Pertemuan (Episode 2)

“Eh, tadi gimana ketemu sama pak kaprodi?” sahut Dian dalam perjalanan menuju kosan mereka yang masih satu rumah itu.

“Cuman dikasih tahu, aturan-aturan beasiswanya. Aku harus jadi asisten dosen, asisten praktikum, dan juga asisten riset.”

“Supervisornya siapa?”

“Pak Disktra.”

“What? Seriusan Git? Pak Disktra yang ganteng itu?”

“Ganteng ya? Tapi emang bapaknya masih muda sih…”

“Menurut kamu umur dia berapa?”

“Antara 27-29an lah…beda 5-7 tahun sama kita…”

“ Anda salah!!! Bapaknya umur 35 Giitttt!!!! beda 13 tahun sama kita. Jadi sama kayak kamu gitu bapaknya, abis S1 langsung S2, terus langsung S3 lagi. Waktu aku tingkat satu bapaknya itu baru masuk githu… ”

“Kamu pernah diajar sama dia?”

“Lu harus tahu ya Git… bapaknya itu ya… nyebelin. Ogahlah diajar dia. Perfectionist banget. Siap-siap deh kamu sama dia.”

“Tapi ganteng loh Di… kata kamu kan githu tadi… bapaknya ganteng… hahaha…”

“Nah, itu dia. Untungnya ganteng. Kalau nggak, udah deh mati aja. Aku ngerti deh kenapa dia masih bujangan sampe sekarang.”

“Eh serius seganteng itu diusia segitu masih bujangan?”

“Lah, malah jadi mencurigakan kan Git….”

“Mencurigakan gimana?”

“Jangan-jangan nggak suka cewek lagi bapaknya.”

“hey… lo pikiran jauh amat dah. Udah ah berenti. Prasangka buruk sama orang.”

***

Namanya Disktra. Seperti nama sebuah algoritma. Tapi dia adalah anak dari sepasang pedagang. Orang tuanya punya sebuah toko yang lumayan besar di kota kecil tepat Dikstra berasal. Toko tersebut sanggup menghidupi mereka sampai Disktra dan kakak-kakaknya dapat menempuh pendidikan hingga sarjana di kota besar. Disktra memang merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara. Keponakannya ada yang sudah menginjak bangku kuliah. Hanya satu tahun dibawah Gitsya.

Untuk ukuran jaman modern seperti saat ini, seorang laki-laki masih berstatus bujangan diumur 30 tahun ke atas sangatlah biasa. Namun, hal ini menjadi tidak wajar ketika laki-laki tersebut sama sekali tidak memiliki kehidupan pribadi. Dan begitulah Dikstra terlihat.

“Oke kita mulai saja rapat siang ini. Saya akan menjelaskan tentang riset yang sedang berjalan di grup ini kepada anggota baru di grup ini, yaitu Deti dan Gitsya.” Begitulah cara Dikstra membuka diskusi. Selanjutnya Disktra memperkenalkan anggota riset yang sudah lama, ada bu Wida dan pak Radit yang sedang menempuh pendidikan doktoral. Salman yang juga sedang menempuh program magister dan ada di tahun terakhirnya. Sedangkan posisi Deti, sama dengan Gitsya, pendatang baru.

“Wida, saya kira anda sudah harus menjalani riset sendiri. Untuk Deti, kamu akan dipandu oleh Salman dan pak Radit karena riset kamu punya kesamaan dengan riset mereka. Dan kamu, Gistya, karena topik penelitian kamu baru, saya akan langsung membimbing kamu.” Kata pak Disktra. Gitsya tahu, ada mata-mata membunuhnya. Mata-mata bu Wida dan Deti. Gitsya jadi tidak enak hati.

“Pak, kalau saya barengan sama Deti dan Salman aja gimana pak?”

“kenapa kamu yang  ngatur? Topik penelitian kamu itu beda jauh sama mereka.”

“Maaf pak.” Gitsya menjadi serba salah. Dia risih. Selain bu Wida dan Deti pasti juga dia akan banyak mendapatkan pandangan mata yang sama dari penggemar bapak supervisornya ini. Dia tidak siap dengan itu.

“Baik, yang lain boleh keluar dan berdiskusi di tempat lain. Satu jam dari sekarang, kita akan berkumpul lagi disini. Untuk Radit dan Wida, saya minta progress yang saya minta kemarin ya. Untuk kamu, Gitsya, tetap diruangan, karena kita akan diskusi di sini saja.”

Semua orang kecuali Gitsya keluar dari ruangan. Gitsya agak risih, tapi dia ingat kata Dian, pak Disktra nggak suka perempuan. Pikiran yang agak sedikit jahat. Tapi, hanya itu yang membuat hatinya sedikit tenang.

“Gitsya, boleh saya tahu kenapa kamu berpikir untuk bergabung dengan Deti dan Salman?”

“Saya nggak enak sama bu Wida dan Deti pak.”

“Kenapa?”

“Kayaknya mereka naksir bapak deh. Saya nggak enak aja sama mereka.” kata Gitsya dengan polosnya.

“hahahaha… emangnya kamu nggak naksir saya?”

“HAH???? Gimana pak maksudnya?”

“hahahaha…. Saya bercanda.”

Gitsya hanya berani menggerutu dalam hati. Membenarkan Dian. Ini dosen satu nyebelin, rese’, sok kecakepan, arghhhh…. Sayangnya beasiswa Gitsya bergantung pada dia.

“Gitsya, dalam penelitian itu kita harus professional, harus objektif. Perasaan pribadi, kepercayaan, harus kita tanggalkan.”

Gitsya paham betul akan hal itu. Averous yang memulai pemahaman semacam itu. Bisa jadi penemuan penelitian kita bertentangan dengan apa yang kita percayai. Kita harus menanggalkan kepercayaan kita.

“Bapak ‘Averous-ian’ ya?” setengah kesal, Gitsya melontarkan pertanyaan ini.

“Kamu ternyata menarik juga ya Gitsya. Panggil saya Disktra aja kalau gitu. Nggak usah pake pak.”

Bukan merasa teristimewakan. Gitsya malah merasa terjebak. Makin-makin aja deh dia akan menjadi public enemy karena terlihat akrab dengan Disktra. Hanya terlihat. Karena Gitsya sama sekali tidak berniat untuk mengakrabkan diri dengan Disktra. Walau pada akhirnya dia terpaksa mengakrabkan diri, demi beasiswanya.

“Sabar Git… cuman dua tahun…” katanya Gitsya dalam hati.

Gitsya tidak pernah terbayang, kalau lelaki didepannya ini adalah satu satu nya manusia yang bertahan ada didekatnya ketika semua orang pergi mengurusi urusannya masing-masing. Dian, Fitra, adik-adiknya semua punya kehidupannya masing-masing. Dikstra lah yang bertahan paling lama.

***

Hari sudah berganti malam, hampir tengah malam. Ada sebuah sopan santun, sebelum ditanya kapan pulang oleh Disktra, semua anggota peneliti tidak boleh ada yang pulang. Dan kali ini tinggal Gitsya sendiri. Karena topik penelitian yang diambil relatif baru, Gitsya memang perlu bekerja lebih keras dibanding anggota kelompok riset yang lain.

“Git, kamu udah resume berapa paper.”

“Baru nemu 5 pak, masih 5 lagi. Susah cari yang sesuai pak.”

“Git, no ‘Pak’.”

“oh iya, Dis maksudnya.”

“hmm… emang susah sih penelitian kamu itu… belum banyak yang neliti…. sini deh… saya nemuin satu buku. Kamu resume buku ini aja. Kapan kamu pulang?”

“oh. Secepatnya pak.”

“No ‘Pak’ Git… sekali lagi saya denda kamu ya kalo panggil saya pak lagi… perlu saya anter?”

“hm…. Nggak usah… DIS…. Kosan saya deket.”

“udah nggak papa. Saya anter aja.”

Disinilah persahabatan ini dimulai. Banyak yang mereka bicarakan di dalam. Mengenai banyak hal yang tidak disangka bisa dibicarakan oleh Gitsya selain kepada Awan.

***

Sesampainya di kosan…

“Git, lo dianter pulang siapa?” beberapa bulan di kota besar. Gitsya sudah bisa menyesuaikan diri dengan bahasa kota besar.

“Jangan heboh tapi ya. Gue nggak siap jadi public enemy fans club nya pak Dikstra.”

“Kamu  dianter pak Disktra?”

“Gue udah nolak, tapi dia maksa. Dan emang salah dia juga sih nahan gue lama-lama di lab. Dan gue nggak ngerti lagi deh ya sebel banget sama dosen lo itu ya….”

“untung aja ganteng kan?”

“ah, gantengnya ilang begitu dia sok kecakepan.”

“Hah?”

Gitsya pun menceritakan kejadian beberapa waktu lalu.

“lagian lo make bilang bu Wida dan Deti naksir dia. Btw, lo naksir dia nggak sih?”

“Au ah Di. Gua udah nggak napsu sama begituan. Tapi Disktra asik juga lo dijadiin sahabat Di… Tadi di mobil kita ngobrol ngalor ngidul githu…”

“Apa? Disktra?”

“Dia yang minta jangan dipanggil pak.”

“sama lo doank?”

“iya. gue didenda kalo panggil dia pak. rese kan dia?”

“Pak Disktra nggak biasanya gini loh Git.”

“Heppp… kan lo sendiri yang bilang dia nggak suka cewek. Udah ah.”

***

Sepulang mengantar Gitsya, Disktra pulang ke rumah kakaknya. Memang disana dia tinggal.

“Dis…. baru pulang jam segini?” Mbak Yuni namanya. Kakak tertua Disktra.

“ngawasin bimbingan mbak.”

“kamu tuh ya kerja jangan terlalu keras. Cari pacar sana. Jangan terlalu asik kerja.”

“kalau nggak ada uang juga, nanti mana ada yang mau jadi pacar aku mbak…”

“Ya… mbak Yuni sih cuman ngingetin kamu aja. Kamu itu sekarang udah nggak muda lagi. Masa muda kamu terlalu serius belajar dan kerja sampai kamu nggak punya waktu buat bergaul. Fans kamu tuh banyak lo…”

“Malah karena itu mbak… saya cenderung menjaga jarak, supaya mereka tetep nge fans sama saya. Saya nggak mau terlihat lemah. Kalau tahu kelemahan saya, saya yakin mereka nggak akan nge fans lagi sama saya. Sampai ada seseorang yang sadar saya itu tidak suka dikagumi. Saya itu manusia biasa.“

“Bilang aja kamu nggak bisa ngedeketin cewek.”

“Singkatnya emang gitu sih mbak…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s