Kepribadian Disktra (Episode 3)

Disktra memang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak punya waktu untuk bergaul dan bersosialiasi. Mencari pengetahuan tentang apapun sangat digilainya. Itu terjadi sejak dia SMA. Disktra termasuk salah satu laki-laki popular di sekolahnya ketika SMP. Dia banyak digilai perempuan. Sebenernya sampai saat ini pu masih seperti itu. Perbedaannya ada pada, ketika SMP, setiap enam bulan dia ganti pacar, bosan adalah alasan Dikstra yang klasik. Setiap perempuan yang dia inginkan untuk dijadikannya pacar selalu mengaguminya dan tak terlalu sulit untuk mendapatkan mereka. Tidak mendapat tantangan untuk mendapatkan semua perempuan-perempuan itu. Disktra bosan.

Maka dari itu, pada saat SMA, dia memutuskan untuk meraih hal yang sulit dia raih. Pengetahuan. Dan selalu saja dia mendapat tantangan di sana. Dia jatuh cinta pada pengetahuan. Tidak ingin apa pun kecuali pengetahuan. Sampai akhirnya waktu berjalan sedemikian cepat dan semua perempuan yang pernah dipacarinya kini telah menikah. Dia belum juga berpikir soal pernikahan. Dia terlalu malas untuk kembali berkompromi dengan perasaan wanita. Sudah lupa bagaimana caranya.

Disktra memang memiliki gaya yang cukup oke untuk membuat banyak orang menyukainya. Tetapi bukan berarti tidak ada yang tidak menyukainya. Tapi ketidaksukaan mereka terhadap dirinya terkadang ternetralisir dengan ketampanan yang dimilikinya. Agak miris memang, seringkali terdengar kata-kata seperti ini… “Pak Disktra itu nyebelin… bla-bla-bla… untung aja ganteng.” Ketika orang-orang bercerita tentang kekesalan mereka pada Disktra.

***

Ada sepuluh lembar pengajuan lanjut kuliah di meja Disktra. Dia harus mendapatkan dua orang terbaik dari sepuluh yang melamar. Selanjutnya, Disktra juga harus memilih satu yang mendapatkan beasiswa. Kini Disiktra telah memilih dua. Keduanya merupakan fresh graduate, salah satunya malah masih dalam pengerjaan tugas akhir. Dia mendapat rekomendasi khusus untuk mendapatkan beasiswa. Disktra memilih yang pertama, karena memang disana penelitiannya selama ini bergerak dan arah penelitian yang diajukan telah jelas. Sedangkan yang satu lagi adalah topik penelitian yang baru. Cukup beresiko sebenarnya. Seorang Permana Disktra yang begitu mencintai pengetahuan malah jadi tertantang. Disktra menginginkan topik yang diajukan oleh perempuan ini. Di lembar formulir pertama tertulis nama Gitsya Anugrah Putri. Disktra tertarik begitu dalam pada topik penelitian Gitsya. Ya, dia tertarik terhadap pengetahuan yang mungkin akan dihasilkan Gitsya.

Diskusi pertama Disktra dengan Gitsya malah membuat Disktra semakin tertarik dengan Gitsya. Baru kali ini ada seorang bimbingannya yang berani melakukan penilaian yang agak sedikit menghakimi. Menuduhnya sebagai ‘Averous’-ian. Disktra tidak tertarik pada Gitsya sebagai pribadi, apalagi wanita. Tapi sebagai sumber pengetahuan. Itulah alasannya sering menawarkan diri untuk mengantar Gitsya. Karena dia menginginkan pengetahuan yang ada pada bimbingannya yang kebetulan perempuan ini. Lebih dari itu? Disktra terlalu malas berpikir soal komitmen yang mungkin terjalin.

***

Melihat kedekatan Gitsya dan Disktra, banyak yang ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua. Disktra sering mengantar Gitsya pulang. Beberapa melihatnya berkali-kali. Pada akhirnya, Deti memberanikan diri untuk bertanya mengenai hubungan mereka berdua kepada Gitsya.

“Git, bukannya gue kepo ya. Lo sama pak Disktra ada hubungan apa sih?”

“Hubungan gimana maksudnya Det?”

“Gue nggak sekali dua kali lo ngeliat lo dianter pulang sama pak Disktra.”

“Oh… tanya aja deh sama dia. Kenapa dia suka maksa nganter pulang gue?”

“Hm… lo sendiri gimana? Lo nganggep pak Disktra itu apa?”

“Supir.” sahut Gitsya santai.

Hubungannya dengan Disktra memang lebih dekat dari hubungan Disktra dengan anggota grup yang lain. Gitsya tahu ini akan menjadi bom waktu. Ada kecemburuan sosial, entah dikarenakan dia sebagai perempuan yang paling dekat dengan Disktra, atau dikarenakan dia bimbingan pak Disktra yang paling diperhatikan oleh Disktra. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Sebagai bimbingan, sebelumnya bu Wida pun punya kedekatan yang sama dengan Disktra. Namun karena Dikstra menanggapi bu Wida sewajarnya. Maka tidak terjadi penghakiman terhadap bu Wida. Hal ini sangat berbeda dengan hubungan Disktra dan Gitsya. Seakan keduanya bersambut.

“Aje gile… Jahat amat lu!!!” ada sebuah kelegaan di nada bicara Deti.

“Det, lo harus tau ya seberapa nyebelinnya dia… gue disuruh lembur mulu sama dia… untung aja ganteng…”

Selain itu, Radit juga bertanya kepada Disktra.

“Pak, ada yang ingin saya tanyakan. Tapi bukan mengenai riset saya.”

“ada apa?”

“Kedekatan bapak dengan Gitsya agak mengganggu teman-teman yang lain.”

“Maksudnya?”

“Perhatian bapak ke Gitsya lebih dari perhatian bapak kepada yang lain”

“Itu kan karena topik penelitian Gitsya yang memang baru. Saya memberikan perhatian yang sama kepada bu Wida sebelumnya.”

“Tapi bapak tidak pernah mengantar pulang bu Wida.”

“Oh… soal antar pulang… Wida juga tidak pernah saya tahan melebihi magrib. Sedangkan Gitsya, selalu saya tahan sampai pukul 8 malam, karena memang penelitiannya lebih sulit dari Wida.”

Disktra memang sering menawari Gitsya untuk diantar pulang karena satu hal. Disktra tertarik dengan pengetahuan apalagi yang bisa didapatnya dari Gitsya. Disktra mengerti apa yang sedang terjadi. Hubungannya dengan Gitsya yang dia anggap biasa, tidak dianggap biasa oleh orang lain. Dia ingin tahu apa yang ada dalam pikiran Gitsya. Jangan sampai perempuan cerdas itu berharap komitmen dari dirinya.

***

Hari ini, Disktra kembali mengantar pulang Gitsya.

“Kamu denger bisik-bisik nggak?”

“Dengerlah. Tentang elo yang sering nganter gue pulang. Semua gosip tentang hubungan antara gue dan lo. Gue pengen teriak-teriak, salah idola lo tuh yang suka nahan gue sampe malem.” Hubungan mereka memang sudah sedemikian cair. Walau di kampus mereka berusaha seprofesional mungkin.

“hahahaha…. Lo sendiri gimana ngeliatnya?”

“Gue butuh beasiswa gue. Itu aja nggak ada yang lain.” Keberanian Gitya mengatakan ini sebenernya bisa menggambarkan kedekatan yang telah terjalin selama ini diantara mereka. Mereka sudah berani saling jujur.

“Berarti lo nggak berharap lebih kan?”

“Sok kecakepan lo.” Kata Gitsya yang ini membuat Disktra lega.

“Lo ditanya sama bu Wida nggak soal hubungan kita?”

“Deti yang nanya.”

“Terus lo jawab apa?”

“Gue jawab… gue nganggep lo sebagai supir gue.”

“Jahat banget lo!”

“Terus lo ngarep gue anggap sebagai pacar gue?”

“Auh…. Ngeri amat dengernya…”

 “Hah? Jangan-jangan emang lo nggak suka cewek lagi…”

“Gue suka cewek bukan berarti gue harus suka sama lo kan? gini deh… waktu S1 lo sempet diajar Riana nggak?”

“pembimbing gue tuh… disana mah lulusan S2 doank juga bisa jadi pembimbing. Nggak perlu sekolah terlalu serius sampe lupa kawin kayak lo.”

“Riana itu mantan gue waktu SMP.”

“Terus????”

“Gue cowok normal Git… gue suka sama cewek…. Gue tahu mana cewek yang oke dan mana cewek yang nggak oke.”

“Iya juga… Bu Riani kan cantik banget ya… Tapi lo nggak suka gue kan? Itu yang paling penting.”

“lu ngerasa secantik bu Riani nggak?”

“Hahaha… parah lo!!!”

“Gue cuman menyampaikan kenyataan Gis… Emang lo nggak secantik Riani kan? Gue cuman suka sama penelitian lo… dan obrolan ngalor-ngidul sama lo…”

“Masih soal Averous-ian, cinta, iman, materialis dll itu? Hahahaha… emang susah ya dapetin temen ngobrol masalah gituan… tapi lo harus siap kehilangan gue ya…. setelah penelitian ini selesai… gue nggak akan sudi ngehubungin lo lagi…”

Gitsya tak tahu. Setelah penelitian yang dilakukan Gitsya selesai, malah disanalah sebuah hubungan persahabatan yang lebih dekat lagi terjalin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s