Tenggelamnya Kapal van der Wijck

TKVDW

Tenggelamnya Kapal van der Wijck adalah roman. Kisahnya dimulai saat Zainudin dan Hayati belum lahir dan berakhir ketika keduanya telah mati. Novel ini berkisah tentang cinta seorang Zainudin yang berdarah campuran minangkabau-bugis dengan Hayati yang minangkabau tulen, keturunan bangsawan pula. Pesannya adalah Indonesia saat itu belum bersatu sehingga peranakan campuran dianggap tidak berbangsa. Gamang identitas. Dia dianggap orang Minang oleh kerabatnya di tanah Bugis dan dianggap orang Bugis oleh kerabatnya di tanah Minang.

Kegamangan identitas inilah yang menjadi alasan utama para tetua dari Hayati lebih memilih Aziz yang berdarah Minang tulen sebagai suami Hayati. Belum lagi Zainudin yang miskin dan tidak punya harta pusaka. Harta pusaka dan garis marga dalam kebudayaan Minangkabau selalu jatuh pada dan dari garis perempuan. Sementara itu, garis keturunan Minang Zainudin didapatnya dari ayahnya. Maka terputuslah marga baginya.

Selain itu, buku ini juga bercerita tentang modernisasi yang dikomandoi pemerintah kolonial yang berkuasan saat itu berefek negatif terhadap identitas orang Indonesia dalam hal ini orang-orang Minang yang digambarkan ketika Hayati rela melepas baju kurung dan selendangnya (baju muslim dan hijab pada zaman tersebut) ketika bergaul dengan keluarga Khadijah dan Aziz yang telah terpengaruh budaya orang-orang kolonial. Hayati Cultere Shock. Lagi pula, pemahaman orang-orang ketika itu bahwa menutup aurat hanyalah masalah kebiasaan bukan identitas sebagai muslimah. Bahkan dikatakan jelas oleh Khadijah bahwa hal tersebut hanyalah kebiasaan orang kampung.

Kebiasaan berjudi yang parah saat itu telah mempengaruhi orang terpelajar sekelas Aziz sampai preman pasar tak berpendidikan sekelas Muluk. Orang terpelajar yang stres dengan segala tuntutan yang ada dan ketiadaan lapangan kerja untuk orang tak berpendidikan menyebabkan budaya judi begitu mudah merasuk ke segala kasta sosial.

Dikatakan juga bahwa perkawinan Hayati dan Aziz adalah perkawinan tanpa cinta dan tidak memperhatikan budi pekerti. Hanya perkawinan antara kekayaan dan kecantikan. Hal ini sudah marak pada jaman itu dan masih marak sampai saat ini. DIceritakan bahwa perkawinan itu tidak ada bahagia kecuali sebentar saja. Artinya sampai saat ini belum banyak wanita yang belajar masalah ini. Perkawinan semacam itu tidak akan membawa berkah. Begitu juga menikahi wanita hanya karena kecantikan wajahnya juga tidak akan membawa bahagia, kecuali ketersiksaan mengetahui bahwa istrinya dan pemuda lain saling mencintai.

Bagaimana dengan Zainudin? Zainudin diceritakan mati dalam penyesalan. Penyesalan setelah menyuruh Hayati pulang ke Padang dengan Kapal van der Wijck yang akhirnya karam. Hayati yang ditolaknya karena ego lelakinya yang tak mau makan “sisa”. “Sisa” yang dimaksud adalah Hayati yang telah menjadi janda Aziz yang bunuh diri setelah di PHK dan bangkrut. Hayati yang diserahkan Aziz yang telah sadar atas semua keburukan dirinya kepada Zainudin untuk dicintai dan dibahagiakan. Zainudin menolaknya dengan egois.

Ini sama sekali bukan fairy tale. Ini tragedi. Tragedi cinta dengan latar budaya, harta dan harga diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s