Satu Windu (Episode 4)

Ini adalah tahun ke delapan setelah Nuri pergi. Semua yang menjadi impian Telaga telah terwujud. Dia terpilih jadi tampuk kepemimpinan kampus. Mengalami banyak sekali gejolak yang sangat dia nikmati. Banyak juga wanita menarik yang telah dia temui. Tapi entah mengapa tidak ada yang bisa membuatnya merasa seperti Nuri.

Telaga adalah lelaki biasa yang juga menyukai wanita. Teman-temannya terutama Bram sudah berusaha mempertemukan Telaga dengan beberapa wanita yang menurut merak, “Aga banget”. Namun Telaga hanya bergeming sejenak, “Oke punya juga.” tapi tak ada satu pun hubungan yang berlanjut lebih serius. Ada saja alasan Telaga untuk menjauh dari wanita yang diajukan Bram dan teman-temannya yang lain. Seakan dia mendekati wanita-wanita  yang diajukan teman-temannya itu hanya demi menghargai usaha teman-temannya. Teman-temannya yang mengasihani kesendirian dalam kesempurnaan pribadinya. Sementara dia merasa sama sekali tidak sempurna. Tanpa Nuri, seperti semuanya kosong. Keisya tahu betul seberapa kompleks alasan Telaga menyukai Nuri. Jadi… Keisya menyerah sejak awal. Tak pernah dia mencoba mendekatkan Telaga dengan siapapun.

“Ga, gue sama Keisya udah punya anak. Lu udah master bro. Kerjaan juga udah tetep dan oke punya. Apa lagi yang lu cari?”
Telaga hanya tersenyum. Dia juga merasa kosong dengan semua pencapaiannya itu. Ibunya pun sudah mulai bertanya soal kemungkinan tempat Nuri diganti wanita lain. Telaga juga hanya tersenyum ketika ibunya bertanya masalah seperti ini. Ibunya juga tahu betul, anak lelaki sematawayangnya itu sanggup menunggu Nuri sampai akhir hayatnya. Meski mungkin Nuri sudah berkeluarga saat ini. Ibunya tahu, Telaga mampu menunggu Nuri sampai menjadi janda. Namun, Telaga tak pernah mengatakannya. Karena Telaga tahu itu akan menyakitkan hati ibunya. Ibunya tahu semuanya tanpa harus Telaga mengatakannya.

“Semua cewek yang gue ajuin ke lo selalu kurang smart dimata lo. Seinget gue Nuri nggak se smart itu juga deh Ga. Kalo dibanding sama Mirna yang pernah gue kenalin, Nuri itu nggak ada apa-apanya”
“Smart itu nggak cuman soal pelajaran. Kalo gue cari kuli pintar sih banyak kali Bram. Cewek yang cumlaude di jurusan gue juga banyak.”
“Terus?”
Lagi-lagi Telaga hanya tersenyum.

Tetiba ada dua anak manusia yang seperti sepasang kekasih melintas di depan Bram dan Telaga.
“Ga, ceweknya kok mirip Nuri ya.”
“Ah Bram lu jangan kayak githu donk…”
“Serius Ga. Itu Nuri. Coba gue samperin ya…”

Beberapa saat kemudian Bram, Nuri dan seorang pria menghampiri mereka.
“Aga? Udah lama banget kita nggak ketemu. Kamu apa kabar?”
Ternyata dia memang benar Nuri. Nuri yang telah menghilang delapan tahun lamanya.
“Ya ampun Nuri… apa kabar? Dikirain udah keasikan di luar dan nggak mau balik ke Indo lagi.” kata Telaga berusaha sesantai mungkin.
“Balik lah. Eh iya, kenalin nih sahabat gue waktu di Jerman, Awan.” Terasa sangat penekanan kata sahabat oleh Nuri.
“Sahabat kok jalan berdua?” kata Bram memancing.
“Ah, Bram, kayak kita nggak pernah jalan berdua aja dulu.”
“Lu sama Aga kali yang suka jalan berdua. Gue perasaan mah nggak pernah jalan berdua sama lu. Pasti bertiga kalo nggak bareng Keisya, bareng Aga juga.” Bram mempertegas seberapa dekat Telaga dan Nuri dahulu.

Kebersamaan Nuri dan Telaga memang tidak pernah disadari secara langsung oleh Telaga. Tiba-tiba saja mereka jalan berdua. Telaga selalu menahan jarak antara mereka berdua. Telaga belum mampu bertanggung jawab saat itu. Hal itu yang menyebabkan Nuri kebingungan dengan maksud kedekatan yang terasa begitu dikondisikan oleh Telaga. Namun, Telaga tidak pernah secara terang-terangan menyatakan ketertarikannya terhadap Nuri. Berbeda dengan Kak Handi.

Saat ini pun tidak ada yang berubah dari penampilan Nuri. Kerudungnya masih se dada. Walau kini bibir tak lagi polos, ada sedikit guratan lipstik. Namun, entah bagaimana Telaga punya sebuah keyakinan bahwa Nuri yang kini tidak pernah berubah dari Nuri yang pergi satu windu yang lalu.

“Bram udah punya satu anak. Keisya juga udah kata Bram. Lu gimana Ga?”
“Telaga nungguin lo tahu nggak Nur.” Bram lagi-lagi menjelaskan seberapa Telaga dekat dengan Nuri. Lebih kepada Awan daripada kepada Nuri. Bram membantu Telaga mengorek kedekatan Nuri dan Awan yang sebenarnya.
“Haduh… nungguin gue nikah mah kapan kali. Calonnya aja kagak ada.”
“Sebelah lo?” Kata Bram menunjuk Awan.
“Haduh… ngarepin dia mah. Kapan tahu gue nikahnya. Jadi dia mah cuman sahabat aja lah buat gue.”

Banyak kisah yang tersirat disana. Telaga hanya mampu terpaku. Sampai pada akhirnya dia memberanikan diri bicara.
“Nuri, gue minta nomor lo donk. Sapa tahu kita bisa ngobrol berdua lagi kayak dulu.”

Ada tatapan cemburu dari Awan yang cukup jelas. Namun, ada sebuah kisah yang panjang yang telah terjadi sehingga Awan tahu, dia tidak bisa mencegah Nuri untuk kembali kepada Telaga.

Telaga juga menyadarinya. Ada sebuah kisah yang telah berakhir di antara Awan dan Nuri. Semua tatapan cemburu dan ketidakmampuan Awan menyangkal semua perkataan Nuri bisa menggambarkannya. Sisa-sisa guratan cinta keduanya masih jelas. Keduanya sudah bisa terima kisah cinta diantara mereka yang telah selesai tapi belum bisa merelakan semua rasa di antara mereka hilang. Keduanya. Tapi Nuri terlihat lebih gamang. Mungkin karena dia perempuan. Telaga bisa melihatnya jelas di mata Nuri. Dia tahu bagaimana menentramkan Nuri di saat seperti itu. Nuri belum berubah.

Dalam tatapan penuh arti Telaga pada Nuri, Nuri bisa mengerti.
“Kisah yang dulu tidak bisa kita mulai karena kita tahu tidak ada yang bisa dilanjutkan. Kini bisa kita mulai.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s