Kamu akan kembali

Di depanku kini ada seorang pria
Pria yang aku cintai
meski diriku sendiri sudah memaki maki
Semua aspek yang ada dalam dirinya
Dan aku tetap mencintainya
Mungkin benar
kalau cinta memang bisa mengurangi kecerdasan
Sampai lebih bodoh dari batu

Dia bilang, dia tidak pernah berani mempunyai keinginan
Dia tidak berani berharap
Dia terlalu banyak dikecewakan dirinya sendiri dan keadaan
Dia tidak berani mengambil keputusan
Dia selalu menyuruhku yang mengambil keputusan

Tapi satu hal yang membuatku bahagia…
Karena dia sekarang berhasil mengambil keputusan
Dan mampu mengkomunikasikan keputusannya
Dia berhasil merasionalisasikannya
Sehingga kali ini aku menganggapnya sebagai keputusan

Sesuatu yang selama ini tidak pernah dia lakukan
Keputusan yang selama ini
seringkali diambilnya dengan pertimbangan emosi
Bukan perasaan tapi emosi
Sehingga seringkali aku tidak menganggapnya serius
Sebagai sebuah keputusan

Aku mencintainya meski dari sekian banyak permintaanku
Dia hanya bisa mengabulkan untuk menatap mataku
Aku mencintainya meski dia selalu bilang seharusnya perasaan itu bukanlah untuknya
Aku mencintainya meski dia pendek hitam kurus tak terurus
Aku bisa buat daftar yang begitu panjang
tentang semua kekurangannya…
Tapi aku masih tetap mencintainya
Bahkan aku mencintainya meski seharusnya aku membencinya
Aku bahagia meski seharusnya aku merasa sedih
Aku mencintainya

Lagi lagi aku hanya bisa menantang takdir
Seperti apa yang kamu katakan dalam katamu…
Ikuti saja arah anginnya
Meski tanpa kamu sadari
Arah angin selalu membawamu kembali padaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s