Mengapa bertema “CINTA”?

Akhir-akhir ini ada sebuah pertanyaan menjadi sering disampaikan. “Kenapa kamu suka sekali bahas cinta? Kamu lagi jatuh cinta ya?” hm… agak bingung juga sih. Soalnya kalo patah hati pun saya selalu bicara tentang cinta. Entah mengapa, saya merasa bahasa cinta adalah bahasa yang dimengerti segala lapisan masyarakat. Walau ada yang mengecamnya terlalu picisan. Tapi, mereka mengerti, apa yang disampaikan oleh bahasa picisan ini. Githu sih alasan LOGISnya kenapa saya suka nulis tentang cinta.

Bahasanya aman dari kesalahpahaman. Kalau pun ada kesalahpahaman, ya palingan dikira jatuh cinta, bahkan mungkin ada yang bisa menebak saya jatuh cinta dengan siapa. Maaf, pertanyaan seperti ini tidak akan saya jawab pada semua orang. Kalau pun benar saya jatuh cinta pada seseorang atau sedang menjalin hubungan dengan seseorang atau hubungan saya sama seseorang lagi bermasalah, informasi itu hanya akan berakhir sebagai data kan? Apa pentingnya kamu tahu? *syalala… sok misterius deh*

Setiap manusia pasti pernah jatuh cinta. Pada kakak kelas, pada teman sepermainan, pada guru bahkan pada sahabat sendiri. Kalau nggak, pasti pernahlah jatuh cinta sama mata kuliah atau hobi. Yang kamu rela nggak tidur buat belajar itu pelajaran. Yang kamu rela nggak tidur, nggak makan, demi ngejalanin hobi kamu. Ya semacam itulah rasanya jatuh cinta. Kamu dengan sukarelanya menjadi korban. Mungkin, jatuh cinta rasanya lebih indah sedikit. Tentu saja patah hatinya juga lebih menyakitkan daripada kamu ternyata dapat nilai buruk di matakuliah yang bikin kamu jatuh cinta misalnya.

Alasan logis selanjutnya adalah, saya ingin mengasah diksi. Ada kepuasaan batin sendiri ketika saya berhasil merangkai kata-kata yang indah. Dan mempunyai makna. Makna yang tidak kasat mata akan diketahui orang. Tapi tidak mudah ditimpali sembarangan orang. Orang perlu menganalisis dan berpikir untuk mengerti. Tanpa itu semua, semua akan terlihat sebagai sesuatu yang tidak penting. Perasaannya itu hampir sama ketika kamu ngoding seharian penuh, udah githu perangkat lunak yang kamu hasilkan bagus.

Dan… Cinta adalah pendekatan paling indah dari Iman.

Iman adalah hal yang sensitif apabila kita memaksakan diri untuk melogikakannya. Memang untuk beriman diperlukan akal. Namun, itu hanya relevan apabila kita tidak melakukan perbandingan dengan kemungkinan-kemungkinan iman yang lain. Logika adalah sesuatu yang harus bisa diterima sebagai sesuatu yang objektif. Bisa disepakati kebenarannya. Maka dari itu, pendekatan logika tidak lagi relevan.

Maka dari itu, kita butuh pendekatan lain, yaitu cinta. Kenapa orang yang begitu tidak baik di mata orang lain, bisa jadi sedemikian sempurna di matamu? Pasti ada sesuatu pada dirinya yang terkadang tidak dapat dilogikakan apa yang membuat kamu yakin bahwa kalian bisa saling melengkapi sampai terpisah dimensi ruang dan waktu. Dan biasanya itu random, hanya kalian yang mengerti. walau semua orang membuka aib-aib hingga aib terburuknya. atau bahkan kamu tahu hal yang lebih buruk dibandingkan hal terburuk yang orang lain tahu. kamu tetap berkeras ingin membersamainya.

Begitu juga dengan Iman. Ada sebuah alasan yang begitu pribadi antara Tuhan mu dan kamu yang membuat kamu tidak bisa berpaling dari Nya. Walaupun semua metode berpikir membuatmu berpikir, Tuhan MUNGKIN SAJA tidak ada.

Sejujurnya ada pertanyaan buat orang-orang yang begitu keukeuh bahwa iman harus bisa dilogikakan.

Apakah dia tidak pernah jatuh cinta?

&&akhirnya nulis sesuatu yang */agak/* serius&&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s