Kuasa

Umur sejarah manusia bukan dimulai kemarin sore. Sudah banyak yang berkuasa, sudah banyak pula yang jatuh. Maka naik dan turun “sesuatu” adalah sebuah keniscayaan. Hanya saja memang dialami oleh orang-orang yang berbeda dalam rentang waktu yang relative panjang setiap generasinya. Sehingga tetap menimbulkan “kehebohan” yang tak terbatahkan. Karena orang yang berkuasa ingin tetap berkuasa dan yang merasa tidak nyaman dengan kekuasaan itu, merasa terdzalimi, merasa lebih berhak akan kekuasaan itu.

Huff!

Kalau kata Gie yang paling beruntung adalah tidak pernah dilahirkan. Kalau kata saya, orang yang paling beruntung adalah orang yang tidak punya identitas kolektif. Bahwa dirinya adalah “sesuatu” . Kalau dia melakukan kesalahan, dia tidak akan membuat orang lain berkorban, begitu juga sebaliknya. Walau pada akhirnya hal yang paling beruntung itu adalah tidak mungkin di dunia ini. Kita tidak bisa hidup sendiri, dan untuk semua itu kita membutuhkan banyak kompromi.

Pemberontakan

Keberadaan kutub selatan adalah konsekuensi dari keberadaan kutub utara. Hal ini sejalan dengan keberadaan kekuasaan dan pemberontakan. Sebuah keniscayaan konsekuensi. Dan karena itu sejarah dunia masih berjalan sampai hari ini. Bukan sejarah robot. Yang hanya bisa menuruti keinginan programer sesuai dengan perintah operatornya. Kita ini diberi akal untuk berpikir.

Setiap revolusi dan ketumbangan kekuasaan suatu kaum pastilah dimulai dengan pemberontakan sekelompok orang yang MERASA lebih pantas untuk berkuasa. Dan ini pasti dipacu oleh ketidakadilan yang dilakukan yang berkuasa. Entah itu ketidakadilan yang berupa kesewenang-wenanganl, atau ketidakadilan ketika yang didapat tidak seperti yang diharapkan.

Kompromi

Ini memang keniscayaan dari hidup. Namun, terkadang pembentukan identitas individu kita begitu tergantung pada identitas kolektif. Ini yang membuat stabilitas social kita menjadi rendah. Karena kita begitu memikirkan apa yang akan dipikirkan seseorang. Mengedepankan kompromi daripada identitas diri. Tidak selalu buruk.

Namun, ketika kita terlena dengan kompromi-kompromi yang ada. Dan tidak memiliki identitas individu. Ketika sebuah komunitas tidak mempunyai identitas individu yang kuat, masa chaos yang terjadi pada masa transisi dari turun naiknya “apa” yang berkuasa. Karena identitas kolektif begitu tergantung pada orang yang berkuasa yang dimitoskan sebagai orang kuat atau ratu adil.

Ketika sang ratu adil berganti. Identitas berganti, sistem nilai berganti, kebenaran pun berganti. Semuanya harus dimulai dari awal, masalah paradigma ekonomi, budaya, perdidikan. Dan semua itu terlalu mahal untuk kecepatan peradaban jaman sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s