Perpisahan (Episode 6 – Tamat)

Perasaan Rino saat itu berkecamuk. Antara lega akhirnya menemukan Tara, tapi juga ada perasaan tidak terima dan bingung. Apa yang harus dia lakukan dengan sebaris nomor telepon ini? Tara sudah memilih laki-laki lain.

“Rin…. Lo baik-baik aja kan?” sahut Gio di ujung telepon.  Ada sebuah nada diam yang tidak wajar setelah Gio memberikan nomor telepon Tara pada Rino.

“Gue harus ngapain ya Gi?”

“Lu harus move on Rin… seorang Fitarani Salsabila mungkin bahkan tidak mengingat lo sama sekali. Lo bisa pastikan itu. Mungkin nomor yang tadi lo minta bisa berguna.”

***

“Halo…” kata suara seorang wanita diujung sana. Dihubungi oleh banyak orang berhubungan dengan pekerjaannya membuat dia tidak begitu hati-hati mengangkat nomor tak dikenal.

“Tara, ini Rino.” kata Rino.

Tara bingung. Mengingat-ingat seseorang bernama Rino yang punya urusan dengannya. Dia menemukan nama produser acara berita selebritis.

“Mas Sakti udah jelasin sama lo kan Rin… Gue sama Fandi mau konferensi pers minggu depan.”

Rino tahu. Tara telah salah sangka.

“Ini Rino temen SMA kamu, Tara… yang dihari terakhir sekolah nembak kamu.”

Tara terkejut. Bingung harus bercakap apa.

“Hai… kamu apa kabar? udah nikah Rin?”

“Aku baru pulang internship Tar. Lagi ngurus ijin praktek. Nggak ada waktu buat cari pacar Tar… aku belum nikah…”

Tara jadi bingung. Kebingungan yang sama ketika hari terakhir sekolahnya. Hari dimana dia harus menjelaskan pada Rino tentang hatinya yang tidak berlabuh pada Rino.

“Tau darimana nomorku?”

“Atasan kamu yang namanya Gio itu sahabat saya. Dia tahu kisah kita waktu SMA. Dia juga ngasih tahu saya soal Alfandi.”

Tara benar-benar tak tahu harus berkata apa.

“Tara… saya bahagia kamu sekarang sama seseorang yang saya percaya bisa membahagiakan kamu… dan tidak mengajak kamu hidup susah…”

“Rino….”

“Jangan minta maaf Tara… Bukan salahmu apalagi Alfandi…”

Kata itulah yang terakhir dalam percakapan cangguh mereka….

***

Rino merasa hatinya hancur berantakan. Namun ada satu yang disyukurinya. Perasaannya lega telah memastikan perempuan yang dipujanya telah bahagia. Sementara itu, di lain sudut, Tara merasa sebuah perasaan bersalah. Tapi dia tahu, tanpa kehadiran Alfandi pun, dia tetap tidak akan memilih Rino. Tara tahu, Rino pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dari dia. Yang Rino butuhkan adalah perempuan yang cerdas namun tak punya ambisi. Karena Tara selalu mematikan ambisinya ketika bekerja sama dengan Rino. Rino tak akan tahan dengan rekan kerja yang lebih berambisi dari dia. Rino butuh seseorang yang mengikutinya dari belakang. Memainkan tarik ulur. Sedangkan dia butuh Fandi. Seseorang yang menyejajarkan langkahnya. Tara melangkah disamping, bukan di belakang Fandi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s