Tuhan Tidak Sedang Bermain Dadu Apalagi Bercanda

Kenapa begini dan kenapa begitu? Bukannya saya ingin meratapi, tapi karena saya merasa perlu melakukan evaluasi terhadap hidup saya. Evaluasi terhadap bagaimana saya mengambil keputusan-keputusan tersebut. Dan apa yang salah dari proses pengambilan keputusan hidup saya itu. Sehingga saya MERASA kurang nyaman akan keadaan hari ini. Saya tidak mau membohongi diri sendiri kalau saya baik-baik saja. Karena berbohong pada diri sendiri tidak akan menyelesaikan masalah saya. Saya harus jujur dan mengenali masalah yang ada pada diri saya.

Dan saat ini… sangat harus saya akui bahwa saya berada di dalam tekanan. Tekanan pikiran diri saya sendiri. Karena sesungguhnya saya belum mendapat jawaban “teknis” untuk apa saya hidup. Jangan ajari saya tentang “hidup untuk beribadah”, “hidup untuk memberi manfaat”, lalalala cuh. BASI! Tetep aja toh saya butuh makan pake keringet sendiri.

Saya ini cukup bodoh untuk tahu apa yang harus dilakukan secara teknis tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup ini. Saya juga terlalu sombong untuk tidak menyalahkan Tuhan dalam keadaan yang menimpa saya hari ini. Konyol memang mengakui kebodohan dan kesombongan. Tapi, itu sangat saya perlukan untuk mengurai masalah yang ada dalam diri saya saat ini.

Kecewa? Kecewa pada orang lain? Kuno. Memang tak ada manusia yang bisa kamu percaya 100%. Kau harus siapkan ruang untuk kecewa. Atau bahkan kau belum sadari bahwa memang hidup memang perjudian? Perjudian akan rasa percaya. Kau bisa menang besar atau bangkrut total. Kecewa karena kepercayaan yang dikhianati oleh manusia, seharusnya bukan lagi levelmu. Juga termasuk percaya pada diri.  Seperti dirimu tak punya atau tak percaya Tuhan.

Bagaimana dengan percaya pada Tuhan? Bagaimana kalau Tuhan itu ternyata tidak ada? Tak masalah. Tak ada kerugian bukan? Tapi bagaimana seandainya kita tak percaya pada Tuhan, dan ternyata Tuhan itu ada?

Bagaimana kalau kecewa pada Tuhan? Meratap mengapa Tuhan mengijinkan semua terjadi. Menuding Tuhan tak adil. Karena tak ada satu pun kejadian tanpa ijinNya. Saya terlalu pelupa untuk ingat Tuhan tidak pernah bercanda dan bermain dadu dengan ketetapan yang telah dia tetapkan . Perhitungannya akurat. Karena saya pelupa, maka saya diingatkan dengan bahasaNya.

Kenapa semuanya harus saya yang mengalami? Karena Tuhanmu paling tahu apa cara yang paling tepat memberimu jawaban. Saat ini adalah dimana Tuhan ingin kamu menemukan jawaban dari semua pertanyaan hidup yang sudah lama kau tanyakan.

Semua itu demi satu hal, dirimu yang lebih baik. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

Oh, Tuhan. Ampuni aku yang begitu bodoh, sombong dan lupa untuk mengenali cintaMu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s