Tidak Bermaksud Menghilang (Episode 5)

Di hari terakhirnya di SMA. Fitarani Salsabila mungkin telah memecah belah persahabatan antara dua orang lelaki. Dia tidak ingin tahu kelanjutannya bagaimana. DIa ingin menutup komunikasinya dengan masa lalu. Persahabatannya dengan Dian hancur. Dian tahu bahwa Rino lelaki yang didamba Dian, malah mendamba Tara, sahabatnya sendiri. Tara merasa habis alasan mengapa dia masih perlu menjaga komunikasi dengan teman-teman SMAnya.

Dunia yang digelutinya sekarang pun begitu berbeda dengan dunia teman-teman SMAnya yang lain. Yang lebih memilih mengambil kuliah di dunia kesehatan dan keinsinyuran. Dia mengambil jalannya sendiri mengambil keputusan untuk mengejar mimpinya menjadi seorang wartawan. Satu hal yang mungkin disesalinya adalah dia tidak bisa menjaga idealismenya untuk mencari pekerjaan sebagai jurnalis. Kini, dia malah terjebak menjadi kreatif di sebuah stasiun televisi ternama. Tapi toh kariernya cukup baik. Walau tidak dibagus Gio yang memang mendalami broadcasting semasa kuliahnya. Tara dan Gio memasuki universitas yang berbeda. Walau jurusan yang sama, Ilmu Komunikasi. Tara merantau mencari universitas dimana jurusan yang diinginkan adalah yang terbaik. Sebuah universitas terbaik negerinya, yang tidak berada di kotanya. Karena ini juga dia terkesan menghilang.

Tara memiliki satu penyanyi favorit. Namanya Alfandi Suryakelana. Pagi itu, dia melihat Citra, Sekertaris Mas Sakti yang kebetulan teman SMPnya, berbincang dengan penyanyi favoritnya. DIa pun memberanikan diri berbicara pada Citra. Meminta Citra mmengenalkannya dengan Fandi.

 “Dia itu mau ketemu Mas Sakti, bukan mau jumpa fans.”

“Ih, siapa juga yang nge fans sama dia.”

“Playslist lo kan lagu dia semua. Emangnya gue nggak tahu? Lagian ngapain lo mau ketemu dia coba?”

“Biar nanti kalo acara gue butuh dia kan gampang Cit… apa lo mau nolongin gue kalo nanti gue butuh dia? Gue kan minta dikenalin sama semua artis juga kali CIt… Ke elo emang cuman baru Fandi…”

“Ya udah gue kenalin. Tapi jangan norak ya.”

Dengan berat hati, Citra pun akhirnya mengenalkan Tara pada Fandi.

“Fitarani Salsabila, Kreatifnya acara ‘apa aja boleh’”

“oh… yang ratingnya lumayan itu ya. Saya tunggu undangannya lagi ya.”

Sebetulnya Tara sedikit tersinggung dengan kata lumayan. Tapi mau gimana lagi? Dia dan Gio memang baru dipindahkan sebagai tombak acara itu. Sebelumnya acara itu dipegang oleh tim yang sekarang memegang program berita. Bisa dibayangkan seberapa serius acara ini sebelum diprodeseri Gio. Gio dan Tara sendiri tadinya berada di tim konser musik yang melakukan promosi stasiun TV mereka. Mereka sudah keliling Indonesia.

“Bisa minta nomor Kak Fandi.”

“Ke managernya aja kali Tar…” kata Citra.

“Ah iya, maksudnya, manager Kak Fandi.”

“Nomor saya juga nggak papa kok mbak. Dengan Mbak Tar… ya?

“Fitarani Salsabila Kak Fandi. Orang kantor taunya, nama saya FIta, tapi karena Citra itu teman SMP saya, jadi dia panggil saya Tara.”

“Waw, saya teman SMAnya Citra loh…”

Tara hanya tersenyum.

“Lucu ya kalian saling berkakak mbak…”

“Panggil saya Fita atau Tara terserah Kak Fandi aja.”

“Panggil aja saya Fandi, Tara.” Fandi memilih Tara sebagai caranya memanggil Fitarani Salsabila.

***

Mulai dari situ mulainya sebuah kedekatan yang melebihi seorang kreatif dan artis. Kencan pertama mereka lakukan setelah perkenalan itu terjadi. Kala itu mereka berbincang tentang banyak hal yang tidak ada habis-habisnya.

“Tar, kita lulusan univ yang sama kali Tar. Cuman gue jurusan Ekonomi.”

“Gue tau lo kuliah di univ gue. Tapi emangnya lo lulus Fan?”

“Ya nggak kayak lo yang cumlaude dan 3,5 tahun lah. Masa studi gue dua kali lipat dan IPK hampir setengahnya lo.”

“Ya tapi kan lo udah kerja. Lu udah punya rumah-mobil. Lah gue? Masih numpang orang tua, baru bisa ngebiayain hidup gue sendiri. Dan gue salut sama lo, kalo beneran lo lulus.”

 “Eh, kurang ngajar ya lo. Baru sekarang lo gue diragukan oleh seorang kreatif.”

“Jadi lo masih ngeliat gue sebagai kreatif? Belum sebagai teman? Tega!” canda Tara.

“Oh… jangan-jangan lo diutus infotaimen buat deketin gue.”

“Program yang gue pegang itu program musik, bukan program gosip Fan… lo pernah ngisi juga kan sebelum gue yang pegang dulu? Gue nggak kurang kerjaan bantuin mereka Fan…”

“Ya siapa tahu aja. Ternyata lo bawa kamera tersembunyi.”

Ini adalah sebuah kejadian di hari ulang tahun Tara dan Fandi yang ke 22, 3 tahun yang lalu. Mereka merayakannya bersama karena mereka lahir dihari yang sama.

***

Semuanya hancur ketika hubungan keduanya tercium oleh Sakti dan manajemen Fandi. Sakti membebaskan tapi jangan sampai mengganggu perusahaan. Walau pun sebenarnya ini merupakan perintah tak langsung bagi Tara untuk mengakhiri hubungannya. Sedangkan Fandi secara tegas mendapat teguran dari pihak manajemennya.

“Tara, kita harus bicara.”

“Ya Fandi. Kita memang harus bicara.”

DIsana lah hubungan yang belum berumur 6 bulan itu berakhir. Mereka pun tertawa berdua. Menertawai kisah mereka yang begitu tragis. Cinta itu terkadang tidak perlu pengakuan dunia. Berdua menikmati sebuah lagu favorit saja, terkadang sudah cukup.

***

Nyatanya hubungan itu tidak berakhir begitu saja. Karena pada akhirnya, mereka hanya lebih berhati-hati, hanya itu perbedaannya. Dan tidak ada komitmen pasti yang terucap. Hanya saja perilaku mereka yang saling menjaga hati bisa jadi bukti otentik dari komitmen yang mereka pegang. Sebagai orang TV, Tara tahu dimana biasanya mereka berkumpul. Dia tahu cara menghindari mereka. Ketika Fandi sedang jadi sorotan publik, keduanya rela tidak bertemu sampai keadaannya menjadi lebih tenang. Hubungan yang tidak goyah meski tak ada pengakuan yang tegas dari keduanya selama tiga tahun ini membuat mereka satu sama lain menjadi semakin yakin akan diri masing-masing.

“Gio udah kehabisan akal kayaknya.” Sahut Fandi saat Tara menceritakan teguran Gio padanya.

“3 tahun bukan waktu yang sebentar Tara…”

“Udah 3 tahun ya Fan…”

“Aku akan mundur dari nyanyi”

“Terus?”

“AKu mau lanjut S2. IPKku emang nggak sebagus kamu. Tapi cukuplah untuk S2 di luar negeri.”

“Terus?”

“Ikut aku…”

“yang cari duit siapa?”

“Tabunganku cukup, nanti aku juga nyanyi di café-café. Lumayan kok jadi penyanyi disana. Lagian, bisnisku yang lain kan masih jalan di sini.”

“Aku?”

“Ada beberapa media cetak disana. Atau kamu kan bisa jadi responden media di sini. Setahuku ada beberapa kantor media Indonesia yang buka kantor di sana. Mau jadi reporter media sana. Itu tinggal kamu yang pilih.”

Ini yang membuat Tara selalu jatuh hati pada Fandi. Dia tidak hanya memikirkan egoism pribadinya. Dia juga memikirkan aktualisasi Tara. Itu juga yang menjadi pertimbangan Fandi ketika memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Tara. Hubungan yang tidak benar-benar berakhir itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s