Catatan Ajah (1)

Selama ini yang biasa ditulis dan menjadi buku best seller adalah pengalaman orang kampung ke kota. Sedikit yang berkisah tentang pengalaman orang kota yang pergi ke desa. Mas Suami memutuskan untuk tinggal ditempatnya mas Suami. Di SOLO, lebih tepatnya di perbatasan antara kabupaten karanganyar dan sukoharjo. Kalo di gmap, nama daerah ini disebut PULOKARTO. Dua kabupaten ini saja banyak dari kalian yang mungkin nggak tahu. Karanganyar mungkin banyak yang dengar, karena disinilah makam pak Harto dan bu Tien. Letaknya ada di selatan kota Surakata. Kota asalnya Pak Presiden kita tercintah. Tempat gue ini diperbatasannya dua kabupaten itu, bukan di kota kedua kabupaten tersebut. Oh, tiba-tiba aja gue kangen pak Aher dan kang Emil… (naon deui….. Hmmm…. Jujur aja gue sampe kebawa mimpi kabur dari sini…. Terus gue ngerasa gue lebay banget nget nget…)

Gue emang tinggal di sebuah desa pedalaman di daerah Kabupaten Kuningan. Nama desanya Cibingbin. Gue tinggal di sana sampe kelas 2 SD, setelah dari lahir sampe umur 3 tahunan gue hidup di Bandung. Tapi setelahnya gue selalu tinggal di lingkungan perkotaan. Walaupun itu di Kota Serang yang dulu belum jadi ibukota Banten, Banten nya belum ada. Tapi itu masih lumayan di daerah kota nya. Kalau dibandingkan dengan Pandeglang misalnya aja. Kalo dibuat perbandingan, Serang itu KOTA SURAKARTA, dan Tempat gue sekarang ini adalah pedalaman perbatasan LEBAK dan PANDEGLANG. Dan gue menjadi takjub kenapa bisa dapet jodoh, Mas Suami.

Nah, sejak umur 15 tahun, praktisnya gue tinggal di Bandung. Sebuah kota metropolitan. Dapat didikan modern, demokratis. Bahkan gue bingung ketika di tanya Suku Bangsa. I’m not pure Sundanese, I’m 75% Javanese, but I can’t understand (bororaah Speak) Javanese. Dan ciri-ciri kedua suku tidak begitu kental dalam diri, saya sadar betul akan hal tersebut. I’m just like to call my self, I’m Indonesian. I’m urban product. Walau kadang (atau sering ya???) kampungan. Kyakakakakakakk….

Hal menarik pertama yang bisa gue sebut adalah… Banyak disini yang berbahasa Indonesia pasif, tapi gue sendiri nggak bisa bahasa jawa at all. Gila kagak tuh? Pengen mati aja gue rasanya. Jangankan kemampuan bahasa Inggris, toefle 500.

Hal menarik kedua adalah… tempat gue ini, nggak tersentuh moda transportasi umum. So, adalah gue yang biasa ke sana ke mari SENDIRI. Mandeg nggak bisa kemana-mana tanpa dianter jemput mas Suami. Seorang gue yang terbiasa melakukan semuanya sendiri. Tiba-tiba sangat bergantung ke satu orang, Mas Suami. Terpikir oleh gue untuk minta diajarin pake motor, karena jujur aja gue trauma pegang mobil.

Terus Mas Suami malah bilang gini, ”kalau pun kamu nanti bisa pake motor, emang bisa ngendarain di jalan raya. Kan kamu cerita sendiri, kamu bisa sepedah tapi nggak bisa ngendarain di jalan raya. Daripada aku ngajarin kamu motor, mendingan aku beliin kamu sepedah.”

Dan gue jadi mikir. Lupakan belajar motornya.
“Ada bis kan disini?”
“tapi buat orang sini, kalau perempuan pergi sendiri naik bis itu nggak baik neng.”
“WHY????” kata seorang gue yang terbiasa pergi dari Bandung ke Jakarta seorang diri. Bahkan pergi ke Surabaya sendiri. Cuman pergi naik bis loh bang. Dan gue mau cari kerja.

Dan lalu gue pengan misuh-misuh ke pak Presiden… “Pak… ini sebelah selatan daerahmu loh…. Please atuhlah….”

Terus gue juga pengen nangis-nangis ke bu Menteri Pemberdayaan Perempuan…

“Bu, tolong atuhlah… Ini pulau jawa loh bu…”

dan lalu gue inget… mungkin MALAH karena ini pulau jawa. Kartini berasal dari Jawa. Suku di Indonesia yang paling kental patriarkinya, (mungkin sama dengan Batak… SOTOY banget gue…). Gue LUPA kalau ini JAWA. OMG!!!! Tiba-tiba aja gue kangen ibu kita KARTINI, putri sejagti, putri yang mulia, yang harum namanya… Buat kalian yang bilang emansipasi kebablasan… ARGH!!!! Gue pengen ngamuk-ngamuk sama kalian…

Hal yang membahagiakan gue adalah, gue berani jamin bahwa hape gue adalah salah satu yang terbaik di sini. Tapi hal yang menyiksa gue adalah… Gue harus naik mobil ke kota Solo untuk mendapatkan sinyal LTE. Ya, karena itu gue yakin, HP gue adalah salah satu HP terbaik di sini.

Catatan ajah... mungkin akan ada seri berikutnya

 

One thought on “Catatan Ajah (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s