Briptu Norman

Satu fenomena terjadi lagi. Setelah sebelumnya ada fenomena keong racun. Untuk beberapa orang, mungkin bukan levelnya berbicara masalah ini. Tapi, sebenarnya mahal atau tidaknya sesuatu kita berhak punya paradigma sendiri.

Dan saya ingin melihatnya dari sisi…  bahwa ternyata diluar sana banyak sekali orang-orang dengan potensi yang bermacam-macam terberangus oleh pragmatisme hidup, pragmatisme pendidikan formal.

Saya tahu tidak mudah menyusun sebuah sistem. Saya pernah merasakan di level himpunan. Dan itu sangatlah susah. Pada akhirnya memang kita butuh sebuah parameter konkret untuk mengukur keberhasilan sistem. Sekali lagi, hanya keberhasilan sistem, bukan keberhasilan individu. Dan saya yakin level institusi, level daerah, apalagi nasional pastilah lebih sulit lagi. Tapi, mungkin saya bisa memberi sumbangan paradigma supaya kita bisa lebih bisa melihat istimewa orang-orang dengan kemampuan istimewa.

Studi kasus kita kali ini adalah Briptu Norman. Yang perlu diingat, ini hanya pandangan subjektif saya dar informasi baik audio maupun visual yang saya dapat.

Yang saya bayangkan tentang polisi ini, ketika mendengar cerita tentang dia yang membuat video itu dengan niat menghibur temannya. Kita akan berpikir bahwa polisi yang satu ini adalah seseorang yang kecerdasan interpersonal yang tinggi. Nah, setelah kita dengar suaranya yang ‘lumayan’ merdu setidaknya lebih merdu dari saya pastinya. Saya rasa kecerdasan musiknya pun tinggi.

Tapi, kita lihat apa profesinya? Polisi. Sebuah profesi dengan image kaku, tegas dan “menyeramkan”. Sangat berbeda dengan dunia musik atau seni yang cenderung fleksibel, bebas dan “menyenangkan”. Bertolak belakang. Besar kemungkinan, polisi kocak kita ini pun salah satu orang yang potensinya terbunuh pragmatisme kehidupan.

Ketidakjelasan yang dia lihat di ladang seni membuatnya berpikir pragmatis. Meninggalkan potensinya di sana, dan menggali sesuatu yang menghasilkan uang, dan bisa membuatnya mempunyai status sosial. Itulah kebutuhan paling primer seorang manusia. Dianggap produktif dan dianggap ada.

Ini TIDAK SALAH. Malah, terkadang, ini yang disebut dewasa. Dan ini adalah NILAI KEBENARAN yang dianut orang kebanyakan. Maka, jangan salahkan seandainya harga diri Anda sebagai mahasiswa sedikit banyak dilihat dari IP Anda. Ini dunia. Pragmatisme yang tidak bisa terhindarkan agar tiap manusia bisa beromunikasi.

Briptu Norman adalah satu orang yang sangat beruntung potensinya bisa dianggap orang lain setelah aksi lipsingnya naik daun. Bahkan dibela, ketika hendak dihukum.

Secara etis, memang tidak etis polisi berperilaku seperti itu. Sekali lagi bertolak belakang dengan image profesi dan image lembaga yang dibentuk. Sayangnya, ternyata memang ada sesuatu di luar akal sehat yang membuat banyak orang ingin membela polisi kocak ini. Bisa kita bandingkan dengan video polisi berlenggak-lenggok gemulai. Malah kita berhidik “geuleuh” ketika melihatnya.

Bagusnya, institusi tepat mnghadapi gejolak yang terjadi di kalangan masyarakat. Briptu Norman tidak jadi dihukum. Hanya dihukum bernyanyi ketika apel. Dan malah jadi membuat kita berpikir, “bagus juga nih suaranya. Nggak cuma bisa lipsing ternyata orang ini.” Malah sering diundang nyanyi dah ni polisi. Potensi terpendam sang polisi malah makin tergali. Tidak semua orang seberuntung itu.

Pada akhirnya, nasib pragmatime memang memberangus keluarbiasaan. Dan hasil dari sistem hanyalah sebuah pragmatisme. Semua parameter yang ada adalah penghakiman untuk sistem bukan individu. Pada akhirnya, sikap individu akan lebih mendominasi keberhasilan individu daripada kemapanan sistem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s