Merdeka

Ada sebuah kejadian di ujung barat Indonesia yang membuatku kembali berpikir. Papua adalah sebuah tanah yang sangat kaya, namun masyarakatnya sangat miskin. Aku memang tak tahu apa-apa soal “nation” dan nasionalisme. Yang aku tahu hanya soal manusia. Manusia yang berhak hidup seiring walau tidak sejajar.

Bila teringat awal mula tanah itu bergabung dengan republik ini, aku merasa republik berperilaku tidak berbeda dengan  pemerintah Kolonial Belanda kepada sebuah tanah bernama Hindia. Raja-raja jawa yang saling membunuh berebut kekuasaan politik.

Suasana politik yang tidak menentu, ketidakpastian kekuasaan membuat ekonomi terpuruk. Rakyat jelata hanya kenyang dengan mitos yang disuapi oleh orang-orang yang bukan rakyat. Mitos tentang kejayaan negeri yang semakin luas.

Apakah itu benar-benar berpengaruh pada mereka? Apakah perut mereka menjadi semakin kenyang? Kupikir hanya kasta Waisya dan  Ksatria yang merasakan pengaruhnya. Rakyat kebanyakan yang berkasta sudra, tidak mendapatkan apa-apa.

Maka dari itulah ketika ada sebuah serikat dagang milik Belanda (VOC) pada akhirnya dapat mengalihkan perhatian raja-raja itu dengan memberi mereka pekerjaan agar fokus menggali potensi daerah mereka. Karena semakin banyak yang diserahkan pada VOC, semakin banyak bagian yang didapat oleh penguasa daerah.

Pada akhirnya banyak kerajaan-kerajaan yang mati akibat urusan intern tersendiri. Mirip kisruh partai yang pecah belah lah kalau jaman sekarang mah. Pada akhirnya banyak daerah tidak berpemerintahan yang akhirnya diperintah oleh VOC. Perilaku
pemerintah kolonial Belanda dan Jepang tidak jauh berbeda.

Bahkan ketika kita mendengar kesenjangan kemajuan di daerah dan pusat. Tidakkah kita bisa menyimpulkan bahwa ini adalah “penjajahan” yang dilakukan pemerintahan pusat yang terhadap daerah-daerah tertentu, salah satunya adalah Papua?

Telah banyak yang dilakukan setelah masa reformasi dan otonomi daerah. Namun, setelah 13 tahun lamanya, ternyata “keadilan” itu masih belum merata. Apalagi kalau terhitung dari umur republik ini 66 tahun. Sudah renta, seharusnya tinggal menikmati pensiun. Mulai memetik kemakmuran. Kenyataannya masih harus bekerja keras seperti anak muda.

Terkadang sejarah dunia hanyalah pergantian orang-orang yang berkuasa. Tanpa perubahan perilaku dari kekuasaan itu sendiri.

2 thoughts on “Merdeka

  1. sepertinya konsep negara federal seperti britania raya lebih pas…united country.
    Otonomi khusus buat papua ala distrik baru mulai stlh reformasi, ya butuh waktu untk melihat hasilnya yg tdk instan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s