Awan (Episode 6)

Saat bertemu Awan, Nuri baru saja tercerabut dari akarnya. Dia sendiri. Tidak tahu apapun tentang lingkungan barunya. Tidak mengenal siapa-siapa. Ya, disaat itulah Awan datang.

“Awan.” Katanya mengulurkan tangannya.
“Orang Indonesia juga? Udah berapa tahun disini?”
“Setidaknya kalau tidak mau salaman, sebutin nama.”
“Nuri.”

Itulah perkenalan mereka pertama kali. Sejak saat itulah Nuri sering bersama dengan Awan. Awan mengajarinya banyak hal dan memperkenalkannya dengan banyak orang. Awan yang selalu ada disaat dia butuh. Di saat tidak ada yang sudi bersamanya. Lebih karena budaya individualis daripada karena masalah kepribadian. Walau sedikit kaget budaya, Nuri bisa menghadapinya dengan luwes. Tentu saja dengan bantuan Awan.

“Tidak ada yang marah nih kalau saya nemenin kamu terus?” kata Awan suatu ketika.

Tetiba Nuri teringat Telaga. Bukan Handi atau pun Kaisar. Telaga sahabat terdekatnya. Entah karena apa.

Kaisar adalah seseorang yang sangat dia kagumi. Seperti dia kepada Afgan, Ari Lasso, dan banyak seniman lain yang dia kagumi. Hanya sebatas itu.

Sedangkan Handi adalah seseorang yang begitu ingin dekat dengannya. Nuri bukan tak mau. Hanya tak yakin. Nuri kini mengerti kenapa dia tidak yakin dengan Handi. Karena Handi menginginkannya sebagai perempuan. Terkadang dia jengah ketika Handi melindunginya secara berlebihan. Nuri ingin juga dipandang sebagai manusia yang sama dengan dia, bukan hanya sebagai perempuan. Hubungan dengan Handi berakhir ketika Nuri pergi.

Sedangkan Telaga. Dia agak bingung tentang perasaan dan hubungannya dengan Telaga. Telaga membuatnya nyaman. Membuatnya tidak takut untuk jujur. Dan yang paling penting, Telaga adalah teman intelektualnya yang sangat menyenangkan. Tidak banyak yang bisa Nuri ajak bicara tentang hal yang ia bicarakan dengan Telaga. Begitulah juga hubungannya dengan Awan. Semoga uraianku yang tidak lugas ini bisa dimengerti.

“Harusnya aku yang bertanya begitu. Udah main sama berapa perempuan?” Nuri malah balik bertanya.
“Seleraku lokal.” hanya itu yang dikatakan oleh Awan. Nuri mengerti maksud Awan. Awan menyukai perempuan Indonesia.
“Agak bahaya sih kalo seleranya lokal.”
“Kenapa?” Awan bingung.
“Kalau kamu menyukai perempuan lokal artinya kamu merindukan perempuan yang rela diposisikan dibawah lelakinya. Berpikir bahwa selama ini aku bersahabat dengan orang yang ternyata punya pikiran dan selera seperti itu membuat aku bingung mengapa aku bisa.”
“Apakah kamu menganggap aku memposisikan dirimu dibawah aku?”
“Apakah selama ini kamu menganggap aku perempuan?”
“Ya.”
“Kamu berharap kita bersatu?”
“Ya.”

Nuri agak terperangah. Dia tahu, itu artinya Awan menawarkan komitmen untuk bersatu.

“Kapan?”
“Minggu depan kita pertemukan keluarga kita.”
“Aku tidak mau persahabatan ini berakhir.” kata Nuri.

Awan mengerti maksud Nuri. Nuri berpikir ketika persahabatan dinodai percintaan. Dan pada akhirnya percintaan itu berakhir. Maka persahabatan itu pun akan berakhir. Dia sulit mencari sahabat, teman intelektual. Dia tidak mau kehilangan satu pun.

“Aku akan jamin persahabatan ini tidak akan berakhir.” Kata Awan.

Dan seminggu kemudian, mereka mulai menyadari bahwa komitmen untuk bersatu itu tidak mungkin. Tapi mereka tetap berharap bisa bersatu. Sampai sudah satu tahun mereka berusaha, mereka menyadari, bahwa bersatu bukanlah takdir mereka. Tidak ada lagi yang bisa diperjuangkan. Tidak ada lagi yang bisa dilanjutkan. Kecuali persahabatan.

Meski komitmen itu berakhir, Awan dan Nuri tetap bersedia menjadi sahabat masing-masing. Termasuk ketika Nuri bimbang dan bercerita tentang Telaga. Awan tahu, dia akan segera kehilangan Nuri, pun sebagai sahabat. Awan terus mengingatkan bahwa tidak ada yang bisa Nuri harapkan dari hubungannya dengan Awan.

“Ri, Telaga laki-laki yang baik. Aku tahu aku bisa tenang meninggalkanmu sekarang.” kata-kata itu yang diucap Awan dipertemuan terakhir mereka.

Awan harus kembali ke Jerman. Keduanya menangis. Menangisi bahwa kini, persahabatan pun mereka tidak bisa lanjutkan. Lebih mengharukan daripada ketika saat mereka memutuskan komitmen hubungan mereka untuk bersatu.

Awan pun pergi. Bersama angin. Dan mungkin tidak akan kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s