Leadership

Leadership. Saya nggak ngerti apa-apa soal teori kepemimpinan. Saya inih cupu banget. Nulis “sumbangsih kelas menengah dalam pembangunan ekonomi nasional” di kertas ujian aja udah ngerasa keren banget. Nggak pernah jadi pemimpin apapun kecuali pemimpin kelompok tubes. Itu pun sering kali nggak bener mimpinnya. Ya, namanya juga manusia. *excuse banget ya? hehehe*

Saya ini seorang otodidak sejati. Jadi maaf-maaf kalo saya menggunakan istilah-istilah yang mungkin kurang tepat atau mempunyai pengertian yang berbeda dengan pengertian umum. Karena seorang programmer yang bebas mendeklarasikan definisi suatu variable. *eeeaaa dah!!!!*

Dalam definisi yang saya buat sendiri, kepemimpinan adalah bagaimana cara memposisikan diri kita untuk bisa membuat orang berpikir dan bertindak seperti apa yang kita inginkan. Ada sedikit unsur brain washing disini.

Saya bukan orang yang anti brain washing. Makanya waktu beberapa tahun yang lalu, orang-orang heboh tentang brain washing, saya anteng-anteng aja. Toh, kita selama ini sudah di brain washing juga. Karena inti dari brain washing itu sendiri adalah usaha penanaman ide-ide baru dan ide-ide baru tersebut selanjutnya akan berkolaborasi atau bahkan menggantikan ide-ide yang sudah kita miliki sebelumnya. Kalau ide-ide baru bisa sampai menggantikan ide lama, artinya ide lama yang ada dalam otak kita itu usang. Entah karena kita yang kurang mengkritisi ide yang sudah kita yakini sebelumnya sehingga keyakinan kita terhadap ide tersebut tidak begitu kuat atau memang ide tersebut bukan ide yang cukup layak untuk diyakini.

Saya pribadi lebih menyukai ide keberpengaruhan daripada keberkuasaan. Kita sering tidak bisa membedakan antara kuasa dan pengaruh. Banyak diantara kita yang berpikir bahwa keberpengaruhan akan datang sendirinya seiring dengan kekuasaan yang dipegang. Hufff!!! Saya nggak tahu orang-orang macam githu hidup di jaman mana? Tapi, ide seperti itu udah kuno cintah!!!! Please deh! Tapi kalau ternyata semua orang berpikir kayak githu, mau gimana lagi coba??? Lebih baik berpisah jalan, dan jalan masing-masing dengan caranya. *sorry ini agak curhat masa lalu*

Sekali lagi. Saya ini bukan siapa-siapa. Jadi mungkin ada yang menganggap, apaan sih ide gini doank apa bagusnya. Oke baiklah. Selesai dulu curhat nya. Pada intinya, untuk mempengaruhi seseorang agar mau kita brain washing *ekstrem banget dah diksinya*. Ada hal-hal yang perlu kita lakukan.

1. Cintai mereka secara tulus.
Niat kita untuk mempengaruhi mereka itu apa? Apakah hanya sebatas pengen ide kita eksis? Apakah hanya ingin memanfaatkan mereka supaya mengantarkan kita pada ambisi-ambisi pribadi kita? Atau tulus bener-bener pengen mereka jadi pribadi yang lebih baik, mengembangkan potensi mereka? Apa? Ayo tanyakan pada diri kita sendiri.

2. Pelajari Karakter mereka
ada beberapa karakter dari teman-teman saya yang menurut saya menarik untuk dikaji. Saya tidak memakai teori psikologi manapun dalam pembagian karakter ini. Murni hasil pembelajaran saya terhadap apa yang saya lakukan selama ini.
1. Orang melankolis atau sering galau.
Kebetulan, saya pribadi juga orangnya melankolis dan gampang galau. Jadi, saya seperti menemukan tambatan jiwa kalau ketemu orang-orang yang macam ini. Sebenernya, mereka galau adalah ketika mereka tidak yakin dengan apa yang mereka jalani. Apapun itu. Dan biasanya mereka tidak mau mengkomunikasikan apa yang membuat mereka galau, karena mereka sendiri juga galau sama apa yang membuat mereka galau. *Halah-halah*

Saya pribadi akan memposisikan diri sebagai partner in crime kalau kerja sama orang-orang kayak gini. Entah saya atau dia yang lebih mengerti tugas . Karena orang-orang kayak gini akan lebih merasa dihargai kalau diposisikan sejajar dan potensinya akan lebih menonjol ketika ada dalam suasana yang egaliter. Tidak ada diskriminasi senior-junior ataupun gender. Selain diri saya sendiri, saya menemukan dua orang lain yang tipe beginian dengan kadar yang beda, yaitu Ina Lestari dan Eva Fransisca.

2. Orang nggak punya ego tapi pinter setengah mati.
Orang-orang macam ini menurut saya hanya perlu di dorong untuk mau mengeluarkan potensinya secara maksimal. Sejujurnya ada perasaan picik saya yang berkata, kalau mereka menghindari ego, karena enggan bertanggung jawab dengan ego mereka sendiri.Jadi, mereka ini perlu seseorang yang mau mempertanggungjawabkan kreativitas intelektual mereka. Kadang-kadang agak capek sih, tapi, kalau nggak kayak gini, potensi dia nggak akan berkembang. Mereka ini cocok untuk posisi-posisi orang kedua. Seperti sekjen, sekum, perdana menteri dll.
Nah, orang yang begini ini contohnya adalah Widi Astuti. Seseorang yang sering kali telpon dan bilang,
”Ai, aku udah di depan kosmu.Aku kekunci nih dari kosku. Dila nggak bisa dibangunin. Aku bisa ya malem ini nginep di kosmu. Aku udah di depan nih Aina.”
Dan itu jam 11 malem. Sambil nggak sadar, turun ke bawah, buka kunci kosan, kunci lagi, naik lagi ke atas. Dan tidur lagi. Besoknya kaget,
“Loh, Wid, kamu kok ada disini????”
*eng ing eng drama*

3. Orang nggak punya ego tapi rajin setengah mati
Saya sebenernya paling nyaman satu kelompok sama orang-orang kayak gini. Dan tipe-tipe orang gini juga yang lebih disukai untuk jadi karyawan. Nah, orang-orang kayak gini harus diarahin. Kalau bisa secara mendetail. Mau nggak mau. Emang sih capek. Apalagi kalau kita punya pilihan untuk berkata, ”Kalian jangan minta doank donk. Kasih kontribusi juga.” Cara-cara kepemimpinan kayak gini nggak akan cocok sama orang-orang kayak gini. Mereka nggak mau kasih kontribusi bukan karena mereka nggak mau. Tapi karena mereka memang tidak tahu bagaimana caranya untuk berkontribusi.

4. Orang yang punya ego tinggi dan juga pinter setengah mati
Orang kayak gini nggak usah dipimpin. Bahkan bisa dibilang jangan coba-coba untuk memimpin atau mempengaruhi orang-orang kayak gini. Pada akhirnya, cara naklukin orang kayak gini itu dengan bikin kontrak yang jelas, kalau perlu tertulis, tentang posisi, hak dan kewajiban dia. Dan sebenernya, orang kayak gini lebih akan tergali potensinya kalau dia yang jadi pimpinannya. Contoh orang-orang begini itu adalah Ditari Salsabila Esperianti.

3. Bicara dengan bahasa mereka
Bahasa itu menjadi salah satu hal yang penting. Kenapa? Karena bisa jadi sebuah konflik atau perselisihan paham terjadi karena pembedaan “bahasa” yang digunakan. Bahasa ini bisa meliputi diksi maupun sudut pandang dalam melihat suatu permasalahan. Ini butuh riset yang agak lama. Bahkan kalau perbedaan bahasa itu cukup jauh, bisa jadi ada drama seakan mau dimusuhin satu kampus. *super lebay*
Suatu pengetahuan yang kompleks memang akan terdengar lebih keren kalau dibahasakan juga dengan diksi yang ngejelimet, bikin orang berkerut kening. Tapi buat apa kalau ternyata nggak ada yang ngerti dan malah disalahpahami apalagi membentuk pemahaman yang berbeda dengan paham yang kita ingin bentuk.
Satu hal yang lebih penting lagi adalah kita harus mempelajari sudut pandang orang yang mau kita pengaruhi. Kalau istilahnya Nurfadillah mungkin adalah penyamaan frekuensi. Seperti garpu tala, kalau frekuensinya nggak sama, maka resonansi tidak akan terjadi. Dan mau nggak mau yang lebih merasa berkepentingan yang harus menyamakan frekuensi dengan objek yang ingin kita pengaruhi. Kasarnya sih gini,
“Terserah kamu aja. Aku ikut aturan main kamu.”
Kecuali… kita tidak merasa penting untuk mempengaruhi dia, maka lebih baik… tinggalin aja udah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s