. Dan memberimu saran-saran tak berguna.

“Ya udah atuh, nanti pas Kang Gunadi dateng ke sekolah, kamu kasih aja aci.”

“Ih, naha aci?” artinya kenapa aci? Aci itu tepung tapioka.

“Biar lengket sama kamu lah.”

“Ih, kamu mah ada-ada aja Yud.”

Bukan cuman Kang Gunadi. Banyak lagi laki-laki lain yang suka kamu ceritakan ke aku. Sampai akhirnya aku merasa, aku tidak ingin mengganggumu lagi. Takutnya malah aku yang jadi penghambat buat kamu punya pacar. Takut semua laki-laki berpikiran sama kayak Kang Randi dan nggak jadi deketin kamu karena aku. Selain itu, aku juga nggak mau kamu terlalu tergantung sama aku. Bukannya tidak bersedia, lebih ke arah memberikan kamu kesempatan untuk berkembang dan bertemu dengan laki-laki lain. Dan juga memberikan ruang pada diriku sendiri untuk mempelajari banyak hal diluar hal-hal yang berhubungan dengan kamu.

Selain itu saat itu juga aku nggak mau pacaran sama kamu. Nggak boleh sama agama kata Kang Riki. Kang Riki itu mentor aku di remaja masjid SMA. Kamu cerita juga kalo aku ada di divisi eksternal kan? Meskipun begitu, aku masih merasa berdosa ketika aku tidak mengabarimu kabar-kabar penting. Maka tetap aku kabari.

***

Saat kuliah, aku mulai berpolitik dan sibuk sekali. Banyak intrik-intrik yang kupelajari. Ada satu hal yang ku sesalkan. Kenapa kamu ada di kubu sana. Kamu kan sudah berkerudung sejak kelas 3 SMA kemarin. Kenapa kamu tidak punya pemikiran yang sama denganku? Untuk hidup berdasarkan agama.

Aku khawatir dengan pemikiran-pemikiran kubu sana. Aku membaca semua tulisan yang sering kau buat. Baik di media online maupun media cetak kampus kita. Kamu memang sudah menulis sejak SMA. Aku mengikuti semua pemikiranmu. Aku merasa semakin jauh darimu. Kamu tidak lagi menjadi Ratna yang aku rasa perlu untuk kulindungi dan kubuat senang. Kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Kamu tahu bagaimana caranya mencari kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Aku sudah tidak punya arti lagi karena itu.

Aku tahu kamu mungkin tertarik dengan semua pemikiran-pemikiran itu. Seperti menghirup oksigen katamu. Karena untukmu itu adalah pemahaman-pemahaman yang baru kau tahu. Menarik rasa penasaranmu. Aku malah melihatnya seperti rokok. Memberimu energi dan rasa nyaman namun sebenarnya menghancurkan dirimu sendiri dari dalam. Ya, pemahaman-pemahaman itu akan menghancurkan dirimu. Liberalisme, Feminisme, Marxisme dan semua turunannya. Karena pemahaman-pemahaman itu tidak berasal dari fitrah manusia.

“Aku baca tulisan kamu Rat.”

“Yang mana?”

“yang kamu bahas tentang Pramoedya Ananta Toer dan Ayu Utami.”

“Kenapa?”

“Aku takut kamu lelah.”

“Aku kan nggak lari-lari. Kenapa Lelah?”

“Alhamdulillah atuh kalo kamu nggak lelah mah.”

Dan benar saja, kamu sendiri yang berkata bahwa kamu lelah bukan? Walau kamu lelahnya bukan karena yang kita omongkan waktu itu.

***

Sekarang, aku hanya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.

Kenapa aku menjauhimu?

Aku sudah jelaskan. Kamu sudah tahu kenapa aku menjauhimu kan sekarang? Karena aku takut malah menjadi penghalang kebahagianmu.

Apakah karena perasaanmu padaku saat SMP sebenarnya berbalas?

Juga sudah aku jelaskan. Perasaanku padamu saat SMP, aku anggap sebagai sebuah rasa ketertarikan dan tanggung jawab. Aku bahagia dan menjadi tertarik padamu karena kamu dapat memenuhi rasa tanggung jawabku.

Kenapa aku tidak memberikan sebuah ketegasan padamu sedari dulu?

Aku pikir tidak perlu ku jawab. Karena aku merasa sudah cukup tegas menurut ukuranku, tentang apa perasaan yang aku rasakan padamu saat itu.

Setidaknya ketika kamu bercerita sedang dekat dengan mas Andri, mengapa aku tidak berusaha mendekat lagi padamu? Mengapa aku tidak berusaha merebutmu dari mas Andri? Kenapa aku tidak melakukan apa-apa?

Karena ku pikir mas Andri sama saja dengan banyak laki-laki yang pernah kamu ceritakan dahulu. Aku tidak merasa terancam.

Lalu, kenapa sekarang aku menghilang?

Karena aku baru tahu kalau aku butuh memilikimu. Kamu bukan hanya menjadikan aku berarti karena bisa melindungi dan membuatmu senang. Tapi, aku tidak sanggup melihatmu dimiliki oleh orang lain. Bisakah aku mendefinisikan perasaaanku padamu sebagai rasa cinta? Atau hanya rasa tanggung jawab yang terluka? Tapi, kamu kan bukan lagi tanggung jawabku. Aku sudah jelaskan. Kamu sudah bisa melindungi dan mencari kebahagian sendiri. Perasaan ini baru aku rasakan ketika kamu mengabari padaku bahwa mas Andri telah melamar kamu. Ketika semua sudah terlambat.

Kamu ingin aku bahagia? Biarkan aku menghilang.

Surat Ratna kepada Yudha

Aku hanya ingin menulis sebuah kenangan. Tentang Kamu. Seorang yang pernah aku anggap sebagai bintang. Pertemuan pertama kita adalah hari pertama masa orientasi masuk SMP. Kita satu kelas. Dan kamu duduk dibangku kosong sebelahku. Aku tak tahu, apa yang ada dalam benakmu. Dengan ceria, kamu pun menyapaku. Namamu Yudha. Kusebut namaku, Ratna.

“Kamu dari SD mana?”

“SD yang tiga tingkat itu loh. Agak masuk ke gang sih, deket pasar. Kamu?”

“Aku mah SD nya di luar negeri.”

“Serius?”

“Ya udah atuh kalau nggak percaya mah. Kalau aku bilang aku SD di luar angkasa, kamu baru boleh nggak percaya.”

“Ya atuh, diluar angkasa mah pasti nggak mungkin. Lagian aku bukan nggak percaya, tapi penasaran.”

“oh… dikirain nggak percaya”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku tahu kamu berusaha menghiburku.

Kau menjadi teman sebangku dan jadi sahabatku sejak saat itu. Kita banyak melakukan hal-hal yang menarik berdua. Tugas dan pekerjaan sekolah bersama. Ya, dari situlah perasaanku muncul. Entah apa namanya. Aku sekarang tak bisa menamakan itu cinta. Karena aku sudah tahu bagaimana itu cinta. Tapi, saat itu, aku menamakan perasaanku untukmu adalah cinta. Yang biasa dibicarakan oleh teman-teman perempuanku sebagai suka, naksir atau ngeceng.

Aku senang bila kamu berbagi rahasia denganku. Rahasia yang hanya aku dan ibumu yang tahu. Itu katamu. Aku senang ketika kamu berbuat jahil padaku di pagi hari, di siang hari kita bertukar cerita, ketika pulang sekolah kamu menraktirku makanan apa saja yang masih ada. Banyak teman-teman kita bilang, kita adalah sepasang kekasih. Aku sangat mengharapkannya saat itu. Tapi toh tidak pernah terucap dari mulutmu bahwa kamu mengakuiku sebagai kekasih, tidak juga ada kata-kata diantara kita yang mempertegas apa yang kita jalani.

***

“Kamu seneng nggak Rat?”

“Naon?” bahasa sunda yang artinya apa

“Apa?”

 “Maksudnya kamu tanya begitu teh ku naon?” ku naon artinya kenapa

Kita begitu lucu. Saling menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

“Pengen tahu aja apakah saya sudah menjadi rahmatan lil alamin apa belum?”

“Naha? Cageur atuh…” maksudnya kata-kata ini tuh semacem…  Kenapa nanya gitu, kamu sakit?

“Eh, saya teh nanyanya ‘apakah kamu seneng’, kenapa disuruh sehat?”

Ketika itu aku hanya tersenyum. Aku senang Yudha. Aku jatuh cinta padamu. Dan cintaku semakin hari semakin besar. Begitulah pikiranku saat itu. Merasa bahwa itu adalah cinta. Padahal hanya suka saja. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Karena aku takut kalau kamu tahu aku menyukaimu, aku akan kehilangan dirimu sebagai sahabat.

“Udah ya, aku rapat OSIS dulu.”

Kamu masih ingat kan kejadiaan saat kita kelas dua SMP itu? Kita sudah tidak sekelas. Tapi kamu masih saja selalu mentraktir aku makan di kantin. Aku senang tentu saja.

Ya. Saat itu memang sudah terjadi perbedaan. Aku yang cinta dengan kehidupan organisasi dan kamu yang lebih cenderung suka belajar. Meskipun begitu kamu juga mengikuti ekskul band. Aku senang kalau kamu mengajakku untuk menonton pertunjukan bandnya. Band SMP kita kan memang lumayan ternama, kaderisasi dan pembinaannya berjalan baik. Mereka sering diundang manggung. Meskipun kamu anak band, kamu relatif tidak aneh-aneh. Mungkin karena kamu juga menjadi remaja masjid di rumahmu. Katamu, ibumu yang nyuruh.

Apakah aku merasa digantung? Tidak. Toh, apa yang dilakukan kamu lakukan padaku sama dengan apa yang dilakukan Rendi pada Shofi. Kamu tahu kan, Shofi adalah teman sebangkuku kala itu. Rendi itu pacarnya. Apa lagi yang ingin kutuntut?

Aku semakin tidak merasa perlu menuntut kejelasan karena… kalaupun hubunganku dan kamu jelas, aku takut suatu hari nanti kita akan berpisah dan itu menyakitkan. Lalu kita malah tidak lagi bisa bersahabat. Itu kalau perasaanku bersambut. Kalau ternyata aku bertepuk sebelah tangan, pastilah hubunganku dan kamu akan hancur seketika itu juga. Aku tidak tahu bahwa ternyata ketidakjelasan saat itu menjadi beban untukku saat ini. Bahkan setelah aku punya Mas Andri, suamiku. Semacam unfinished business.

***

“Rat, pokoknya kita harus satu SMA ya.”

“Dih males”

Iya Yudha. Aku juga mau kita sekolah di SMA yang sama.

“Kamu nanti kesepian loh kalau SMAnya pisah sama aku“

“Enak aja. Temen aku selain kamu kan banyak Yud… Di SMA juga pasti aku begitu.”

Sebenernya mereka semua tidak punya arti sebesar kamu Yudha.

Kamu ingat, ketika itu kamu selalu mengingatkanku untuk belajar, terkadang menjadi guru dan memarahiku kalau aku terlalu asik dengan kegiatan keorganisasianku. Ya, walau sudah tidak lagi menjadi pengurus OSIS, aku masih sering hadir di rapat-rapatnya. Sebagai Pembina bayangan kata mereka. Pembina benerannya guru. Tapi guru yang ditunjuk sering kali sibuk.

***

Kita masuk di SMA yang sama. 6 bulan pertama, aku masih bersama kamu. Semua berjalan sebagai mana biasanya. Namun, kemudian sedikit demi sedikit, kamu menjadi lebih sibuk dan tidak lagi menyempatkan diri bersamaku. Aku yang dikala itu juga sibuk, tak begitu ambil pusing. Hingga akhirnya, aku dan kamu, benar-benar sangat jarang bertemu. Kita hanya saling mengabari berita penting yang terjadi di antara kita. Aku masih mengabari kamu bila ada kabar-kabar penting dari OSIS, kepada kamu yang adalah staf divisi eksternal organisasi remaja masjid SMA kita kala itu. Kamu ikut itu bukan karena disuruh ibumu. Ya, kamu banyak berubah. Banyak sekali. Saat itu aku sungguh tidak peduli.

Karena aku bertemu dengan banyak lelaki selain kamu setelahnya. Banyak sekali yang membuatku terpesona. Sampai aku lupa perasaanku padamu sama sekali.

***

Ketika aku lulus ke PTN incaranku di jurusan Ilmu Komunikasi karena aku ingin jadi wartawan, aku memberimu kabar. Lalu kamu memberitahuku bahwa kamu, lulus juga di PTN yang sama tapi jurusannya Teknik Mesin. Aku memang tahu, kamu terobsesi menjadi montirnya Valentino Rossi, cita-cita sejak SMP. Walau entah ketika kamu sudah punya kapasitas untuk itu, VRnya masih balap atau nggak.

Ketika kuliah aku sibuk berpolitik. Sok idealis, mumpung masih mahasiswa. Aku memilih kubu yang menarik buatku. Walau sebenarnya, banyak kelakukan orang-orang kubuku yang meresahkan diriku pribadi. Bukan hanya kelakukan tapi memang pemikirannya yang mengerikan. Kamu? Aku tahu kamu salah satu orang penting di kubu lawanku. Konseptor, bukan eksekutor. Jadi kamu tidak tampil.

Di tahun terakhir, aku sudah tidak kuat lagi dengan mereka. Aku banyak mengasingkan diri dan memperbaiki kuliahku yang keteteran. Kala itu tak ada lagi kamu yang memarahiku seperti ketika kita masih SMP.

Kamu juga sudah tidak lagi bertahta di kubumu. Aku tahu, mesin kaderisasi kubumu sangat bagus. Tidak seperti kubuku. Mereka mengandalkan asupan pemikiran dari luar dan penokohan pribadi untuk tetap hidup. Hingga jadinya melelahkan. Karena itulah aku melipir. Lelah.

Tapi komunikasi kita ada, walaupun seadanya.

Ketika aku keterima untuk jadi wartawan junior padahal masih skripsi pun aku mengabarimu. Kamu turut senang dan mengabariku bahwa kamu bulan depan akan di wisuda. Kebetulan saat kamu wisuda, bukan giliranku untuk meliput. Jadi aku datang ke wisudamu. Ingat? Aku satu-satunya perempuan yang hadir di sana, membawakanmu bunga.

Mata teman-temanmu menghakimi. Katakan pada mereka aku tak suka. Kalau mereka perempuan pemujamu, aku masih bisa mengerti. Dan bisa dibilang itu sudah terjadi sejak SMP. Ketika persahabatan kita sedemikian erat.

Ketika kamu dapet kerjaan pun kamu mengabariku. Itu cuman 4 bulan dari saat kamu mengabari aku bahwa kamu akan di wisuda. Aku juga memberi tahumu kalau aku sedang dekat dengan mas Andri. Aku bercerita padamu, karena aku masih menganggap kamu sahabat dan perasaan lebih waktu SMP itu sudah benar-benar hilang.

“Euleuh… kamu teh malah pacaran. Skripsinya atuh beresin.”

“Batas studi masih 3 tahun ma bro…(my bro maksudku)… lagian aku udah nggak minta uang jajan ama ortu lagi kok. Nggak minta kamu traktir lagi juga kan? Lagian aku kan sudah punya pacar Yud…”

“Iya… nanti kapan-kapan kamu traktir aku ya, bareng mas Andri.”

“Iya.”

Dua tahun kemudian aku akhirnya lulus kuliah. Aku lulus kuliah dan sudah naik pangkat menjadi asisten editor. Setelah itu mas Andri langsung melamarku dan akhirnya 6 bulan kemudian kami menikah.

Kamu kukabari. Tapi kamu tidak datang. Katanya, kamu lagi kerja di luar negeri dan nggak bisa pulang. Walaupun mas Andri bilang, kalau kamu sebenernya patah hati. Sok tahu banget ya dia. Kata Mas Andri, kamu menjauh karena kamu nggak kuat ngeliat aku sama dia. Padahal dulu kan aku yang suka sama kamu. Kamu mah biasa aja kayaknya.

Tapi setelah itu kamu hilang. Benar-benar hilang. Mungkin, sudah dari dulu persahabatan kita renggang. Tapi, kamu tidak menghilang. Kamu selalu mengabariku tentang hal-hal besar dalam hidupmu, misalnya ketika kamu ganti nomor. Karena kamu tidak aktif di media sosial. Jadi, hanya bisa dihubungi lewat telepon saja. Dan sekarang, kamu ganti nomor nggak bilang-bilang. Sampai aku tahu nomor baru kamu dari temennya temen aku yang satu kantor sama kamu. Setelah aku hubungi kamu, kamu ganti nomor lagi. Katanya kamu pindah negara, kerjanya. Kamu memang selalu dapet kantor yang pindah-pindah dan selalu di luar negeri. Tapi kenapa kamu seperti sengaja lupa untuk ngasih tahu aku kalau kamu ganti nomor?

Aku benar-benar kehilangan. Jadi, kenapa kamu menjauhiku Yud? Apakah karena perasaanku padamu saat SMP sebenarnya berbalas? Dan perasaan itu masih ada sampe saat ini. Lalu kenapa kamu tidak memberikan sebuah ketegasan padaku sedari dulu? Setidaknya ketika aku bercerita sedang dekat dengan mas Andri, mengapa kamu tidak berusaha mendekat lagi padaku? Mengapa kamu tidak berusaha merebutku dari mas Andri? Karena kamu tidak melakukan apa-apa? Maka aku berpikir, kamu hanya menganggapku sebagai teman kecilmu. Tapi kenapa sekarang kamu selalu menghilang?

Aku sudah bersyukur akan kehadiran mas Andri. Tak ada yang kukeluhkan tentang dia. Hanya saja, aku rindu. Rindu sebagai sahabat. Aku hanya ingin memastikan kehidupanmu sekarang bahagia.

Dulu kita masih kecil

Aku sudah tahu kabarmu. Kamu baik-baik saja. Kamu bahagia. Setidaknya itu yang terlihat.

Aku tak tahu jika kamu ternyata merasa kosong.

Sebenarnya aku ingin buat sebuah cerita yang cukup panjang tentang kamu. Seperti yang sudah aku lakukan pada bintangku yang lain. Tapi aku sungguh bingung kisahnya akan kubawa kemana. Ketika kau menjadi bintangku kita masih begitu muda. Bintangku yang lain punya ceritanya sendiri. Ada pemikiran-pemikiran yang ingin aku sisipkan dalam setiap kisah. Walau eksekusinya, aku tahu, sama sekali tidak bisa dibicarakan bagus.

Ketika kamu menjadi bintangku. Aku belum bisa berpikir. Maka, tak ada pemikiran yang menarik untuk aku sampaikan dalam cerita tentangmu.

Kita juga tidak punya kisah lucu nan menggemaskan seperti Dilan dan Milea.

Kita tidak punya tragedi. Kisah kita begitu datar. Cinta monyet masa kecilku yang bertepuk sebelah tangan. Kalaupun bersambut, aku tidak tahu. Tak ingin tahu, apalagi saat ini.

Rasaku padamu sudah berakhir sejak lama sekali. Mungkin sesaat begitu aku bisa berpikir. Entah bagaimana kamu tak lagi menarik bagiku. Aku yang bersalah, karena tak menjaga hubungan pertemanan masa kecil kita. Mungkin akan lebih menarik jika pertemanan kita tetap terhubung. Kita menjadi sahabat dan membuat sebuah kisah yang menarik. Mungkin bisa aku jadikan imajinasi, menjadi sebuah cerita. Bila saja pertemanan masa kecil kita masih terjaga. Kubumbui sedikit, seolah kau menyambut rasaku. Ku kira itu akan jadi cukup menarik.

Aku hanya rindu sesaat. Terbawa perasaan oleh atmosfer masa lalu.

Aku berharap kamu seperti yang kamu tunjukan. Baik-baik saja dan bahagia.

Terlewat

Ada satu yang terlewat
Tentang kamu
bintangku sebelum aku bisa berpikir
Setelah aku bisa berpikir
kamu tak lagi bisa kulihat sebagai bintang

Atmosfer masa lalu membuat aku kembali mengingatmu
Tiba-tiba aku mengerti perasaan Milea kepada Dilan
Walau kisah kita tidak seperti itu

Hal-hal tentangmu bermunculan dalam benakku…
Apa kabarmu saat ini?
Dimana aku bisa tahu bagaimana keadaanmu?
Aku hanya ingin memastikan kamu bahagia…

Kartu Kuning

Sebagai seseorang yang dulu pernah berada di kehidupan mahasiswa. Saya tahu pasti, bahwa pergerakan mahahsiswa, dengan segala dinamikanya tidak pernah berhenti. Hanya saja, terlihat punya nilai berita oleh media atau tidak. Dulu bahkan pernah sebuah sekolah tinggi yang dikenal sebagai salah satu sekolah tinggi terbaik di Indonesia di demo agar aksi punya nilai berita yang cukup menarik untuk diliput media.

Aksi kartu kuning kemarin adalah sebuah aksi yang punya nilai berita yang cukup fantastis untuk diberitakan secara cukup massif oleh media-media mainstream. Beragam reaksi muncul dari aksi tersebut. Baik itu reaksi positif dan negatif terhadap aksinya, maupun serangan secara pribadi kepada pengeksekusi aksi.

 

download.jpg

 

Dalam kehidupan mahasiswa sendiri memang ada dua paradigma dengan pendekatan yang berbeda dalam memandang pergerakan mahasiswa. Satu memfokuskan gerakan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat. Melakukan kajian sosial dan menjadi kontrol sosial. Hal ini dianggap aksi omong doang dan omong kosong oleh paradigm yang satunya.

Paradigma yang satunya menganggap bahwa berbicara saja tidak cukup. Harus ada sesuatu yang nyata yang juga diberikan oleh mahasiswa. Ketika saya menjadi mahasiswa, tentu saya menganut paradigma ke dua. Sampai akhirnya saya menemukan bahwa TIDAK SEMUDAH ITU BERKONTRIBUSI NYATA DALAM MASYARAKAT. Bukan sebagai pengakuan seperti “tuh, kan kerjaan pemerintah itu susah” dan menjadi pembenaran bahwa kritik terhadap pemerintah tidak perlu ada. Tentu ketidakmampuan pemerintah tidak bisa dibebankan kepada mahasiswa. Mahasiswa tidak punya otoritas, kapasitas dan sumber daya yang cukup untuk itu.

Pada akhirnya… kritik mahasiswa tidak bisa dijadikan mengalih tanggung jawaban tugas-tugas pemerintah. Mahasiswa dengan segala keterbatasannya tidak bisa dilepaskan dari tugasnya sebagai kaum intelektual di kalangan kelas menengah. Ketidakmampuan mahasiswa berkontribusi nyata tidak bisa menghilangkan hak dan kewajiban mahasiswa menyandang fungsi kontrol sosial dan penyambung lidah rakyat mengkritisi  kebijakan pemerintah yang menyimpang.