Putih

Test menunjukan bahwa saya adalah manusia putih sang pencari perdamaian. Namun, di sisi lain saya adalah seorang pemikir mandiri. Yang hanya yakin dengan kebenaran saya sendiri. Dan sering kali berbeda dengan kebenaran kolektif. Dan hanya saya sendirilah yang tahu bagaimana saya bergulat dengan semuanya. Jangan sok tahu.

Satu hal yang saya yakini. Bahwa setiap orang punya alasan menyakini sesuatu sebagai kebenaran. Jadi jangan cerca orangnya tapi pemikirannya. Kalau memang salah, pahami mengapa dia menganggap benar, sedang kau tidak. Dan selama ini, yang banyak terjadi adalah perbedaan paradigma juga ketidaksamaan parameter yang digunakan. Karena itulah, konflik menjadi sebuah keniscayaan.

Maka, kita perlu punya hal yang menjembatani kita tentang apa yang kita bicarakan. Baik definisi, parameter maupun tujuan kita bertukar pikiran tentang sesuatu. Ketika definisi kita berbeda, sampai kita mati pun kita tidak akan pernah satu pendapat. Ketika parameter yang digunakan berbeda, hasil proses berpikir pun akan berbeda. Dan yang paling penting…

Ketika niat kita hanya untuk “menunjukan pada dunia bahwa kita lah orang yang paling benar”. Maka kita hanya akan dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu. Entah itu sebagai objek penelitian atau sebagai corong bikin ribut kalau ada yang ingin mengalihkan isu.

Sebuah foto iklan yang cukup kontroversial. Saya sendiri tidak suka membicarakan masalah itu, walau saya yakin sebenarnya itu hal yang sangat biasa untuk kalangan mahasiswa psikologi. Efek belajar filsafat 8 sks. Ya… wajarlah kalau kita sebagai anak TEKNIK yang cuman belajar Logmat atau Matdis yang filsafat ecek-ecek. Apalagi saya, dapet D, nggak ngerti soal ginian. Ini adalah sesuatu yang SANGATTTT WAJARRRR… Tapi, kalau sampe nyolot minta dihapus lebay juga. (Peace!!!! Buat yang ngerasa ke sindir… sering lebay kayak githu juga kok saya…)

Pertanyaan tentang Tuhan adalah sesuatu yang biasa. Sangat biasa untuk manusia yang merasa bisa pikirannya bisa menjangkau Tuhan. Sedangkan saya sendiri, sebagai seseorang yang filsafat ecek-ecek aja dapet D, ya… jadi emang nggak nyampe deh mikirin yang kayak githu. Memang pada akhirnya kita akan menjadi gila bila mendalami sesuatu yang bukan potensi kita. Dan kita akan buang waktu bila berdebat dengan definisi yang berbeda dan parameter yang tidak sama.

Sekali lagi hal yang sangat wajar bila itu diperdebatkan oleh orang-orang biasa dan merasa bisa. Dengan parameter yang mereka kuasai ilmunya. Dan perlu kita akui bahwa kemajuan ilmu pengetahuan Eropa berkembang akibat adanya para filsuf yang jengah dengan sistem kepercayaan mereka yang hanya jadi pembenaran akan kekuasaan seseorang yang dimitoskan sebagai orang kuat. Dan para ilmuan muslim pun harus kita akui banyak dari mereka yang berasal dari tarekat sufi. (minta koreksi masalah ini… please…)

Tapi, untuk saya pribadi, saya hanya ingin pragmatis masalah ini. Mensyukuri bahwa diri ini berTUHAN sejak lahir, dan tidak perlu melakukan pencarian untuk menemukan TUHAN. Bagiku TUHAN yang maha segalanya ini sudah cukup. Bahkan punya slogan bahwa saya+Tuhan = cukup. Dan saya sangat menghormati orang-orang yang masih mau mencari TUHANnya.

Kebenaran memang tidak relatif. Namun, dengan perbedaan paradigma dan parameter yang digunakan, perbedaan akan jadi suatu keniscayaan. Dan bahkan kita saling membunuh akan sebuah perbedaan paradigma dan parameter yang sebenarnya tidak bernilai apa-apa.

Hidup adalah sederhana yang hebat adalah penafsiran-penafsirannya. (Pramoedya Ananta Toer)

2 thoughts on “Putih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s