Presiden dan Budaya Jawa

Saya tidak pernah berkomentar soal pribadi. Apalagi pribadi seorang politikus. Secara fisik, beliau sering sekali dibully. Saya tidak suka dengan caranya itu. Seakan-akan orang yang membully itu udah paling ganteng sedunia aja. Sejak awal pencalonannya, saya sudah khawatir. Saya relatif punya intuisi yang kuat akan hal-hal yang bersangkutan dengan kemenangan dan kekalahan kompetisi politis. Intuisi saya mengatakan bahwa dia yang akan menjadi presiden.

Kenapa saya khawatir? Saya telah banyak melihat gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinannya membuat saya ngeri sendiri. Yang ada dalam bayangan saya, sangat mungkin terjadi situasi yang selama ini saya rasakan di kampus. KOSONG. Pemerintahan tidak punya kekuatan. Pemerintahan seakan tidak ada. Kalau skalanya kampus, it still OK. Negara???  Waw! Dan ternyata, di beberapa sektor memang begitu. Saya tidak berkompeten mengomentari hal ini. Jadi ya sudahlah.

Saya pribadi punya sensitivitas tersendiri terhadap Jawa. Walau dalam darah saya juga mengalir darah jawa yang kental. Mungkin karena terlalu banyak referensi kritik terhadap budaya Jawa yang mendominasi pikiran saya. Juga ada hal-hal traumatik yang saya alami sendiri selama bergaul dengan orang-orang dengan budaya Jawa yang mengakar.

Tapi saya harus berpikir lebih objektif terhadap pak pres ini (juga kebudayaan jawa). Untuk ukuran seorang yang mampu lebih, gaya hidup beliau sangat sederhana. Kedua anaknya bersekolah dari SMP di Singapura. Orang dengan kekayaan pas-pasan tidak akan mampu seperti itu. Ini juga yang saya kagumi dari teman-teman saya dengan kebudayaan jawa. Gaya hidupnya sangat sederhana. Juga soal kejujuran. Presiden kita ini juga sangat jujur. Maka, ketika dia tidak membaca apa yang ditandatanganinya pun, dia jujur.

Memang Sukarno, Suharto, Gusdur, dan SBY pun orang jawa. (Megawati tidak bisa disebut murni jawa. Fatmawati berdarah bengkulu asli.) Tapi coba kita lihat. Pemikiran Sukarno banyak terkontaminasi pemikiran Eropa buah dari politik etis saat itu. Dalam benak Suharto dan Sby tertanam kemiliteran. Dan Gusdur yang tak memerintah sampai akhir jabatan pun banyak mengambil pemikiran dari timur tengah. Jokowi? Beliau ini sangat naturalis. Tidak banyak berpikir, yang penting bekerja. Jawa se jawa-jawa nya jawa. Kepribadian yang sangat baik. Tapi untuk selevel negara? apa cukup?

Saya berharap presiden kita ini diberikan punggung yang lebih kuat untuk menanggung semua beban tekanan dari rekan maupun lawan politisnya. Saya doakan diberikan hati yang lebih kuat agar dapat tegas dalam membuat keputusan. Saya juga doakan agar presiden kita itu lebih bersabar dalam menghadapi keinginan 200 juta rakyatnya. Karena saya tahu, beliau ini bukan orang jahat. Malah terlalu baik. Bahkan kepada orang jahat pun, baik. Karena sebenernya baik dan jahat juga relatif sih.

Sepertinya memang kita harus bisa melihat dan memaklumi presiden kita dengan lebih bijaksana. Melihatnya sebagai seorang Jawa yang begitu sederhana dan jujur. Karena tidak selamanya seorang pemimpi  harus lebih baik dalam segala hal dari yang dipimpinnya, termasuk juga soal kepemimpinan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s