Hindu Hindia Islam

Ada sebuah link artikel masuk ke email dan selanjutnya ada saudara saya yang meresensi buku “API SEJARAH” dan setelahnya ada yang mentag saya di sebuah foto cover buku. Jadi ingin menulis tentang ini.

Kita belajar sejarah sejak kelas 4 SD. Sejarah yang dimiliki oleh penguasa saat itu. Masih teringat materi yang pertama adalah tentang kerjaan Hindu. Ada sebuah kerajaan Hindu yang hampir menyatukan seantero nusantara, Majapahit. Pusatnya ada di Jawa.

Setelah itu Budha. Budha, agama kerajaan Sriwijaya. Pusatnya terletak di Sumatra. Karena itulah, ada mitos politik pasangan pres-wapres harus berunsur Jawa dan Sumatra. Mitos yang tidak laku lagi di dunia perpolitikan hari ini.

Hindu lebih berpengaruh di Indonesia. Jelas terlihat. Peradaban pertama yang di bangun di Indonesia, Kutai berkepercayaan Hindu. Jawa, pusat Indonesia, masih kental budaya Hindu dengan kejawennya sampai hari ini. Banyak ritual hindu yang masih kita jalankan sampai hari ini dan itu kita anggap sebagai ajaran Islam.  Harus banyak berhati-hati memang.

Sejarah Hindu sangat mengakar di Indonesia. Sistem kasta yang ada pada agama ini sangat menguntungkan para raja, bangsawan serta tokoh agama. Dan rakyat yang hanya merupakan sekumpulan orang bodoh itu tidak bisa menolak.  Walau ada sebuah titik rakyat sudah tidak tahan dibodohi.

Saya sangat menghargai orang-orang yang ingin memberi kesan bahwa Majapahit adalah sebuah kesultanan.  Artinya, majapahit kerajaan yang menganut agama islam. Usaha yang bagus, namun, dalam kajian sosial-budaya, hal ini kurang masuk akal.

Analisis yang dilakukan adalah analisis arkeologi berupa semacam barang kerajinan yang betulisan lafadz Allah. Ini bisa saja peninggalan perdagangan. Barang yang diperdagangkan oleh pedagang timur tengah di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan saat itu memang sudah ada rakyat Indonesia yang sudah menganut Islam.

Sebuah kawasan yang begitu relijius masyarakatnya, biasanya sulit berpindah keyakinan. Doyan di doktrin, bahasa kasarnya. Tapi, mengapa bisa terjadi ”revolusi” kepercayaan seperti ini.

Seperti apa yang telah sebutkaan. Rakyat-rakyat yang bodoh dan suka di doktrin ini ada batas kesabarannya. Lama-lama muak juga melihat para raja yang mendapat legitimasi dari agama mereka hidup mewah di istana, sementara kehidupan mereka sendiri tetap bodoh, tetap miskin, tetap sengsara.

Datang sebuah agama lain yang membawa prinsip persamaan. Bahwa semua manusia sama dihadapan Tuhan. Bukankah ini merupakan solusi dari semua kemuakan mereka?

Mungkin ini juga yang menyebabkan nilai-nilai hijab belum datang bahkan pada istri ulama-ulama Indonesia yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.  Karena prinsip yang masuk ke Indonesia dari agama Islam adalah persamaan derajat manusia di depan Tuhannya.

Prinsip persamaan inilah yang membuat agama Islam begitu cepat menyebar di kalangan rakyat Indonesia. Para penguasa yang takut kehilangan kekuasaaannya pada akhirnya mengalah. Juga turut memeluk Islam. Dengan tetap melestarikan warisan nenek moyang, ritual-ritual Hindu yang telah mengalami proses islamisasi. Kalangan atas cenderung sulit berubah.

Kedatangan pemerintahan kolonial yang beragama nasrani selama 300 tahun tidak dapat menyingkirkan mayoritas Islam. Karena yang mereka “akses” adalah para pemimpinnya. Mereka menggunakan kekuasaan untuk memeras keringat rakyat Indonesia. Mereka tidak mempengaruhi kalangan “bawah”nya.

Ini mungkin bisa dijadikan pertimbangan bahwa perubahan secara bottom-up lebih cocok untuk Indonesia daripada revolusi top-down.

Hm…

Ini hanya pandangan subjektif seorang saya, melihat semua dari sudut “orang bawah”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s