Kenapa Harus Mbah Pram?

Aku berkenalan dengan nama ini sejak kelas 2 SMP. Saat itu guru bahasa Indonesiaku sedang berkisah tentang sajaknya Taufik Ismail yang Aku Malu Jadi Orang Indonesia. Entah mengapa percakapan tiba-tiba saja merembet ke topik dimana orang-orang yang pernah berkunjung ke Rusia da Cina pada tahun 1960an tidak dapat kembali lagi ke Indonesia karena terindikasi terlibat komunisme. (uhuy bangetlah… baheula asa keren tahu ngedengerin ini semua… barijeung nggak ngerti-ngerti amat sih sebenernya…) dan tiba-tiba bercerita guruku ini tentang seorang penulis bernama Pramoedya Ananta Toer. Saat itu sekitar tahun 2002-2003. Semangat reformasi masihlah kental.

Pram… diceritakan oleh guruku itu sebagai salah satu “Orang Indonesia” yang tulisannya begitu popular di dunia internasional tapi tulisannya itu sendiri tidak terbit di negeri sendiri. Sebelumnnya juga guruku itu bercerita tentang Habibie yang kala itu karier politiknya sudah habis dan saat itu bekerja di Jerman. Intinya beliau menyayangkan penghargaan bangsa ini kepada putra-putra terbaiknya.

Pram juga diceritakan sebagai seseorang yang sering keluar-masuk penjara. Ada dua hal yang bisa menjebloskan seseorang kedalam penjara. Pertama karena dia adalah seorang pesakitan sampah masyarakat . Kedua, bisa jadi dia adalah seorang pahlawan yang mempersulit penguasa lalim. Yang perlu kita ingat adalah bahwa Soekarno proklamator bangsa ini juga sering keluar masuk penjara. Juga Hasan Albana yang mendirikan organisasi pergerakan islam skala internasional Ikhwanul Muslimin.

Tapi satu peringatan guruku, bahwa Pram itu pernah dianggap komunis. Komunis yang identik dengan atheisme. Sejujurnya aku tertarik namun juga ketakutan. Takut pemikiranku jadi aneh-aneh. Saat itu umurku belum genap 14 tahun. Aku merasa belum cukup bekal untuk menjelajahi hutan belantara pemikiran seorang Pram.

Sampai suatu ketika bukunya datang dengan sendirinya kehadapanku. Memohon-mohon untuk dibaca. (personifikasi yang sangat lebay…)

Aku terpikat setelah membaca 30 halaman Bumi Manusia. KEREN. KEREN. KEREN.

Kini aku sudah baca satu rangkaian tetralogi yang (menurutku) merupakan karya terbaiknya Pram. Tetralogi Buru. Aku suka semua pandangannya. Tentang perlawanan, negara, bangsa dan yang paling penting adalah tentang Perempuan. Hanya satu yang aku kurang suka, penghargaannya terhadap agama.

2 thoughts on “Kenapa Harus Mbah Pram?

  1. sedikit sinopsis mengenai om pram,ngebuat jd pengen baca. Oke pas ke bdg, aku jgn smpe lupa bawa bumi manusia. kita sungguh berbeda ai, pas aku kelas 2 smp aku lebih sering diceritakan dan disruh baca novel salah asuhan dgn karakter si hanafi yg mencintai gadis bule (kalo aku ga salah)

    • aku juga waktu itu disuruh baca. tapi, bahasanya lebih melangit itu Li… Abdul Muis gaya tulisnya sangat melayu… bertolakbelakang dengan Pram yang cenderung to the point…
      tapi secara bobot apa yang dibicarakan jauh lebih berat apa yang dibicarakan pram… kalo jaman dulu aku bacanya… pasti amat nggak ngeri apa-apa mengerti…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s