Hina

Sebuah negeri di ujung sana terkena bencana dahsyat. Negeri itu terkenal dengan sebutan Negeri Sakura. Sebuah negeri dengan kecanggihan-kecanggihan teknologinya yang luar biasa. Luluh lantah tersapu tsunami bukan karena gempanya. Negeri itu memang rawan gempa. Karena itulah mereka bersiasat untuk membangun bangunan yang anti-gempa. Preventif. Tidak reaktif.

Sewaktu kita masih kecil, pasti kita sering merasa sakit hati ketika dibanding-bandingkan dengan kakak kita yang lebih cantik atau lebih berprestasi dan sebagainya. Kalau itu bukan kenyataan, pembandingan itu tidak akan pernah ada.

Tentu. Kita sangat berhak marah. Karena setiap manusia diciptakan dengan potensi yang berbeda. Dan penyikapan kita terhadap potensi kita tersebut yang menentukan kualitas hidup kita.

Ada hal-hal yang di dunia ini tidak dapat kita pilih atau kita kendalikan. Kita terlahir dari rahim siapa, kita tidak bias memilih. Memiliki kecerdasan yang seperti apa kita juga tidak dapat memilih. Pada akhirnya itu hanyalah menjadi potensi yang harus kita akali sedemikian rupa agar kita dapat menjadi pribadi yang ki ta inginkan.

Hal yang konyol ketika kita ingin menjadi semaju Jepang, tapi memiliki satu sifat mendasar mereka saja kita tidak bisa. DISIPLIN. Tanya pada diri sendiri, berapakali minggu ini kita telat datang kuliah.

Sudah banyak riset yang membuktikan bahwa kecerdasan masyarakat Indonesia tidaklah kalah daripada masyarakat negara maju lainnya. Jadi apa yang berbeda? Budaya. Jelas sekali. Dan ini akan menentukan bagaimana manusia-manusia itu menyikapi kecerdasan yang sudah dimilikinya.

Ketika kita tahu bahwa kita tidak pintar, konsekuensi logis bagi seorang yang bermental sukses, dia akan berusaha untuk mencari akal sedemikian mungkin agar dia bisa menjadi pintar. Dan itu butuh kerja keras. Dan kita sering kali tidak mau melakukan itu. Jadi apakah kita pemalas? Saya tidak ingin menjawab.

Di akhir kisah memang masalah maju atau mundurnya pribadi seseorang sama sekali tidak ditentukan dimana dia besar dan tinggal karena pada akhirnya dia yang memilih mau atau tidak menjadi sukses.

Jangan pernah merasa terhina hanya karena kita tidak tinggal di Jepang atau hanya karena dibilang orang Indonesia itu pemalas. Karena seseorang akan marah bila kejelekan yang ada pada dirinya disebutkan oleh orang lain. Kalau kita marah, artinya kita merasa itu sesuatu yang buruk dan itu ada pada diri kita.

Karena kita bukan pemalas maka buktikan saja. Kalau kita juga tidak kalah dengan orang Jepang yang bekerja keras dan disiplin. Buktikan itu pada orang yang menghina kita, bahwa perkataan mereka  salah tentang kita. Itulah satu-satunya jalan.

2 thoughts on “Hina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s