Perkenalan dengan Si Parasit Lajang

Aku sangat suka membaca. Aku menggilai buku. Ketika ada yang bilang sebuah buku itu baik. Aku merasa perlu wajib membaca.

Masa remajaku banyak ditemani oleh tulisan Asma Nadia, Dian Yasmina Fajrin, Afifah Afra dan penulis geng sono lainnya. Sampai akhirnya aku berkenalan dengan Dewi Lestari dan juga para sastra klasik. Seperti salah asuhan, siti nurbaya, dll. Tulisan Dee adalah yang paling memberi kesan yang mendalam pada saya. Karena didalamnya saya berkenalan dengan dunia yang abu-abu. Saya diperkenalkan oleh Dee kepada realitas dunia yang selama ini tidak pernah saya temukan. Dee meyakinkan saya kalau abu-abu itu memang ada. Baru selanjutnya saya berkenalan dengan Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi. Para penulis baik-baik. Cuman Dee yang agak nyeleneh.

Sampai diumur awal 20an, aku yang sudah mendengar nama Pramoedya Ananta Toer di bangku SMP, semakin penasaran dengan apa yang ditulisnya hingga menjadi tahanan. Seorang penulis ditahan menjadi hal yang rumlah di masa orde baru. NAmun, apa yang ditulisnya sampai dia membuat rezim merasa terancam. Ku baca dan kumengerti mengapa orba merasa terancam. Tulisan Pram begitu realis dan memikat. Mampu membuat pembaca merasakan kebencian yang dia rasakan. Padahal saya membacanya di usia yang bisa dibilang cukup untuk berpikir logis. Mungkin belum bisa bijak. Ah… sejauh ini belum ada yang bisa menyaingi kehebatan berdogeng Pram.

Lalu aku berpikir, kenapa kebanyakan penulis adalah laki-laki. Aku ingin mencari penulis perempuan lain selain Dee. Lalu saya mengenal nama Mira W, yang ceritanya sering diangkat menjadi sinetron. Tidak tertarik baca. Karena ceritanya tentu saja, pastinya, drama dan sinetron banget. Sampai akhirnya saya menemukan nama Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu dan penulis geng sono lainnya juga. Hanya Ayu Utami yang berhasil “membujuk” saya untuk membaca tulisannya.

Saya berkenalan dengan tulisan Ayu, di usia 25an tahun. Di usia yang sangat cukup untuk berpikir logis, dan mungkin dengan tingkat kebijaksanaan yang jauh lebih tinggi dengan ketika membaca Pram. Saya hanya merasa MENGERTI apa yang Ayu tulis, tanpa ikut merasakan kebencian yang Ayu tulis. Mungkin karena saya merasa yang ditulis Ayu agak lebay. Terutama untuk tulisannya, Pengakuan Eks Parasit Lajang. Pandangannya soal pernikahan, poligami, perselingkuhan, hubungan dua manusia, hm… saya hanya pada tahap mengerti belum memahami.

Mungkin karena banyak pandangan saya yang berbeda dengan Ayu. Di umur yang tidak muda lagi, pastinya otak saya tidak sekosong ketika saya membaca Dee dan Pram. Saya sudah punya sistem nilai sendiri yang cukup kuat. Saya membaca Pengakuan Eks Parasit Lajang sebelum saya membaca si Parasit Lajang. Saya merasa tulisannya lebih kepada film-film box office yang setelah kita menontonnya kita hanya bisa berkata, “Oh ya udah, begitu aja emang ceritanya.”

Ada satu hal yang sedikit membekas dalam pemikiran saya. Pandangannya tentang poligami. Hm… perlu diketahui Ayu beragama Katolik. Dalam Katolik, sejauh yang saya tahu, tidak ada kepastian hukum mengenai hal tersebut. Ayu membawakan topik ini dengan cara bercerita sebagai simpanan dari bosnya. Dia bilang, dia ada di dalam hubungan gelap, illegal. Berhubungan dengan seseorang yang secara jelas memiliki komitmen dengan orang lain adalah sesuatu yang illegal, gelap. Maka, dia bilang, “Biarkan sesuatu yang gelap tetap gelap. Jangan dipaksa untuk menjadi terang.” Dengan bermodal kemampuan bahasa Indonesia tingkt SMP, kita bisa mengerti apa yang dimaksud Ayu dengan kata-kata ini. Tapi ya udah gitu aja ceritanya. Seperti film-film box office.

Tapi…. tidak semua tulisan Ayu semengerikan itu. Bilangan Fu dan Simple Miracle adalah dua buku terbaik Ayu, versi saya. Terutama Simple Miracle. Saya sangat menyukai buku Ayu yang satu ini, terutamanya karena buku ini bersih sekali dari hal “begituan”. Simple Miracle menceritakan tentang spiritualisme kritis. Dimana kita boleh meragukan Iman kita, untuk mengetahuinya lebih dalam dan menjadi lebih yakin dengan Iman tersebut. Dia bilang, kita akan merasa takut akan apa yang kita tidak ketahui, maka cari tahulah sampai akhirnya kita menjadi tahu dan tidak takut lagi. Dia menceritakan konsep filsafat rumit dengan begitu popular. Keren. Untuk yang penasaran dengan Ayu Utami, saya sarankan untuk membaca buku yang ini. Relatif aman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s