Aku

AKU 

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Sepenggal puisi Chairil Anwar. Angkuh dan Ironi. Itu adalah 2 kata yang bisa aku ucapkan untuk menginterpretasikan puisi ini.

Aku. Kata ganti yang dipakai Khairil Anwar. Penyair yang candu rokok itu dalam puisi fenomenalnya. Bayangkan jika kata gantinya saya. Akan terdengar lucu. Ya. Aku adalah tanda keangkuhannya.

Aku ini binatang jalang 
Dari kumpulannya terbuang 

Biar peluru menembus kulitku 
Aku tetap meradang menerjang 

Dia menghargai begitu rendah arti dirinya sendiri. Binatang jalang dari kumpulan yang terbuang. Tapi, lalu memperlihatkan keteguhannya. Biar peluru menembus kulitnya, dia akan tetap menerjang.

Ironi. Binatang jalang yang tetap akan menerjang meski peluru menembus kulitnya. Tapi tetap menyiratkan keakuan.

Luka dan bisa kubawa berlari 
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi 

Lukanya akan dibawanya lari hingga mati rasa. Dan dia tidak peduli lagi karena dia merasa akan hidup 1000 tahun lagi.

Aku yang merasa tak berharga. Hancur. Namun tetap menerjang sampai aku tak lagi rasakan rasa sakit peluru yang menembus dadaku. karena aku ingin hidup 1000 tahun lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s