Menghargai Pencarian

Saya berbenturan dengan keberagaman yang cukup mengguncang saya adalah ketika SMA (15-18 tahun). Banyak harakah yang saya kenal ketika SMA. Somehow, they have their own way. Garis batas mereka cukup jelas. Beda dengan sekarang, sudah banyak orang-orang harakah yang cukup memiliki pikiran terbuka dan dewasa yang sudah punya pengaruh cukup besar dalam harakahnya masing-masing. Sehingga pandangan garis-garis harakah masa sekarang semakin pudar. Semakin bisa dikompromikan. Ataukah saya yang memilih lingkaran pergaulan orang-orang yang mengkompromikannya?

Ketika itu, saya melihat sahabat-sahabat saya memiliki alasannya sendiri sampai akhirnya bergabung dengan harokah-harokah tertentu. Dan saya cenderung enggan memilih dengan yakin dan pasti. Saya hanya menjalani apa yang ada saja. Tidak ingin berdeklarasi dengan siapa jiwa saya tertaut.

Ketika saya kuliah (18-…. tahun), saya bertemu dengan teman-teman yang mengalami pencarian. Berbagai pencarian. Salah satunya adalah pencarian agama. Sebagai seseorang yang lahir di lingkungan yang cukup islami dan dapat didikan yang cukup islami, pencarian mereka menjadi begitu menarik bagi saya. Saya merasa seandainya saya jadi mereka, apakah saya akan memilih Islam? Maka dari itu, saya merasa pencarian seperti yang mereka lakukan itu perlu juga untuk saya lakukan.

Saya tidak setekun mereka dalam melakukan pencarian. Saya hanya bertualang, tanpa punya niat untuk melepas apa-apa yang saya yakini dan saya pegang sejak awal. Akan tetapi, saya jadi merasakan bagaimana rasanya berada dalam proses pencarian. Yang tidak terima begitu saja apa-apa yang orang-orang “claim” sebagai kebenaran. Jadilah saya merasakan bagaimana rasanya meragukan semua hal dalam dunia ini. Meragukan eksistensi dan kebenaran Tuhan, meragukan eksistensi dan kebenaran agama, bahkan meragukan eksistensi keberadaan dirinya sendiri. Saya tahu bagaimana rasanya. Maka dari itu, saya merasa perlu untuk menghargai setiap proses pencarian yang dilakukan setiap anak manusia.

Saya dapati, mereka yang melakukan pencarian berakhir di tiga cabang. Pertama mereka yang merasa semakin yakin dengan kebenaran yang mereka yakini sejak awal atau menemukan kebenaran yang akhirnya mereka yakini dan tidak ada kebenaran yang lain (absolutisme). Kedua adalah mereka yang merasa yakin bahwa semua bisa jadi kebenaran (relativisme). Ketiga adalah mereka yang terus tidak puas mencari kebenaran. Terus meragukan keyakinannya sambil terus melakukan pencarian dan hanya tahu pencariannya akan berakhir ketika ajalnya datang sambil terus berdoa “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah : 6).

Mungkin saya termasuk golongan terakhir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s