So, That was Chaos or just Complexity?

Jadi, ceritanya saya lagi galau mau UAS. Udah gitu di TL fb adek-adek di almamater lagi hebring-hebring gimana githu kan. Ada sesuatu yang membuat saya panasaran. Kenapa kemahasiswaan di almamater tercinta itu kok keadaannya nggak bisa dingertiin githu loh. Adem, tapi begitu “diganggu” dikit, dor! Syalalala o… Tolong jangan anggap ini sebuah tulisan yang terlalu serius. Karena memang saya ini kan bukan siapa-siapa, hanya butiran debu yang mencoba memberikan pandangan terhadap sesuatu yang sebenernya nggak begitu dipeduliin juga. Ya anggap aja studi kasus buat persiapan UAS.

Nah, jadi dalam waktu dekat ini, saya mau UAS Pemodelan Sistem. Tema dari perkuliahan itu cukup menarik, “How to manage chaos and complexity” gitu. Perbedaan keadaan antara chaos dan complexity hanya berada pada tingkat pengetahuan analis sistem terhadap sistem yang dia amati. Nah, ternyata keadaan yang saya jelasin, yaitu “Adem, tapi diganggu dikit dor”, disebut chaos. Karena tingkat pengetahuan saya belum bisa melihat sistem tersebut secara menyeluruh.

Ternyata, dalam melihat sebuah sistem sosial budaya itu kita harus bahwa setiap komponennya bisa berkuasa mengambil keputusan sendiri (multiminded system). Memang ada hal-hal yang bisa kita kontrol. Namun, ternyata hal yang tidak bisa kita Kontrol lebih banyak lagi. Hal yang tidak bisa kita kontrol itu sebenernya ada yang masih bisa dipengaruhi, dan ada juga yang tidak bisa kita pengaruhi. Ketika hal tersebut tidak bisa lagi kita pengaruhi, yang bisa kita lakukan hanya melakukan apresiasi terhadap hal tersebut. Nah, kesalahpahaman terhadap elemen yang seharusnya diapresiasi malah dianggap sebagai sesuatu yang bisa dikontrol. Makanya hal tersebut membuat keadaan terlihat chaos.

Menemukan elemen-elemen sistem dalam sosial budaya bukanlah hal yang mudah. Saya baru mengerti akhir-akhir ini dengan perjalanan yang bukan pendek. Hal yang baru saya mengerti tersebut adalah “aura kaderisasi” (nggak ngertilah apa istilah yang lebih tepatnya) yang ada dalam kemahasiswaan almamater tercintah saya itu kayaknya nggak bisa lepas dari organisasi eksternal. Dan memang tidak bisa dipaksa untuk mandiri. That can’t be influenced, so just appreciate that.

Waktu dulu cuman ada satu kubu, satu kubu itu malah sok kuasa githu. Dan saya melihat, hal tersebut adalah sesuatu yang sangat sangat tidak sehat dalam kehidupan pemerintahan kampus. Bisa terlihat dari angka pemilih saat pemilu yang cuman (bahkan dibawah) 10% kala itu. Ketika lambat laun lalu muncul kubu kedua, memang menjadikannya lebih hidup. Saya termasuk yang optimis akan hal tersebut. Setidaknya, saat itu angka pemilih waktu pemilu mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Tapi…  lambat laun, keadaannya malah jadi berisik. Dan seorang butiran debu macam saya yang tadinya optimis dengan adanya dua kubu ini malah jadi “don’t care”. Keberisikan ini pada awalnya memang baik. Setidaknya tidak ada satu kelompok yang membentuk sebuah hegemoni yang agak menyebalkan, padahal saya tahu pasti mereka adalah orang-orang baik. Butiran debu ini menganggap hal tersebut tidak sehat bagi perkembangan jiwa kepemimpinan jebolan pemerintahan kampus. Sayang sekali ketika kumpulan orang-orang baik itu, punya gaya kepemimpinan yang agak menyebalkan.

Tapi ternyata…. manajemen konflik yang digunakan oleh kedua kubu tidak berubah. Dalam pandangan saya, manajemen konfliknya mengarah kepada “lost-lost”. Menang jadi arang, kalah jadi debu. Untuk pertama-tama, hal tersebut bisa ditoleransi. Namanya juga baru. Tapi lama kelamaan manajemen konflik macam ini bikin capek juga.

Butiran debu macam saya yang hanya mampu berpikir ini pun berpikir, sekarang sudah saatnya dibangun dialog untuk membangun kesepakatan berupa kompromi cara dan tujuan untuk membangun kemahasiswaan kampus almamater tercintah. Tanpa menghilangkan ciri khas kedua kubu tentu saja. Dan memang tidak boleh hilang. Sikap “appreciate what can’t be influenced” sangat diperlukan. Untuk mencapai sikap seperti itu, memang dibutuhkan kedewasaan.

Kedewasaan yang mungkin belum pada waktunya. Tapi, percayalah, hal tersebut akan membawa para pelaku kepada  sebuah kebijaksanaan yang tidak dimiliki semua orang. Yang bahkan tidak dimiliki oleh orang-orang yang katanya pemimpin bangsa atau wakil rakyat.

Lagipula tren yang sekarang ada dalam manajemen tidak lagi optimalisasi, tapi keseimbangan. Karena ketika kompoenen lingkungan ada yang “mati”. Kualitas sistem pun tidak akan optimal. Jadi, gaya-gaya jaman dahulu itu, sepertinya harus kita tinggalkan. Atau… kita yang akan tertinggal karena enggan meninggalkan cara lama. Kemahasiswaan kampus alamamater saya tercinta tidak akan kemana-mana.

Nah, kan… ternyata setelahnya saya telusuri lebih dalam. Ini bukan chaos, tapi hanya complexity. Ah sudahlah, saya ini kan hanya butiran debu. Nggak perlu dipikirin terlalu serius ini tulisan…

2 thoughts on “So, That was Chaos or just Complexity?

  1. dan teman saya cuma bilang ‘kalau sekedar menjadi juri di social media, nggak akan ada kemajuan 1 cm pun’…dan iya juga sih hehee

    *pendapat saya yang sekedar butiran rinso, kena air langsung ilang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s