Cendrawasih (Episode 7 – Tamat)

Awan sedang menunggu Nuri datang. Katanya ada titipan dari Telaga. Nuri menghubunginya setelah tiga tahun pertemuan terakhir mereka. Pertemuan terakhir yang diakhiri keharuan. Awan kini telah kembali dari Jerman dan mungkin akan menetap selamanya di sini. Kini dia sebatang kara. Ayah dan ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan 6 bulan lalu. Kini Awan sebatang kara.

Di pintu masuk Nuri celingukan mencari Awan. Awan memanggil Nuri dengan mengangkat tangan sambil berkata, “Nuri! Disini!”

Nuri mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah undangan. Awan sudah siap dengan ini.

“Kok nggak bareng Telaga nyerahinnya?”

Nuri tahu apa prasangka Awan.

“Kenapa baru sekarang?”

“Baca dulu undangannya…” sahut Nuri.

“Ini undangan kamu dan Telaga kan?”

“Bukan. Telaga akan menikah dengan teman SMAku. Aku yang jodohkan.”

Awan terperangah dengan perkataan Nuri.

***

Setelah Awan pergi. Nuri dan Telaga memang semakin dekat. Namun, ternyata ada yang mengganjal di hati Nuri. Semakin hari bukannya semakin yakin, malah jadi semakin ragu. Telaga memang tidak berubah. Namun, padangan orang terhadap Telaga tentu banyak berubah dari pandangan orang tentang Telaga dulu. Nuri sadar, Telaga tidak lagi hanya miliknya. Dia harus siap dibenci dan dicintai orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya. Sementara hidup yang dia inginkan adalah hidup yang bebas dari penghakiman publik. Yang tidak menjadikannya punya tanggung jawab untuk tidak mengecewakan sebanyak-banyaknya orang. Dia tidak siap dengan itu.

Dia semakin merasa jarak tak terlihat antara dirinya yang sekarang dengan Telaga yang sekarang menjadi begitu jauh. Tidak lagi seperti dulu. Caranya memandang kehidupan, kehidupan yang dia inginkan menjadi begitu jauh dengan yang ditawarkan Telaga. Nuri tahu dari Keisya bahwa Telaga menunggunya seperti orang gila. Tapi Nuri tetap tak yakin akan Telaga.

Telaga membutuhkan pasangan seperti cendrawasih. Burung indah yang tidak punya keinginan terbang yang tinggi. Sedangkan dia seorang Nuri. Biasa saja dan ingin terbang bebas di angkasa.

“Mungkin dulu dia nggak bisa ngelupain gue karena gue belum nolak dia deh Key. Jadi, kayak ada rasa penasaran belum nyoba githu loh Key. Tapi gue sekarang jadi  bingung kan nolaknya. Gue nggak mau hilang sahabat juga Key.”

“Mau gue kenalin sama ibunya nggak Ri? Aga itu dengerin ibunya banget. Nggak baiklah lo ngegantungin Aga terus.”

“Ri, selanjutnya hidup lo gimana? Balik ke Awan?”

“Lo tahu kan itu nggak mungkin.”

“Terus?”

“Gue nggak yakin Key. Tapi yang saat ini gue yakin adalah… Telaga bukan buat hidup gue.”

Nuri kini perlu berpikir keras bagaimana cara menjelaskan apa yang dia inginkan pada ibunda Telaga. Harus berhati-hati. Apalagi ibunda Telaga tahu dialah perempuan yang begitu dinanti anak lelakinya. Perempuan yang ditunggu anak lelakinya satu windu lamanya.

***

Keisya merancang pertemuan Nuri dan ibunda Telaga. Tanpa diketahui Telaga. Keisya dan Nuri tak ingin Telaga salah paham dan malah jadi membuat semuanya lebih rumit.

“Jadi ini yang namanya Nuri.” kata ibunda Telaga.

“Iya Tante…”

“Kenapa kok kalo diajak Telaga kenalan sama Tante dan Om nggak pernah mau.”

Nuri pun menjelaskan maksudnya panjang lebar, sejelas dan selembut mungkin. Dia tidak ingin ada yang terluka, namun tidak juga ingin ada sesuatu yang kurang jelas.

“Tante ngerti Nuri… Makasih banget loh buat Nuri yang udah mau jujur sama Tante…”

“Kalau solusinya Aga kita jodohin aja gimana Tante?” usul Nuri.

“Tante dan Keisya udah beberapa kali mau jodohin dia Nuri… Cuman ya githu…”

“Kalo lo yang jodohin sapa tahu dia mau Ri…” sahut Keisya.

“Ide yang bagus…” sahut ibunda Telaga.

Mulai dari situlah Nuri mencoba menjodohkan Telaga. Awalnya Telaga bingung. Hanya pada akhirnya dia mengerti. Nuri menolaknya. Sampai akhirnya dia menerima tawaran Nuri. Sulit mencari sosok yang bisa membuat Telaga jatuh cinta. Beberapa kali Nuri tak berhasil. Butuh waktu dua tahun sampai akhirnya Nuri menemukan calon yang cocok untuk Telaga.

***

“Boleh aku datang sekali lagi pada orang tuamu?” sahut Awal setelah Nuri selesai bercerita.

“Kalau kamu tidak jera, aku tak masalah. Hm… aku sudah dengar tentang orangtuamu. Aku turut berduka cita.”

Awan hanya tersenyum. “Terimakasih. Aku sekarang sebatang kara dan luntang-lantung. Mungkin orang tuamu masih akan menolakku.”

“Aku juga sekarang sudah tidak lagi muda. Mungkin orang tuaku lebih melunak.”

Nuri memang tidak yakin Angin akan membawa Awan kembali. Hanya saja dia yakin bahwa menetap bersama Telaga di salah satu sudut bumi bukan impiannya. Awan membawanya bebas, tidak hanya berdiam di satu sudut bumi. Membawanya merdeka bersama Angin. Berkeliling dunia. Kalau pun tidak bersama Awan, Nuri akan hanya terbang berdua saja bersama Angin, tidak akan menetap dia satu sudut dunia bersama siapa pun, apalagi sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s