Ayu vs Pram

Akhirnya aku berani membaca tulisan Ayu Utami. Memang ada beberapa bagian yang agak membuatku berhidik. Tapi setidaknya tidak membuat aku ingin muntah seperti ketika aku membaca Gadis Pantai nya Pram. Perempuan memang perlu sadar terhadap bahaya dan kekuatan yang dimiliki oleh tubuhnya. Cerita Gadis Pantai pernah dekat dengan pengalaman generasi sebelumku. Cukup jauh secara generasi, tapi cukup dekat secara darah. Mungkin karena itu aku meresapi dengan kadar yang agak berlebihan kisah Gadis Pantai. Tulisan Ayu tidak membuat aku terbawa kebenciannya terhadap agama karena memang  Ayu tidak membenci agama seperti Pram.

Ayu hanya membenci patriarki yang ada didalamnya. Tapi saya juga tidak terbawa dalam kebencian Ayu. Di umurku yang sekarang, aku menilai cara menulisnya seperti perempuan yang lagi ngambek, emosional. Beberapa tidak perlu terlalu dianggap serius. Mungkin juga pendapat saya ini karena saya terlalu dangkal memahami tulisan Ayu.

Saya sendiri kemudian sadar. Saya yang selama ini sedikit banyak melakukan kritik terhadap feodalisme dan patriarki. Diam-diam ternyata menikmati keduanya. Saya menikmati menjadi pihak yang dilindungi laki-laki, menjadi tanggung jawab laki-laki. Saya menikmati rasa hormat yang datang dari orang yang melihat kedudukan saya. Ya. Saya ternyata menjadi penikmat kedua sistem yang selama ini saya tidak suka habis-habisan. Lucu sekali rasanya menyadari hal itu.

Akan tetapi ada banyak kegelisahan yang Ayu rasakan sama dengan apa yang pernah saya rasakan. Mengenai nilai dan sistem nilai. Dia mempertanyakan mengapa kita harus tunduk pada sistem nilai yang dibentuk masyarakat. Citra diri yang ditetapkan lingkungan dan masyarakat terhadap diri. Dilain pihak, sistem nilai yang tidak perlu diturunkan hanya karena ingin kita masuk ke dalam kriteria sistem. Aku juga pernah merasakan hal-hal yang persis dirasakan Ayu dalam tulisannya. Tetap saja, menurut dia, kualitas soal ujian tidak boleh diturunkan sesuai kemampuannya hanya demi meluluskan dia. Tentang keadilan juga sedikit disinggung Ayu. Kegelisahan yang juga pernah aku alami. Kegelisahan yang kini sudah sudah aku jadikan lulucon bersama sahabat-sahabat  don’t care ku.

Pertanyaan dan kegelisahan yang Ayu ajukan untuk pembaca pikirkan telah aku temukan jawabannya. Ayu hanya bertanya, dan mungkin sengaja tidak memberikan jawaban. Dia tidak ingin terlalu ikut campur dalam pencarian arti pembacanya, mungkin.

Ayu juga membahas kesadaran akan pilihan. Pilihan yang dipilih secara sadar. Maka ketika salah, yang salah adalah kita yang memilih pilihan itu. Bukan yang lain termasuk Tuhan. Dengan begitu, kita tidak akan sekali-kali merasa bimbang dan kecewa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s