Perempuan dan Islam

Inti dari masalah perempuan di seluruh dunia dari jaman dahulu kala… yang saya lihat adalah… tidak diakuinya identitas perempuan sebagai dirinya sendiri. Perempuan membutuhkan ayahnya atau suaminya untuk menjadikannya terhormat. Ayah tidak bisa selamanya melindungi. Maka, bisa dimengerti, bagaimana seorang perempuan begitu mengagungkan pernikahan. Hidupnya hanya untuk menikah. Jadilah dia rela dimadu atau menjadi istri keberapapun dari seorang pria terhormat. Kehidupan rakyat jelata memang tidak begitu. Ini adalah masalah kehormatan.

Saya mengerti seberapa mengerikan bila adat jawa bertemu dengan agama yang sebagian. Agama tidaklah salah. Orang yang memakai pembenaran agama untuk nafsunya, itulah yang menjijikan. Saya hanya bisa kasian pada orang-orang seperti itu. Bukankah seharusnya agama membawa kita ke arah pembebasan bukan semakin mengurung kita. Saya hanya bisa kasian pada orang-orang seperti itu. Yang salah satunya adalah orang terdekat saya. Sungguh kasian dia itu.

Padahal sepatutnya… Islam sebagai agama adalah jalan pembebasan. Termasuk mengenai hal ini. Kehormatan perempuan dalam Islam bukanlah ditentukan akan keberadaan dan keadaan suaminya. Maryam tidak memiliki suami namun tidak dapat dipungkiri bahwa dia adalah perempuan suci yang mulia. Asiah memiliki seorang suami namun dzalim luar biasa, dia mengaku Tuhan, hal tersebut tidak mempengaruhi kemualiannya. Khadijah yang mendampingi Rasulullah dalam keadaan tercukupi bahkan menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan suaminya merupakan ibunda kaum muslim yang sampai kapan pun tidak tergantikan. Namun, jangan sedih, ada juga Fatimah yang bersuamikan Ali yang saat mereka hidup bersama Ali belum mencapai masa ketercukupannya, dia juga perempuan mulia. Perempuan-perempuan ini tetap mulia karena ketaatan dan ketaqwaannya kepada Allah.

Kita perlu adil dalam memandang agama. Jangan salahkan mobil bagus yang kecelakaan karena supirnya yang tidak mampu mengemudikannya. Dah gitu aja…

#ngomongsamakacatanggal21April

Iklan