Kartini

Hari Kartini memang sudah lewat. Dari kemarin aku ingin menulis. Tapi entah mengapa writing block. Baru hari ini ada ide.

Pertama aku akan bertanya, Kenapa harus ada hari Kartini? Apa pentingnya hari Kartini? Jawaban yang yang terpikir saat itu secara spontan adalah untuk memitoskan peran wanita dalam membangun Negara. Tapi, kenapa dirayakan dengan memakai konde, kebaya dan kain? Bahkan ada yang mengolok-oloknya (beneran pengen lempar sepatu ya!). Tapi sebenernya, olok-olok itu menjadi biasa ketika kita berhadapan dengan budaya yang patriarki. Nggak bisa disalahin juga. Hah, sudahlah! Aku pun tak mengerti.

Pertanyaan kedua, Kenapa harus Kartini?

Banyak orang-orang yang bertanya kenapa sih harus Kartini yang dijadikan lambang pahlawan utama wanita. Bahkan ada yang menggambarkan bahwa Kartini adalah sosok yang dicintai penjajah dan membandingkannya dengan sosok pahlawan perempuan yang lain yang melawan penjajahan. Setelah itu bertanya, kenapa Kartini yang dijadikan simbol? Kenapa seorang gadis priyayi pingitan yang dijadikan mitos sosok wanita sempurna? Kenapa seorang wanita yang bersurat-suratan dengan wanita eropa yang dijadikan patokan?

Pramoedya menggambarkan sedikit dalam bukunya, Panggil Aku Kartini Saja. Dari judulnya saja, sudah terlihat sebuah perlawanan Pram terhadap feodalisme jawa. Nama Raden Ajeng Kartini disuruhnya dipanggil Kartini saja, tanpa embel-embel Raden Ajeng. Aku sendiri baru membacanya 135 halaman dari 300 halaman buku tersebut. Sejauh ini, Pram memandunya dengan cukup baik.

Kenapa Kartini? Jawaban termudahnya adalah karena Kartini menulis, sehingga perjuangannya terdokumentasi dengan baik. Sehingga kita dapat melihat dengan cukup detail apa saja yang telah dilakukan oleh Kartini.

Kenapa Kartini? Karena kartini melakukan akulturasi pemikiran yang dilakukannya dengan cara surat-menyurat dengan perempuan-perempuan eropa. Dimana di Eropa kedudukan perempuan sudah lebih baik dari pada di tanah air pada jamannya. Bisa jadi pemikiran yang dimiliki Kartini bukan hanya sebatas pemikiran seorang raden ajeng, tapi sudah dimasuki dengan pemikiran eropa. Tidak masalah bukan? Toh, ide kemerdekaan pun berawal dari ide pemikiran nasionalisme yang dibawa oleh para pelajar Indonesia yang berkuliah di luar negeri salah satunya Eropa. Kalau dicintai penjajah memangnya kenapa? Toh, perlawanan tidak harus dengan menggunakan pedang.

Kenapa Kartini? Karena Kartini membangun pendidikan perempuan. Tujuannya bukan untuk menyaingi laki-laki. Tapi untuk menjadi ibu, sekolah pertama manusia, tombak peradaban.

Kenapa Kartini? Mengapa bukan Cut Nyak Dhien? Mungkin kita harus menoleh pada Gerwani. Karakter Cut Nyak Dhien yang kuat lebih dekat dengan karakter perempuan-perempuan Gerwani yang begitu ditakuti pada jaman itu. Sehingga pada akhirnya

Kenapa Kartini? Mengapa bukan Dewi Sartika? Dewi Sartika bahkan sudah membangun pendidikan. Bukan hanya pada tataran pemikiran. Selain karena dia tidak menulis sehingga tidak dokumentasikan, mungkin karena kurang gencarnya orang Jawa Barat mempromosikan beliau. Belum lagi, selama 32 tahun kebudayaan Jawa mendominasi kebudayaan Indonesia.

Dan yang terakhir… Mungkin karena kisah hidupnya yang dramatis sehingga memberikan “wow” effect. Seperti yang biasa terjadi pada film-film yang maskulin,

The Sweetheart Must Be Die.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s