Perempuan-perempuan Buru Mbah Pram

Perempuan. Nama sebuah makhluk yang kadang dilihat sebelah mata, bahkan oleh kaumnya sendiri. Ada seorang penulis ternama Indonesia yang bernama Pramoedya Ananta Toer. Dia sering membahas tentang perempuan-perempuan pada masanya. Setidaknya ada tiga buku yang khusus membahas tentang perempuan, yaitu Larasati, Minah dan Gadis Pantai. Namun, saya tidak ingin membahas ketiganya, tapi yang saya ingin bahas adalah perempuan-perempuan yang ada di tetralogi buru milik Pram.

Tetralogi buru terdiri dari empat novel yang saling mendukung jalan ceritanya. Buku-buku tetralogi buru adalah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Setidaknya ada 6 orang wanita yang diceritakan dalam tetralogi buru, yaitu Nyai Ontosoroh, Annelise Mallema, Ang San Mei, Prinses van Kaistura, Gadis Jepara dan Siti Soendari.

Nama asli dari Nyai Ontosoroh adalah Sanikem. Dia adalah seorang gundik. Ameliorasi dari istri simpanan. Gadis pribumi yang harus melayani seorang kulit putih sampai dia menemukan wanita yang sepadan untuk dinikahi secara hukum. Gundik tidak dinikahi secara hukum, namun punya kewajiban melahirkan anak-anak sang kulit putih.

Lewat Nyai Ontosoroh ini, digambarkan secara jelas, bahwa perempuan pribumi tidaklah berbeda dengan budak bagi para kaum pendatang kulit putih. Selain itu juga digambarkan betapa kejam para penjajah telah membuat pribumi tanpa daya. Terutama perlakuan mereka pada perempuan. Para perempuan ini memang tidak dibunuh, tapi direndahkan sejajar dengan budak. Padahal mereka adalah merdeka.

Namun, semua itu menjadikannya kuat. Bukan hanya kuat, tapi cenderung ambisius. Dikisahkan bahwa Nyai Ontosoroh memegang kendali perusahaan yang dia bangun bersama sang suami setelah sang suami menjadi “gila”.

Nyai Ontosoroh mempunyai seorang anak perempuan bernama Annelise Mallema. Istri pertama dari sang tokoh utama, Minke. Karakternya sangat lemah lembut. Wajahnya pun digambarkan sangat cantik. Minke sendiri mengibaratkannya sebagai bunga akhir abad.

Akhir cerita, dia dimatikan oleh Pram dalam keadaan yang tidak begitu baik. Mati karena dia terlalu lemah. Tidak hanya secara fisik, tapi juga mental. Karena dikisahkan bahwa perempuan indo belanda ini dikisahkan meninggal dalam keadaan linglung, bukan hanya fisiknya yang sakit tapi juga jiwanya.

Awalnya, Ang San Mei adalah tunangan dari sahabat perjuangan Minke yang datang drai Tiongkok. Sang sahabat sendiri adalah orang yang banyak menginspirasi Minke bahwa memang bangsa Asia perlu melakukan perlawanan terhadap orang eropa. Sahabat Minke tersebut pada akhirnya mati dalam pertempuran melawan kolonial.

Ang San Mei dan Minke menikah walau mereka berbeda keyakinan. Tentu saja hal ini bukan ajaran yang dapat dibenarkan. Namun, Pram seperti ingin berkata bahwa asal tujuannya sama, landasan ideologi apapun bisa dikompromikan.

Ang San Mei ditunjukkan sebagai permodelan perempuan aktivis. Dia dikisahkan meninggal karena digerogoti penyakit yang tidak dia pedulikan. Dia terlalu sibuk menggerakkan bangsanya yang ada di Hindia. Dia bahkan tidak mengijinkan suaminya, Minke, untuk tahu apa yang dikerjakannya. Tahu saja tidak diijinkan, apalagi melarang.

Prinses van Kasitura adalah seorang putri dari pejabat di sebuah daerah bernama Kasitura. Seorang putri yang ayahnya dibuang ke Batavia karena tidak tunduk  kepada pemerintahan kolonial. Ketidakpatuhan sang ayah ternyata tidak lepas dari dukungan sang putri.

Minke yang kala itu dikisahkan memang dekat dengan pemerintahan kolonial, diminta untuk mengendalikan perlawanan ini dengan menikahi sang putri. Hal ini biasa dilakukan pada perempuan-perempuan vokal jaman dahulu. Termasuk pada seorang Gadis Jepara yang dikisahkan sering saling berkirim surat dengan Prinses.

Dukungan Prinses memang berbeda dengan dukungan Ang San Mei. Tapi Prinses dikisahkan sebagai seorang wanita yang berbakti pada suaminya. Walau dukungan tidak secara nyata ada dalam pembentukan SDI. Namun, dia rela melakukan apapun untuk sang suami. Termasuk membunuh lawan suaminya, meski sang suami tidak memintanya. Semua itu dilakukannya, bukan karena sang suami yang meminta pengabdiaanya. Tapi karena memang Prinses yang merasa bahwa itu adalah kewajibannya.

Gadis Jepara adalah nama yang disebut untuk teman surat menyurat Prinses van Kasitura. Tebakan saya, dia adalah Kartini. Namun, tak pernah sekali pun Pram menyebutkan nama Kartini. Dia digambarkan sebagai perempuan yang ingin melawan mitos ketidakberdayaan seorang perempuan terhadap budaya jawa yang patriarki.

Gadis Jepara dinikahkan paksa sebagai istri ke sekian untuk “menghabiskan” gerakannya. Hal ini dia ikhlaskan karena dia tidak diberikan pilihan untuk memilih. Dia ingin sekolah. Sekolah sampai tinggi. Dalam suratnya pada Prinses, dia berencana akan meminta cerai setelah melahirkan anaknya. Gadis Jepara berpikir hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa membebaskan seorang wanita. Satu-satunya cara untuk dapat bebas memilih sendiri jalan hidupnya. Sayang, dia meninggal setelah melahirkan anak pertamanya.

Siti Soendari adalah seorang aktivis wanita yang berasal dari kalangan jawa pasaran. Tepanya kalangan buruh tani. Berbeda dengan Gadis Jepara yang merupakan wanita dari kalangan ningrat. Karena itulah, sang ayah tidak bisa melakukan perlakuan dominasi terhadap Siti Soendari. Selain itu, Ayah dari Siti Soendari pun memiliki majikan yang memiliki pemikiran yang humanis. Kira-kira beginilah pesannya pada sang ayah. “Jangan kau nikahkan Soendari itu. Dia punya potensi untuk maju. Jangan habiskan potensinya itu dengan menikahkannya.”

Dia dikisahkan kuat dan tegar dalam kelembutan. Saya rasa ini adalah potret ideal mbah Pram untuk seorang wanita pribumi.

Satu kekurangan yang belum digambarkan Pram tentang wanita-wanita burunya adalah setegar apapun seorang perempuan, dia tetap makhluk yang diciptakan Tuhan berhati halus, berperasaan lembut, yang mudah menangis, mudah tersentuh dan rapuh. Rapuh yang bukan berarti tergantung pada belas kasihan laki-laki. Namun, tetap butuh cinta seorang laki-laki, memiliki anak dan keluarga yang bahagia. Dia tak butuh laki-laki untuk menanggung hidupnya. Namun, bukan berarti dia tak butuh laki-laki untuk dicintai.

Veris 1 : 220711

Versi 2 : 031212

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s