Melankolis vs Maskulin

Beberapa orang yang bercakap dengan saya ada yang tahu sekarang saya lagi suka sama lagu-lagunya Ari Lasso dan lagu Dewa 19 jamannya Ari Lasso. Dan saya menemukan satu lagu yang sangat-sangat rumit. Dan aneh banget gue bisa suka…

Dewa 19 : Kirana

Kucoba memahami tempatku berlabuh
Terdampar dikeruhnya satu sisi dunia
Hadir di muka bumi tak tersaji indah
Kuingin rasakan cinta…

Lusuh lalu tercipta mendekap diriku
Hanya usang sahaja kudamba Kirana
Ratapan mulai usang, nur yang kumohon
Kuingin rasakan cinta..
Manis seperti mereka…

Ayah bunda tercinta satu yang tersisa
Mengapa kau tiupkan nafasku ke dunia
Hidup tak kusesali mungkin kutangisi
Kuingin rasakan cinta…

Peluhkupun mengering menanti jawaban
Tak akan pernah usai cintaku padamu
Hanya kata yang lugas yang kini tercipta
Kuingin rasakan cinta…

S’makin jauh kumelangkah
S’makin perih jejak langkahku
Harikupun semakin sombong
Meski hidup terus berjalan…. terus berjalan

Kirana jamah aku jamahlah rinduku
Hanya wangi terurai yang dapat kucumbu
Ayah bunda tercinta satu yang tersisa
Mengapa kau tiupkan nafasku ke dunia
Hidup tak kusesali mungkin kutangisi
Kuingin rasakan cinta
Manis seperti mereka
Tulus seperti adanya
Suci seperti dirimu
Ingin rasakan cintamu

Kirana jamah aku jamahlah rinduku
Tak akan pernah usai cintaku padamu
Hanya kata yang lugas yang kini tersisa
Kuingin rasakan cinta……

Lagu ini merana banget nggak sih… kalo yang aku liat… intinya lagu ini tuh ada di bait

“Hidup tak kusesali mungkin kutangisi
Kuingin rasakan cinta
Manis seperti mereka
Tulus seperti adanya
Suci seperti dirimu
Ingin rasakan cintamu”

Saya merasa ada perubahan yang cukup signifikan dalam playlist saya. Yang tadinya Afgan-Kahitna jadi Ari Lasso-Dewa 19. Dan saya mencoba menganalisis mengapa terjadi perubahan ini. Saya ingat betul playlist saya waktu SMP-SMA campur-campur dah playlist saya yang sebenarnya lebih banyak playlist ibu bapak saya. Bimbo lah, Chrisye lah. Ada teman suka Avril Levigne saya ikut, ada teman suka Linkin Park saya ikut, Bibi suka Padi ikutan juga. Sampai suatu saat ketika kuliah di Telkom, dalam analisis saya, seumur hidup saya, saat itulah saya sangat-sangat-sangat korelis. Sebelumnya saya merasa alur yang mengalirkan saya menuju pada ujung yang benar. Membentuk karakter diri saya sesuai idealisme yang saya punya (ceile… sok idealis). Lalu saya menjadi harus sangat keras terhadap saya sendiri, karena alurnya sudah nggak beres. Udah githu ketemu sama teman berbagi yang plegmatis-melankolis (tapi nggak romantis, bt nggak sih?).  Dia membuat saya merasa aman walaupun saya harus keras terhadap diri saya sendiri sehingga saya merasa tidak takut untuk menjadi manja. Maka dari itu, saya merasa ruang melankolis saya, rasa manja saya, perlu pelampiasan. Jadilah saya suka lagu-lagu melankolis dengan lirik-lirik yang cukup feminim walau dinyanyikan oleh laki-laki.

Dan kini, saya merasa saya tidak perlu korelis lagi. Teman berbagi yang dulu juga sudah tidak ada. Saya tidak perlu keras pada diri saya, tapi saya merasa kalau saya tidak bisa lagi bermanja. Hal ini membait saya merasa membutuhkan lagu-lagu yang lebih maskulin, dan tidak perlu terlalu melankolis. Mungkin karena itu. Lagunya Ari Lasso sebenernya romantis juga sih. Tapi nggak melankolis dan sangat maskulin.

Afgan : Cinta Tanpa Syarat

Kini kita sudah semakin jauh
Bahkan sulit untuk kembali
Kuberi semua yang ada padaku
Tanpa syarat apapun

Aku ingin terus ada dihatimu
Aku lelaki yang tak bisa mudah menggantimu
Meski aku takut akan kelemahanmu
Ku takkan lari karena cintaku sempurna

Ari Lasso : Arti Cinta

Arti cinta yang sesungguhnya
Kan kau dapat dari diriku
Meski aku bukanlah lelaki
Yang kau impi-impikan

Selama jantungku masih berdetak
Selama itu pula engkau milikku
Selama darahku masih mengalir
Cintaku pasti takkan pernah berakhir

Beda nggak sih? Tapi ini saya ambil dua lagu yang agak ekstrem perbandingannya. Mungkin intinya adalah sama. Keduanya merayu perempuan untuk perjaya bahwa dialah laki-laki yang paling oke buat si perempuan. Tapi, ada syair yang menunujukan keraguan yang menurut saya sangat tidak maskulin. Yang satu lagi cenderung kepedean dan sangat egois. Udah tahu dirinya itu bukan laki-laki yang diimpikan perempuannya tetep aja ngerasa perempuannya itu miliknya. Narsis banget kan? Tapi saya malah merasa dilindungi. Nggak papa lah merasa dilindungi oleh lagu. Hahahaha… watir  ya ih…

Ya sudahlah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s