Keputusan Terbesar ke 2

Sebuah keputusan yang bisa dibilang kedua terbesar dalam hidupku. Setelah keputusanku untuk keluar dari Ganesha 10. Aku keluar dari komunitas itu. Komunitas yang berisi orang-orang baik dan shaleh itu. Bukan salah mereka, sama sekali bukan. Tapi aku jijik pada diriku sendiri yang begitu kotor. Kotor dalam ukuran sistem nilai komunitas tersebut. Aku mencoba menjadi bersih namun aku merasa itu bukan aku dan aku tidak nyaman dengan diriku yang bersih. Konyol, itulah penilaianku terhadap diriku sendiri dulu.

Aku marah. Marah pada diriku sendiri. Kenapa tak suka dengan diriku yang bersih. Pemikiran untuk keluar sudah sejak lama ada. Lalu bagaimana caranya aku keluar. Jika aku keluar, apa yang akan dilakukan komunitas itu padaku. Mereka orang baik, pasti tak berani macam-macam padaku. Tapi, bagaimana mereka akan memperlakukanku? Jelas akan ada perbedaan. Pertimbangan paling berat aku saat itu adalah, bagaimana identitas sosialku? Jika aku keluar dari komunitas itu, hal yang kusadari secara pasti adalah aku harus membangun identitas sosialku DARI AWAL. Orang-orang tak tahu. Karena itu terjadi dalam ruang otakku. Itulah hal yang kunilai paling berat.

Dan masa-masa itu telah kulalui. Sejujurnya di awal agak sulit. Membangun identitas sosial, citra diri dari awal adalah hal terberat. Selain itu juga aku harus membangun sistem nilaiku sendiri, yang tak tergantung pada komunitas. Sulit, masa tersulit dalam kehidupan pemikiranku. Bisa dibilang, hal ini menjadikanku study holic. Bukan soal kuliah, tapi tentang hidup, sastra, filsafat dan cinta.

Masa itu sudah berlalu. Mungkin tak ada yang tahu. Dan aku pun tak mau mereka tahu. Aku mulai bisa menerima bahwa aku adalah aku. Mereka adalah mereka. Kita adalah kita. Kamu tidak akan selalu jadi kita tapi bisa jadi mereka.

Jadi kumohon, aku nyaman dengan diriku sendiri saat ini. Aku ingin diriku yang satu ini. Bagaimana pun caranya jangan paksa aku kembali. Apalagi kalau kau ingin cintaku. Cintaku sebagai teman, cintaku sebagai manusia dan mungkin cintaku sebagai perempuan.

Mungkin memang harus begini caranya. Cara untuk memaafkan diriku sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s