Rayuan Maskulin dan Kebahagiaan Feminim

Entah mengapa beberapa hari ini terngiang-ngiang dua lagu ini dan tergelitik untuk melakukan analisis terhadap kedua lagu ini. Dua lagu yang sangat maskulin dengan latar belakang budaya yang bereda.

Buat Aku Tersenyum

Datanglah Sayang Dan Biarkan Aku Berbaring
Di Pelukanmu,walaupun ‘tuk Sejenak
Usaplah Dahiku Dan Kan Kukatakan Semua

Bilaku Lelah Tetaplah Di Sini
Jangan Tinggalkan Aku Sendiri
Bilaku Marah Biarkan Ku Bersandar
Jangan Kau Pergi Untuk Menghindar
Rasakan Resahku Dan Buat Aku Tersenyum
Dengan Canda Tawamu,walaupun Tuk Sekejap
Kar’na Hanya Engkaulah Yang Sangggup Redakan Aku

Kar’na Engkaulah Satu-satunya Untukku
Dan Pastikan Kita Selalu Bersama
Kar’na Dirimulah Yang Sanggup Mengerti Aku
Dalam Susah Maupun Senang

Dapatkah Engkau Selalu Menjagaku
Dan Mampukah Engkau Mempertahankanku …

Lagu ini ngetop pada jamannya. Tahun 2002. Artinya ketika itu saya kelas 1-2 SMP. Banyak anak ABG seumur saya saat itu yang menikmati lagu ini karena alunan musiknya. Yaps, magis The Beatles masih dapat menaklukkan pasar jauh setelah band tersebut tak lagi berkibar. Padahal belum tentu para ABG yang salah satunya adalah saya, mendengar lagu-lagu The Beatles.

All of me

What would I do without your smart mouth?
Drawing me in, and you kicking me out
You’ve got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down
What’s going on in that beautiful mind
I’m on your magical mystery ride
And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be alright

My head’s under water
But I’m breathing fine
You’re crazy and I’m out of my mind

‘Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning
‘Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh

How many times do I have to tell you
Even when you’re crying you’re beautiful too
The world is beating you down, I’m around through every mood
You’re my downfall, you’re my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can’t stop singing, it’s ringing, in my head for you

Give me all of you
Cards on the table, we’re both showing hearts
Risking it all, though it’s hard

Lagu ini adalah yang sedang sering saya dengarkan di radio-radio. Lagu yang dibawakan John Legend. Entah kapan sebenarnya lagu ini rilis. Entah siapa si John Legend itu juga. Pengetahuan saya tentang musik barat sangat terbatas.

Pembahasan Lirik

Secara sekilas, kita dapat mempersepsikan keduanya adalah lagu untuk merayu. Dalam kebudayaan dunia mana pun, yang sering merayu adalah laki-laki. Kalau diambil ekstrimnya, melalui dua lagu ini kita bisa membandingkan dua  cara yang dilakukan laki-laki untuk merayu wanitanya.

Secara psikologis, laki-laki memiliki kebutuhan untuk dihargai dan dihormati jauh lebih besar dari wanita. Apalagi dalam budaya patriarki yang mau tak mau harus kita akui masih mengalir deras di Indonesia. Terutama dalam suku-suku tertentu, semisal Batak dan Jawa. Egoisme laki-laki dalam budaya patriarki sampai ada pada level, “Perempuan harus tetap menghormati Laki-laki seperti apapun bentuk lelakinya”. Terutama dalam hal kesetiaan. Perempuan seringkali dipaksa menerima ketika laki-lakinya memutuskan untuk membagi cinta dengan yang lain. Atau perempuan seringkali dipaksa untuk menerima kembali menerima laki-lakinya yang khilaf berpaling. Budaya yang memaksanya seperti itu, pandangan umum terhadap janda cerai yang buruk.

Tapi tentu ada konsekuensi logis juga bagi sang laki-laki, tuntutan laki-laki untuk menjadi lebih baik dari perempuannya memang menjadi lebih tinggi.Khususnya dalam hal finansial.  Contohnya, kalau perempuan dan laki-laki makan berdua, sewajarnya laki-laki yang membayar tagihannya.  Kalau sampai bayar masing-masing apalagi perempuan yang bayar. Laki-laki tersebut akan dibilang nggak modal dan laki-laki tersebut akan dipandang buruk. Budaya yang memandangnya buruk. Mungkin saja, secara pribadi, laki-laki dan perempuan tidak masalah dengan keadaan tersebut.

Egoisme laki-laki masih terdengar kental dalam kedua lagu ini. Ya, dua lagu ini sama-sama egois.

Yang satu menuntut pasangannya untuk melakukan hal-hal tertentu untuknya. Kejujuran seorang lelaki yang meminta tolong pada wanitanya untuk menemaninya di saat-saat susah. Dan bertanya seakan ragu, “Mampukah kau menjaga dan mempertahankanku?”. Tanpa mengungkapkan apa saja yang telah dan akan dilakukan untuk wanitanya.

Pada lagu All of me, egoisme laki-laki lebih diredam. Mungkin karena posisi perempuan dan laki-laki dalam budaya popular lebih sejajar. Seorang perempuan yang memberikan uang jajan pada pacarnya, dianggap sesuatu hal yang sah-sah saja. Mungkin hanya dikalangan tertentu.  Tapi, hal ini dimaklumi dalam kebudayaan popular. Diluar semua itu, proses merayu pada lagu ini lebih lembut. Menyatakan ketidakberartian sang laki-laki tanpa wanitanya. Menyatakan karena kegilaan sang wanita dan ketidaklogisan laki-lakinya menjadikan mereka bahkan dalam keadaan tenggelam sang lelaki masih bisa bernafas dengan baik. Kiasan. Intinya, lelaki tersebut bisa bertahan dalam keadaan terburuk sekalipun karena wanitanya ada untuk dia. Di akhir, lelakinya menawarkan sebuah transaksi. “You give your all to me, I’ll give my all to you.”

Meski egois, kedua lagu ini akan tetap membuat perempuan luluh. Terkadang egoisme yang dimiliki laki-laki membuahkan rasa nyaman dan aman pada perempuan. Entah bagaimana otak perempuan mencernanya. Secara maskulin, logika saya sendiri menyatakan hal ini aneh. Tapi secara jujur, sisi feminim saya harus mengakui, hal itu pernah terjadi pada saya. Dan kalau dipikir sekarang, mbok ya kemarin itu aku nggak logis banget ya. (Yay! ternyata saya masih perempuan loh!!!!) Perempuan akan merasa berharga ketika ada lelaki yang menyatakan,”Karena ada kamulah aku bertahan sampai hari ini. Karena pendampinganmu selama inilah aku meraih semua prestasi ini”. Kebahagiaan wanita itu sebenarnya begitu sederhana dan mudah. Mudah bagi laki-laki yang mengerti.

Pandangan Perempuan

Sementara dalam pandangan perempuan. Semua itu mudah saja.  Seperti layaknya lagu Taylor Swift ini . Nyanyian seorang perempuan modern yang sederhana dan jatuh cinta pada orang yang orang yang sebenarnya sudah dikenalnya sejak lama. Malah, dalam video clipnya digambarkan dua teman kecil yang pada saat dewasanya, mereka jatuh cinta.

Everything has changed

All I knew this morning when I woke
Is I know something now, know something now I didn’t before.
And all I’ve seen since eighteen hours ago
Is green eyes and freckles and your smile
In the back of my mind making me feel like

I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you

‘Cause all I know is we said, “Hello.”
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You’ll be mine and I’ll be yours
All I know since yesterday is everything has changed

And all my walls stood tall painted blue
And I’ll take them down, take them down and open up the door for you

And all I feel in my stomach is butterflies
The beautiful kind, making up for lost time,
Taking flight, making me feel right

Come back and tell me why
I’m feeling like I’ve missed you all this time, oh, oh, oh.
And meet me there tonight
And let me know that it’s not all in my mind.

All I know is we said, “Hello.”
So dust off your highest hopes
All I know is pouring rain and everything has changed
All I know is a new found grace
All my days I’ll know your face
All I know since yesterday is everything has changed

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s