Cafe Grande (Episode 1)

Sore itu ketiganya berjanji untuk bertemu di Café Grande. Rino, Fajar dan Gio. Rino baru saja menyelesaikan kewajibannya untuk menjalani internship. Kini Rino bisa mengurus ijin prakteknya. Rino adalah seorang dokter. Dia ingin menggelar sebuah syukuran kecil-kecilan dengan kedua sahabat tedekatnya.

Rino, Fajar dan GIo telah bersahabat sejak SMA. Ketiganya bertemu di sebuah tempat belajar disamping Rino dan Fajar yang memang satu SMA. Persahabatan mereka begitu dekat. Walaupun mereka berkuliah di tempat yang berbeda, mereka tetap saling berhubungan. Rino menempuh pendidikan dokter di universitas terbaik di kotanya. Sementara itu, Fajar berkuliah di jurusan Sistem dan Teknologi Informasi di institute teknik terbaik di kota yang sama. Dia kini bekerja di salah satu perusahaan IT terbesar di kotanya. Sedangkan Gio berkuliah di universitas yang sama dengan Rino, namun di jurusan yang berbeda. Gio mengambil Ilmu Komunikasi sebagai jurusannya, kini Gio menjabat produser muda di sebuah stasiun TV.

“Rino!!! Apa kabar lo???” Fajar yang kedua datang setelah Rino.

“Hai Jar!!! Gio kemana ya?”

“Dia kan on air. Abis beres on air baru dia ke sini katanya. Bentaran lagi juga dia dateng”

“O… terus lo gimana nih jadi programmer?”

“Hahaha… Seperti apa yang ada diportal I’m programmer I have no life githu deh…”

“Anak Istri lo sehat?’

“Alhamdulillah… lo?”

“Belum ada.”

“pacar?”

“Belum.”

“Lo nggak nemuin kembang desa apa di tempat lo internship?”

“Hahahaha…”

“Ah, gue lupa. Tipe cewek lo kan perempuan modern yang elegan tapi mau nurut sama suami. Lo nyari yang nggak ada No… ”

 “Hei Fajar!!! Rino!!!” Gio datang. Namun, Rino tidak ingin percakapan ini putus. DIa langsung menanggapi pernyataan Fajar. Tak menanggapi sapaan datang Gio.

“Ada ah… temen kita SMA. Yang naksir lo itu. Lo tahu lah tipe gue kayak siapa.”

“Lagi ngomongin kapan lo nikah ya Rin? Gue yang udah punya pacar aja nggak tahu kapan.”

“Ah, lo mah karena belum siap buat komit aja. Beda sama Rino. Dia belum bisa move on dari cinta SMAnya.”

“Seriusan lo Rin? SMA itu kan 7-9 tahun yang lalu. Seumuran sama persahabatan kita.”

“Iya… dulu itu gue naksir sama cewek, dan lo tahu kan gue waktu SMA itu idaman banyak cewek. Dan lo harus tahu ya Gi, cewek yang gue taksir malah naksir Fajar.”

“Pertama, sampe sekarang juga lo masih idaman banyak cewek kali Rin. Kedua, Fajar kan udah nikah. Terus masalahnya apa lagi?”

“Masalahnya kita udah nggak tahu, si cewek ini kemana Gi. Kita kehilangan jejak dia.”

“Lah, kalo lo ketemu dia sekarang udah punya anak kayak Fajar gimana donk Rin?”

“Gue kan bukan nungguin dia juga Gi.”

“Terus?”

“Ya tipe nya si Rino ini susah bener githu loh Gi… Sesusah Citra ngeyakinin lo buat komit lah Gi…” Fajar menjelaskan dengan hampir putus asa kepada Gio. Citra adalah nama pacar Gio yang sudah dipacarinya tiga tahun belakangan ini.

“Jar, gue jadi pengen tahu deh, kok lo bisa dengan gampangnya komit sama satu orang seumur hidup githu sih. Lo sama Fitri kan cuman pdkt tiga bulan sebelum mutusin nikah. Gue yang 3 tahun pacaran aja masih belum yakin.”

“Banyak berdoa Gi. Berserah ke takdir. Emang harus banyak make feeling sih. Kalo mikir logis mah nggak akan siap-siap. Takut nanti ketemu yang lebih oke dari yang sekarang lah. Takut nanti ada sesuatu yang merubah hidup tiba-tiba lah. Kalo mikir logis preventif kayak githu emang jadinya nggak akan pernah siap sih Gi”

“terus?”

“Hm… jangan dipikir kehidupan gue ini lebih enak dari kalian. Emang sih seenggaknya gue idup ada temennya. Tapi ada tanggung jawab lebih yang  gue panggul dibandingin kalian yang single. Ada cobaannya masing-masing lah kita.”

“Belum tentu yang nggak single itu lebih bahagia dari yang nggak single ya?” Gio merasa ini pembenaran bagi dirinya.

“Tapi tanggung jawab itu nggak boleh dihindari kali Gi. Lo tuh jangan mainin Citra. Dia mungkin nggak sempurna, tapi dia nggak pantes lo gantungin lama-lama. Dan buat elo Rino… nyari yang kayak Tara itu susah. Jadi, please lo turunin standar lo.” Kata Fajar mengingatkan.

“O… namanya Tara…” kata Gio sambil tersenyum meledek. Sebuah nama yang sepertinya tidak asing baginya. Namun, dia tidak yakin apakah Tara yang dia kenal sama dengan Tara yang Rino dan Fajar maksud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s