Kritik dan Primodialisme

Kemarin pagi, ada sebuah kejadian lucu yang mengantarkan saya pada sebuah percakapan pendek bersama Dwiana Karti Susanti (Anna). Saya tulis nama panjangnya, karena setidaknya ada 5 orang anak IF ITT 2009 yang nama panggilannya Anna yang saya kenal. Percakapannya kurang lebih sebagai berikut,

Anna : Aku kasian sama orang yang nggak mau dikritik. Hidupnya nggak tercerahkan. Wkwkwk…

Saya : Aku juga. Tapi agak wajar juga sih, itu semacam self defense githu kan. Semua makhluk hidup juga punya. Makanya, yang paling sulit emang mengkritisi apa yang ada pada diri kita sendiri. Termasuk agama dan keyakinan kita.

Anna : Itu karena dari kecil kita sudah dicekokin dan kemakan sama paham primodialisme, “kita yang paling benar sejagat raya.” Hahaha

 

Syalalalalalala ooooo….

Baiklah. Saya buka saja rahasia ini. Anna adalah orang yang pernah mengoreksi tentang apa yang pernah aku tulis tentang Adam dan Hawa dan Homo Sapiens. Saya tidak tahu apakah dia tahu tentang teorinya *** (siapa itu namanya saya lupa) yang bilang bahwa Iman dan Ilmu tidak harus ada hubungannya. Teori ini agak mirip sama apa yang pernah Anna katakan pada saya melalui Ditari. Dalam bahasanya Anna, keduanya memiliki prinsip yang berbeda sehingga tidak dapat dihubungkan. Kenapa jadi lebih mirip sekuler ya? Tapi sekuler itu setahu saya adalah predikat untuk kehidupan bernegara. Ah, sudahlah, kitu pokokna mah. Da aku mah apa atuh. Membaca saja sulit.

Tapi aku pikir, dia tak beda denganku. Kami berdua dan beberapa orang lainnya adalah para otodidak sejati. Berpikir sangat bebas, terserah kita. Lebih mengandalkan intuisi daripada teori untuk menjadi pijakan berpikir. Bukan karena apa-apa, tapi karena kami tidak merasa hal tersebut penting untuk dicari teori dasarnya. TA aja muntah-muntah *ini gw doank sih kayaknya*.

 

KRITIK

Kritik. Kritik itu memang pedas. Sangat pedas. Hal pertama yang akan dilakukan seseorang apabila dilakukan kritk terhadap dirinya adalah… mengingkari. Self defense. Semua makhluk hidup memilikinya. Ketika ada sesuatu dalam dirinya yang diganggu. Hal yang akan dilakukan adalah menjaga dirinya agar tidak terluka. Ego yang melindunginya dari hal tersebut. Apalagi kalau yang diganggu adalah keyakinannya, egonya itu sendiri. Ya. Sebenernya bukan salah paham primodialisme sepenuhnya. Walau hubungannya dengan hal tersebut juga tidak bisa diingkari sepenuhnya. Karena primodialisme itu sendiri yang sedikit banyak membangun ego. Maaf kalau bahasanya masih terlalu dewa. Kalau nggak ngerti skip aja. Atau nggak usah dibaca aja sekalian ini tulisan.

Ya. Miris memang orang-orang anti kritik. Karena sebenarnya mereka sedang menutup potensi diri mereka untuk menjadi lebih baik.dalam bahasanya Anna, “pencerahan”. Tapi, untuk menjadi bijaksana terhadap kritik, mungkin tidak semudah itu juga. Saya pribadi harus mengalami kejadian : hampir dimusuhin satu kampus *lagi-lagi lebay*, mengalami culture shock, bertemu dengan orang-orang baik yang agak menyebalkan, memutuskan menanggalkan identitas komunitas yang telah saya sematkan pada diri saya hampir sepertiga umur saya saat itu. Ya, saya butuh semua itu untuk lebih bijak dalam memandang masalah untuk dikritik, bagaimana menyampaikan kritik tersebut dengan bijak serta bagaimana saya mengolah kritik yang ditujuakan kepada saya. So, pencerahan itu cukup mahal bagi saya.

 

PEMBAHASAAN KRITIK

Membahasakan kritik memang tidak mudah. Sama sekali bukan diksi. Diksi bisa mengalir, kalau kita memahami masalah dan memahami orang-orang yang akan kita kritik.

Salah satu yang bisa melembutkan kritik itu sendiri adalah sastra. Karena itulah kita perlu belajar sastra. Pesan sekejam pemikiran komunis dan liberal pun bisa disampaikan seperti dongeng nan melenakan oleh Pramoedya dan Dee. Ya. Karena itulah saya menyukai keduanya. Karena pemikiran-pemikiran yang selama ini tidak berani saya sentuh, bisa saya cerna dengan baik melalui tulisan keduanya.

Cara melakukan kritik dapat dirumuskan dalam langkah-langkah berikut,

  1. Cintai dia dengan tulus.

Tanyakan lagi niat kita melakukan kritik apa. Apakah untuk menunjukan kalau kita lebih benar dan lebih baik dari dia atau untuk memberikan pencerahan pada dia. Hayo apa hayo???

  1. Pahami sudut pandangnya, pola pikir, karakter dan bahasanya.

Memahami sudut pandang orang lain itu emang susah dan capek. Tapi, kalau kata saya sih, ini adalah konsekuensi logis kalau kita mau melakukan kritik yang berkualitas dan memiliki daya ubah terhadap pribadi, komunitas, institusi atau apapun itu.

  1. Cari kesamaan dengannya, sebelum mengkritik dirinya.

Kalau kita memposisikan diri sebagai seorang kritikus yang kontra terhadap dirinya. Dia tentu akan cenderung bertahan. Dan dapat dipastikan, dia akan sulit menerima apa-apa yang ingin kita sampaikan. Kalau saya pribadi, lebih senang memposisikan diri sebagai orang yang ingin tahu. Hal ini selain dapat memberikan informasi kesamaan kita dengannya, juga dapat membuat dia melakukan auto kritik terhadap dirinya sendiri. Sehingga kita tidak perlu berbusa-busa berargumen.

  1. Kalau ada nilai kebenaran padanya, akui.

Kalau ternyata dalam penjelasan dia ada nilai kebenaran maka akui. Kita, tidak boleh hanya ingin mengkritisi, tapi juga harus rela dikritisi.

  1. Evaluasi cara mengkritik.

Kalau dia bebal. Coba kita evaluasi cara mengkritik kita. Apa yang sekiranya membuat dia tidak bisa menerima argumen kita. Apa karena bahasa kita, apa karena emang argument kita yang logical fallacy, atau jangan-jangan karena dia nggak suka kita secara pribadi?

  1. Kalau dia keras kepala, udah tinggalin aja.

Memang ada beberapa orang yang cukup keras kepala. Karena primordialisme yang ditanamkan dari kecil yang dijelaskan oleh Anna di percakapan awal tulisan ini. Atau bisa juga karena dia udah nggak suka kita secara pribadi sejak awal. Bingung kan kalo udah gini. Jadi, mau apa lagi? tinggalin aja kan ya?

  1. Ikhlas kalau kritik kita nggak didengar dan pada akhirnya kita cuman bisa nangis, nggak tahu harus gimana lagi.

Sudah cukup jelas.

Memang pada akhirnya… hal yang perlu dilakukan sebelum mengkritisi orang lain adalah kritisi diri kita terlebih dahulu. Hal yang perlu dilakukan sebelum mengkritisi komunitas orang lain adalah kritisi terlebih komunitas kita terlebih dahulu. Hal yang perlu dilakukan sebelum mengkritisi pemahaman orang lain terhadap agamanya adalah mengkritisi pemahaman kita terhadap agama kita sendiri terlebih dahulu. Ketika kita melakukan auto kritik terlebih dahulu, akan kita temukan ternyata, diri kita, komunitas kita, pemahaman kita terhadap agama kita sangat jauh dari SEMPURNA. So, primordialisme itu setidaknya dapat dikurangi kadarnya.

 

Lalu, bagaimana apabila kita berada dipihak yang dikritisi?

Rasa sakit, ego terkoyak memang sangat menyakitkan. Tapi, sebenernya dia mempermudah kita untuk menjadikan diri kita menjadi lebih baik. Kita hanya perlu menahan ego (self defense) kita, dan berpikir bahwa orang-orang mengkritik kita sedang membantu kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan mengingkari kebenaran yang ada pada kritik tersebut.

Kalau kritik yang disampaikan cenderung agak terdapat unsur kebencian di dalamnya. Ikhlaskan. Mungkin saja dia adalah orang yang membantu kita untuk menggugurkan dosa-dosa kita dan mengambil hijab (pembatas) kita dengan Allah sehingga Allah tidak ragu mengabulkan doa-doa kita.

 

Hidup ini udah susah. Jangan dibuat ribet. Buat jadi lebih sederhana. Kalo mau mengkritisi sesuatu karena sebuah kebencian, kita hanya mempersulit hidup. Kalo terlalu menganggap serius kritik orang hasad, kita hanya merugi.

So, make it simple guys!!!

2 thoughts on “Kritik dan Primodialisme

  1. “Saya pribadi harus mengalami kejadian : hampir dimusuhin satu kampus *lagi-lagi lebay*, mengalami culture shock, bertemu dengan orang-orang baik yang agak menyebalkan, memutuskan menanggalkan identitas komunitas yang telah saya sematkan pada diri saya hampir sepertiga umur saya saat itu.”,

    Mirip2 saya, mbak. Haha. “Hampir dimusuhin satu kampus”, mungkin kalau saya lebih tepatnya dimusuhin satu organisasi :3 “culture shock” enggak, cuma sekedar adaptasi. Mungkin karena kuliah saya emang perdana disini. “bertemu dengan orang-orang baik yang agak menyebalkan”, dan “memutuskan menanggalkan identitas komunitas yang telah saya sematkan pada diri saya hampir sepertiga umur saya saat itu.” iya bangeett :3 :3

    *Loh jadi malah bahas ini, bukan ke tulisannya.
    Soal kritik, erat kaitannya dengan berpikiran terbuka. Ini pengalaman saya, ya. Mereka yang udah di doktrin pemikirannya, mau dimasukin logika sesimpel apapun bakal mental. Ujung-ujungnya dia bakal nutup diskusi dengan “Saya ngikutin feeling saya aja deh kak”, padahal dia yang buka diskusi. Mungkin karena pengaruh Islam agama yang mayoritas? (mbak tahu lah ya ini pendapat saya mengarah kemana. Hahaha) Hingga akhirnya, yaudah saat mereka menutup diri dengan “ngikutin feeling”, mau bilang apa lagi hahaha. Atau mbak ada saran menghadapai orang yang diyakinkan dengan logika, tapi ujung2 nya pake feeling? Harus diyakinkan dengan feeling juga? :3

    • Saya cenderung menghindari perdebatan hal yg bersifat prinsipil.setiap pribadi adalah unik.sebuah data,bisa memberikan informasi yg berbeda,bergantung pengetahuan yg dimilikinya.kt harus menerima hal tersebut.
      Saya bisa bilang mereka adalah orang baik yg menyebalkan,karena saya pernah bertemu orang baik yg tdk menyebalkan.
      Satu hal,1000 teman itu kurang,1 musuh itu kebanyakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s