Catatan Ajah (3)

Gue seneng banget akhir-akhir ini. Karena kerasa banget usahanya Mas Suami untuk membuat gue seneng dan bahagia dan betah di sini. Setelah gue cerita kalau gue ke bawa mimpi kabur dari sana. Lari-lari. Sebenernya yang dilakukan dia sederhana banget. Cuman… usahanya itu yang bikin terharu… hm… Ya…. KADANG, perempuan itu cuman butuh liat usaha doank. Tapi SERINGnya minta hasil juga sih. Sejauh ini, dia selalu ngasih (atau se-enggak-nya dia berusaha untuk ngasih) apapun yang gue minta. Itu yang ngebuat gue makin sayang sama Mas Suami kesayangan.

Gue kemarin cerita ke suami gue kalau pengen jalan-jalan. Di sekitaran sini ajah, nggak usah jauh-jauh. Keliling kampung aja. Gue juga cerita tentang imajinasi gue nyusup-nyusup dan investigasi bak semacem wartawan n detektif githu. Dan beneran langsung diajak jalan-jalan pake motor. Keliling-liling. Dan… kampungnya luas banget. Isinya beneran cuman hutan belantara, sawah padi, ladang tebu dan beberapa pabrik (sayang bukan pabrik makanan dan garmen, kalau iya gue bakal bahagia, mungkin). Hampir nggak ada orang di ladang dan sawah. Karena bukan saatnya nyemai n panen. Imajinasi gue tentang perkumpulan-perkumpulan “dakwah” itu ternyata salah. Aku banyak bertanya selama perjalanan. Dia pun bercerita..

“Ya begini lah neng. Cuman ini doank disini. Di desa ini, kebanyakan penduduknya punya lahan pertanian. Lahan yang dipunyai ini ada yang ditanam tebu ada juga padi, ada juga yang dibiarin tumbuh tanaman liar, yang kata kamu hutan belantara itu. Semua tergantung keinginan yang punya lahan. Jadi bukan lahan yang dipunyai korporasi lalu petani bekerja seperti buruh. Bukan seperti itu. Nah, mereka sibuk bertani hanya pada saat menanam dan panen. Selebihnya mereka jadi buruh pabrik gula dan pabirik lainnya disini, ada juga jadi pengrajin batu bata, pengrajin genteng, pengrajin kusen, berdagang atau apapun yang bisa dilakukan buat menyambung hidup mereka. Setelah panen, mereka akan menjual beras dan tebu mereka. Gabah mereka jual ke pengumpul beras yang nanti akan menjual beras ke pihak lain. Setelah mereka menyisihkan untuk kebutuhan mereka (hm… jangan pikir, berasnya kualitas pandan wangi atau rojolele ya…-red). Tebu mereka jual ke pabrik gula. Pabrik gula agak keenakan sih disini. Mereka pegang monopoli tanpa harus memiliki lahan. Kelebihannya, mereka adalah petani-petani yang merdeka dari korporasi. Kekurangannya kalau gagal panen, tidak akan ada yang menanggungnya selain mereka sendiri.”

Menjadi buruh bukan jadi mata pencaharian utama buat mereka. Mereka tidak peduli dengan May day. Mereka hanya tidak terdidik. Mereka pun bukan petani pekerja, mereka pemilik lahan. Mereka sebenarnya mempunyai nilai asset yang bisa jadi melebihi orang mapan di kota. Agak aneh sih dalam hemat gue kalau paham K****** bisa tumbuh subur di sini, dulu. Bukankah sebagai pemilik lahan, hak mereka malah akan hilang ketika K******* benar-benar berkuasa dan menerapkan sistemnya? Jawaban mas Suami adalah…

“Karena yang mau bersusah payah meng-“edukasi” mereka tentang “bergerak” adalah itu, maka mereka akan “bergerak” untuk itu. Platform ideologi terlalu mahal disini. Mereka tidak tahu, tidak mengerti, tidak memahami dan tidak peduli apa yang ada dalam platform pergerakan. Mereka membutuhkan sesuatu yang cukup bisa dipercaya untuk memberi tahu apa yang perlu mereka kerjakan. Singkatnya mereka kurang terdidik dan tidak menghargai pendidikan sehingga terjadi hal-hal yang menurut kamu aneh tadi. ”

Dan hal yang menyakitkan adalah… suatu ketika gue dan mas suami mau shalat di masjid, awal waktu, jadi dalam pikiran kita bakalan ada shalat berjamaah. Dan you know what? Kita nungguin kira-kira setengah jam an. Dan belum ada yang adzan dan shalat. Warga disini terlalu sibuk untuk sekedar mengurusi masjid. Yang muda dan berkualitas kabur ke kota. Yang sudah berhasil di kota enggan kembali ke desa. Melihat tidak ada harapan di desanya. Aku mulai mengerti bagaimana mas Suami memandang kehidupan. Dan aku semakin salut padanya. Lalu aku bertanya… sebenarnya seperti apa kehidupan beragama disini.

“Ya seperti tadi aja dek. Mungkin agamanya orang sini itu bekerja (pantesan tagline pak presiden itu KERJA). Spiritual yang masih asli pemikiran sini banyaknya ya kejawen. Kalau udah ke kota ya bisa jadi Muhammadiyah karena dekat dengan Yogya. Atau kalau ke pondok ya dekat dengan Salafi.”

Komen terakhir gue adalah… “Semoga kita bisa lebih memahami Pak Presiden kita yang tidak bisa menjawab makna Ramadhan. Semoga dengan menjadi Presiden, adalah jalan bagi beliau untuk memperbaiki kualitas imannnya. Amiiinnn.”
*naon atuhlah…*

Hm… Buat Mas Suami, makasih ya atas jalan-jalannya… dan juga semua usaha yang udah dilakuin…
*seorang produk urban nulis sambil dengerin lagu Ariana Grande, ditempat dimana, gue nggak yakin banyak yang tahu siapa itu Ariana Grande*

4 thoughts on “Catatan Ajah (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s