2 hari Menjelang Pemilu

partai

Tanggal 7 April 2014. 2 hari menuju Pemilihan Umum. Saya jadi teringat sesuatu. Saya adalah golput selama saya di kampus. Kecuali pada tahun pertamanya. Mungkin keadaan kampus saya tidak berbeda jauh dengan keadaan di kampus swasta yang lainnya. Tidak tersentuh pemikiran pergerakan, kecuali hanya ada satu yang terkuat dan mereka melakuakan monopoli. Mau tahu angka pemilih dalam pemilu presmanya berapa? 1200. Saat itu, jumlah Mahasiswa/i baru saja ada 1700. Sejujurnya aku shock se shock-shocknya. Dan hanya saya yang shock. Saya agak bertanya-tanya, apa aja sih yang dilakukan sama eksekutifnya? Sampe yang ngasih perhatian sama pemilihan presma segitu rendahnya dan kenapa semuanya merasa baik-baik saja dengan hal itu? Saya tidak habis pikir.

 Dalam observasi saya saat itu, badan eksekutif mana kala itu hanya berfungsi sebagai penghabis anggaran yang diberikan kampus kepada organisasi-organisasi tersebut. Dan saat itu kelompok yang berkuasanya (yang monopoli itu) agak kolot, nyebelin dan bikin pengen nekein satu-satu. Mereka kurang berusaha untuk membuat orang lain mengerti mereka dan mereka merasa baik-baik saja dengan keadaan seperti itu, karena mereka terus menang. Yang dikejar hanya kemenangan-kemenangan semu, tanpa mengerti esensi dari tujuan kemenangan itu sendiri, yaitu proses pendidikan politik dan proses pendidikan memerintah di kampus itu sendiri. Yang namanya monopoli ya emang bebas-bebas sesukanya mereka aja. Dan jadilah pada tahun berikutnya aku golput ideologis. Sebelum ada proses pendidikan politik dan pendidikan memerintah yang oke, saya akan GOLPUT terus. Dan itu terjadi sampai semester  terakhir saya di kampus. Keun wae lah let it go (antepkeun).

Golput ideologis yang saya lakukan saat itu, saya lakukan dengan penuh kepahaman. Dan saya yakin kalau pun Negara kampus saya itu (kasarnya) amburadul, tidak mengakibatkan hal fatal bagi khalayak ramai. Walau saya sama sekali tidak mengharapkan itu.

Lalu hubungannya dengan pemilu 9 April apa? Angka golput pada pemilu kemarin hamper mencapai 40%. Dan angka-angka golput pada pilkada-pilkada hamper menyentuh angka 50%. Artinya masyarakat semakin apatis dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah kita. Pendidikan politik pun belum merata (ya wong di kampus aja angka pemilihnya kurang dari jumlah satu angkatan). Emang kalau nggak ada yang milih kenapa? Lalu siapa yang akan mengakui eksekutif dan pemerintah. Siapa yang akan mendukung program-program Negara? Siapa yang nantinya akan mau diatur Negara? Bisa dikatakan Negara menjadi lemah di mata rakyatnya sendiri. Apalagi kalau pihak asing melihat bahwa hal tersebut dapat dimanfaatkan. Aku nggak berani lagi ngebayangin apa yang selanjutnya akan terjadi.

Semua simulasi ini saya refleksikan dari Negara kampus saya. Dengan segala keapatisan mahasiswanya terhadap politik dan kepemilikan organisasinya yang kurang. Jadilah Negara kampus itu begitu lemahnya. Dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika pihak asing (rektorat) melakukan intervensi dan malah Negara meminta intervensi pihak asing (rektorat). Begitulah sejauh apa yang saya pikirkan. Kalau terlalu jauh… kita nyanyi aja…

Let it go, let it go
Can’t hold it back anymore
Let it go, let it go
Turn away and slam the door

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s