Apakah Semua Orang Perlu Pintar Matematika? (Episode 3)

Rino gerah dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Pertanyaan yang mempertanyakan kapan dia menikah. Lingkungan yang bilang, “Kamu itu terlalu memilih Rino…”. Dia merasa tidak mengerti mengapa orang-orang jadi begitu peduli pada nasib dirinya.

Tara hanya perempuan biasa. Tidak semua orang peduli akan kabar dirinya. Tidak seperti Rino, yang kabarnya masuk rumah sakit menghebohkan satu angkatan. Kabar burung mengenai pernikahan Rino menghebohkan tidak hanya perempuan satu angkatannya tapi semua angkatan yang mungkin bersinggungan dengan Rino. Dua angkatan di atas dan dibawah Rino ketika SMP dan SMA. Tiga angkatan di atas dan di bawah Rino di tempatnya kuliah. Sedangkan Tara? Menghilang saja, tidak ada yang peduli. TIdak ada yang mencari. Mungkin hanya Rino yang peduli. Itu pun Rino tidak mencari.

Pertemuan tadi sore, membuka kenangan lamanya. Di mana dia menjalani persahabatan dengan Fajar. Kisah mereka dengan Tara. Sudah kusebutkan berulang, Tara sebenarnya hanyalah perempuan biasa sebenarnya. Tapi Rino tidak melihatnya seperti itu. Bagi Rino, Tara adalah perempuan yang istimewa. Potret perempuan modern namun cukup konservatif. Modern dalam memandang kesetaraan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki. Namun, sadar betul akan kebutuhan laki-laki untuk melakukan superioritas. Rino tidak ingin mengakui dirinya tahu bahwa Tara memperlakukannya sebagai pajangan yang terpajang di tempat umum. Indah dilihat tapi tidak berniat untuk memiliki. Seperti hampir semua perempuan lain. Entah mengapa RIno memaklumi sikap Tara. Tara tidak mengenalnya.

Rino dan Fajar berteman baik dengan Tara. Sampai pada suatu hari, Rino memberanikan diri mengatakan bahwa Tara adalah pribadi yang menarik untuk dirinya. Tara terkejut. Seorang Rino yang didamba banyak perempuan, tiba-tiba menyatakan perasaan pada dirinya. Tara tidak menyangka. Bagi perempuan lain mungkin adalah suatu keberuntungan bisa disukai oleh seorang Rino. Tapi tidak bagi Tara. Dian, sahabat Tara, menyukai Rino. Benar-benar menyukai Rino. Tidak seperti perempuan lain. Dan Tara tidak memiliki perasaan apa pun pada Rino.

“Rin, Dian suka sama lo.”

“Terus? Semua cewek juga suka sama gue kan. Ya… mungkin juga tidak terkecuali elo.”

“Buat gue saat ini, Dian lebih penting dari punya hubungan dengan siapa pun. Dan lu harus tahu Rin. Dian itu beneran suka sama lo. Beda sama cewek lainnya.”

“Tapi boleh nggak gue tahu perasaan lo?”

“Gue emang suka sama lo, tapi itu nggak lebih dari perasaan seorang penggemar kepada yang digemarinya. Sama kayak mungkin banyak cewek-cewek lain. Lagian… Jujur aja… gue naksir sama Fajar. Maaf ya Rin…”

“It’s OK. Makasih ya udah jujur sama gue Tar.”

Inilah percakapan terakhir Rino dan Tara. Di hari terakhir mereka di SMA. Dan setelah itu Tara menghilang.

Tara sebenarnya tidak menghilang. Hanya menutup komunikasi. Dia enggan bertemu lagi dengan masa lalunya. Ada sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Dimana dia tidak menginginkan adanya campur tangan orang-orang di masa lalunya. Rino sendiri terlalu sibuk dengan kehidupannya. Dia hampir tidak bisa bernafas menahan semua beban akademis yang harus dia jalani. Rino melupakan Tara, tidak berniat mencari Tara, tapi alam bawah sadarnya menginginkan Tara.

Suatu hari pernah Fajar menjodohkan Rino dengan seorang teman dari istrinya Fitri. Bahkan beberapa kali. Ada saja kurang mereka di mata Rino. Sampai akhirnya Fajar sadar. Rino menunggu Tara.

“Rin, kenapa sih lo tolak lagi? Gina itu kurang apa?” Gina adalah nama teman Fitri yang berusaha Fajar jodohkan dengan RIno untuk terakhir kalinya.

“Bukan tipe gue Jar…”

“Tipe lo yang kayak gimana sih? Gina itu cantik, pintar, baik, shalehah. Kurang apa???

“Pinter akademis iya. Tapi pemikirannya kurang nakal Jar.”

“Kalo gitu kenapa kemaren Santi lo tolak. Dia aktivis vocal lo…. Lo bilang nanti dia yang dominan, dan lo nggak mau kayak githu. Jadi lo maunya apa?”

“Entahlah Jar. Kayaknya kok ada aja ya kurangnya orang-orang yang lo ajuin buat gue.”

“Rin…. Jangan-jangan lo nungguin Tara ya?” tiba-tiba saja Fajar teringat.

“Mungkin…” kata Rino yang saat itu juga tak yakin.

Sampai pada suatu hari pernah Fajar mengerjai RIno. Dia bilang dia bertemu Tara.

“Serius lo Jar? Dimana? Lo minta nomornya nggak?”

“Rin… beneran lo nungguin Tara ya…”

“Kayaknya githu sih Jar….” Saat itulah Rino menyadarinya. Fajar yang membuatnya sadar.

“Rin… gue ini sahabat lo udah lama banget. Gue kasian ngeliat lo kayak gini.”

“Gue merasa hidup gue baik-baik aja kok Jar…”

“sumpah gue jadi agak ngeri Rin.”

“Santai aja kali Jar. Apakah semua orang perlu pintar matematika?”

Belum sempat Fajar menyela.

“Gue ngerti kalo logika matematis itu diperlukan dalam hidup. Tapi kan tiap orang punya batasan sendiri dalam memahami pelajaran itu. Selama dia masih hidup baik-baik aja. Ngapain ikut ngeribetin?”

Fajar menyerah. Fajar mengerti bahwa sahabatnya tidak ingin diganggu pertanyaan semacam itu. Dan tak lagi ada gunanya dia mencoba untuk membantu. Sahabatnya punya standar hidupnya sendiri. Fajar sadar, selama sahabatnya hidup dengan baik dan bahagia, dia tak perlu banyak ikut campur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s