Kerudung

Jadi, begini cerita awal mula saya menulis ini…

Beberapa hari yang lalu saya menjadi responden dari penelitian seorang senior yang lagi nge Thesis. Saya dateng ke lab nya dia. Setelah selesai diambil datanya, aku males kemana-mana lagi. Jadi aku di lab itu aja. Bergaul dengan komputer. Tiba-tiba datanglah seorang anak fastrack. Semester lalu, kita sekelas di beberapa kelas. Dia juga membuka laptopnya. Beberapa saat kemudian, dia bicara padaku. “Kak, aku titip laptop ya. Mau shalat.”

Kaget. Perawakannya yang seperti keturunan thionghoa dan tidak berkerudung membuat aku berpikir kalau yang bersangkutan non muslim. Aku tiba-tiba teringat teman kuliah S1-ku. Namanya Eva Francisca. Sebelum berkerudung, dia juga sering dikira beragama selain islam. Marganya Simbolon. Dia pun mengakui kalau dalam keluarganya ada beberapa yang bukan muslim. Pemeluk islam pada marga ini relatif lebih sedikit daripada marga seperti Siregar atau Harahap. Maka dari itu, ketika dia memutuskan untuk berkerudung banyak yang terkejut karena awal dugaan mereka, dia bukanlah seorang muslimah.

Setelahnya lalu aku berpikir. Jaman dahulu kala, kerudung pernah dianggap sebagai semangat penegakan syariat islam. Maka dari itu, pemakaian kerudung sempat dilarang diberbagai lembaga formal. Karena dianggap sebagai simbol pemberontakan terhadap NKRI. Namun, setelah masa reformasi, tersadarlah banyak orang bahwa terlalu sempit apabila kerudung dianggap sebagai identitas pemberontakan terhadap NKRI. Namun, selanjutnya, kerudung dianggap sebagai identitas “wanita baik”. Ini juga menurut aku masih terlalu sempit. Sehingga banyak yang menunda berkerudung karena ingin memperbaiki diri terlebih dahulu.

Tapi setelah hal-hal yang saya alami, dan juga mengulik kembali ayat Al-Qur’an…

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin agar mengulurkan atas diri mereka jilbab-jilbab mereka. Yang demikian itu menjadikan mereka. Lebih mudah untuk dikenal (sebagai wanita Muslimah) sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS A1-Ahzab [33]: 59).

Saya melihat kerudung bukan sebagai identitas pemberontakan terhadap pemerintah, bukan sebagai identitas wanita yang (sudah) baik. Tapi sebagai

IDENTITAS BAHWA PEREMPUAN YANG MEMAKAI KERUDUNG INI ADALAH SEORANG MUSLIMAH.

Sesederhana itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s