Ketika Teknik bicara Hukum

Pada dasarnya. Ilmu Teknologi sebagai ilmu terapan adalah mengolah sesuatu yang tidak ideal dialam nyata menjadi seideal teori yang ada. Sebagai contoh, idealnya semua energi potensial yang ada berubah menjadi energi kinetik. Karena energi mekanik adalah kekekalan. Pada kenyataannya energi potensial ada yang berubah jadi energi gesek atau yang secara fisik bisa terasa adalah energi panas.

Dalam bahasa Teknik Informatika mungkin bisa dibahasakan bahwa komputer bagaimanapun bisa menyimpan citra sebagai data digital yang bersifat diskrit sehingga PASTI mengalami kuantisasi. Namun, kita sebagai Informatics Engineer haruslah mengakali semuanya agar citra yang telah didigitalisasi masih TERLIHAT sama dengan yang aslinya.

Hukum adalah sesuatu yang memaksa dan setidaknya harus dipatuhi secara terpaksa oleh pihak yang telah ditentukan sebagai orang-orang yang terikat oleh hukum tersebut. Hukum haruslah merupakan sesuatu yang tegas. Tidak fleksibel dan sama sekali tidak sama dengan teknik. Apalagi hukum yang mengatur negara. Minimalnya negara mini.

Pembentukan hukum merupakan asimilasi sosial dari setiap individu yang terikat dengan hukum itu. Hal yang wajar ketika kaum minoritas harus mengalah. Hal yang aneh kalau kalangan mayoritas harus mengalah. LUCU. Tapi ketika mayoritas menginjak minoritas pun itu sesuatu yang kejam.

Hukum tidak bisa fleksibel. Ketika ada rasa keadilan yang terhenyak. Hukum tersebut adalah hukum yang, mungkin tidak salah, namun belum saatnya diterapkan, atau tidak relevan lagi diterapkan. Kemungkinan terburuk adalah memang hukum itu salah karena yang membuatnya tidak kompeten. (saya nggak bilang saya kompeten loh ya…)

Kita homo sapiens = manusia cerdas. Punya nilai humanity yang pasti berbeda dengan spesies animalia lainnya. Kalau tidak berbeda, jangan katakan bahwa kita adalah manusia, makhluk yang Tuhan pun lebih meninggikan derajat kita dibanding malaikat yang tidak pernah membangkang padaNya.

Salah. Banyak sekali parameter dari semua itu. Sesuatu bisa saja menjadi salah jika hal itu merugikan salah satu pihak yang menyepati sebuah hukum. Dan sebuah kenaifan ketika kita menyepakati sebuah hukum yang kita tahu akan merugikan kita. Kita tahu ada banyak kelemahan di dalamnya.

Namun, jangan salahkan orang yang pintar kalau kau tidak sepintar mereka. Bila kau terhenyak karena strategi yang digunakan dan kau sadar kau benar-benar salah menyusun strategi. Jangan mempersulit orang-orang yang ingin menegakan hukum di negara kecil ini.

Politik itu kotor. Perang itu kejam. Walaupun dijalankan dengan niat yang bersih. Itu adalah sebuah keniscayaan. Karena setiap manusia hidup dengan motivasinya masing-masing.

Saya tidak membela siapapun. Tidak memihak siapapun. Saya hanya memberikan sebuah pandangan lain dari seorang rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa dan miris dengan segala yang terjadi dalam negara kecilnya. Seorang rakyat kecil yang sebenarnya tidak lagi terlalu peduli dengan keberadaan negara kecil tersebut.

Gunakan hati nuranimu, logika fisikmu, untuk katakan yang benar adalah kebenaran, yang salah adalah kesalahan. Bukan karena kamu diuntungkan atau tidak. Kasta waisya itu perlu namun, jika semua berkasta waisya akan hancur dunia ini. (https://khadijahavicena.wordpress.com/2011/08/05/kebenaran/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s