Don’t Care

Semasa kuliah sarjana aku memiliki sebuah perkumpulan orang atau nama kerennya adalah geng. Awal mula terbentuknya geng ini adalah karena kami para penerima beasiswa mengalami kesulitan dalam mendapatkan kelas kuliah. Sistem yang diterapkan di kampus kami menyebabkan kami bernasib seperti itu. Udah pada penuh githu. Akhirnya kelas yang tersisa bentrok. Syalalala we lah. Waktu milih mata kuliah pilihan pun begitu. Alasan kami adalah karena kelas itu yang nyisa. Kasian banget kan kita. Selain itu, kami juga punya kesamaan nasib. Yaitu, kami tidak cocok dengan kedua kubu yang ada dalam kelas kami masing-masing. Akhirnya kami menyingkir dan mencari kehidupan dengan teman-teman di kelas lain.

Kami adalah… gw sendiri  anak 03, Rahmah 04, Ditari, Dila, Eva, Widi dan Amal yang anak 06.  Ternyata kesamaan kami tidak berhenti sampai situ saja. Kami juga memiliki kesuilitan dalam belajar COA yaitu Computer Organization and Architecture. Matakuliah IF yang paling Elektro di semester 4.

Di mata kuliah ini kami tahu bahwa komputer hanya bisa tahu ada aliran listrik dan tidak ada aliran listrik. Dia hanya 1 dan 0. Namun, saat itu ada satu  istilah lagi. Nama istilahnya Don’t Care. Apa itu don’t care? Itu adalah sebuah keadaan pada komponen dimana adanya atau tidak adanya aliran listrik yang mengalir prosesor tetap akan membaca dengan benar perintahnnya. Ya pokoknya begitu. Udah lupa juga itu pelajaran.

Kenapa kami merasa istilah itu sangat cocok dengan kami. Selain kami tidak peduli dengan blok-blok pergaulan yang ada di kelas kami. Kami juga cenderung tidak peduli dengan kejadian politik yang ada di kampus. Entah kenapa. Setiap orang dari kami punya alasan masing-masing yang berbeda. Ada yang putus asa, keun we lah antepkeun. Ada yang tidak berminat. Ada yang nggak mau ribet. Ada yang jengah dengan hiruk pikuk yang berisik. Capek. Ya intinya, kami cenderung “don’t care”.

Tapi don’t care disini bukannya kami tidak peduli sama sekali. Tapi ketika kami “care” kami bingung mana informasi yang benar, Ada yang merasa dibohongi, ada yang merasa dibatasi, ada juga yang merasa dibebani dengan semua informasi yang datang. Sampai akhirnya, kami merasa “care” kami ini hanya mengganggu fokus yang dalam pikiran kami seharusnya. Mempengaruhi konsentrasi kami.

Selain itu, ketika bertemu dengaan pihak-pihak terkait. Satu sama lain saling melempar kebencian akan satu sama lainnya. Kami jengah. Bingung. Aku sendiri pernah agak merasa “jijik” dengan tingkah laku keduanya.

Ya. Disinilah intinya. Kami bukan tidak peduli, tapi tidak ingin terpengaruh.  Terpengaruh konsentrasi dan fokus kami dari yang seharusnya. Terpengaruh kebencian yang dilempar kedua pihak yang berkompetisi. Dan menganggap kompetisi sebagai perselisihan.

Setidaknya itulah pandanganku terhadap don’t care…

5 thoughts on “Don’t Care

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s