Perasaan (Episode 5 – Tamat)

Kali ini caraku akan berbeda dalam bercerita. Ikuti saja iramanya. Nikmati dinamikanya.

***

Namaku Distra. Seorang dosen. Disukai banyak mahasiswa, mahasiswi lebih tepatnya. Dan belum menikah di usiaku yang ke 40. Aku punya seorang sahabat yang begitu dekat 5 tahun belakangan ini. Aku merasa nyaman dengannya. Karena dia tidak menuntut komitmen apa pun.

Aku bukannya takut berkomitmen karena tersakiti. Tapi karena membangun komitmen dengan perempuan bukanlah prioritasku. Bahkan diumurku yang sudah mulai senja. Anak dari temanku bahkan sudah berusia remaja. Cerita mereka berkisar anak-anaknya yang mulai jatuh cinta. Dan entah kenapa gejolak yang dirasakan oleh anak-anak mereka, bisa juga kurasakan akhir-akhir ini.

Ya. Ketika di dekat Gitsya, sahabatku, aku kembali merasa sebuah gejolak yang sudah lama tidak ku rasakan. Yang aku heran, mengapa gejolak itu baru terasa sekarang. Setelah aku dan dia bersahabat selama 5 tahun. Kutanya pada temanku yang psikolog, dia menjelaskan bahwa seorang lelaki diumurku dan umurnya memang biasa mengalami sesuatu yang disebut sebagai puber ke dua. Mungkin itu yang kualami.

***

Namaku Gitsya. Aku bersedia menjadi sahabat Disktra karena aku diam-diam menyukainya. Dengan alasan yang sama sekali berbeda dengan para penggemarnya yang lain. Aku menyukainya dengan cara yang berbeda dengan pengagumnya yang segudang itu. Namun, aku tahu, dia sama sekali tidak menginginkanku. Walau harus ku akui, dialah orang yang selalu ada ketika aku butuh. Aku sedikit trauma dengan komitmen. Bayangan tentang Awan yang pergi dan mengkhianati komitmen yang kami buat berdua, masih jelas dihatiku. Disktra tidak menuntut komitmen apa pun dariku. Mungkin karena itu kami cocok.

Hari ini ada sebuah keajaiban. Kudengar dari mulut seorang Disktra, dia sekarang sedang jatuh hati pada seorang perempuan. Aku bersyukur. Semua kecurigaan tentang ketidaknormalannya kini sirna. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal. Ada perasaan perih. Semacam perasaan tersaingi. Aku adalah perempuan yang selama ini ada didekatnya, mengapa begitu mudah tersingkirkan oleh perempuan yang baru ditemuinya baru-baru ini. Tapi aku sadar sejak awal, kalau ini akan terjadi. Aku juga tidak berharap Disktra menyukaiku. Aku tahu betul, aku bukan tipenya.

“Gue kenal nggak sama cewek yang lo taksir itu.”

“Kenal nggak ya… nggak tahu deh lo kenal apa nggak…”

“Maksudnya gimana ya?”

“Lo kok kepo sih?”

Aku sadar bahwa aku tidak siap dengan rasa cemburu ini. Entah rasa cemburu sebagai sahabat atau rasa cemburu sebagai wanita.

***

Nada suaranya jelas. Aku berhasil memancing perasaannya untuk muncul. Aku tahu dia cemburu.

Atau aku hanya berharap dia cemburu? Dan aku terlalu percaya diri menganggap dia cemburu.

“gue nggak kepo. Ya… kalo gue kenal kan. Mungkin gue bisa pdkt in lo sama dia.”

“Nggak perlu. Gue udah deket banget kok sama dia.”

Orangnya kamu Gitsya…

***

Apa? Selama ini Disktra dekat dengan seorang wanita. Dan aku tidak tahu? Bagaimana mungkin. Aku tahu semua tentang Disktra. Tidak mungkin dia sudah dekat dengan wanita yang disukainya kini, tanpa aku ketahui.

“Hah? Kok bisa lo deket sama cewek gue nggak tahu.”

“Seriusan lo nggak tahu siapa cewek itu?”

Pertanyaan ini membuat aku semakin bingung. Berarti aku sebenarnya mengenal perempuan itu? Setidakpeka itukah aku hingga tidak menyadarinya?

***

Perempuan itu…. Kamu Gitsya…

Tapi aku tak berani mengatakannya padamu. Aku takut kamu malah akan menjauh dariku. Sebalum aku yakin perasaanmu padaku.

“Kalau gue udah yakin sama dia nanti gue kasih tahu ke lo.”

***

Sejak percakapan yang terakhir, Gitsya malah menjauh dari Disktra. Tak lagi mau diajak bermain bersama, makan bersama, nonton bersama. Disktra agak bingung dengan perubahan Gitsya. Sore ini, saat Disktra menolaknya, Disktra tidak tahan.

“Git, kenapa sih lo berubah sama gue?”

“Hm… masa sih gue berubah?”

“Kalo lo nggak berubah jangan nolak ajakan makan gue yang sekarang.”

Gitsya bingung. Perasaan dan logikanya berseteru. Perasaannya sakit hati dengan “pengkhianatan” Disktra. Logikanya berkata Disktra tidak bersalah. Tampaknya kali ini logikanya harus menang.

“Oke. Kita makan.”

***

Saat makan malam, tidak seperti biasanya, Gitsya tidak menunjukan antusiasme yang sebagaimana biasanya. Disktra sudah tidak tahan dengan semua keadaan ini.

“Git, cewek yang gue certain ke lo tempo hari itu…”

“eh, proyek lo yang sama PT. Abadi gimana?“ Gitsya mengalihkan pembicaraan. Gitsya tahu dia tidak sanggup berpura-pura saat ini. Dia tidak sanggup berpura-pura bahagia menanyakan wanita itu.

“Git, kok lo ngalihin pembicaraan sih?”

“Ya… gue lebih tertarik cerita proyek lo daripada cewek lo.”

“Jujur sama gue… Lo cemburu ya?”

“Sok…” Gitsya ingin bilang, “Sok kecakepan.” Tapi langsung dicegah oleh DIsktra. Karena kata-kata itu memang meruntuhkan percaya diirinya. Tapi, dia sudah tidak tahan dengan keadaan ini.

“Perempuan yang kemarin aku ceritain itu… KAMU…”

Gitsya hanya termangu. Bahasa Disktra berubah.

“Kenapa bisa?”

“Kata Ryan, gue puber kedua. Dan gejolak itu muncul di elo.” Ryan adalah teman Disktra yang psikolog. Gitsya juga mengenalnya.

“Oke. Terus?” Gitsya kembali ke Gitsya yang biasa. Perasaaannya telah bisa dia kuasai. Kini giliran logikanya bermain.

“Terus?”

“Gue nggak bisa berharap komitmen apa pun dari lo kan?”

“Bulan depan gue dateng ke rumah lo.”

“Maksudnya?”

“Kita nggak perlu saling mengenal lagi kan?”

“Aku sudah terlalu kenal kamu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s