Sontek (apa Contek ya?)

Sebuah fenomena yang sangat menyakitkan semakin saja sering terjadi. Sekelompok orang yang menstatusi dirinya sebagai agent of change. Menyatakan bahwa mereka adalah masa depan bangsa yang lahir 83 tahun lalu ini. Bisakah dibayangkan mereka mengatakan bahwa mencontek adalah sesuatu yang tidak salah. Bahkan menjadi sebuah kebaikan. Dijadikan pertanda kolektivitas. Sudah jadi kebenaran komunitas rupanya.

Kalau sudah begini, akan sulit. Menentang kebenaran komunitas hanya akan membuat diri kita terpuruk. Ringannya hanya dibilang sok suci atau tidak kompak. Parahnya saya bisa dikeroyok. Kapok dah saya. Walaupun kita yang benar, ketika itu dikatakan di tempat dan waktu yang tidak tepat, hanya akan jadi bumerang. Pengalaman soalnya. Dan yang terjatuh di dalam lubang yang sama adalah sesuatu yang lebih bodoh daripada keledai.

Nggak mau sok suci deh. Ketika ada yang mau minta tolong, hati juga jadi kasian. Apalagi kondisi kondusif. Pengawasnya kagak galak. Duduk dapet dibelakang. Alah, udah bingung aja gimana cara nolaknya. Apalagi ada deklarasi tea geura. Harusnya memang saya lebih takut sama Allah. Tapi… ini benar-benar hal dilematis. Walau kalau dipikir lagi, saya banget lah yang dirugiin ini mah.

Ini realitas yang terjadi di negara kita tercinta, “negara mahasiswa” di sebuah institut ternama. Sementara elit “negara” begitu asiknya mengkritisi kinerja pemerintahan yang sebenernya. Sama sekali bukan hal yang buruk. Hanya saja, terjadi sebuah ironisme. Rumah sendiri aja belum beres, kok ngurus rumah orang.

Sebagai social controlling sangatlah wajar apa yang dilakukan oleh pemerintah “negara mahasiswa” ini. Tapi… apakah didukung oleh rakyatnya? Yang berada dalam sistem lebih pantas untuk menilainya sendiri.

Setelah mendengar pendapat beberapa orang tentang hal ini. Saya mencoba mengambil kesimpulan dari berbagai sudut pandang.

Pertama dari sudut pandang mahasiswa yang menganggap ujian ini sebagai “musuh bersama” yang harus dihadapi “bersama”. Jelas terjadi kesalahan paradigma di sini. Tentang apa itu “belajar” dan “ujian”.

Memang, secara konkret kita akan berkata, buat apa sih kuliah? Mau ngerubah nasib, biar bisa cari duit dari jadi karyawan di perusahaan, dan itu butuh gelar. Buat apa sih belajar? Biar bisa ngerjain soal waktu ujian, dapet nilai bagus deh. Buat apa sih ujian? Buat dapet nilai bagus, biar keterima di perusahaan bagus biar bisa ngerubah nasib.

Kalau dilanjutkan akan muncul pertanyaan, Buat apa ngerubah nasib, nggak percaya takdir? Biar bisa hidup lebih layak. Dan Allah tidak akan mengubah suatu kaum tanpa kaum tersebut berusaha mengubahnya. Udah hebat aja nih, pake dalil segala. Kalau begitu untuk apa kita hidup? Yang jelas bukan untuk mencoba mengubah keadaan dengan cara yang dibencinya kan?

Wah… ternyata paradigma yang aneh bukan hanya tentang “belajar” dan “ujian” tapi juga tentang “hidup” dan “usaha”.

Dan kalau kesalahannya masalah paradigma kita tidak bisa memberi beban “salah” hanya pada satu pihak. Tapi banyak sekali pihak yang terlibat dalam pembentukan paradigma. 2 hal paling penting adalah orang tua dan pengajar pendidikan dasar.

Orang tua yang selalu menuntut raport anaknya dapat rangking 1 tanpa menggali lebih dalam potensi anaknya. Pengajar dengan tuntutan yang tak jauh beda. Bahkan hal menyedihkan ini terkadang menjadi legal ketika kita dihadapkan pada ujian kelulusan.

Kedua, dari sudut pandang dosen. Jika saya menjadi dosen, saya akan merasa sangat sedih ketika mahasiswa saya melakukan hal menyedihkan itu hanya karena ingin mendapatkan nilai A dari saya.

Sedih karena mungkin soalnya kurang susah sehingga mereka masih sempat mencontek dan memberi contekan. Dan soalnya memungkinkan untuk itu. Sedih karena saya telah gagal sebagai pengajar dan pendidik.

Ketika saya sukses sebagai pengajar, maka tidak akan ada mahasiswa yang tidak mengerti apa yang saya ajarkan. Dan ketika saya sukses sebagai pendidik, tidak akan ada mahasiswa saya yang sempat berpikir untuk melakukan hal menyedihkan itu.

Ketiga, dari sudut pandang institusi. Ini memang fenomena yang biasa, bahkan kita hampir-hampir tidak resah dengan fenomena ini. Tapi hal yang memalukan ketika suatu ketika kita melanjutkan kuliah dimana pun itu, terutama di institusi yang prestisinya lebih, kita tertangkap menyontek karena  menyontek sudah jadi karakter kita. (eh, kok kita sih, lu aja kali ya….)

Lalu ditanya, kamu S1nya dimana sih? Huahhhh…. Bukan cuman dia yang malu, tapi seluruh civitas academia bou. Sayangnya, dari institusi sendiri belum ada langkah yang cukup tegas untuk orang-orang yang melakukan hal-hal menyedihkan ini.

Ada sebuah lingkaran setan sebenarnya. Pengawas yang juga setipe-tipe itu juga modelnya. Bahkan dosen yang tidak setuju dengan tindakan tegas terhadap hal menyedihkan ini. Karena kelakuannya juga kagak ada beda.

Hm… singkat cerita… jangan dulu teriak berantas korupsi kalau berantas nyontek aja nggak becus.

5 thoughts on “Sontek (apa Contek ya?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s