Pemikiran Gitsya (Episode 4)

Gitsya tidak pernah punya teman yang banyak. Namun, dari yang sedikit itu, dia berteman dengan begitu dalam. Dian dan Fitria adalah dua teman terdekatnya. Sejak SD. Ketika SMP dia berteman dengan beberapa laki-laki. Dan yang paling dekat adalah Hendrawan. Awan.

Awan dan Gitsya memiliki irisan dunia terbesar dibandingkan dengan yang lainnya. Sampai pada suatu hari, ketika wisuda Awan, Gitsya memberikan bunga. Hal yang rumlah dilakukan oleh seorang sahabat. Tapi kemudian bunga tersebut dikembalikan pada Gitsya. Dia akan segera menjemputnya untuk hidup berdua, kata Awan ketika itu. Namun, pada kenyataannya, tak sampai 2 tahun setelah itu, Awan menarik kembali janjinya.

Awan adalah cinta pertama Gitsya. Satu-satunya pria yang berhasil masuk ke dalam hatinya yang keras. Gitsya sulit dekat dengan orang, sulit percaya dan sulit jatuh cinta. Sebelum dan setelah Awan, semua lelaki yang mendekatinya tak bisa lebih dari sekedar rekan kerja dalam belajar. Tak sampai pada hubungan yang pribadi yang lebih. Awan berhasil merubah Gitsya. Gitsya yang begitu ambisius akan mimpi-mimpinya jadi tidak punya mimpi apapun selain bersama Awan. Gitsya yang awalnya begitu pemikir dalam mengambil keputusan, menjadi begitu perasa. Awan sadar akan hal ini. Dia tidak mau jadi penghalang Gitsya untuk berkembang.

Ketika Awan pergi, Gitsya tidak lagi bisa berpikir tentang masa depannya sebagai perempuan. Perempuan yang nantinya akan menjadi seorang istri dan ibu. Bayangan masa depannya ke arah sana tak lagi terbayang. Dia melampiaskannya pada ilmu pengetahuan.

Bertemu dengan Disktra adalah sebuah keajaiban bagi Gitsya. Dia mendapatkan sesosok sahabat yang hilang. Sosok yang tadinya ditempati Awan. Hanya saja dia tahu diri. Disktra tidak sama dengan Awan. Disktra sama sekali tidak tertarik padanya. Dia hanya tertarik pada pengetahuan yang dimilikinya. Tidak lebih dari itu.

***

Waktu berjalan sudah semakin jauh. 5 tahun sudah persahabatan mereka berlangsung. Gitsya telah berumur 27 tahun dan Disktra 40 tahun. Persahabatan yang awalnya diniatkan oleh Gitsya hanya selama S2nya ini terus berlanjut hingga saat ini.  Karena setelah GItsya selesai dengan S2nya. Gitsya malah bekerja di universitas tempat dia mengampu studi masternya. Dia bekerja sebagai asisten Disktra. Karena itulah, persahabatan mereka malah menjadi semakin dekat. Ketika Dian-Fitria sudah sibuk dengan keluarga kecilnya masing-masing. Adik-adiknya pun kini sudah punya kehidupannya sendiri. Gitsya hanya punya Disktra.

Disktra sudah tahu masa lalu Gitsya, tentang Awan. Bukan itu saja, Disktra mengenal semua anggota keluarga Gitsya. Membantu ketika kedua adik Gitsya menikah. Gitsya sendiri sudah mengenal semua kakak, kakak ipar dan semua keponakan Disktra. Keponakan tertua Disktra malah pernah melakukan pendekatan dengan Gitsya. Memang lebih muda satu tahun. Tapi tak menjadi halangan bagi keduanya. Sayangnya, keponakan Disktra tidak sanggup mengikuti ritme kehidupan Gitsya.

 “Dis, lo nggak pernah ditanyain kapan nikah ya sama kakak-kakak lo?”

“Waktu gue diusia lo sih sering banget. Sampe capek gue.”

“Sejak adik bungsu gue nikah. Mulai deh gue di terror. Tapi nanti bakal berenti sendiri kan Dis?”

“Bukan berenti sih. Tapi frekuensinya berkurang.”

“sekarang?”

“Sekarang malah ditanya kapan gue nikah sama lo.” Pertanyaan yang sama dengan yang dilontarkan semua rekan kerjanya. Keluarga Gitsya tidak menanyakannya. Sebenarnya keluarga Gitsya berharap bukan Disktra yang menjadi pendamping Gitsya. Perbedaan usia diantara mereka menjadi alasan utama keluarga Gitsya. Disktra hanya berbeda 10 tahun lebih muda dari ibunda Gitsya. Lagi pula Gitsya selalu bilang, kalau Disktra hanya sahabatnya.

“Ponakan lo gimana? Nggak jadi dia deketin gue.” Gitsya mengalihkan pembicaraan.

“Tahun depan nikah dia. Bulan depan lamaran. Lo ikut ya…”

“Lah, nggak jadi deketin gue?”

“Nggak sanggup ngikutin ritme idup lo katanya. Lo aja sampe lupa kan, nggak pernah nanyain kelanjutannya. Kejadian itu udah hampir setahun yang lalu loh Git…” Gitsya baru menyadarinya. Ah, Gitsya memang terlalu sibuk.

“oh…” datar saja tanggapan Gitsya. Dia memang sudah setakberniat itu menjalin hubungan dengan siapa pun. Apalagi keponakan sahabatnya. Terasa sangat aneh.

 “Git, pemikiran lo tentang pernikahan masih kayak dulu?”

“Masih. Buat gue pernikahan itu takdir. Kalo udah jodoh, ngehindar gimana juga, jadi-jadi aja. Kalo nggak jodoh, ya… diusahakan kayak gimana juga nggak akan barengan. Dan tidak semua orang perlu dipaksa menikah. Ada orang-orang yang tidak ahli dalam pernikahan dan biarkan mereka menikmati hidupnya tanpa menanyakan hal tersebut. Semacam nggak semua anak harus pandai matematika lah…”

 “hm… jadi lo belum mau nikah?”

“belum laku gue Dis…”

“Apa karena kita terlalu deket kali ya? Jadi orang-orang takut mau ngedektin lo.”

“nggak bisa jadi pembenaran sih menurut gue. Kan kalo mau sama gue, dia juga harusnya bisa terima persahabatan gue dan lo yang aneh ini. Lo sendiri gimana? Masih takut berkomitmen?”

“Mulai meluntur sih…”

“Udah mulai bosen sendiri?”

“Kata siapa gue sendiri? Gue kan sama lo sekarang?”

“Bercanda lo nggak lucu Dis… Atau kalo maksud lo buat ngegombalin gue… Nggak mempan gue digombalin sama lo macam ni.”

“Hahaha… ih GR… Tapi serius deh… gue kayaknya bentar lagi mau ninggalin kesetiaan gue sama pengetahuan…”

“Waw… lo pacaran kok nggak cerita-cerita gue sih?”

“Belum pacaran Git… ya… lebih tepatnya, gue naksir cewek sih… ya semacam itu…”

Ini sebenarnya berita baik. Tapi entah mengapa ada yang mengganjal di hati Gitsya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s