Sederhana saja

Aku agak malu mengakuinya dan mengambil contoh.

Kira-kira 10 tahun yang lalu aku membaca kisah Dimas dan Ruben di buku pertama Supernova. Aku agak bingung dengan penjelasan disana. Tentang perasaan cinta yang tidak membara namun hangat. Ya. Seumur itu semua rasa seperti membara. Aku kenal kata cinta yang sederhana namun tidak mengerti apa artinya. Belakang ini aku mulai mengerti apa artinya.

Baik. Aku memang merasakan perasaan membara itu. Sudah lewat. Aku tak pernah menyesal pernah merasakannya, walau mungkin kisah itu tidak sempurna. Tidak timbul dalam ikatan yang baik. Tapi, aku tetap bersyukur pernah merasakannya. Dan aku merasa cukup. Selesailah masa membara itu. Karena rasanya memang melelahkan.

Semuanya akan menjadi lebih sederhana. Bagaimana dirimu memandang sebuah hubungan. Bagaimana dirimu memandang kehidupan.

Dan sejujurnya aku merasa cukup dengan apa yang aku miliki hari ini. Cukup tentang apa yang aku dapatkan. Termasuk cinta darinya. Cinta yang diawali dengan membara dan sangat tidak sederhana. Perjalanan yang melelahkan dan juga tidak sederhana.

Namun, kini menjadi begitu sederhana, bisa berbincang dengannya dalam beberapa percakapan yang mungkin tidak beguna. Tanpa adanya tujuan yang jelas dari perbincangan itu. Bagiku semua sudah cukup. Aku kembali merasakan perasaan aman itu.

Ya. Aku kembali menyukai Kahitna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s