CINTA dan IMAN bikin orang jadi LEMAH?

Menggila adalah ketika harusnya belajar buat UTS dan baca paper buat proposal thesis malah banyak ide yang pengen ditulis. Dan ide-ide itu nggak ada hubungannya sama UTS maupun proposal thesis. Nah, jadi beberapa jam lalu aku melihat foto…

lemahnya orang yang jatuh cinta

Belum lagi beberapa hari yang lalu, ada adek yang lucu berkomentar kalo mentornya bilang “Orang romantis itu hatinya rapuh.” Nggak sepenuhnya salah sih sebenernya. Hanya saja kebenarannya parsial. Aku tergelitik untuk menguji pijakan berpikir pernyataannya. *gue jail*. Harusnya ada penjelasan disana. Kebiasaan di sana, kebenaran parsial tidak dijelaskan dan pada akhirnya dianggap kebenaran universal. *gue lagi jahat*.

Sebenernya kalo dia bisa menjelaskan sudut pandang dia, nggak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Masalahnya dia tidak bisa menjelaskan dasar pernyataannya itu. *ini curhat doank sih* *pengakuan aja kalo sebenernya pernyataan adek itu nggak salah sepenuhnya*

Ya. Tema yang lagi bermain-main di kepala gue sekarang ini berkisar dengan CINTA, IMAN dan KELEMAHAN.

Seorang yang jatuh cinta memang akan menjadi lemah. Lemah karena menyerahkan seluruh keputusan akan cintanya pada Hati. Akal tidak diberikan porsi yang cukup dalam memutuskan. Banyak manusia yang membuang akal ketika dia jatuh cinta. Membiarkan hatinya berkuasa penuh. Akal tidak dihubris sama sekali. Kenapa bisa? Karena dia lalai. Dia lupa akan adanya kemungkinan dirinya tidak ditakdirkan berbersamai orang yang membuatnya jatuh cinta. Jatuh cinta dengan terjun bebas, tanpa pengaman. Dia lupa mempersiapkan parasut sebelum dia memutuskan untuk jatuh cinta.

Seperti yang banyak telah saya ungkapkan sebelum tulisan ini. Bahwa CINTA adalah pendekatan paling “oke” dari IMAN. Walau ada sifat keduanya yang agak berbeda. Aku termasuk orang yang anti pada logikaisasi IMAN. Aku menentang keras hal tersebut. Aku membahasakannya dengan “Ada hal yang sangat pribadi antara dirimu dan Tuhanmu, hingga akhirnya kamu memutuskan untuk berIMAN.”.

Tapi… aku baru sadar… kalau logika memang dibutuhkan dalam beriman. Bukan di”pre” berimannya, tapi di”post”nya.

Sebagaimana Akal pada Cinta, Logika pada Iman juga menjadi pengaman agar tidak terjun bebas. BerIman dengan taqlid buta agaknya akan mengakibatkan hal yang sama ketika kamu tidak menghiraukan akal ketika jatuh cinta.

(Sampai saat ini saya masih berpikir dan berkeyakinan) Kita tidak bisa menghakimi pilihan IMAN seseorang dengan logika sebagaimana kita tidak bisa menghakimi pilihan seseorang untuk JATUH CINTA dengan akal. Ada hal-hal yang terlalu pribadi didalamnya. Tapi bukan berarti posisi LOGIKA dan AKAL menjadi tiada.

Hati harus juga mau di”aman”kan oleh Akal. Agar ketika dia patah, dia akan tetap akan hidup. Tidak mati rasa. Tidak jera untuk mencintai. Menjadi lebih dewasa dalam mencintai. Lemahnya hati orang yang mencinta tidak bisa jadi dasar untuk melarang hatinya untuk jatuh cinta.

hati dan pikiranhati otak

Begitu juga dengan Iman harus mau diamankan oleh LOGIKA. Iman tidak boleh kita jadikan alasan untuk bermalas-malasan. Banyak pandangan yang menyatakan bahwa IMAN menjadikan orang malas menggunakan LOGIKA nya. Bukan malas, tapi dia hanya ingin berada di zona amannya. Khawatir dengan akibat LOGIKA kepada IMAN, sebagaimana khawatir hilangnya (perasaan melayangnya) cinta karena AKAL. IMAN itu menyenangkan seperti juga CINTA.

 Yakin bahwa Tuhan telah mempersiapkan takdir terbaik untuk kita, lalu kita enggan berikhtiar. Karena yakin bahwa dunia tak seberapa, kita tidak mau mengamankan hal duniawi. Di sini IMAN kita harus diamankan oleh LOGIKA. Ketika keyakinan kita dipatahkan (iman kita diuji), IMAN kita terkoyak dan bisa jadi patah sama sekali. Kecewa kepada Tuhan dan enggan beriman lagi. Sebagaimana HATI yang PATAH tidak lagi mau jatuh cinta.

IMAN dan CINTA membuat orang jadi lemah. Ada benarnya. Tapi kita punya AKAL dan LOGIKA yang menjaga “kelemahan” tersebut agar kita tidak hancur. (sekali lagi) AKAL dan LOGIKA letakkan di belakang. Setelah kita jatuh cinta dan beriman. (Setidaknya sampai saat ini, saya masih berpikiran)

Kita tidak bisa menghakimi orang yang mengambil keputusan untuk jatuh cinta dan beriman. Tapi ada AKAL dan LOGIKA yang bisa menjaga agar tidak terhanyut ke arus yang salah.

5 thoughts on “CINTA dan IMAN bikin orang jadi LEMAH?

  1. Huweeee, bisa nyambung gitu ya ternyata. Baru tahu eke. tapi soal iman itu melemahkan, masih agak ga setuju. Semoga kita ga malah takut beriman karena imannya pernah patah oleh takdir. Karena jika pernah patah oleh cinta, pasti bisa sembuh (andai mau). Tapi kalau ga beriman karena pernah patah oleh takdir, serem banget lanjutannya, kehidupan akhirat yang dipertaruhkan.🙂

      • Semoga jangan. Aku menjaga imanku patah bahkan oleh logika mana saja, seperti kata teteh, beriman dulu-baru belogika. Soalnya saat itu terjadi (saat ada iman yang hilang), maka aku bukan lagi muslim.
        Eh iya ding, bahkan saat seseorang sudah tidak beriman bahkan pada takdir, maka dia juga bukan muslim lagi, karena muslim punya 6 rukun iman, salah satunya pada Takdir, juga kehidupan akhirat.
        Ah, kehidupan akhirat itu dekat sekali teteh, tinggal nyebrang, lantas sampai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s