Supernova

Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh

Supernova yang ini terang benderang bahkan cederung gemerlapan.Kehidupan yang ingin ditonjolkan adalah kehidupan populer. Sama sekali tidak relijius. Ada homoseksual, ada pramuria, perselingkuhan,  ada pula eksekutif. Mungkin masa-masa itu memang sedang banyak membahas masalah itu. Tahun-tahun pertama lepas dari orde baru. Sedang euphoria-euforianya. Diantara semua Supernova yang sudah terbit Ini adalah yang paling kental kisah romansanya… satu kalimat yang sangat menginspirasiku…

CINTA TIDAK BUTUH TALI

Dia membabaskan.Jadi untuk apa kita melawan arus dengan saling menjajah.

Dia akan menjadi cinta tanpa adanya ikatan apapun. Legitimasi apapun… karena Cinta memang sebesar Cinta itu sendiri…

Dalam… aku sendiri menganalogikannya sebagai berikut…

KEBENARAN YANG TIDAK BUTUH PEMBENARAN.

Dia akan tetap menjadi benar walau tak ada satu pun Homo sapiens yang menganggap itu benar.

Untuk Supernova yang satu ini. Banyak sekali dimensinya, kompleks, Karena itu, setiap orang pasti punya interprestasi yang berbeda-beda ketika membacanya. Jangankan orang yang berbeda, orang yang sama pun bisa jadi punya interpretasi yang berbeda ketika membaca yang pertama dan kedua.

Selain itu adalah buku ini juga menggambarkan bagaimana sebuah potensi kekacauan ada pada partikel yang paling seimbang. Satu-satunya yang teratur di dunia ini adalah ketidakteraturan itu sendiri. Satu-satunya yang abadi di dunia ini adalah ketidakabadian itu sendiri.

Akar

Supernova yang ini adalah yang paling abstrak. Mungkin karena pengetahuan saya yang jauh dibawah penulis dalam hal ini. tapi saya bisa ambil pesan-pesan inti penulis.

pesan intinya 1 : perbedaan seseorang yang sudah memeluk agama budha sejak lahir, Bodhi. Dia tidak puas dengan yang selama ini dianggapnya Tuhan. Di sini dia kehilangan arti hidupnya. Sehingga pada akhirnya dia melakukan perjalanan. Muter-muter di Thailand-Myanmar-Vietnam. Negara-negara Konghucu. Tapi tidak ke Cina. Mungkin karena Cina saat itu komunismenya masih kuat. Tapi tidak juga ia temukan. Dia cenderung “sakit”. Mungkin karena dia tidak bersyukur dengan hidupnya.

Penulisnya membandingkannya dengan Tristan yang atheis dan malah menemukan Tuhan nya melalui Bodhi. Kedamaian jiwa yang dirasakan kedua digambarkan berbeda. Entah apa yang ingin disampaikan penulis disini. Sepertinya aku dan penulis tidak begitu sefrekuensi disini.

Petir

Menurutku lebih bagus Petir daripada Akar. Atau lebih tepatnya aku lebih mengerti Petir daripada Akar. Ada satu percakapan spontan yang sangat saya sukai antara Elektra dan Ibu Sati. Intinya berbunyi seperti ini…

“Kenapa kamu mencari Tuhan?”

“Kenapa tidak?”…

Yang sama artinya dengan…

“Kenapa kita tidak mencari Tuhan?”

Ini adalah sebuah pertanyaan yang hanya berani saya tanyakan tapi tidak berani saya jawab selain dengan pertanyaan lagi. Seperti

“Kenapa kita perlu mencari Tuhan?”

“Apakah kita benar-benar perlu mencari Tuhan?”

“Apakah kalo kita tidak mencari Tuhan kita akan mati?”

Pertanyaan-pertanyaan ini hanya mampu dijawab dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Dari semua pertanyaan yang muncul point selanjutnya adalah sebuah pernyataan yang sangat dalam. tentang semua pertanyaan-pertanyaan itu. Persoalannya bukan pada pertanyaan-pertanyaan itu, tapi apakah kita bisa mendengar jawabannya yang mungkin hanya dalam bahasa semesta.

ada sebuah pertanyaan yang mungkin disinilah Penulis ingin menjawab semua pertanyaan pembacanya tentang dirinya yaitu ketika elektra bertanya, “Ibu, Agamanya apa?”

dia hanya menjawab dengan analogi… “Ketika orang bertanya tentang air mungkin ada yang bilang air laut atau air sungai. tapi apakah salah jika saya bilang itu air?”

analogi yang agak nggak nyambung, tapi mungkin memang seperti itulah apa yang ada dalam pikirannya tentang agama.

Partikel

Bercerita tentang Zarah yang seorang muslim. Diantara 4 bukunya, aku paling satu frekuensi sama yang ini. Mungkin karena latar belakang Zarah yang muslim. walau dia memang tidak memberikan gambaran agama islam secara kaffa. Mungkin memang seperti itulah pandangan para non-islam terhadap islam. Saya sangat suka pendekatan Penulis. Pendekatan biologi, darwinisme.

saya sangat suka ketika dia bicara tentang DNA Simpanse yang lebih mirip Homo Sapiens daripada Gorilla. mereka dibedakan karena bapak taksonomi takut dianggap melawan gereja. dan kenapa kita perlu peduli dengan itu? Tujuannya adalah supaya kita tidak sombong di alam ini. Bahwa kita sedemikian dekat dengan simpanse dan alam ini. Tidak terpisah.

Satu hal lagi yang menarik dari Partikel adalah kisah cinta anak 14 tahun yang baru dialami Zarah saat berumur 22 tahun. Kisah cinta yang dimaksud adalah kisah cinta yang butuh legitimasi. Yang tidak “TANPA TALI”. Mungkin sisi yang ini aku dan Zarah senasib. Tertinggal hampir 1 dekade. Tapi ketika kita renungkan lagi, apakah cinta benar-benar tidak butuh tali?

Berbeda dengan supernova 1, supernova 2,3,4 cenderung kental budhisme. Mungkin menggambarkan pengetahuan penulis. Selalu ada tentang meditasi, yoga atau sejenisnya. Kalau kita tarik ke kehidupan modern cenderung klenik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s